Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
136. S2 - Salah pukul


__ADS_3

Hari ini Aydin menggantikan Emran meeting bertemu dengan kliennya di sebuah restoran. Dia pergi bersama dengan Hendra, sekretaris papanya, yang selalu setia.


"Apa semuanya sudah siap, Pak Hendra?" tanya Aydin selama menunggu kliennya datang.


"Sudah siap semuanya, Pak," jawab Hendra. Sampai saat ini pria itu masih tetap menjadi orang kepercayaan Emran, selain Pak Romi. Dia yang selalu mengerjakan semua pekerjaan yang ditinggalkan oleh Emran. Tidak lama, orang yang ditunggu pun datang.


"Selamat siang, Pak. Maaf menunggu lama," ucap orang tersebut sambil bersalaman dengan Aydin.


"Tidak apa-apa, Pak. Silakan duduk."


"Terima kasih." Mereka pun membahas semua tentang pekerjaan mereka. Hendra salut dengan apa yang dilakukan oleh Aydin. Meski masih sangat muda muda, dia sanggup melakukan semuanya dengan baik. Bahkan cara dia menyampaikan proposal pun sangat lancar.


"Anda benar-benar hebat, Pak Adin. Tidak salah jika Pak Emran menyerahkan semuanya kepada Anda," ujar


"Anda terlalu berlebihan, Pak. Saya masih perlu banyak belajar. Banyak sekali yang belum saya ketahui tentang dunia bisnis."


"Anda terlalu merendah, Pak Aydin."


"Memang begitulah kenyataannya," sahut Aydin dengan tersenyum. "Silakan dinikmati hidangannya," lanjutnya saat pelayan menyuguhkan semua hidangan yang nereka pesan.


Saat mereka sedang menikmati makan siang. Pandangan Aydin teralih oleh pasangan laki-laki dan perempuan, yang sedang berada di sana. Mereka terlihat romantis dia sangat mengenali perempuan itu yang merupakan temannya saat kuliah, tapi pria yang bersamanya? Dia seperti kenal, tapi di mana?


Aydin mencoba mengingat-ingat siapa pria itu dan dia terkejut begitu sudah mengingatnya. Dia sangat marah, bagaimana bisa pria itu bersama dengan temannya? Apa hubungan mereka? Aydin sangat emosi, tetapi dia berusaha mengendalikan diri dan tidak ingin marah-marah di tempat seperti ini, apalagi Aydin sedang bersama denga kliennya.


Saat melihat wanita dan pria itu meninggalkan restoran, Aydin ingin mengikutinya. Dia harus memberi pelajaran untuk mereka karena sudah menyakiti hati gadis yang dia cintai.


"Maaf, Pak. Saya ada urusan sebentar di luar. Tidak apa-apa, kan? saya tinggal? Ada pak Hendra yang akan menemani Anda."


Aydin sebenarnya merasa tidak enak harus meninggalkan kliennya. Akan tetapi jika dia tidak mengejar mereka, sudah pasti pengkhianatan yang dilakukan pria itu akan berlanjut dan akan semakin menyakiti Nayla.


"Tidak apa-apa, Pak Aydin. Saya tahu pasti ada sesuatu yang penting dan harus segera Anda dilakukan."

__ADS_1


"Iya, pak, terima kasih akan pengertiannya dan mohon maaf karena saya harus pergi lebih dulu. Saya permisi."


Aydin segera berlari untuk mengejar pria dan wanita tadi. Diedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan. Setelah mendapatkannya, Idin segera mendekati si pria dan memberikan bogeman mentah tepat di pipinya.


"Dasar pria tidak br****ek. Beraninya kamu bermain-main dengan wanita! Apa kurangnya Nayla? Dia sudah sangat baik, tapi kamu malah menghianatinya dengan Anisa!"


Aydin sudah benar-benar emosi, saat ini dia tidak mempedulikan orang-orang yang melihat ke arahnya. Beberapa orang juga berusaja melerai mereka.


Pria itu adalah Rizki bersama dengan Anisa kekasihnya. Mereka sedang menikmati makan siang bersama dan berniat memeriksakan kandungann Anisa setelah itu.


"Aydin kamu apa-apaan, sih? Kenapa mukul Rizki?" tanya Anisa dengan emosi.


"Kamu tahu tidak, Dia ini sudah memiliki calon tunangan dan sekarang malah jalan sama kamu!" teriak Aydin.


