Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
315. S2 - Menyusahkan


__ADS_3

"Ivan, kamu lihat ini! Sebentar lagi aku akan menjadi ayah, Afrin sedang hamil!" seru Khairi dengan mata berkaca-kaca. Kali ini bukan karena sedih, tetapi bahagia.


"Selamat, Tuan."


Ternyata surat itu berisi tentang kabar kehamilan Afrin. Khairi sangat senang, berkali-kali dia menciumi foto USG yang ada di tangannya.


"Pak, apa saya boleh pergi?" tanya office boy yang merasa lega karena dia tidak jadi kehilangan pekerjaannya.


"Eh, berikan nomor rekening kamu. Saya akan mengirim hadiah untukmu, saya tidak ada uang cash," sela Khairi sambil membuka ponselnya untuk mentransfer.


"Tidak perlu, Pak. Saya hanya mengirim saja. Saya juga sudah mendapat bayaran tadi."


"Tidak apa-apa. Saya sedang bahagia sekarang. Jangan sampai aku memecatmu karena sudah membuatku marah."


"Maaf, Pak. Ini nomornya." Terpaksa office boy itu menunjukkan nomor rekeningnya. Baru beberapa menit dia sudah mendapat notifikasinya. Pria itu terkejut melihatnya hingga membuat hampir terjatuh. "Maaf, Pak. Apa Anda tidak salah mengirimnya? Ini sangat banyak mungkin Anda salah menekan angka nol?"


"Memang berapa jumlahnya?"


"Seratus juta, Pak."


"Itu sudah benar," sahut Khairi dengan masih memperhatikan hasil USG yang ada di tangannya.


"Kamu keluarlah. Itu memang hadiah untukmu," ucap Ivan yang diangguki pria itu.


Office boy itu keluar dengan perasaan bahagia. Dia bisa memenuhi semua kebutuhan anak dan istrinya setelah ini. Apalagi kemarin anaknya meminta mainan yang tidak mampu dibelinya.


"Tuan, saya akan kembali ke ruangan kerjaku," pamit Ivan yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Khairi.


Ivan menghela napas dan berlalu begitu saja. Percuma juga bicara dengan orang yang sedang bahagia. Pria itu duduk di kursi depan ruangan Khairi dan segera membuka ponselnya.


"Halo ... sudah beres, Nona. Terima kasih sudah memudahkan pekerjaan saya dalam menghadapi orang frustrasi," ucap Ivan pada orang di seberang telepon.


"........."


"Baik, Nona."


Ivan menutup ponselnya dan menghela napas. Dia pusing menghadapi orang-orang yang suka menghukum diri sendiri. Pria itu sangat tahu bagaimana susahnya orang hamil muda. Namun, bagaimana lagi, mereka sendiri yang cari penyakit.

__ADS_1


Sebenarnya Yasna sudah menawarkan kerja sama, tetapi Ivan takut jika Afrin marah. Sebelumnya dia sudah diancam dengan menggunakan istrinya, jadi lebih baik pria itu tidak terlibat lagi dengan urusan atasannya.


*****


Sementara di ruangan, Khairi melanjutkan membaca surat yang dikirim oleh istrinya.


Assalamualaikum.


Apa kabar, Mas? Aku ingin memberi kabar bahagia untukmu. Kamu pasti sudah lihat hasil USG. Itu adalah calon bayi kita.


Maaf, aku lupa memberi tahumu jika aku sudah tidak lagi meminum pil KB. Waktu itu aku mengantar Kak Nayla periksa dan melihat bagaimana kehamilannya. Aku sangat antusias melihatnya hingga aku memutuskan untuk menghentikan pil KB.


Kemarin banyak sekali masalah yang menimpa kita, hingga aku lupa memberi tahumu. Menurut dokter usia kandunganku kini sudah menginjak tujuh Minggu. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang amanah.


Aku dengar jika kamu sudah membuat orang lain susah. Sampai-sampai ada yang mengadu padaku, kalau itu semua karena aku. Bukankah itu membuatku merasa sangat berdosa karena membuat orang lain susah?


Jadi manusia yang lebih baik, ya, Mas. Jangan mudah terpancing emosi agar kelak, kita bisa lebih sabar menghadapi anak-anak. Pastinya akan membutuhkan kesabaran yang lebih besar lagi.


Itu saja yang ingin aku sampaikan. Aku di sini akan selalu berdoa untuk kebaikanmu dan rumah tangga kita.


