Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
306. S2 - Tidak sengaja


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Afrin begitu memasuki rumah.


"Waalaikumsalam ... Afrin, kamu sendiri! Mana Khairi?" tanya Mama Merry sambil melihat belakang menantunya barangkali ada putranya.


"Mas Khairi ada meeting mendadak, Ma. Jadi tidak bisa pulang," jawab Afrin berbohong.


Dia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya, itu pasti akan menyakiti hati mertuanya. Cukup dirinya saja yang sakit hati atas sikap sang suami hari ini.


"Oh, ya sudah, kamu mandi dulu sana! Setelah itu kita makan malam."


"Iya, Ma." Afrin pun berlalu menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Merry menghela napas panjang, membuat Hamdan menatapnya. "Kenapa, Ma?" tanya pria itu.


"Tidak apa-apa," jawab Merry berbohong.


Sebenarnya wanita itu tahu jika Afrin berbohong karena tadi siang, dia melihat status Khairi yang sedang jalan-jalan bersama ibu dan adiknya. Yang tidak Merry tahu, kenapa menantunya pulang sementara sang putra tidak. Jelas-jelas tadi Afrin juga ikut. Akan tetapi, wanita itu tidak ingin mengatakan yang sejujurnya. Sudah pasti Hamdan akan merasa sedih dan membuat penyakitnya kambuh.


Tidak berapa lama, akhirnya Afrin keluar dengan pakaian santainya. Dia tersenyum pada kedua mertuanya yang menunggu di ruang keluarga. Wanita itu tahu jika Papa Hamdan sudah melakukan kesalahan yang fatal, tetapi apa perlu semua orang menghakiminya? Bagi dia, cukup ibu dan Laily saja yang membencinya, yang lain jangan.


"Kita makan sekarang atau tunggu Khairi, Frin?" tanya Mama Merry.


"Makan sekarang saja, Ma. Takutnya Mas Khairi pulang larut. Lagi pula Papa harus minum obat, kan?"


"Baiklah, ayo, kita makan!"


"Tunggu sebentar, Papa mau bicara dulu dengan kalian berdua," cegah Hamdan.


"Mau bicara apa, Pa?" tanya Merry. Afrin pun ikut duduk di sofa tunggal.


"Aku ingin minta maaf sama kalian. Pasti banyak kesalahan yang sudah aku lakukan tanpa sengaja. Kata maaf saja pasti tidak akan cukup, tapi hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Semua tenagaku seolah terkuras oleh sesuatu yang tidak kuketahui. Kalian mau, kan, memaafkan semua kesalahan pria tua ini?" tanya Hamdan dengan air mata yang menetes.

__ADS_1


Pria itu merasa, semua yang terjadi akhir-akhir ini karena dirinya jadi, dia perlu meminta maaf.


"Papa ini bicara apa? Aku tidak merasa Papa punya kesalahan. Ya, mungkin ada yang tidak disengaja, tapi itu wajar bagi seorang manusia jadi, Papa tidak perlu meminta maaf seperti ini," sahut Merry dengan sedih juga.


"Iya, Pa. Kita satu keluarga, melakukan kesalahan yang tidak disengaja itu wajar. Aku juga pasti pernah melakukannya secara tidak sengaja. Kami pun sudah saling memaafkan tanpa meminta maaf."


"Iya, Pa. Afrin benar, kita tidak perlu seperti ini."


"Terima kasih, ayo, kita makan! Maafin Papa yang malah ngajak sedih-sedihan."


Merka pun menuju meja makan hanya bertiga. Sepanjang makan malam Papa Hamdan banyak bicara, padahal dia tidak pernah suka jika makan sambil bicara. Merry senang karena sang suami terlihat ceria. Afrin juga terlihat berusaha membuat mertuanya itu senang.


Usai makan malam, Afrin pamit untuk ke kamar. Seperti yang dikatakannya tadi di apartemen mertuanya jika dia ada tugas, tetapi tidak banyak.


"Pa, Ma, aku ke kamar dulu. Ada tugas yang harus kukerjakan," pamit Afrin.


"Jangan terlalu malam. Kamu harus jaga kesehatan, jangan sampai sakit," sahut Hamdan.


