
Di sebuah klub malam yang terkenal, terlihat hingar-bingar kemeriahan malam. Mereka semua larut dalam musik dan lampu kerlap-kerlip. Semua orang bergoyang mengikuti musik yang dimainkan oleh seorang DJ.
Semua orang larut dengan kesenangan mereka. Musik yang memekakkan telinga terdengar merdu di indera pendengaran mereka. Lampu yang redup justru membuat mereka lebih leluasa melakukan apa yang mereka inginkan.
Aydin memilih duduk di meja bartender. Dia hanya memesan jus. Minuman yang justru terlihat aneh saat seorang pria yang datang memesannya. Aydin melihat sekeliling mencoba mencari keberadaan orang yang dicarinya.
"Sedang mencari seseorang?" tanya seorang wanita yang mendekati Aydin.
"Iya," sahut Aydin singkat.
"Kenapa harus mencari orang lain. Di sini ada aku," rayu wanita tersebut dengan mengusap paha Aydin. Pria itu segera menepisnya. Dia merasa jijik diperlakukan seperti itu.
"Maaf, Mbak. Saya sedang mencari orang ini. Apa Anda mengenalnya?" tanya Aydin sambil memperlihatkan foto ayah Nayla.
"Roni? Saya kenal, tapi sudah beberapa hari ini dia tidak datang karena sedang diburu oleh anak buah dari seorang rentenir. Dia punya banyak hutang di sana-sini. Apa dia juga punya hutang sama kamu?"
"Tidak, saya hanya ada keperluan sedikit. Apa Mbak tahu di mana tempat tinggalnya?"
Aydin tidak menyangka jika Roni punya urusan dengan rentenir atau semacamnya. Padahal Nayla gadis yang baik, tapi kenapa ayahnya seperti itu?
"Saya tidak tahu mungkin kamu bisa cari di rumah mantan istrinya. Katanya dia suka ke sana meminta uang pada anak almarhum istrinya, coba tanya saja sama mereka."
"Terima kasih. Kalau begitu saya pamit dulu."
Aydin segera meninggalkan tempat itu. Dia sudah tidak tahan lagi dengan suasana di sana. Pria itu heran, bagainana orang-orang bisa tahan berada di tempat dengan berbagai bau yang sangat menyengat dan membuat kepalanya sakit.
Aydin memutuskan untuk pulang, besok saja dia datang ke rumah almarhum mantan istri ayah Nayla. Mudah-mudahan mereka mau membantu.
*****
"Bagaimana pencarian semalam, Kak?" tanya Yasna pada Aydin, saat mereka tengah menikmati sarapannya.
"Belum ketemu, Bunda. Nanti setelah makan siang, aku akan datang ke rumah almarhum mantan istri Pak Roni. Pagi ini aku ada meeting," jawab Aydin.
"Kakak harus hati-hati, ya, kalau bicara. Jangan sampai menyakiti hati mereka. Keluarga Itu sudah pasti sakit hati dengan apa yang dilakukan oleh ayah Nayla."
"Iya, Bunda."
"Tadi malam pulang jam berapa? Bunda nggak tahu kamu pulang."
"Sudahlah, Sayang. Kenapa kamu bertanya sedetail itu? Aydin juga sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Lebih baik kamu jaga kesehatan kamu. Jangan terlalu memikirkan mereka?" sela Emran. Dia tahu pasti putranya pasti bingung mencari alasan yang tepat.
"Aku cuma bertanya, Mas," kilah Yasna. Dia hanya khawatir pada Aydin.
"Papa benar, Bunda. Sebaiknya Bunda jaga kesehatan. Aku nggak mau karena mengkhawatirkanku Bunda jatuh sakit. Aku nggak bisa tenang kalau begitu. Bunda juga tahu ke mana aku pergi."
"Iya, Bunda akan jaga kesehatan dan kalian juga harus baik-baik saja."
"Sudah, ayo, kita sarapan! Nanti kita terlambat," sela Emran.
__ADS_1
"Iya, Pa," sahut Yasna. "Afrin mau bawa bekal?"
"Iya, Bunda."
Mereka menikmati sarapan dengan tenang. Setelah selesai, semua berangkat. Aydin dan Emran pergi bekerja. Semua orang diperusahaan sudah tahu siapa Aydin sebenarnya. Semerntara Afrin diantar Pak Hari.
*****
Sepulang kerja, Aydin menuju rumah almarhumah mantan istri ayah Nayla. Tadi siang dia batal karena ada pekerjaan mendadak. Baru sekarang pria itu mempunyai waktu.
Aydin telah sampai disebuah rumah. Dilihat rumah yang ada di depannya kini, cukup besar. Pantas saja ayah Nayla ingin menguasai hartanya.