Istrimu—Afrin


Khairi meneteskan air mata, dia menangis setelah membaca surat dari sang istri. Pria itu juga sangat merindukan Afrin. Bahkan saat ini ingin sekali Khairi datang ke rumah mertuanya. Namun, dia tahu itu bukan pilihan yang tepat.


Afrin ingin pria itu berubah menjadi lebih baik lagi, maka Khairi akan melakukannya. Dia juga tahu kalau selama ini dirinya tidak bisa menahan emosi, kini pria itu harus mulai belajar. Semua ini juga untuk masa depan keluarganya.


'Untukmu dan anak kita, aku akan melakukan semua yang terbaik. Aku akan menjalani hukuman darimu dengan ikhlas. Akan aku pastikan saat kita bertemu nanti, aku sudah menjadi manusia yang lebih baik,' batin Khairi.


Saat sedang berpikir, tiba-tiba pria itu teringat sesuatu mengenai apa yang Afrin tulis, tentang ada seseorang yang melaporkan pada dirinya pada sang istri. Itu berarti wanita itu memiliki mata-mata di perusahaan ini, sehingga dia bisa mengetahui apa yang terjadi, tetapi siapa? Apa mungkin salah satu dari orang yang ada di ruang meeting tadi atau jangan-jangan—


Sudahlah, Afrin tidak mau banyak berpikir lagi. Kalaupun wanita itu tahu siapa pelakunya, itu tidak bisa mengubah apa pun. Saat ini yang bisa pria itu lakukan hanya menjadi orang yang lebih baik lagi. Dia memasukkan surat dari sang istri dilaci meja kerjanya.


Khairi menghubungi salah satu OB untuk membelikannya sebuah pigura kecil. Pria itu ingin meletakkan foto hasil USG bayinya di sana. Sebelum itu dia memotret untuk dijadikan kenangan dan juga untuk memberitahu ibunya mengenai kabar gembira ini.


Khairi melanjutkan pekerjaannya. Kali ini pria itu memulai semuanya dengan baik karena dia sudah berjanji akan menjadi lebih baik lagi.


Saat waktunya pulang bekerja, pria itu melajukan mobilnya menuju apartemen tempat tinggal ibu dan Laily. Kedua wanita itu sudah mengetahui apa yang terjadi pada rumah tangga Khairi. Meski dia harus sedikit berbohong agar ibunya tidak merasa bersalah.

__ADS_1


"Wah, benarkah? Jadi Ibu sebentar lagi akan dipanggil nenek?" tanya Nur dengan begitu antusias.


"Dan aku akan dipanggil Tante. Aku sudah tidak sabar menunggu kelahirannya," ucap Laily.


"Iya, Kakak juga sama."


Khairi memperhatikan Ibu dan adiknya. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan keduanya. Namun, saat ditanya, baik Bu Nur maupun Laily mengatakan baik-baik saja.


Mereka pun berbincang banyak hal. Hingga semakin larut, Khairi pamit pulang.


"Bu, aku pulang dulu," pamit Khairi.


"Iya, apa tidak sebaiknya nginap saja? Ini sudah larut," tawar Nur.


"Tidak, Bu, terima kasih. Assalamualaikum." Khairi mencium punggung tangan Nur dan pergi meninggalkan apartemen.


Bu Nur dan Laily menghela napas panjang. Hampir saja mereka terkena serangan jantung. Berpura-pura memang melelahkan.


"Hah ... menyusahkan saja," gumam Laily sambil mengusap keringatnya.


"Maaf, ya, Bu, Laily," ucap seseorang sambil memeluk Bu Nur, siapa lagi kalau bukan Afrin.


"Sepertinya untuk satu Minggu ke depan, aku harus benar-benar menyiapkan jantungku agar bisa lebih kuat," ujar Laily.


Afrin memang akan tinggal di sana selama satu Minggu. Bu Nur dan Laily sebenarnya sangat senang akan hal itu, tetapi jika Khairi datang, itu membuat mereka senam jantung seperti tadi. Kedua wanita itu sebenarnya sudah tahu mengenai kehamilan Afrin, tetapi harus berpura-pura terkejut dengan berita itu.


"Iya, maaf adikku sayang," ucap Afrin sambil beralih memeluk adik iparnya.


"Tapi, aku senang ada, Kakak, di sini. Aku jadi ada temannya. Sayang nggak bisa diajak ke mana-mana," ucap Laily membuat Afrin cemberut.


Kakak iparnya itu memang menceritakan bahwa dia tidak bisa ke mana-mana. Wanita itu takut Khairi melihatnya. Memang benar seperti yang Ivan katakan,mereka memang suka sekali menyiksa diri sendiri.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2