
Semua ruangan sudah selesai dihias. Semua orang tersenyum puas dengan hasilnya. Begitu pun dengan si kecil Nuri. Dia begitu sangat bahagia dengan pesta yang akan dibuat.
Para wanita sedang berkumpul di ruang tengah. Mereka sedang menunggu suami masing-masing yang masih bekerja padahal ini sudah sore. Tidak berapa lama, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.
"Assalamualaikum," ucap Emran dan Aydin bersamaan.
"Waalaikumsalam."
"Papa masih ke kantor saja padahal sudah ada Kak Aydin. Dulu saja bilang mau berhenti jika Kak Aydin mau menggantikan posisi Papa. Sekarang masih tetep kerja saja," ujar Afrin.
"Papa cuma datang sesekali saja." kilah Emran.
"Alasan," cibir Afrin.
"Assalamualaikum," ucap Khairi yang baru datang.
"Waalaikumsalam," ucap semua orang yang ada di sana secara bersama-sama.
Afrin mencium punggung tangan sang suami yang dibalas pria itu dengan mengecup keningnya. Yasna meminta mereka makan malam di sini terlebih dahulu sebelum pulang. Keduanya pun mengangguk tanpa berdebat.
"Besok kalian harus datang, ya!" ujar Yasna.
"Iya, Bunda. Kami jemput ibu dulu," sahut Afrin.
"Iya, tidak apa-apa, tadi juga Bunda sudah menghubungi beliau."
Mereka semua pun makan bersama dengan tenang. Semua menikmati makanan buatan Wulan. Setelah selesai, Khairi dan Afrin pamit pulang.
*****
"Mas, aku tadi dapat pesan dari ayah. Dia ingin bertemu besok pagi, hanya sebentar, sebelum acara ulang tahun Nuri dimulai," ucap Nayla pada sang suami saat mereka akan beranjak tidur.
"Apa tidak apa-apa menemui ayah? Aku takut dia nyakitin kamu. Memangnya dia bicara bagaimana tadi?" tanya Aydin sambil menatap sang istri.
"Ayah cuma bilang mau ketemu saja dan tidak mengatakan apa pun lagi."
"Aku temani, ya! Aku takut ayah berbuat sesuatu yang menyakitimu nanti."
"Tidak perlu, Mas. Ayah tidak sejahat itu. Walaupun dia sering menyulitkan hidupku, tetapi dia tidak pernah menyakitiku secara fisik, apalagi sampai celaka."
"Tapi aku khawatir, Sayang!"
__ADS_1
"Bagaimana kalau Mas menunggu di luar saja. Jika nanti ada sesuatu yang mencurigakan, aku akan segera menghubungimu, Bagaimana?"
"Iya, itu lebih baik. Aku tidak mau terjadi sesuatu sama kamu. Kalau mengenai Nuri, sebaiknya kita tinggal di rumah saja. Biar sama Bunda," ucap Aydin yang diangguki Nayla.
Sebenarnya wanita itu juga merasa takut. Namun, dia mencoba untuk terlihat biasa saja. Bagaimanapun Roni adalah ayahnya, Nayla tidak mungkin menjelekkannya, sejahat apa pun pria itu dimasa lalu.
*****
Seperti janjinya semalam, pagi ini Aydin mengantar Nayla bertemu dengan ayahnya. Dalam hati pria itu merasa was-was. Dia takut jika sang mertua menyakiti istrinya. Meski wanita itu mengatakan tidak apa-apa, tetap saja Aydin merasa khawatir. Mengingat bagaimana tabiat Roni dulu.
Nayla memasuki sebuah restoran tempat dia membuat janji dengan ayahnya. Wanita itu memilih duduk di pinggir kaca agar sang suami bisa melihatnya dari luar. Tidak berapa lama yang ditunggu akhirnya datang.
Penampilan Roni membuat Nayla sedikit terkejut. Pasalnya Pria itu biasanya sangat mementingkan apa yang menempel di tubuhnya, tetapi kini sungguh sangat jauh dari kebiasaannya. Wajah yang ditumbuhi kumis dan janggut serta baju dan celana yang kusut.
Roni biasanya tidak pernah lupa menyetrika bajunya, tetapi sekarang kenapa jadi seperti orang tidak terawat? Padahal Nayla selalu mengirim uang tepat waktu.
"Assalamualaikum, Yah," sapa Nayla dengan mencium punggung tangan pria itu.
"Waalaikumsalam," jawab Roni singkat.
Nayla memanggil seorang pelayan agar mencatat pesanan ayahnya. "Ayah, mau pesan apa?"
"Ayah mau bicara apa? Sepertinya ada sesuatu yang serius! Biasanya langsung bicara di telepon. Apa ada yang Ayah inginkan?" tanya Nayla dengan menatap ayahnya.
