
Proses pemakaman Papa Hamdan berjalan lancar. Merry masih duduk di samping pusara sang suami. Padahal semua orang sudah pulang. Hanya tinggal beberapa kerabat dekat. Nur dan Laily juga masih ada di sana.
"Mbak Merry, aku pulang dulu," pamit adik dari wanita itu.
Merry tidak berkata apa pun. Dia hanya menyalami saja. Hingga Afrin yang mengambil peran untuk berterima kasih pada tantenya itu.
"Terima kasih, Tante, sudah meluangkan waktu untuk datang."
"Sudah sewajarnya. Jaga mertuamu baik-baik, ya! Dia pasti sangat terluka."
"Iya, Tante. Aku pasti menjaganya."
Adik Merry juga berpamitan pada Khairi. Sstelah itu pergi bersama suaminya.
"Ma, ayo, kita pulang! Ini sudah sore. Kita pulang naik mobil Kak Ivan," ajak Afrin.
Merry mengangguk dan berlalu bersama Afrin diikuti Khairi di belakangnya. Kedua wanita itu menaiki mobil Ivan seperti saat berangkat tadi. Sementara Khairi, Nur dan Laily menaiki mobilnya yang dikendarai sopir perusahaan.
Begitu sampai di rumah, Merry memasuki kamarnya dengan masih ditemani Afrin. Wanita itu sudah meminta menantunya kembali ke kamar, tetapi Afrin menolak dengan alasan ingin menemaninya. Pintu diketuk seseorang dari luar dan masuklah Bik Asih dengan membawa nampan.
"Nyonya Merry, Non Afrin, sebaiknya makan dulu. Dari pagi belum ada yang sarapan."
"Terima kasih, Bik," ucap Afrin yang diangguki Bik Asih, kemudian menatap mertuanya. "Mama, makan sendiri atau mau aku suapi?"
"Mama tidak lapar. Kamu saja yang makan," tolak Merry.
"Mama dari pagi belum makan. Bagaimana bilang tidak lapar? Aku tahu Mama sedang sedih, tetapi jangan melupakan kesehatan. Jika papa tahu, dia pasti akan merasa sedih."
Merry terdiam menatap Afrin. Dia merasa beruntung memiliki menantu sepertinya. Akan tetapi, sekarang Hamdan sudah tidak ada. Apakah pantas wanita itu masih menganggapnya menantu? Setetes air mata jatuh di pipi Merry, membuat Afrin merasa sedih.
"Mama makan, ya," bujuk Afrin lagi.
__ADS_1
"Sekarang papa sudah tidak ada. Apa saya masih pantas untuk kamu panggil mama? Apalagi saya juga pernah melakukan sesuatu yang tidak baik terhadapmu," ucap Merry dengan pelan.
"Mama adalah mertuaku sampai kapan pun. Meskipun sekarang sudah ada Ibu Nur, tapi Mama memiliki tempat tersendiri di hatiku. Aku harap Mama tidak berpikir yang tidak-tidak."
"Terima kasih, kamu memang wanita yang baik," ucap Merry. "Biar Mama makan sendiri."
Merry mengambil piring yang berisi makanan di tangan menantunya. Afrin merasa senang melihat hal itu. Dia pun mengambil piring yang lain di atas meja dan ikut memakannya juga. Keduanya tersenyum saling memandang.
Afrin berharap setelah ini Merry tabah menghadapi setiap masalah. Dia tidak akan membiarkan mertuanya merasa sedih.
Sementara di ruang makan, Khairi seorang diri. Pria itu sama sekali tidak selera makan. Semua kerabat sudah pulang, begitu juga dengan ibu dan adiknya. Bik Asih dan Fatma pun lebih memilih makan di belakang.
Khairi jadi berpikir, apakah ini yang papanya rasakan saat dirinya sibuk dengan ibu dan adiknya hingga lupa pada keluarga lainnya? Pria itu teringat sang istri yang selalu menghubungi keluarganya dan berbincang banyak hal. Sayang, dia tidak bisa seperti itu.
Dia tidak ingin masalah ini berlarut. Khairi harus meminta maaf pada mama dan istrinya. Pria itu segera beranjak dari tempat duduknya menuju kama Mama Merry. Apa pun yang akan diterimanya nanti, dia akan menerima.
