
"Kenapa Papa tidak mencoba mencari tahu tenang isi kotak itu?" tanya Afrin.
"Karena Papa sudah terlanjur sakit hati. Selain itu, mama juga menghasutku agar tidak membukanya dengan alasan akan semakin membuatku sakit hati. Aku memang benar-benar bodoh waktu itu," ucap Papa Hamdan sedih.
"Pa, aku tidak mengenal keluarga Papa bagaimana, tapi bukankah seorang istri sepenuhnya tanggung jawab Papa? Kenapa tidak ada rasa saling percaya antara Papa dan istri Papa saat itu?"
Papa Hamdan hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Afrin tidak bisa memaksa mertuanya menjawab pertanyaan yang dia lontarkan. Biarlah itu menjadi masalahnya sendiri.
"Sebaiknya Papa bicarakan bersama dengan Mas Khairi. Siapa tahu dengan begitu beban Papa jadi lebih ringan," usul Afrin.
"Papa takut dia marah. Selama ini dia selalu bertanya tentang mamanya, tapi Papa selalu mengatakan jika mamanya sudah meninggal. Sekarang tiba-tiba Papa mengatakan jika mamanya masih hidup. Bukankah itu akan sangat menyakitinya?"
"Justru Mas Khairi akan lebih sakit hati jika Papa tidak pernah mengatakannya." Afrin mencoba memberi pengertian pada mertuanya. Dia tidak ingin hubungan antara ayah dan anak itu merenggang. Wanita itu sangat tahu jika keduanya sama-sama memiliki watak yang keras.
"Apa kamu yakin?" tanya Papa Hamdan mencari keyakinan.
"Tentu, Pa. Nanti kalau Mas Khairi marah, akan aku bantu membujuknya," ucap Afrin tersenyum dengan nada bercanda.
Dalam hati Papa Hamdan ada keraguan, tetapi dia tidak ingin dihantui rasa bersalah selamanya. Jalan terbaik untuknya memang hanya kejujuran. Mengenai nanti Khairi marah atau tidak, biarlah itu menjadi urusan nanti.
Afrin berharap Papa Hamdan menyetujui idenya, kalau tidak masalah ini akan berlarut-larut. Semua akan semakin rumit.
"Baiklah, Papa akan bicarakan masalah ini dengan Khairi. Kamu hubungi dia, ya, minta dia datang ke sini."
"Iya, Pa. Nanti akan aku hubungi Mas Khairi."
Afrin merasa senang, saat mertuanya mau mengatakan yang sejujurnya pada sang suami. Kini giliran dia untuk meyakinkan Khairi agar tidak terpancing emosi saat bicara dengan Papa Hamdan nanti. Semoga masalah cepat diselesaikan dengan baik dan mama kandung Khairi pun cepat ditemukan.
Tiba-tiba saja bayangan Mama Merry terlintas. Bagaimana dengan wanita itu nanti? Apa Papa Hamdan akan kembali pada Mama Nur atau bertahan dengan Mama Merry? Kenapa dia jadi ikut pusing memikirkan hal itu? Biarlah para tetua yang memutuskan.
"Aku keluar dulu, Pa. Mau cari makan siang buat Mama," pamit Afrin. Wanita itu perlu bicara dari hati ke hati dengan sang suami.
"Iya, nanti mamamu pasti lapar," Sahut Hamdan yang diangguki oleh Khairi.
__ADS_1
Afrin pun segera keluar dari ruangan mertuanya, menuju restoran yang ada didekat rumah sakit. Akan tetapi, sebelum ke restoran itu, dia perlu menghubungi suaminya dan mengatakan apa yang diminta oleh Papa Hamdan. Wanita itu mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya untuk menelepon Khairi.
"Halo, assalamualaikum," ucap Khairi yang berada di seberang.
"Waalaikumsalam, Mas, ada di mana? Jadi ke rumah sakit?" tanya Afrin.
"Iya, Sayang. Ini sebentar lagi sampai."
"Oh, sebentar lagi sampai? Kalau begitu aku tunggu di depan, ya, Mas. Ada sesuatu yang ingin aku katakan."
Khairi menyernyitkan keningnya. Dia merasa pasti ini ada hubungannya dengan papanya. Apa Afrin ingin mengatakan jika pria itu tidak boleh membicarakan ini dengan Papa Hamdan? Bukankah memang Khairi sudah sepakat untuk tidak membicarakan masalah ini hingga keadaan membaik.
