Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
171. S2 - Suamiku setia


__ADS_3

Hari-hari dijalani Nayla dengan sangat bahagia. Dia juga sudah mulai jarang pergi ke butik. Wanita itu lebih suka menghabiskan waktu di apartemen atau di rumah mertuanya. Terkadang juga Nayla mengikuti kelas senam ibu hamil. Dia pergi bersama Aydin, kadang juga bersama Yasna atau Rani.


Aydin sama sekali tidak memperbolehkan sang istri pergi seorang diri. Harus ada yang menemani. Nayla sampai dibuat kesal karena merasa tidak bisa bebas.


Tidak terasa kini kehamilan Nayla, sudah menginjak lima bulan. Hari ini dia ada janji dengan seorang pel*nggan di butiknya. Wanita itu memutuskan untuk pergi dengan diantar Aydin. Meski sempat terjadi perdebatan diantara mereka karena sang suami melarangnya pergi.


"Memangnya tidak bisa, ya, Sayang. Kalau Fika saja yang menanganinya," ucap Aydin yang sedang mengemudi.


"Tidak bisa, Mas. Orang itu ingin bertemu denganku secara langsung," jawab Nayla dengan memainkan ponselnya.


"Ingat, kamu tidak boleh kemana-mana sendirian. Harus selalu ada yang menemani."


"Iya, Mas. Aku juga bertemu dengan orang itu di butik, nggak ke mana-mana."


"Baguslah kalau begitu. Nanti siang aku jemput."


"Kalau masih sibuk nggak perlu dipaksakan. Nanti biar aku pulang diantar sama Rani."


"Tidak, pokoknya nanti aku jemput. Kamu nggak boleh pulang sendiri. Fika juga sibuk di butik."


"Baiklah, terserah kamu saja."


Lebih baik Nayla mengalah. Percuma juga berdebat dengan suaminya, pasti akhirnya dia kalah juga. Pria itu sama sekali tidak mau mengalah jika itu mengenai keamanan istrinya.


Akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai juga di depan butik Nayla. Aydin membukakan pintu untuk sang istri dan membantunya masuk ke dalam. Di sana sudah ada Fika dan Via yang sedang membersihkan butik.


"Aku pergi ke kantor dulu, ya, Sayang. Kamu jaga diri baik-baik."


"Iya, Mas."


"Fika titip atasan kamu. Jangan perbolehkan dia melakukan pekerjaan apa pun. Apalagi sampai yang berat-berat," ucap Aydin.


Lagi-lagi Nayla dibuat jengah. Tidak bisakah suaminya ini membiarkannya melakukan sesuatu sesuai keinginannya walau hanya sebentar saja. Dia juga ingin menggerakkan tubuhnya. Dokter juga menyarankan hal itu.


"Iya, Mas," sahut Fika.


"Mas, apaan sih! Aku juga nggak ngapa-ngapain. Lagian cuma bantu dikit juga nggak apa-apa. Kerja di sini juga, kan, nggak berat. Nggak harus ngangkat-ngangkat," gerutu Nayla.

__ADS_1


"Pokoknya kamu duduk saja. Nanti aku jemput. Aku berangkat dulu, assalamualaikum," pamit Aydin dengan mencium kening istrinya.


"Waalaikumsalam."


Aydin berlalu meninggalkan sang istri. Fika dan Via mendekati Nayla yang tengah melihat kepergian suaminya. Sudah biasa bagi kedua pegawai itu melihat betapa protektif dan cintanya Aydin.


"Beruntung banget, ya, jadi Mbak Nayla. punya suami yang begitu perhatian. Aku jadi ngiri," ucap Vika.


"Iya, aku juga iri melihat betapa perhatiannya Mas Aydin sama Mbak Nayla. Aku harap nanti akan mempunyai suami seperti Mas Aydin," sahut Via.


"Amin, mudah-mudahan kalian bisa mendapatkannya. Asal jangan berdoa agar suami saya yang jadi suami kamu," ucap Nayla dengan nada bercanda.


"Ya, nggak lah. Aku juga nggak mungkin jadi pelakor. Lagipula sepertinya Mas Aydin itu sudah cinta mati sama Mbak Nayla. Mana mungkin bisa ke lain hati," ucap Via.


"Amin, mudah-mudahan seperti itu," sahut Nayla.


"Pastilah, Mas Aydin juga nggak membiarkan Mbak Nayla tersakiti sedikitpun," ucap Fika membenarkan.


