Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
283. S2 - Menyewa detektif


__ADS_3

Mendengar bisikan dari sang suami membuat Afrin diam, kemudian melanjutkan lagi memasak tanpa membalas kata-kata pria itu Gerakan tangannya tidak berhenti, seolah tidak peduli ada seseorang yang memeluknya. Khairi yang tahu jika istrinya diam saja jadi merasa sedih.


"Sayang, aku sungguh minta maaf. Aku benar-benar tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya ingin segera menyelesaikan apa yang ingin kuketahui dan hari ini aku berniat mencari semuanya. Aku harap kamu mengerti keadaanku, aku mohon, Sayang! Maafkan aku," ucap Khairi dengan memelas.


Dia tidak akan menyerah sebelum sang istri memaafkannya.


"Sayang," panggil Khairi karena istrinya masih diam. Afrin melepas pelukan suaminya dan menghadap pria itu.


"Aku akan memaafkanmu tapi Kamu harus dihukum."


"Dihukum? Dihukum apa, Sayang? Apa pun akan aku lakukan, asal kamu mau memaafkanku," ucap Emran dengan yakin.


"Aku akan hukum kamu, tapi tidak sekarang. Kamu, kan, mau mencari mama kamu, nanti setelah semuanya mereda dan mama kamu sudah ketemu, baru kita bicarakan hukuman apa buat kamu," sahut Afrin.


"Jadi kamu sudah maafkan aku?"


"Tergantung nanti kamu bisa nggak terima hukuman dariku," jawab Afrin cuek.


"Pasti, aku pasti akan melakukannya."


"Oke, kita lihat saja nanti," sahut Afrin dengan tersenyum.


"Aku kok jadi merinding, perasaanku tiba-tiba saja tidak enak," gumam Khairi dengan pelan. Namun masih bisa didengar oleh Afrin.


"Kamu bicara apa, Mas?" tanya Afrin pura-pura tidak mendengar.


"Ah, tidak apa-apa, Sayang. Perutku sudah lapar," jawab Khairi beralasan.


"Kamu, kan, belum shalat! Ini juga masih terlalu pagi. Shalat dulu sana!"


"Kamu nggak shalat? Ayo, kita sholat jamaah!"


"Aku sedang libur, Mas. Jadi kamu salat sendiri saja."

__ADS_1


"Libur? Sejak kapan? Kemarin masih shalat."


"Kemarin memangnya, Mas, nggak lihat kalau aku nggak salat Maghrib dan isya?"


"Aku mana tahu, aku kira saat aku pergi ke masjid kamu shalat di rumah sakit," ucap Khairi. "Aku harus libur selama seminggu," lanjutnya bergumam.


"Ya sudah, Mas, salat sana!"


Khairi pun masuk meninggalkan istrinya yang sedang memasak. Sementara Afrin hanya tersenyum melihatnya. Dia senang jika sang suami menyadari telah melakukan kesalahan. Jujur ada rasa takut dalam dirinya saat Khairi membentaknya. Wanita itu takut akan berlanjut hari ini, besok dan seterusnya.


Afrin sering mendengar jika seorang laki-laki sudah berani berbuat kasar, maka selanjutnya tidak akan sungkan untuk melakukannya lagi. Wanita itu berharap suaminya tidak akan pernah melakukan itu. Dia paling tidak suka dibentak, sejak kecil Afrin tidak pernah dibentak. Sekali pun Bunda atau papanya marah. Hanya kata-kata nasehat yang mereka ucapkan.


Dalam keluarga Emran, tidak pernah satu kata kasar pun yang terucap karena itulah yang akan Afrin terapkan juga dalam keluarga yang dibangunnya kini. Wanita itu pun melanjutkan masakannya. Dia sengaja memasak banyak untuk dibawa ke rumah sakit. Afrin yakin mertuanya pasti rindu masakan rumah. Sejak menunggu Papa Hamdan, Mama Meri selalu makan makanan yang dibeli di restoran.


Tidak berapa lama akhirnya makanan terhidang juga di meja makan. Wanita itu juga menyiapkan tiga kotak makanan yang akan dibawa ke rumah sakit. Tidak lupa juga dia menyiapkan satu kotak bubur untuk papa mertua.


"Ini mau dibawa ke mana, Sayang?" tanya Khairi yang baru keluar dari kamar.