"Iya, Sayang, sebentar lagi sampai."
Benar saja tidak lama sang suami datang seorang diri. Afrin pun mendekati Khairi dan mengajaknya ke taman rumah sakit yang sedikit jauh. Hingga tidak ada orang disekitar mereka.
"Ada apa, sih, Sayang?" tanya Khairi yang aneh melihat istrinya celingukan seperti maling takut ketahuan saja.
"Mas, tadi aku sudah bicara dengan Papa. Dia bilang mau bicara sama kamu,"
"Mengenai yang kamu temukan semalam, tapi aku harap kamu bicaranya pelan-pelan. Kamu tahu, kan, kalau papa masih belum sehat betul."
"Kamu bilang sama papa kalau aku menemukan barang-barang yang papa sembunyikan kemarin?"
"Tidak, aku cuma bilang kalau aku sedih, kamu nyimpan sebuah foto semasa SMA bersama dengan perempuan lalu, papa menyangkalnya. Tidak mungkin itu kamu karena kamu, kan, home schooling."
"Jadi kamu menfitnah suamimu ini selingkuh begitu?"
Afrin tertawa sebelum menjawab, "Habisnya nggak ada cerita lain sebagai alasan."
"Dasar," cibir Khairi. "Terus aku harus bicara apa sama papa?" tanya Khairi dengan lesu.
"Kamu putranya pasti lebih tahu mana yang terbaik untuknya.," sahut Afrin dengan menggenggam tangan sang suami. "Ayo, kita masuk! Kamu bawain kami makan siang, kan?"
__ADS_1
"Iya, ada di mobil. Ayo, kita ambil dulu!"
Mereka pun mengambil makanan yang ada di mobil, kemudian berjalan beriringan menuju ruangan Papa Hamdan. Khairi sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya pada telapak tangan istrinya. Afrin yang mengerti perasaan suaminya pun membiarkannya saja.
"Assalamualaikum," ucap Khairi dan Afrin bersamaan.
"Waalaikumsalam, kalian, kok, bisa datang bersamaan?" tanya Mama Merry.
"Iya, Ma. Tadi saat mau beli makanan Mas Khairi telepon dan bilang kalau sudah di perjalanan. Dia juga bilang sudah beli makanan jadi, tidak usah beli. Makanya aku tadi nunggu di luar," sahut Afrin.
Khairi hanya tersenyum menanggapi kata-kata istrinya. Ingin sekali menanyakan bagaimana keadaan papanya, tetapi setiap kali mengingat apa yang sudah pria itu lakukan, sungguh membuat hatinya terluka. Dia memberikan kotak makanan yang dibawa kepada Afrin agar wanita itu menatanya.
Hanya ada tiga kotak makanan. Afrin mendelik kearah sang suaminya. Kenapa beli tiga? Kalau seperti ini sudah pasti papanya akan semakin merasa sedih karena merasa sudah tidak diperhatikan oleh putranya. Padahal Khairi tidak ada niat seperti itu. Dia sungguh tidak tahu bubur apa yang cocok untuk orang sakit?
"Mama, makan dulu," ucap Afrin dengan menyerahkan sekotak makanan.
"Iya, terima kasih. Buat Papa mana?" tanya Merry.
"Untuk saat ini Papa makan makanan dari rumah sakit saja, ya, Pa. Mas Khairi tidak tahu bubur yang enak dan cocok buat Papa, tidak apa-apa, kan, Pa?"
"Tidak apa-apa, Papa makan apa saja."
Afrin mengangguk, dia merasa sangat bersalah. Seharusnya tadi wanita itu memeriksa apa yang dibawa suaminya. Bukan malah ikut saja. Afrin menghela napas untuk mengurangi rasa bersalahnya.
"Maaf, Sayang. Aku lupa bilang sama kamu tadi," bisik Khairi saat Afrin duduk di sampingnya. Namun, wanita itu diam saja tidak menanggapi.
"Seharusnya, Mas, bilang tadi di depan. Aku bisa beliin di sana," sahut Afrin dengan berbisik juga. "Aku tidak tega lihat wajah papa sedih begitu."
"Iya, aku minta maaf," sesal Khairi.
.
.
__ADS_1
.