Di depan pintu kamar mamanya, Khairi berdiri dengan menarik napas beberapa kali. Dia mengetuk pintu beberapa kali, hingga terdengar sahutan dari dalam yang memintanya untuk segera masuk. Pelan tapi pasti pria itu membuka pintu dan memasuki kamar.
Khairi mendekati mamanya yang duduk bersandar pada kepala ranjang dengan sepiring nasi di tangannya. Sementara Afrin duduk di tepi ranjang di samping mamanya. Dia bersyukur Mama Merry masih memperhatikan kesehatannya. Meski dapat dilihat jika wanita itu tidak berselera. Mata yang dahulu memancarkan ketegasan, kini redup seolah tak bernyawa.
*****
"Pa, apa terjadi sesuatu dengan keluarga mertua Afrin? Kok, aku merasa ada sesuatu, ya?" tanya Yasna pada sang suami saat mereka sedang menikmati makan malam.
"Bun—"
"Jangan bilang Bunda sedang bergosip!" potong Yasna sebelum suaminya melanjutkan kata-katanya.
"Bunda memang bergosip, kan?" ujar Emran.
"Iya, tapi ini mengenai putri kita, Pa!"
__ADS_1
"Afrin memang putri kita, tapi jangan lupa jika dia seorang istri. Dia sudah bukan tanggung jawab kita lagi, kecuali dia sendiri yang datang pada kita untuk meminta bantuan."
Yasna terdiam. Memang benar apa yang dikatakan suaminya. Akan tetapi, sebagai seorang ibu, dia tidak tega melihat putrinya bersedih. Semoga saja Afrin bisa menyelesaikan masalah dengan bijak.
Sejak kecil Afrin selalu mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Akan tetapi, bukan berarti dia menjadi wanita manja yang hanya bisa bersantai. Dia juga bisa menjadi tegar dan kuat melebihi wanita umumnya.
Mereka pun melanjutkan makan malam dengan tenang. Aydin sebenarnya ingin bertanya pada bundanya, tetapi mendengar komentar sang papa seperti itu, dia pun mengurungkan niatnya. Mungkin nanti saat bertemu adiknya, pria itu bisa bertanya.
Di malam hari, Yasna tidak bisa tidur. Dia masih kepikiran soal putrinya, meski Emran mengatakan semua akan baik-baik saja, tetap saja wanita itu khawatir. Yasna membalikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan hingga membuat suaminya terbangun.
"Ada apa, Sayang?" tanya Emran dengan suara serak khas bangun tidur.
"Tidak ada apa-apa, Mas," jawab Yasna. "Mas, kebangun, maaf, ya!"
"Kamu tidak bisa berbohong. Ada apa? Kamu masih kepikiran soal Afrin?"
Yasna menganggukkan kepalanya. Dia sudah berusaha untuk memejamkan mata. Namun, tak kunjung membuatnya tidur, justru membuat wanita itu semakin gelisah. Emran yang mengerti pun segera memeluk sang istri. Yasna memang sudah terbiasa seperti ini jika gelisah.
Dulu bahkan dia pernah minum obat tidur agar bisa tidur dan menenangkan pikirannya. Padahal saat itu masalahnya begitu sepele apalagi kini Afrin yang sudah jelas memiliki masalah.
"Aku sudah sering mengatakan padamu untuk tidak terlalu sering mengkhawatirkan anak-anak. Mereka sudah dewasa. Biarkan mereka berpikir sendiri. Tidak selamanya kita bisa mendampingi mereka. Kamu lihat Pak Hamdan. Tidak ada yang tahu jika hari ini dia tutup usia. Begitu juga dengan kita nanti."
"Iya, Pa. Aku sudah berusaha untuk tidak khawatir, tetapi tetap saja rasa itu muncul begitu saja."
"Pelan-pelan, pasti bisa."
Yasna mengangguk. Dia akan mencoba untuk terlihat baik-baik saja mulai hari ini. Meski sulit, dia akan mencoba. Emran mengajak istrinya berbincang hingga wanita itu tertidur dalam pelukannya. Pria itu senang sang istri tidak lagi memendam masalahnya sendiri.
Emran pun menyusul Yasna ke alam mimpi, berharap esok semua masalah bisa teratasi dengan baik.
.
__ADS_1
.
.