Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
164. S2 - Modd yang cepat berubah


__ADS_3

Sudah satu bulan Aydin dan Nayla tinggal di apartement. Yasna juga sudah mulai menerima kepindahan putranya. Namun, wanita itu masih mengkonsumsi obat tidur sesekali jika tidak bisa tidur dan tidak ada satu orang pun yang tahu tentang hal itu.


"Nay, sudah, dong! Jangan nangis terus. Dari pagi kamu nangis, loh! Tuhan belum memberi kita rezeki. Kita tidak bisa melakukan apa pun selain berdoa dan berusaha. Mungkin Tuhan masih memberi kita waktu untuk bersenang-senang dulu. Suatu hari nanti, jika memang Tuhan sudah mengizinkan kita memiliki anak, pasti Tuhan akan menghadirkannya ditengah-tengah kita, tanpa kita minta," ujar Aydin mencoba menenangkan sang istri.


Saat bangun tidur tadi pagi, Aydin terkejut melihat Nayla menangis.Pria itu berpikir jika istrinya menangis karena sakit perut, memang benar wanita itu sakit perut, tetapi bukan itu yang membuatnya menangis. Apalagi sakitnya kini tidak seperti bulan kemarin.


Bulan ini tamu bulanan Nayla datang terlambat lima hari. Sebelumnya dia mengira jika sedang hamil. Namun, pagi tadi tiba-tiba perut wanita itu terasa melilit dan selang satu jam tamu bulanannya datang dan membuat Nayla menangis hingga siang ini.


"Iya, Mas. Aku hanya sedih saja. Aku sudah sangat berharap saat telat kemarin, tapi hari ini ...." Nayla tidak melanjutkan kata-katanya. Dia menundukkan kepalanya menyembunyikan kesedihan di wajahnya.


Aydin segera memeluk sang istri. Pria itu tahu bagaimana berharapnya Nayla pada kehadiran seorang anak, tetapi mereka bisa apa jika Tuhan belum berkehendak. Bahkan disetiap sujudnya, suami istri itu tidak lupa meminta pada-Nya agar segera diberi momongan.


"Jika kamu sangat ingin memiliki anak, kita adopsi anak saja. Aku tidak mau dibulan-bulan selanjutnya, kamu akan seperti ini, jika Tuhan belum menghendaki, bagaimana?" tanya Aydin yang masih memeluk istrinya.


Nayla menggeleng. Dia memang sangat menginginkan anak, tapi tidak anak adopsi. Wanita itu takut tidak bisa memberi kasih sayang layaknya anak kandung, seperti yang dilakukan Yasna.


Mungkin benar, Tuhan masih ingin memberi waktu padanya untuk menikmati kebersamaan mereka sebagai pasangan suami istri. Bsnyak juga pasangan yang baru menikah belum memiliki momongan.


Setiap manusia memiliki jalan yang berbeda-beda. Ada yang baru menikah sudah memiliki anak, ada pula yang memerlukan waktu bertahun-tahun agar bisa memiliki anak.


"Tidak, Mas. Mulai hari ini, aku tidak akan berlebihan dalam berharap. Aku tahu, kemarin harapanku terlalu besar hingga lupa diri. Sekarang aku akan lebih banyak bersabar dan berdoa. Mudah-mudahan Tuhan segera mengabulkan doa kita."


"Amin."


Nayla melepaskan pelukan suaminya dan menatap pria itu dengan tersenyum. Dia teringat jika pagi ini belum memasak lauk hanya nasi saja tadi, tetapi sepertinya sang suami tidak bekerja karena masih memakai kaos oblong dan celana pendek.


"Mas, tidak kerja?" tanya Nayla.


"Tidak, hari ini, kan, tanggal merah."


"Oh, iya. Kita ke rumah bunda, yuk, Mas! Aku kangen sama Afrin."


"Boleh, kita sarapan dulu di luar. Terus ke rumah bunda, enggak enak pagi-pagi numpang makan. Meskipun mereka orangtua sendiri, tetap saja nggak enak."


"Iya, maaf, aku nggak masak tadi."

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Sudah sana! Siap-siap."


Nayla segera masuk ke kamarnya. Dia akan bersiap-siap untuk bertemu dengan mertua dan adik iparnya. Entah kenapa hari ini, gadis itu sangat ingin bertemu dengan Afrin. Padahal adik iparnya sangat cerewet dan Nayla lebih suka ketenangan.