"Maaf, Pak, cari siapa?" tanya seorang satpam yang bekerja di rumah itu.
"Saya mau bertemu dengan pemilik rumah ini, Pak," jawab Aydin.
"Apa ada keperluan atau sesuatu biar saya sampaikan."
"Saya ingin menanyakan sesuatu pada pemilik rumah ini."
"Bapak siapa namanya?"
"Nama saya Aydin."
"Baiklah, saya sampaikan dulu." Satpam tersebut masuk ke dalam rumah tanpa membuka pintu gerbang. Dia harus memastikan dulu kalau majikannya mau menerima tamu tersebut.
"Silakan masuk, Pak," ucap satpam saat dia baru kembali dari rumah. Pria itu membukakan pintu gerbang dan mengizinkan Aydin membawa masuk mobilnya.
"Assalamualaikum," ucap Aydin.
"Waalaikumsalam," sahut seorang wanita yang diyakini Aydin seorang asisten rumah tangga di rumah itu.
"Silakan duduk dulu, Pak. Majikan saya masih ada di kamar, sebentar lagi akan keluar."
"Terima kasih, Bu." Wanita itu hanya mengangguk dan berlalu.
Aydin duduk di ruang tamu. Cukup lama dia menunggu. Pria itu sempat kesal juga, sepertinya pemilik rumah tidak menghargai kedatangannya sama sekali, tapi karena Aydin sangat membutuhkan jawaban dari tuan rumah, dengan terpaksa dia harus bersabar menunggu. Terdengar suara langkah kaki mendekat ke ruang tamu.
"Pak Aydin!" seru tuan rumah.
"Pak Arya! Ternyata ini rumah Anda?"
"Iya, Pak. Maaf sudah membuat Anda menunggu."
"Harusnya saya yang meminta maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat Anda."
"Tidak apa-apa, silakan duduk."
"Boleh saya tahu, apa yang membuat Anda mencari saya? Kata satpam, Anda ingin menanyakan sesuatu."
__ADS_1
"Saya hanya ingin bertanya tentang pria ini," ucap Aydin dengan memperlihatkan foto Ayah Nayla.
Arya sempat terkejut mengetahui jika Aydin mengenal Roni. Dalam hati pria itu bertanya, ada hubungan apa Aydin dengan Roni?
"Roni!" seru Arya. "Anda mengenal pria itu juga? Apa dia membuat masalah dengan Anda?"
"Saya tidak mengenalnya. Saya juga tidak ada masalah dengannya. Saya ada keperluan dengan dia. Apa Anda tahu di mana dia tinggal sekarang?"
"Sebenarnya saya sangat malas membahasnya."
"Maaf jika saya membuat Anda tidak nyaman, tapi saya sungguh ingin bertemu dengannya. Ini sangat penting untuk saya."
Arya menghela napas. Hidupnya sudah sangat terganggu dengan kehadiran Roni saat menikah dengan mamanya. Bahkan saat mamanya sudah meninggal pun, pria itu masih merepotkannya.
"Dia ada di rumah belakang. Saya sudah mengusirnya beberapa kali, tapi dasar dia tidak punya malu, akhirnya kembali lagi. Saya pun membiarkan dia tinggal di rumah belakang asal tidak mengganggu kami."
Aydin sangat senang. Dia tidak perlu lagi mencari keberadaan Roni.
"Apa dia masih tinggal di sana sekarang?" tanya Aydin.
"Saya tidak tahu kalau sekarang. Dia selalu pulang pergi seenaknya. Kalau Pak Aydin ingin melihatnya, saya bisa mengantar."
"Bolehkah?"
"Tentu, mari!"
Arya mengajak Aydin ke belakang rumah tempat para pekerja di rumah ini istirahat. Mereka akan menemui ayahnya Nayla yang bernama Roni.
Begitu sampai di depan kamar pria itu. Arya mengetuk pintu beberapa kali, hingga pintu terbuka. Terlihat seorang yang baru bangun tidur membukanya dan itu memang ayah Nayla.
Akan tetapi, penampilan Roni tidak seperti yang ada di foto. Pria itu seperti tidak terawat, bahkan mungkin sudah beberapa hari tidak mandi.
"Ada apa ke sini saya tidak mengganggu kalian?" tanya Roni.
"Ada yang mencarimu. Jangan membuat masalah di rumahku," sahut Arya. "Ini Pak Aydin orang yang Anda cari."
"Maaf, Pak. Boleh saya bicara sebentar dengan Anda?" tanya Aydin.
"Siapa kamu? Saya tidak mengenalmu."
"Anda memang tidak mengenal saya, tapi pasti Anda masih ingat dengan wanita yang bernama Nayla." Aydin dapat melihat jika pria itu terkejut.
.
.
.
.
__ADS_1
.