"Ayah hanya ingin menyerahkan ini," ucap Roni sambil menyerahkan kartu ATM yang dulu diberikan oleh Aydin.
"Kenapa Ayah mengembalikannya? Apa uang yang dikirim Mas Aydin setiap bulan masih kurang?"
"Tidak, justru Ayah ingin mengembalikannya karena Ayah ingin mandiri. Tidak mungkin disisa umur ini, Ayah, selalu merepotkan kalian. Ayah sudah memutuskan untuk menetap di rumah lama kita dan mencari pekerjaan."
"Ayah mau kerja apa? Sudah waktunya pensiun. Aku senang jika Ayah mau berubah dan aku harap perubahan ini bukan untuk satu dua hari saja, tapi selamanya."
Mata Roni berkaca-kaca. Dosanya sudah terlalu besar pada sang putri. Dia tidak ingin lagi menambah beban bagi Nayla, cukup sampai di sini saja. Wanita itu juga berhak bahagia tanpa gangguan darinya.
"Ayah minta maaf sudah menyusahkanmu selama ini. Semoga kamu bisa bahagia bersama keluargamu. Ayah bersyukur kamu memiliki mertua sebaik Pak Emran dan Bu Yasna. Mereka sangat menyayangimu dan memperlakukanmu seperti anak sendiri. Sampaikan pada mereka rasa terima kasihku."
"Ayah, jangan diteruskan lagi." Air mata Nayla sudah menetes, dia sedih mendengar ucapan ayahnya. "Bagiku, Ayah tetap orang tuaku. Seburuk apa pun perlakuan Ayah padaku selama ini, aku tetap menyayangi Ayah."
Nayla mulai menangis, dia berpindah duduk di samping Roni dan memeluk pria itu. Pertama kalinya sejak mereka bertemu, ini adalah pelukan seorang ayah terhadap anaknya. Sudah lama wanita itu menunggu hal ini.
Tidak jauh berbeda dengan Nayla, Roni sungguh terharu mendapati sang putri masih menyayangi dan menghormatinya, seperti seorang ayah pada umumnya. Dia malu terhadap dirinya sendiri karena dulu pria itu tidak bisa memposisikan diri sebagai orang tua.
__ADS_1
"Ayah juga menyayangimu karena itu Ayah tidak ingin mengganggu kebahagiaanmu."
Roni mengurai pelukan mereka dan menatap wajah sang putri yang basah oleh air mata. Pria itu mengusapnya dengan lembut, membuat Nayla terisak kecil. Perlakuan pria itu sungguh membuat putrinya senang.
"Ayah jangan tinggalin aku sendiri. Aku butuh Ayah di sini. Biarkan kebutuhan Ayah aku yang memenuhinya. Ayah bisa membantuku di butik."
"Ayah tidak akan ke mana-mana. Ayah akan tinggal di rumah kita dulu. Mengenai pekerjaan, Ayah akan bekerja di toko sembako Pak Mahmud. Kemarin Ayah melamar di sana dan diterima."
"Toko sembako Pak Mahmud? Yah, di sana pasti Ayah akan diminta mengangkat barang. Ayah sudah tua, sudah waktunya istirahat!"
"Ayah masih kuat. Nanti kalau Ayah benar-benar tidak mampu, pasti akan berhenti."
Nayla menghela napas. Sepertinya percuma bicara dengan ayahnya. Pasti pria itu bersikeras dengan keinginannya.
"Baiklah, kalau memang itu keinginan ayah, tapi tolong simpan kartu ini. suatu saat nanti, ayah pasti membutuhkannya," ucap Nayla dengan memberikan kembali kartu ATM yang tadi diberikan Roni.
.
.
.
Alhamdulillah tidak menyangka sudah 323 bab lebih. Sebentar lagi mau tamat, tapi masih bingung namatinnya bagaimana. ha ha ha ...
Seperti yang aku katakan sebelumya. Aku mau kasih sedikit rezeki buat para pembaca seperti bulan kemarin.
Kali ini aku kasih waktu sampai hari minggu jam sembilan malam, ya! Sebenarnya pergantian waktunya jam sebelas malam, tapi aku takut ketiduran jadi aku ambil jam sembilan malam saja.
Aku ambilnya dari rangking mingguan. Hadiahnya berupa pulsa seperti kemarin, ya!
Untuk nomor 1 : pulsa 30 ribu
nomor 2 : pulsa 20 ribu
nomor 3 : pulsa 10 ribu
Ingat batasnya hari Minggu tanggal 5 Juni jam 9 malam. Aku ambil dari rangking mingguan.
Terima kasih buat yang mau berpartisipasi.
__ADS_1