
"Sayang," panggil seorang wanita yang baru saja datang bersama dengan suaminya.
"Bunda," sahut Afrin yang segera berhambur memeluk Yasna dan menumpahkan air matanya. Sedari tadi dia sudah menahan semua. Afrin tidak ingin mertuanya merasa terpuruk karenanya dia berusaha terlihat baik-baik saja.
"Bagaimana keadaan Pak Hamdan, Bu Merry?" tanya Emran begitu mereka dekat.
"Masih belum tahu, Pak Emran. Dokter masih memeriksanya di dalam," jawab Merry yang masih menangis.
"Sebaiknya kita duduk dulu, biar tenang," ajak Yasna.
Mereka pun duduk di kursi yang tersedia di sana. Hanya Emran yang masih berdiri. Pria itu memperhatikan keadaan putri dan besannya sedang tidak baik-baik saja. Sementara pria yang harusnya bertanggung jawab tidak menunjukkan batang hidungnya.
"Khairi ke mana?" tanya Emran.
"Aku sudah menghubunginya, tapi tidak diangkat," jawab Afrin.
"Mungkin dia masih ingin menghabiskan waktu dengan ibunya," gumam Merry yang masih bisa didengar semua orang.
Yasna mengerti sekarang. Pantas saja Afrin menghubungi papanya karena saat ini, di sini tidak ada laki-laki yang bisa dijadikan sandaran. Wanita itu tidak habis pikir dengan menantunya. Sesibuk itukah dia dengan ibu dan adiknya, hingga tidak ada waktu untuk sekadar mengangkat panggilan dari istrinya?
"Apa administrasi sudah diurus?" tanya Emran.
"Sudah, Pa. Untung saja tadi aku sempat bawa tas," jawab Afrin.
"Terima kasih ya, Frin. Mama sampai nggak keingetan soal itu," sela Mama Merry.
"Tidak apa-apa, Ma."
Mereka kembali terdiam, menunggu pintu yang ada di depan terbuka. Waktu seolah mempermainkan kegelisahan dan ketegangan yang semua orang rasakan kini. Merry ingin sekali berteriak agar dokter dan perawat segera melakukan tugasnya.
"Kenapa mereka lama sekali? Apa terjadi sesuatu sama papa?" Tangis Merry semakin pecah. Dia tidak sanggup menunggu seperti ini.
Afrin melepaskan pelukan bundanya dan menatap Mama Merry. Dia menggenggam tangan mertuanya, berharap bisa mengurangi kegelisahan yang wanita itu rasakan. Afrin juga sama tegangnya.
__ADS_1
"Mama, jangan bicara seperti itu. Kita berdoa saja agar papa baik-baik saja."
"Kamu lihat sendiri, kan, bagaimana papa tadi! Dia sama sekali tidak mau membuka matanya. Mama takut, Mama—" Merry tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Afrin pun tidak tahu harus berkata apa. Tubuhnya juga masih bergetar. Baru kali ini dia mengalami hal semacam ini dan dia yang harus bertanggung jawab atas kejadian ini. Karena saat ini di keluarganya hanya wanita itu yang ada.
Tiba-tiba saja dokter keluar dari ruang ICU. Sorot matanya seolah berkata menyesal. Jantung Afrin tidak bisa bersahabat lagi. Dia tahu akan mendapat kabar buruk kali ini. Semua orang mendekatinya, ingin tahu keadaan Hamdan.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Merry.
Dokter itu menghela napas sebelum menjawab, "Mohon maaf, Bu. Kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi takdir berkata lain. Tuhan lebih menyayangi beliau."
"A–apa ma–maksud, Dokter? Saya tidak mengerti." Merry cukup mengerti maksud dari kata-kata dokter. Hanya saja jiwanya tidak menerima berita itu.
"Pak Hamdan sudah meninggal sepuluh menit yang lalu, Nyonya. Sebaik—"
Belum selesai dokter berbicara, tubuh Merry sudah merosot ke tanah dan tidak sadarkan diri. Afrin histeris, satu sisi papa mertuanya telah meninggal dan sekarang mama mertuanya tidak sadarkan diri.
"Mama! Ma, bangun. Jangan membuatku takut," pekik Afrin dengan air mata yang mengalir. "Bunda, bagaimana ini?" tanya Afrin pada Yasna.