Usai bersiap, Nayla segera keluar dari kamar dan mencari keberadaan suaminya. Senyum terus mengembang di bibirnya yang terpoles warna merah, hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.


"Ayo, Mas!" ajak Nayla.


Aydin dibuat terkejut dengan dandanan Nayla. Warna lipstik yang merah serta bedak yang begitu tebal. Make upnya terlihat begitu berani. Padahal istrinya itu selalu memakai make up yg terlihat natural.


Pria itu ingin protes pada Nayla. Akan tetapi, dia teringat jika mood wanita itu sedang buruk hari ini karena itu Aydin memilih diam saja. Semoga keluarganya mengerti keadaan istrinya itu.


"Baru saja bunda telepon. Dia minta kita datang ke sana langsung. Bunda sudah masak banyak. Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Aydin.


"Mas, bilang sama bunda kalau kita ke sana?" tanya Nayla balik.


"Tidak, bunda hubungi aku duluan."


"Ya sudah, ayo!" Nayla berlalu begitu saja tanpa menunggu suaminya.


Dalm perjalanan Nayla selalu tersenyum, sesekali bernyanyi mengikuti lagu yang diputar olah seorang penyiar radio. Aydin tidak habis pikir, cepat sekali istrinya ini berubah. Tadi nangis-nangis, sekarang senyum-senyum.


Begitu sampai di halaman rumah keluarga Emran, Nayla segera turun dan berlari memasuki rumah. Membuat Aydin khawatir istrinya akan terjatuh.


"Sayang, jangan lari-lari!" teriak Aydin. "Ya ampun, dia kenapa?" gumamnya dengan menggelengkan kepala.


Nayla tidak mempedulikan teriakan suaminya. Dia terus berlari mencari keberadaan penghuni rumah ini. Wanita itu menelusuri rumah sambil meneriakkan nama pemilik rumah.


"Bunda! Afrin!" panggil Nayla. Dia meneriakkan nama kedua orang itu beberapa kali.


"Iya, Bunda ada di dapur!" sahut Yasna dengan berteriak juga.


Nayla yang mendengar sahutan dari mertuanya, segera berlari ke arah dapur. Entah kenapa dia hari ini menjadi aneh. Wanita itu merasa sangat bahagia, padahal tidak ada sesuatu yang berarti hingga membuatnya sangat senang.


Saat melihat Yasna yang sedang sibuk dia tersenyum. Wanita itu mendekati sang mertua dan memeluknya dari belakang. Yasna sempat terkejut. Dia mengira itu suaminya. Saat Nayla berbicara barulah wanita itu tahu jika sang menantu yang memeluknya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Bunda," ucap Nayla.


"Waalaikumsalam, ya ampun, dari tadi kamu teriak-teriak belum ngucapin salam?" tanya Yasna yang hanya dijawab dengan cengiran oleh menantunya.


"Lain kali, kalau masuk rumah salam dulu. Kamu ini datang-datang teriak-teriak."


"Iya, Bundaku sayang."


"Bentar, bunda mau siapin makanan dulu, kamu mau bantu?"


"Iya, Bunda." Nayla melepaskan pelukannya dan segera melakukan apa yang diminta oleh sang mertua.


"Ya sudah, ini taruh di meja," ucap Yasna. "Astaghfirullahaladzim."


Yasna terkejut melihat tampilan Nayla. Tidak biasanya menantunya itu tampil dengan makeup yang sangat berani seperti hari ini. Biasanya sang menantu hanya menggunakan bedak saja, tetapi hari ini semuanya benar-benar berbeda dan sangat mengejutkan.


"Ada apa, Bunda? Kenapa begitu terkejut saat melihatku?" tanya Nayla dengan menatap mertuanya.


Saat Yasna akan berbicara, Aydin yang baru datang dan kini berada di belakang Nayla meletakkan jari telunjuknya di bibir. Pertanda bundanya tidak boleh mengatakan sesuatu apa pun.


"Bunda terkejut melihat kedatangan Aydin di belakang kamu," jawab Yasna berbohong.


"Kirain terkejut karena melihat sesuatu yang aneh pada diriku. Mas, jangan ngejutin bunda, dong!"


"Tidak, kok," sahut Aydin.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2