
Fazilah merasa dilema, ia ingin mengatakan pada mamanya, bahwa ia ingin pernikahan mereka dibatalkan. Namun, ia merasa tidak enak pada keluarga Hisyam, terutama Hisyam sendiri, dia pria yang baik, Fazilah tidak tega jika harus menyakiti pria itu.
Selama mereka kenal, Hisyam selalu menjaga dan menghormatinya, tidak sekalipun Hisyam berbuat kurang ajar.
Fazilah menghubungi Yasna, ia ingin mengajak sahabatnya itu pergi jalan-jalan ke mall, tapi ternyata Yasna sudah ada rencana pergi bersama dengan keluarganya.
Akhirnya Fazilah memutuskan pergi ke mall sendirian, ia ingin membeli beberapa kebutuhan juga.
Saat sampai di mall, Fazilah hampir saja kecopetan, untung saja ada seorang pria yang menolongnya, begitupun saat ada di eskalator saat itu semua orang berdesakan, tapi beberapa orang membantunya hingga ia tidak terdesak.
Fazilah merasa aneh dengan mereka, kenapa mereka hanya menolong Fazilah? Padahal di sana ada seorang ibu-ibu yang sudah berumur terlihat kesusahan, tapi mereka tidak menolongnya.
Fazilah juga merasa pernah melihat wajah mereka, tapi di mana? Fazilah mencoba mengingat-ingat di mana ia mengenal mereka, kemudian ia teringat, salah satu dari mereka pernah bersama dengan Hafidz. Dia mulai mengerti jika orang-orang yang menolongnya tadi adalah anak buah Hafidz.
Hafidz mungkin meminta mereka mengikuti Fazilah dan menjaganya.
Karena kesal merasa diikuti Fazilah memasuki toilet wanita, itu tempat yang paling aman, mereka tidak akan masuki ke dalam toilet, di dalam ternyata ada seorang wanita yang sedang menerima telepon.
"Iya, Bu. Saya sedang berusaha mencari uang, tapi masih belum dapat. Ibu tolong bersabar, saya pasti akan membayar uang kontrakan itu ... iya, Bu. Saya akan bayar semuanya sampai setahun sekalian," ucap wanita itu dengan nada kesal.
Fazilah hanya meliriknya saja, tiba-tiba ia menemukan ide, bagaimana agar Hafidz keluar dari persembunyiannya. Setelah wanita itu mematikan ponselnya, Fazilah mendekati wanita itu dan memberikan penawaran.
"Mbak, mau bekerjasama dengan saya? Saya akan membayar Mbak mahal, hanya untuk sekali saja." Fazilah mencoba membuat penawaran dengan wanita tadi.
"Pekerjaanya apa, Mbak?"
"Mbak bisa akting tidak?"
"Bisa, Mbak."
"Mbak hanya perlu marah-marah sama saya dan bertengkar dengan saya, mungkin kita harus melakukan sedikit kekerasan, tidak apa-apa, kan? Saya akan bayar Mbak mahal."
"Memang berapa yang Mbak berikan kepada saya?"
"Seratus juta, sudah lebih dari cukup, kan?"
"Baik, saya mau," jawab wanita itu dengan cepat.
"Saya akan beri tahu bagaimana pekerjaannya." Fazilah membisikkan sesuatu di telinganya wanita tadi, wanita itu mengangguk mengerti.
"Apa tidak apa-apa, saya memukul Anda?" tanya wanita itu.
"Tidak apa-apa, lakukan saja asal semuanya meyakinkan dan membuat dia datang."
"Mbak, lagi berantem sama pacarnya?"
"Hanya masalah sedikit, nama Mbak siapa?"
"Nama saya Risa."
"Baiklah, Mbak Risa boleh keluar dulu."
__ADS_1
"Iya, Mbak. Saya keluar dulu."
Setelah mencuci tangannya, Risa keluar dengan diikuti Fazilah sedikit jauh, saat di tempat yang cukup ramai Fazilah dengan sengaja menabrak Risa hingga wanita itu hampir terjatuh.