Selain dokter hanya ada Emran yang pria di sana. Pria itu menatap istrinya seolah meminta izin untuk mengangkat tubuh wanita lain. Yasna yang mengerti pun mengangguk. Mereka mengikuti langkah dokter dan membawa Merry kesebuah ruangan.
Dokter itu memeriksa keadaan Merry dengan saksama dan berkata, "Keadaannya baik-baik saja, dia hanya syok saja. Sebentar lagi pasti bangun. Mengenai jenazah Pak Hamdan, sebaiknya segera diurus. Kasihan jika terlalu lama dibiarkan."
"Iya, Dok. Terimakasih," sahut Emran.
"Kalau begitu saya permisi," pamit dokter yang diangguki Emran.
Dokter pun meninggalkan ruangan itu. Emran juga pamit untuk segera menyelesaikan semua keperluan kepulangan jenazah. Afrin sangat berterima kasih pada papanya yang sudah bersedia datang disaat seperti ini.
"Frin, hubungi suamimu, siapa tahu dia sudah tidak sibuk," ucap Yasna yang diangguki putrinya.
Dalam hati, Afrin sangat marah pada suaminya. Disaat seperti ini , kenapa dia tidak ada? Di mana tanggung jawabnya sebagai anak dan suami? Wanita itu tidak menyalahkan Bu Nur dan Laily karena mereka tidak tahu apa-apa, tetapi Khairi harusnya tahu tanggung jawabnya dan bisa membagi waktu.
__ADS_1
Afrin pun mencoba menghubungi sang suami kembali. Sama seperti sebelumnya, tidak ada jawaban sama sekali. Dia pun memilih menghubungi Ivan, biar sekretaris itu saja yang mencari keberadaan atasannya. Wanita itu sudah cukup pusing dengan keadaan di sini.
Tidak berapa lama, Mama Merry tersadar. Wanita itu langsung histeris kala teringat jika suaminya kini telah tiada. Berkali-kali dia memukuli dadanya guna mengurangi sesak yang dirasakan. Akan tetapi, bukannya membaik hatinya justru semakin sakit.
Afrin segera memeluk mertuanya. Wanita itu tidak sanggup melihat betapa hancurnya Mama Merry. Dia bisa merasakan bagaimana perasaan mertuanya kini. Kehilangan seseorang yang sudah menemaninya bertahun-tahun. Pasti banyak kenangan yang tersimpan di hati mereka, baik itu yang baik atau buruk.
"Papa! Kenapa papa ninggalin Mama! Bagaimana Mama bisa hidup tanpa Papa!" teriak Merry. Berulangkali dia meneriakkan kalimat yang sama hingga kembali tidak sadarkan diri.
Afrin semakin merasa tidak berguna. Seharusnya dia mencoba untuk membuat mertuanya ikhlas, bukannya ikut menangis.
"Ma, jangan seperti ini. Mama harus kuat," bisik Afrin yang sudah pasti tidak didengar Merry.
*****
Khairi masih dalam kebingungannya melihat sekeliling. Tiba-tiba ponselnya berdering, pria itu segera mengambilnya di kursi samping. Tertera nama Ivan di sana.
"Halo, assalamualaikum," ucap Afrin.
"Br****ek, kamu ada di mana? Kenapa tidak mengangkat panggilan?" umpat Ivan tanpa menjawab salam.
"Kamu apa-apaan, sih, baru telepon sudah marah-marah. Tidak jawab salam lagi," gerutu Khairi yang justru semakin membuat Ivan geram.
"Lebih baik lihat ponsel dulu. Aku tidak ada waktu meladenimu." Ivan memutuskan panggilan sepihak.
Khairi menyernyitkan keningnya mendengar asistennya berbicara. Dia merasa aneh dengan kata-kata Ivan. Pria itu segera memeriksa ponselnya.
Ada seratus lebih panggilan tidak terjawab dan puluhan pesan dari istrinya, Ivan, Mama Merry dan Papa Emran. Khairi lebih tertarik dengan pesan dari Afrin. Dia membaca pesan satu persatu, hingga pada kalimat terakhir membuat pria itu tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya.
Semua bagai mimpi untuknya. Tangan yang dia gunakan untuk mengambil kembali ponselnya dan membaca pesan dari semua orang. Semua pesan itu sama, mengatakan jika Papa Hamdan sudah mengembuskan napas terakhirnya.
.
.
__ADS_1
.