Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
187. S2 - menjemput


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Dua minggu lagi Nayla akan menjalani operasi. Semua persiapan sudah dilakukan. Seluruh keluarga terlihat was-was menunggu hari itu.


Hari ini Nayla akan melakukan pemeriksaan terhadap kandungannya. Aydin sudah membuat janji dengan dokter kandungan sebelumnya. Mereka juga sudah konsultasi dengan dokter spesialis kanker.


"Bunda ikut kalian memeriksa baby, ya?" pinta Yasna.


"Boleh, Bunda," sahut Nayla.


"Oma nggak sabar pengen lihat kamu, Sayang," ucap Yasna sambil mengusap perut Nayla yang tidak terlalu besar.


Mereka bersiap-siap pergi ke rumah sakit. Nayla dan Yasna menunggu Aydin di ruang tamu. Saat akan berdiri dari duduknya, punggung Nayla terasa sakit dan merasa susah menegakkan tubuhnya, hingga wanita itu duduk kembali.


"Kamu kenapa, Nay?" tanya Yasna yang merasa aneh melihat menantunya duduk kembali ini.


"Bunda, aku nggak bisa berdiri. Kita tunda saja periksanya."


"Kenapa ditunda? Justru kamu harus segera diperiksa, kalau seperti itu. Sebentar, Bunda panggil Aydin."


Yasna segera memanggil Aydin. Tampak wanita itu sangat khawatir melihat menantunya kesusahan seperti itu. Memang dokter sudah memperingatkan jika ini akan terjadi.


"Ada apa, Sayang?" tanya Aydin yang baru keluar dengan membawa keperluan untuk periksaan kandungan Nayla.


"Nayla tidak bisa berdiri." Bukan Nayla yang menjawab, tetapi Yasna. Tentu saja hal itu membuat Aydin semakin khawatir.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Aydin dengan mendekati sang istri.


"Nggak tahu, Mas. Tiba-tiba punggungku sakit," jawab Nayla dengan menahan rasa sakitnya.


Sedari tadi dia merasa kesakitan. Hanya saja wanita itu tidak ingin membuat keluarganya khawatir jadi, Nayla menahannya.


"Bunda, tolong bawakan, ya?"


"Iya."


Aydin menyerahkan perlengkapan pemeriksaan Nayla pada Yasna dan segera menggendong wanita itu menuju mobil, yang akan mereka pakai untuk periksa. Pria itu mendudukkan istrinya di belakang agar bisa ditemani Yasna. Segera Aydin melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Dalam perjalanan, pria itu tidak bisa berkonsentrasi. Dia sangat khawatir pada istrinya. Beberapa kali hampir saja membahayakan pengendara lain. Tidak berapa lama akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Aydin kembali menggendong istrinya menuju ruangan dokter.

__ADS_1


Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Namun, Aydin sama sekali tidak peduli. Baginya yang penting Nayla dan anaknya baik-baik saja.


Setelah diperiksa, ternyata Nayla diharuskan untuk menginap di sana, sampai waktu melahirkan tiba. Meski wanita itu sempat menolak karena ingin pulang, tetapi dengan keras hati juga, Aydin melarang istrinya untuk pulang. Itu semua juga demi dia dan anak mereka.


Hari-hari dijalani Nayla di rumah sakit. Dia selalu mengeluh bosan berada di sana. Keluarga sering datang, tapi tidak juga bisa mengusir rasa kesepian yang dirasakan wanita itu. Hingga tidak terasa sudah satu minggu Nayla lewati.


"Mas, aku boleh minta sesuatu?" pinta Nayla saat suaminya sedang menyuapi wsnita itu.


"Apa? Kalau kamu ingin pulang, sebaiknya lupakan," pungkas Aydin, seakan tahu apa yang ingin Nayla katakan.


"Bukan itu," jawab Nayla. "Tolong bawa Nuri ke sini, dong, Mas!"


"Kamu ada apa lagi sih sama anak itu?" tanya Aydin dengan menatap Nayla.


"Aku mau bicara sama dia. Sebentar saja, Mas. Tolong bawa dia ke sini, ya!"


"Tidak, aku tahu apa yang ingin kamu bicarakan."


"Aku tidak membicarakan apa pun. Aku hanya ingin meminta maaf soal kejadian kemarin," jawab Nayla karena memang Aydin tidak tahu pertemuannya dengan Nuri waktu itu.


