Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
221. S2 - Ingin membatalkan pertunangan


__ADS_3

"Aku sungguh-sungguh tidak tahu jika kalian akan bertunangan. Aku minta maaf jika tanpa sadar aku telah menyakitimu," ucap Afrin dengan meneteskan air matanya.


"Aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu. Kamu bukan hanya mempermalukanku, tapi juga kedua orang tuaku. Aku ucapkan selamat, kamu sudah bisa mendapatkan Khairi dan semoga kamu selalu bahagia dengannya."


Vira segera meninggalkan temannya yang tengah menangis. Afrin sungguh-sungguh tidak tahu mengenai hal itu. Dalam hati gadis itu bertanya, kenapa Khairi menyembunyikan hal yang sangat penting? Jika memang pria itu akan bertunangan dengan Vira, kenapa dia masih ingin memintanya menjadi istri?


Afrin terduduk dan menelungkupkan wajahnya di atas meja dengan bertumpu pada kedua tangannya. Masih bisa dia dengar bisik-bisik orang-orang di sekitar. Zahra yang berada di sampingnya mencoba menenangkan sang sahabat. Dia memeluk Afrin berusaha memberikan kekuatan.


"Zahra, aku ... aku benar-benar tidak tahu jika Vira akan bertunangan dengan Khairi. Tidak ada yang mengatakan apa pun padaku ... orang-orang terdekat Khairi mengatakan jika ... dia tidak pernah dekat dengan siapa pun ... karena itu aku menerima lamarannya," ucap Afrin terbata karena menahan tangis.


"Iya, aku tahu. Kamu tidak mungkin sengaja melakukannya. Kamu tenanglah dulu, sebaiknya kamu bicarakan baik-baik hal ini pada Khairi, takutnya itu hanya kesalahpahaman."


"Kesalahpahaman bagaimana? Sudah jelas-jelas Vira sangat marah padaku dan mengenai orang tuanya mereka juga pasti membenciku."


Afrin tidak mengerti kenapa sahabatnya berkata seperti itu? Sudah jelas jika dirinya yang bersalah, tetapi Zahra masih membelanya.


"Memangnya kenapa? Selama ini Vira juga tidak suka sama kamu. Jangan bilang kalau aku salah, semua orang juga bisa melihat. Apa itu yang dinamakan sahabat? Marah-marah di depan umum, tanpa bertanya lebih dulu. Itu sama saja mempermalukan kamu," ucap Zahra dengan emosi.


Dia memang sudah lama tidak menyukai cara Vira dalam berteman. Selama ini Zahra tidak ingin ikut campur, tetapi kali ini gadis itu sungguh keterlaluan. Vira mempermalukan Afrin di depan semua orang. Sudah pasti berita ini akan heboh besok pagi.


"Tapi tetap saja aku yang salah. Seharusnya aku mencari tahu dulu, apakah Khairi itu sudah memiliki pasangan atau tidak."


"Sebaiknya untuk saat ini kamu tenangkan dulu diri kamu, jangan bertemu dengan Khairi, takutnya kamu juga masih emosi dan melakukan kesalahan. Pikirkan semuanya dengan baik-baik, jangan sampai kamu menyesal saat semuanya sudah terlambat," ucap Zahra yang tidak ingin sahabatnya itu memilih pilihan yang salah. Afrin hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu mau pulang, apa masih ingin di sini?" tanya Zahra. "Kalau mau pulang, aku ikut, ya? Takut kamu gak konsen saat nyetir. Meskipun aku tidak bisa menggantikanmu mengemudi, setidaknya aku bisa nemenin kamu bicara. Jadi kamu tidak terlalu memikirkannya."


"Tidak perlu, aku baik-baik saja, kok! Kamu juga kan harus bekerja," ucap Afrin dengan menghapus air matanya.


Afrin tidak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini. Orang-orang di rumah bisa khawatir nanti. Dia ingin pergi ke tempat yang bisa membuatnya tenang dulu. Setelah semuanya baik-baik saja, gadis itu akan pulang.


"Aku telat sedikit juga nggak apa-apa."


"Jangan, aku tidak mau hanya gara-gara aku gaji kamu dipotong. Apalagi kalau kamu sampai harus kehilangan pekerjaan. Aku pasti akan sangat merasa bersalah."

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu. Ayo, kita keluar sama-sama!" Mereka pun pergi meninggalkan kelas.