"Siapa yang sudah punya calon tunangan? Rizki tidak memiliki calon tunangan. Dia sudah membatalkan tunangannya bersama wanita itu, yang bernama Nayla. Dia akan menikah denganku!" balas Anisa dengan berteriak juga.


"Apa?" Aydin terkejut mendengarnya. Dia tidak tahu jika pertunangan Nayla dan Rizki telah dibatalkan.


"Apa kamu sudah membohongiku? Baru kemarin Nayla bilang jika dia akan bertunangan dengan Rizki kenapa sekarang kamu bilang pertunangan mereka batal?"


Aydin ingin memastikan semuanya, dia tidak ingin mendengar berita yang simpang siur. Setelah semua yakin, pria itu harus melakukan sesuatu agar tidak ada penyesalan dikemudian hari.


"Aku tidak berbohong. Mereka memang sudah membatalkannya. Rizky dan aku, pacaran sudah lama."


"Kapan pembatalan itu terjadi?"


"Tadi malam, Nayla juga datang ke rumah Rizki dan ikut meyskinkan mamanya Rizki. Meski sampai saat ini beliau belum menerimaku," jawab Anisa. "Apa kamu memiliki hubungan dengan wanita itu?" tanya Nisa. Namun, tidak ada jawaban dari Aydin.


"Maaf, Bung. Jika aku sudah membuat hubunganmu dengan Nayla berantakan, tapi aky tidak pernah bermaksud untuk merusak hubungan kalian. Kamu tenang saja, saya sudah membatalkan pertunangan itu jadi, kamu bisa melanjutkan hubunganmu dengan Nayla," ujar Rizki dengan menepuk bahu Aydin. "Sebaiknya kita duduk di taman saja, sambil ngobrol-ngobrol," lanjut Rizki. Aydin mengangguk begitupun dengan Anisa.


Mereka sama-sama berjalan menuju taman terdekat. Masih banyak hal yang ingin Aydin ketahui karena itu, dia mengiyakan usul Rizki. Pria itu juga masih penasaran dengan pembatalan pertunangan Nayla.

__ADS_1


"Kamu harus minta maaf sama Rizki. Kamu tadi sudah memukulnya," ucap Anisa setelah mereka duduk di taman. Terlihat hanya beberapa pengunjung yang datang.


"Sudahlah, Sayang. Aku juga tidak apa-apa," sahut Rizki. Dia tidak ingin memperpanjang masalah. Pria itu juga mengerti, kenapa Aydin sampai emosi.


"Tetap saja dia bersalah, datang-datang langsung mukul orang, tidak bertanya dulu," ucap Anisa dengan nada sinis.


"Iya, Anisa benar. Aku minta maaf sudah memukul kamu. Aku tadi hanya emosi melihat kamu bersama dengannya, padahal sebelumnya aku dengar kamu akan bertunangan dengan Nayla," ujar Aydin.


Sebagai seorang pria, Aydin mengakui jika dia sudah berbuat salah, dengan melakukan kekerasan, tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu.


"Tidak apa-apa, lupakan saja. Aku juga mengerti bagaimana perasaan kamu. Aku juga ingin mengatakan, kamu harus jaga Nayla baik-baik. Dia wanita yang baik, aku sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Jangan sampai kamu membuatnya menangis atau aku akan mencarimu dan melakukan seperti apa yang kamu lakukan padaku tadi."


"Aku juga berharap dia mau menerimaku," jawab Aydin dengan lesu.0


"Oh, berarti kamu belum mendapatkan cinta Nayla?" tanya Rizki. "Dia memang bukan wanita yang mudah untuk di taklukkan. Kamu harus punya mental yang kuat untuk mendapatkannya. Apalagi dia juga punya masa lalu yang buruk terhadap pria."


"Maksudnya?" tanya Aydin. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Rizki. Pria itu berpikir jika Nayla pernah dikhianati oleh seorang pria.


"Ayah Nayla meninggalkan almarhum Ibu Asih dan juga Nayla saat mereka sedang dalam masa sulit. Saat itu mereka sedang dililit hutang mungkin sekarang Nayla hidupnya sudah berkecukupan, tapi tidak dengan dulu. Mereka serba kekurangan, banyak hutang di sana-sini. Ayah Nayla tidak sanggup lagi, dia meninggalkan rumah dan memilih menikah dengan janda kaya demi hidup bergelimang harta."


Aydin tidak menyangka jika Nayla pernah merasakan hal seperti itu. Dia juga tidak pernah mendengar apa pun tentang keluarga dan kehidupan Nayla. Gadis itu memang sangat pandai menyembunyikan kesedihannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2