"Iya, nanti setelah pulang sekolah," jawab Aydin akhirnya.


Sebenarnya Aydin merasa berat dengan membawa gadis itu menemui istrinya. Pasti ujung-ujungnya bicara seperti beberapa hari yang lalu. Akan tetapi, apa boleh buat jika istrinya yang meminta. Mudah-mudahan Nayla benar-benar tidak membicarakan hal seperti sebelumnya.


*****


Seperti janjinya pada Nayla. Siang hari Aydin menjemput adiknya Afrin sekaligus Nuri untuk bertemu dengan Nayla. Pria itu menunggu di tempat parkir seorang diri. Tidak lama adiknya keluar dengan beberapa temannya, termasuk gadis yang dicarinya juga.


Nuri yang melihat keberadaan Aydin di parkiran secepatnya menghindar. Dia tidak mau ada masalah lagi dengan pria itu.


"Tunggu!" seru Aydin mencegah Nuri yang akan pergi. "Nuri, Nayla ingin bertemu dengan kamu. Dia ada di rumah sakit."


Nuri yang pertama kali mendengar Aydin memanggil namanya sontak saja terbengong. Selama gadis itu berteman dengan Afrin, tidak pernah sekali pun mereka berdua berbicara, apalagi sampai memanggil nama, tetapi hari ini pria itu ada di depannya.


Berbicara dengan lembut dan memanggil namanya. Hal yang seperti ini saja sudah membuat Nuri begitu bahagia. Bagaimana rasanya menjadi Nayla yang begitu dicintai oleh Aydin.


"Kenapa kamu malah bengong?" tanya Aydin membuyarkan lamunan Nuri.

__ADS_1


"Iya, Kak," sahut Nuri dengan gelagapan.


"Ya sudah, ayo!"


"Ayo, ke mana?" tanya Nuri bingung. Gadis itu masih belum sadar dengan keterkejutannya.


"Tadi 'kan sudah saya bilang kalau Nayla mau bertemu dengan kamu dan baru saja kamu jawab iya. Kenapa masih tanya juga?"


"Kak, kalau bicara pelan-pelan," sela Afrin yang mengerti kegugupan Nuri. "Ayo, Ri, Kak Nayla sudah nungguin kamu. Dia ingin bertemu sama kamu."


Nuri pun mengangguk. Dia tidak mungkin menolak keinginan orang yang sudah baik padanya. Terlebih Nayla adalah kakak ipar Afrin.


"Ayo! Nayla sudah menunggu terlalu lama." Aydin berlalu tanpa menunggu jawaban dari Nuri.


Gadis itu pun mengikutinya menaiki sebuah mobil. Dalam perjalanan Nuri bertanya-tanya, apa yang ingin dibicarakan oleh Nayla padanya? Apa masih mengenai soal amanah itu? Kalau iya, ini kesempatan dia untuk menolak.


Nuri tidak mau terlibat dengan keluarga mereka lagi. Terlebih mengenai urusan rumah tangga yang belum saatnya untuk gadis seusia dirinya. Dia masih memiliki cita-cita yang harus digapai.


"Kak, Ada apa Kak Nayla mau bertemu Nuri? Jangan bilang masalah yang seperti kemarin? Kalau benar tentang itu, lebih baik nggak usah aja," tanya Afrin.


Dia tidak ingin sahabatnya terlibat masalah kembali dengan kakaknya. Sudah cukup kejadian waktu itu. Afrin merasa baik kakaknya atau kakak iparnya itu sudah keterlaluan pada Nuri. Dia juga perempuan jadi tahu bagaimana perasaan sahabatnya itu.


"Kakak juga tidak tahu, Nayla tidak mengatakan apa-apa. Dia cuma mau minta bawa Nuri ke sana."


"Awas saja jika masih membahas soal kemarin."


"Kamu, kok, kayak enggak terima banget? Kamu sepertinya lebih membela temanmu daripada Kakak dan Kak Nayla?" tanya Aydin dengan menatap adiknya sekilas.


"Aku tidak membela siapa pun. Hanya saja di sini Nuri yang jadi korban," bela Afrin.


Nuri yang duduk di belakang hanya diam mendengarkan. Dia tidak berani mengatakan apa pun. Itu lebih baik baginya daripada nanti menjadi masalah.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2