
"Aku juga sering menginap di apartemen ibu, tapi kenapa aku tidak pernah ketemu sama kamu?" tanya Khairi dengan menatap istrinya.
"Aku tidur di kamar ibu. Aku juga tahu saat kamu menginap di sana."
"Jadi ibu dan Laily juga kerjasama sama kamu buat bohongin aku?"
Afrin hanya tersenyum menanggapinya. Khairi hanya bisa menghela napas. Ternyata selama ini orang disekitarnya bisa bertemu dengan istrinya secara bebas, tetapi dirinya malah tidak tahu apa-apa. Jangan-jangan Ivan juga sering bertemu dengan Afrin.
"Kalau Ivan? Kamu juga sering bertemu dengannya?"
"Tidak, aku cuma berkomunikasi saja kalau sama Kak Ivan."
"Kamu teleponan sama dia? Aku saja tidak bisa bicara sama kamu, dia malah bebas mau bicara apa saja sama kamu. Pantas saja di surat yang kamu kirim, kamu mengatakan ada seseorang yang mengadu padamu tentang perilakuku, ternyata itu Ivan. Awas saja dia nanti!"
Afrin tertawa mendengarnya. Dia senang bisa melihat wajah suaminya yang kembali ceria. Meski dia mengucapkan kalimat ancaman, tapi wanita itu tahu jika sang suami tidak serius dengan ucapannya.
"Mas, besok kamu ada meeting?" tanya Afrin.
"Tidak, aku sudah minta Ivan buat kosongin jadwal buat besok. Aku ingin menghabiskan waktu sehari sama kamu."
"Besok kita cek kandungan, ya, Mas. Sebenarnya sudah waktunya cek sejak beberapa hari yang lalu, tapi aku nungguin kamu karena aku yakin kamu pasti senang melihatnya."
"Iya, Sayang! Aku tidak sabar ingin tahu bagaimana perkembangan anakku. Sekarang saja bagaimana?"
Sebagai calon papa, Khairi sangat antusias jika itu mengenai calon anaknya. Dia juga ingin tahu kondisi sang istri, apa tidak ada masalah dengan kandungan dan janin? Mengingat usia Afrin yang masih muda.
"Besok saja, Mas. Dokternya buka praktek jam delapan. Kalau ke sana sekarang juga percuma, aku tidak bisa di periksa. Ada sih dokter yang buka malam hari, tapi itu dokter laki-laki, apa tidak apa-apa?"
"Tidak ... baiklah, kita tunggu besok saja. Aku tidak mau kamu disentuh laki-laki lain."
"Diperiksa, Mas, bukan disentuh." Afrin meralat ucapan sang suami, terapi pria itu tidak mau tahu.
"Sama saja, disentuh juga, kan."
__ADS_1
Afrin menggelengkan kepala. Wanita itu tahu hal seperti ini akan terjadi karenanya dia periksa di dokter kandungan wanita. Sama halnya seperti Khairi, Afrin juga tidak mau diperiksa laki-laki, terasa aneh saja saat kulitnya disentuh pria lain. Apalagi yang diperiksa sesuatu yang sensitif.
"Kamu maunya anak laki-laki atau perempuan, Mas?" tanya Afrin sambil bersandar dibahu sang suami.
"Aku terserah saja, Sayang. Mau laki-laki atau perempuan, asal dia dan kamu sehat, itu sudah cukup. Bagiku kalian adalah segalanya. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi kalian di hatiku."
Afrin tersenyum mendengarnya. Dia kira sang suami akan berkata ingin laki-laki karena kebanyakan para pria seperti itu, tapi Khairi malah berkata apa saja asal dirinya baik-baik saja. Tanpa sadar tangan wanita itu mengusap perutnya, masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
"Besok setelah ke dokter, kita ke mall, ya, Mas. Kita cari kado buat Nuri. Dua hari lagi dia ulang tahun."
"Iya, Sayang, terserah kamu saja."
"Bunda juga bilang kalau kita nanti ngadain acara barbeque seperti dulu, Mas. Nanti kita ajak ibu sama Laily, ya, biar makin ramai."