Nayla sangat senang mendengar apa yang Fika dan Via katakan. Memang benar Aydin begitu sangat mencintainya. Apa pun yang dia inginkan selalu dituruti oleh pria itu. Apa lagi dengan kehadiran sang buah hati. Aydin sama sekali tidak membiarkan apa pun menyakitinya sedikit pun.


*****


Beberapa kali Ilham mencoba membicarakan hal pribadi. Namun, wanita itu tidak menyahuti. Nayla lebih tertarik dengan urusan bisnis. Lagipula, bukankah kedatangan pria itu ke sini untuk membeli pakaiannya?


Nayla merasa Ilham memiliki tujuan lain dan wanita itu tidak menyukainya. Dari tatapannya saja sudah membuat tidak nyaman, apalagi mengobrol lebih lama lagi.


"Kamu sudah hamil? Berapa bulan?" tanya Ilham.


"Lima bulan, Pak."


"Dari tadi kamu manggil saya, Bapak terus! Saya juga tidak setua itu. Apa tidak ada panggilan yang lebih enak didengar?"


"Tapi saya lebih nyaman dengan panggilan itu. Maaf jika Anda keberatan, tapi sepertinya panggilan itu lebih baik," jawab Nayla beralasan.


Sebagai seorang wanita, Nayla cukup tahu ke mana arah pembicaraan Ilham. Sebisa mungkin dia harus berkilah.


"Saya tidak akan memaksamu, tapi ngomong ngomong, pasti suamimu sangat beruntung karena memiliki istri secantik kamu?"

__ADS_1


"Justru saya yang beruntung karena memiliki suami yang begitu mencintai saya," jawab Nayla tersenyum padahal dalam hati,dia sungguh-sungguh kesal.


"Wah, benarkah? Aku jadi penasaran sebesar apa cinta suamimu? Saya tidak yakin jika dia akan tahan jika digoda oleh wanita yang cantik dan seksi."


Ilham mencoba memanfaatkan setiap kesempatan untuk membuktikan, dirinya lebih hebat dari pria mana pun. Tanpa dia tahu siapa yang sebenarnya dia bicarakan.


Semua pengusaha juga tahu siapa Aydin Al Husayn. Memang tidak banyak yang tahu wajah pria itu karena dia jarang tampil dipublik. Hamya orang-orang terdekat saja yang mengetahuinya.


"Saya bisa menjamin jika dia tidak akan tergoda, bahkan oleh wanita yang sangat cantik sekali pun."


Ingin sekali Nayla memukul mulut pria di depannya ini yang sudah seenaknya berbicara, tetapi dia masih tahu di mana batas kesopanan pada tamu.


Sampai kapan pun Nayla akan membela suaminya karena dia sangat tahu bagaimana karakter sang suami. Pria itu tidak akan pernah mengkhianatinya. Bahkan dalam mimpi sekali pun.


"Bagaimana kalau kita bertaruh?" tawar Ilham dengan menyandarkan punggungnya.


"Maksudnya?" tanya Nayla dengan memicingkan matanya. Dia merasa pria yang ada di depannya ini, penuh dengan trik kotor jadi, sebaiknya lebih berhati-hati.


"Saya hanya ingin memastikan, apakah suamimu benar-benar orangnya setia atau hanya bualanmu semata," jawab Ilham. "Boleh saya mengujinya?"


Nayla tidak menjawab. Dia hanya menatap Ilham dengan mengerutkan keningnya. Wanita itu sangat tahu, arti dari kata-kata pria yang ada di depannya ini. Hanya saja Nayla tidak mengerti, apa untungnya bagi Ilham melakukan semua itu?


Karena tak kunjung mendapat jawaban dari Nayla, Ilham melanjutkan ucapannya.


"Saya ingin tahu reaksi suamimu saat ada seorang wanita yang menggodanya. Bagaimana? Boleh, kan?"


Benar, seperti yang Nayla pikirkan. Ilham sudah pasti memiliki tujuan yang tidak baik. Entah apa itu, dia tidak ingin masuk terlalu dalam.


"Maaf, Anda sudah terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga saya dan saya tidak suka. Mengenai pesanan Anda, sebaiknya Anda mencari butik lain yang rumah tangganya bisa Anda campuri."


Kesabaran Nayla sudah diambang batas. Dia tidak bisa lagi mendengar ocehan dari pria yang tidak dikenalnya sama sekali. Kata-katanya pun tidak berdasar.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2