"Iya, Pa."


Tidakkah Khairi takut terjadi sesuatu padanya? Afrin menghela napas dan beberapa kali beristighfar untuk mengurangi rasa sakit hatinya.


Tepat jam sepuluh malam, pintu kamarnya terbuka. Afrin masih asyik mempelajari bukunya. Dia tidak melihat ke arah suaminya. Lebih tepatnya pura-pura tidak tahu.


"Sayang, masih belum tidur?" tanya Khairi.


"Iya, ini mau tidur," sahut Afrin tanpa melihat sang suami.


Dia membereskan buku-bukunya dan beranjak ke atas ranjang begitu saja. Wanita itu menarik selimutnya dan memejamkan matanya. Khairi yang tahu istrinya sedang marah pun mendekatinya.


"Sayang, ada apa, sih? Kenapa kamu cuek gitu sama aku? Apa aku membuat kesalahan yang tidak disengaja?" tanya Khairi sambil mengusap rambut Afrin.

__ADS_1


Afrin masih diam dibalik selimut, membuat Khairi bertanya lagi karena dia tidak suka jika didiamkan seperti ini.


"Ada apa, sih? Kenapa kamu diam?"


"Masih ingat jika punya istri?"


"Apa maksud kamu? Tentu saja aku masih ingat jika punya istri." Khairi menyernyitkan keningnya, dia tidak mengerti maksud istrinya.


Afrin bangun dan duduk menghadap sang suami. Dia perlu menjelaskan apa saja yang terjadi hari ini.


"Terus yang kamu lakukan sepanjang hari ini itu apa? Kamu sama sekali nggak ingat ada aku ... pertama, saat naik mobil. Tidak bisakah kamu mengatakan padaku, Afrin kamu di belakang tidak apa-apa, kan, biar Laily di depan. Yang kedua, sepanjang kita jalan-jalan kamu selalu menggandeng adikmu dan sama sekali tidak ingat ada aku di sana. Yang ketiga, kamu melupakan janjimu pada Papa dan Mama Merry untuk makan malam di rumah. Apa kamu tidak tahu betapa kecewanya mereka? Bahkan Papa sampai meminta maaf padaku dan Mama jika selama ini sudah berbuat salah."


Afrin memejamkan matanya merasa sedih atas apa yang terjadi hari ini. Bukan maksudnya tidak mengerti perasaan sang suami yang ingin membahagiakan ibu dan adiknya, tetapi ada orang tua lain yang harus dijaga perasaannya. Dia tidak ingin hal itu terjadi padanya juga suatu hari nanti. Tidak bisakah Khairi adil?


"Sayang, kamu, kok bicara seperti itu! Laily itu adikku, kenapa kamu cemburu sampai berlebihan.Mengenai Papa Hamdan dan Mama Merry, kita sudah terlalu sering makan bersama mereka, apa salahnya hanya makan malam sekali!"


"Hari ini mungkin sekali. Kita tidak tahu akan ada kedua, ketiga, keempat dan seterusnya."


"Apa salahnya, jika itu bisa membuat ibu dan adikku bahagia."


Afrin menghela napas. Sepertinya percuma berbicara dengan Khairi, yang ada di pikirannya saat ini hanya ibu dan adiknya. Wanita itu pun memilih kembali merebahkan tubuhnya kembali. Dia menarik selimutnya hingga sampai leher.


"Kita belum selesai berbicara, kenapa kamu tidur?"


"Sebaiknya kamu mandi dan tidur, ini sudah malam," ucap Afrin dengan mata terpejam.


Khairi pun masuk ke kamar mandi. Dia tidak ingin membuat keributan di malam hari, apalagi dengan istrinya. Pria itu memikirkan semua kejadian hari ini. Memang Khairi akui jika dirinya sudah keterlaluan hari ini dengan tidak menghiraukan sang istri sama sekali. Dia hanya ingin melihat membahagiakan ibu dan adiknya saja, tanpa sengaja dia sudah membuat Afrin tersisih.


"Aku sama sekali tidak ada niat untuk melupakanmu. Aku tidak sadar melakukannya," gumam Khairi di tengah guyuran air shower.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2