"Mau dibawa ke rumah sakit, Mas. Pasti mama rindu masakan rumah. Aku juga sudah buatin papa bubur, mudah-mudahan dia suka," ucap Afrin dengan tersenyum.


Pria itu uduk diikuti istrinya. Afrin berpikir sejenak sebelum menjawab, "Aku tidak tahu bagaimana karakter papa. Aku tidak mengenalnya dengan baik. Terserah mas saja bagaimana baiknya, tapi papa lagi sakit, apa tidak apa-apa, Mas, bertanya padanya sekarang?"


"Kita tunggu sampai keadaan membaik saja. Aku tidak ingin keadaan papa semakin memburuk."


"Terus bagaimana, Mas, mencarinya?"


"Sekolah mama waktu SMA dulu. Pasti di sana ada alamatnya, tapi aku akan menyerahkan semuanya pada seorang detektif. Aku tidak tahu bagaimana mencari orang hilang. Apalagi ini sudah bertahun-tahun," jawab Khairi dengan lesu.


Afrin mengerti keadaan sang suami. pria itu juga masih harus mengurus dua perusahaan. Pasti tidak mudah melakukan semuanya. Sebagai istri dia tidak bisa membantu apa pun, hanya support yang bisa dilakukannya.


Mereka mulai menikmati sarapan pagi, meski sedang tidak berselera, tapi harus dipaksakan agar memiliki tenaga untuk menghadapi masalah yang tengah dihadapi.


Setelah selesai sarapan, Khairi mengantar sang istri ke rumah sakit. Wanita itu akan menemani Mama Merry hari ini karena dia tidak ada kelas.

__ADS_1


"Kamu lagi apa sih, Sayang? Serius sekali," tanya Khairi saat mereka dalam perjalanan ke rumah sakit. Dari tadi Afrin terlihat sibuk dengan ponselnya. Seperti ada sesuatu yang penting.


"Aku cuma mencoba mencari nama mama kamu di akun sosial media barangkali ada, ternyata tidak ada,' jawab Afrin lesu.


"Mungkin kalau kita tahu nama adikku, kita bisa mencarinya. Jangankan namanya, dia laki-laki atau perempuan saja kita tidak tahu," jawab Khairi lesu.


"Kamu tidak boleh pesimis, yakinlah kita bisa menemukannya," ucap Afrin yang diangguki Khairi.


Dalam perjalanan selanjutnya hanya ada keheningan. Baik Khairi atau Afrin larut dalam pikiran masing-masing. Dalam hati mereka ada keraguan, apa orang yang sudah hilang bertahun-tahun bisa ditemukan? Yang baru setahun, dua tahun saja kadang tidak ketemu, apalagi ini? Akan tetapi semua kembali pada Tuhan. Tidak ada yang tidak mungkin jika Dia sudah berkehendak.


Mobil mereka akhirnya sampai di depan rumah sakit.


"Aku tidak turun, ya, Sayang. Aku ada meeting pagi ini. Nanti Bik Asih dan Fatma kamu suruh naik taksi saja. Bilang juga sama Fatma, kalau kamu sudah izin sama gurunya buat dia nggak masuk hari ini," ucap Khairi pada istrinya.


Afrin tersenyum sambil mengangguk sebagai jawaban. Dia senang suaminya masih memikirkan perasaannya disaat seperti ini. Wanita itu pun turun dan memasuki rumah sakit seorang diri dengan membawa makanan yang dibuatnya tadi.


Afrin mengetuk pintu ruang rawat mertuanya sebelum masuk. Terlihat semua orang sedang berbincang.


"Assalamualaikum," ucap Afrin.


"Waalaikumsalam, kamu datang sendiri? Khairi mana?" tanya Mama Merry.


"Mas Khairi nggak iku masuk, Ma. Pagi ini ada meeting penting dengan kolega papa," jawab Afrin. Dia tahu jika mertuanya kecewa karena Khairi tidak datang padahal semalam meeka tidak menginap. "Aku bawakan sarapan, sebaiknya kita sarapan dulu. Oh, iya, Fatma. Tadi aku sudah izin buat kamu agar tidak masuk hari ini."


"Iya, Non," sahut Fatma. Pergi sekarang pun pati akan terlambat.


"Kalian sarapan saja dulu. Mama tidak lapar."


"Ma, aku tidak ingin mengulang kalimat yang sama setiap hari. Ini untuk kebaikan bersama," ucap Afrin yang membuat Mama Mery akhirnya mau makan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2