*****


Malam hari saat semua orang sedang menikmati makan malam, telepon rumah berbunyi, Rani segera mengangkat dan membawanya ke rumah makan.


"Maaf, Non Afrin, ada telepon dari Tuan Khairi," ucap Rani sambil menyerahkan telepon.


"Aku lagi makan, Mbak. Mbak saja yang bicara," ucap Afrin tanpa melihat Rani membuat semua orang yang ada di ruang makan menatap ke arahnya.


"Biar saya saja," sahut Emran.


"Iya, Tuan." Rani menyerahkan telepon rumah pada majikannya itu.


"Halo, assalamualaikum," ucap Emran.


"Waalaikumsalam, Om. Maaf mengganggu, saya cuma ingin bicara dengan Afrin. Dari tadi siang aku menghubunginya, tapi dia tidak mengangkat panggilanku sama sekali. Aku jadi khawatir padanya. Apa dia baik-baik saja?" tanya Emran beruntun dari seberang telepon.


"Dia baik-baik saja. Kamu jangan khawatir."


"Tapi dari tadi siang kenapa dia tidak mau mengangkat teleponku, Om?"


"Nanti biar saya tanyakan."


"Terima kasih, Om. Kalau begitu saya tutup teleponnya. Assalamualaikum."


Khairi merasa aneh dengan sikap Afrin. Dia tadi juga mendengar gadis itu menolak berbicara dengan alasan sedang makan. Pria itu yakin jika Emran juga sedang makan, tapi calon mertuanya itu masih mau bicara dengannya.


"Waalaikumsalam." Emran menyerahkan telepon kembali kepada Rani dan beralih menatap putrinya. Afrin yang ditatap pun terus asyik menikmati makan malamnya.


"Kamu tidak mau mengatakan sesuatu, Sayang," tanya Emran pada putrinya.


"Mengatakan apa, Pa?" tanya Afrin balik.

__ADS_1


"Kenapa kamu menolak panggilan dari Khairi? Jangan bilang kamu sedang makan, itu alasan yang kuno."


"Aku mau membatalkan rencana pernikahanku dengan Khairi, Pa," jawab Afrin membuat semua orang terkejut.


Bukankah gadis itu sendiri yang sudah menyetujui lamaran Khairi saat itu? Kenapa sekarang tiba-tiba ingin membatalkannya? Mereka semakin yakin pasti telah terjadi sesuatu pada Afrin dan Khairi.


"Kamu kenapa, Sayang? Apa kamu ada masalah dengan Khairi? Kamu bisa menyelesaikannya dengan baik-baik. Bicara saja dulu," ucap Yasna.


"Tidak ada, Bunda. Hanya saja aku merasa tidak pantas untuk dia."


Yasna tahu putrinya mencintai Khairi. Pasti ada alasan kenapa dia bicara begitu. Saat wanita itu akan berbicara, Emran mencegahnya. Pria itu menggelengkan kepala tanpa suara pada istrinya.


"Apa pun keputusan kamu, sebaiknya kalian bicarakan dengan baik-baik karena kamu sendiri juga yang menyetujui rencana pernikahan ini," ucap Emran.


"Iya, Pa. Nanti akan aku bicarakan dengan Khairi."


"Sebelum semuanya terlambat, pikirkan semuanya dengan baik dan yang lebih penting mintalah petunjuk sama Allah."


"Iya, Pa," ucap Afrin. Gadis itu mebelum siap kalau bicara dengan Khairi, tetapi dia harus mengatakan semuanya pada pria itu. Dia tidak ingin semua orang sedih dan malu karena apa yang sudah diperbuatnya.


Mereka melanjutkan makan malam dalam keheningan. Semua orang sibuk dengan pikirannya masing-masing, bahkan setelah selesai pun semua kembali ke kamarnya masing-masing. Tanpa mau berbincang sebentar di ruang keluarga.


"Apa Papa tahu apa yang terjadi pada Afrin dan Khairi?" tanya Yasna saat keduanya berada di kamar.


"Tidak tahu, Bunda. Padahal tadi pagi dia baik-baik saja pasti terjadi sesuatu saat dia keluar rumah. Khairi bilang Afrin tidak mengangkat panggilannya saat siang. Pasti telah terjadi sesuatu saat dia di kampus," ucap Emran. "Nanti Papa cari tahu," lanjutnya yang diangguki Yasna.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2