"Boleh, nanti aku kabari ibu sama Laily," sahut Khairi. "Sebentar lagi magrib. Ayo, kita masuk! Nggak baik di luar rumah, apalagi kamu sedang hamil."
"Iya, Mas." Khairi dan Afrin masuk ke dalam rumah. Mereka bersiap untuk melaksanakan salat magrib bersama.
"Papa kenapa senyum-senyum saja dari tadi?" tanya Yasna yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Ini, Sayang. Tadi aku dapat pesan dari orang kepercayaanku, katanya Afrin sudah pulang ke rumahnya," jawab Emran
"Sudah pulang? Bukannya ini masih satu bulan, ya? Katanya dia mau menghukum suaminya sama enam bulan? Baru satu bulan saja sudah tidak tahan."
Emran tertawa mendengar gerutuan istrinya. Dia juga tidak tahu apa alasan yang membuat sang putri tiba-tiba saja pulang ke rumahnya, padahal sewaktu dia menginap di rumah ini. Emran dan Yasna berkali-kali memberi nasehat agar dia pulang dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, bukan pergi seperti ini.
Apalagi dia pergi saat suaminya sedang tertidur. Namun, Afrin selalu memiliki seribu alasan untuk berkilah. Emran memang tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga anak-anaknya, tetapi pria itu masih mengawasi orang-orang yang dicintainya.
"Seharusnya kita bersyukur, Sayang. Sekarang Afrin mau kembali ke rumahnya. Kenapa kamu seperti tidak suka, saat putrimu kembali bersama dengan suaminya?"
"Bukannya aku tidak suka, Mas. Hanya saja percuma dia kemarin aja sok-sokan akan pergi selama enam bulan. Eh, tiba-tiba sekarang pulang begitu saja. Mana aku sudah menawarkan kerjasama sama Ivan lagi."
"Memang Bunda menawarkan apa sama Ivan?"
__ADS_1
"Bukan apa-apa, sudah lupakan saja, mengingat semua itu bikin tambah pusing saja," ujar Yasna. "Oh ya, Pa. Aku mau buat pesta ulang tahun buat Nuri, nggak apa-apa kan? Kita buat acara keluarga saja kalau Nuri mau undang temannya, nanti buat acara lagi khusus anak-anak."
"Terserah kamu saja, asal kalian semua senang, Papa juga ikut senang."
"Uangnya mana, Pa!" pinta Yasna sambil menadahkan tangannya membuat Emran merasa heran. Dia menyerngitkan keningnya karena aneh. Ini baru pertama kali istrinya meminta uang. Setiap bulan pria itu mengirimkan uang ke ATM yang sudah disiapkan untuk Yasna sendiri.
"Kan, Papa sudah transfer setiap bulan."
"Ih, Papa, sekali-kali ngasih uang cash gitu. Aku juga pengen seperti ibu yang setiap kali minta uang sama ayah, selalu dikasih uang cash," ucap Yasna cemberut.
"Papa mana ada uang cash! Ada juga cuma sedikit."
"Tidak apa-apa lah berapa pun akan Bunda terima. Mana uangnya cepat!"
"Minta uang kayak orang nodong saja, pakai cepat-cepat segala," gerutu Emran. Namun, pria itu tetap berjalan menuju tas miliknya dan mengambil dompet di sana. Dia berjalan kembali menuju ranjang. "Tuh, kan, Bunda. Papa nggak ada uang adanya cuma tiga ratus ribu."
Emran mengeluarkan semua uang yang ada di dompetnya dan menunjukkannya pada istrinya.
"Nggak apa-apa, cukup buat beli balon," sela Yasna.
"Terus sekarang Papa yang nggak punya uang, dong!"
"Papa ambil aja di ATM sendiri. Uang Papa juga masih banyak, kan!"
Yasna segera keluar dari kamarnya dengan membawa uang yang diberi oleh suaminya. Emran hanya menatap kepergian sang istri sambil tersenyum. Melihat orang yang kita sayangi bahagia, membuat kita juga ikut bahagia.
"Sekarang dompetku yang kosong, hanya tinggal dua ribu. Cukuplah untuk beli permen," gumam Emran dengan kembali memasukkan uang dua ribu ke dalam dompetnya.
.
.
.
__ADS_1