"Kamu apa-apaan, sih! Kalau jalan pakai mata!" Risa berbicara dengan suara yang keras, hingga membuat beberapa pengunjung mall melihat ke arah mereka.
"Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja tadi," sesal Fazilah.
"Tidak sengaja katamu! Kamu sudah menabrakku dengan begitu kencang, apanya yang tidak sengaja?"
"Sungguh, Mbak. Tadi memang saya tidak sengaja."
"Ah, kamu cari alasan saja, pasti kamu memang sengaja, kamu pasti lagi cari pria kaya yang bisa kamu porotin, sampai nggak lihat."
"Saya sudah meminta maaf dengan baik-baik ya, jangan membuat saya semakin emosi, apalagi menuduh saya yang tidak-tidak."
"Kamu yang salah Seharusnya kamu minta maaf, ini malah nyolot."
"Saya dari tadi juga sudah minta maaf, Mbak. Anda sendiri yang memperbesar masalah yang sebenarnya sangat kecil."
"Mbak, tolong jangan membuat keributan di sini," tegur seorang satpam.
"Bukan saya Pak yang membuat keributan, Mbak ini tadi yang menabrak saya," sahut Risa.
"Saya sudah minta maaf, tapi Mbaknya malah marah-marah, bagaimana saya tidak emosi?" Fazilah mencoba berkelit.
"Dia dengan sengaja menabrak saya dan hampir membuat saya terjatuh."
Fazilah dan Risa sama sekali tidak menghiraukan peringatan satpam itu, mereka masih adu mulit hingga mereka saling jambak. Fazilah berteriak kesakitan yang memang sengaja dilebih-lebihkan.
"Rambutku!" teriak Fazila.
"Rasakan ini ... aaww."
Sama seperti Fazilah, wanita itu juga ikut berteriak, hingga membuat beberapa orang datang dan memisahkan mereka. Namun, mereka masih tetap tidak berhenti bertengkar. Fazilah masih belum melihat kehadiran Hafiz jadi, ia memberi kode pada wanita itu untuk terus melakukan aktingnya.
Cukup lama mereka bertengkar, hingga seseorang datang dari arah belakang dan memeluk Fazilah, awalnya wanita itu terkejut, tapi setelah mendengar seorang pria berbisik tepat di telinganya, dia tahu kalau itu adalah Hafidz.
Jantung Fazilah berdetak lebih cepat ketika posisi dirinya begitu rapat dengan Hafiz, ia bisa merasakan pelukan yang sudah sangat lama ia rindukan, hingga suara Risa menyadarkannya, dengan segera ia melepaskan pelukan Pria itu.
"Sudah, Mbak?" tanya Risa.
"Su-sudah."
"Bagaimana, Mbak, akting saya?"
"Bagus, sebentar." Fazilah berbalik dan menadahkan tangannya pada Harris.
"Apa?" tanya Hafidz yang tidak mengerti maksud Fazilah.
"Uang seratus juta."
__ADS_1
Hafidz terkejut mendengarnya, Uang seratus juta buat apa?
"Apa maksudnya?"
"Kamu 'kan banyak uang, seratus juta juga tidak berarti apa-apa."
"Tapi buat apa seratus juta?"
"Kamu mau kasih atau nggak?"
Akhirnya dengan terpaksa Hafiz pun memberikan ponselnya pada Fazilah.
"Transfer saja lewat aplikasi."
"Sandi ponsel?" tanya Fazila.
"Hari ulang tahun kamu."
Fazila merasa terharu karena Hafidz masih mengingat ulang tahunnya.
"Nomor rekening mbak berapa?" tanya Fazilah pada Risa.
Wanita itupun menyebutkan nomor rekeningnya pada Fazilah.
"Aku transfer, ya, Mbak."
"Terima kasih atas kerjasamanya, Lain kali kalau Mbak butuh pemeran lagi, hubungi saya."
"Tidak ada lain kali, ini yang terakhir," sela Hafidz, ia mulai mengerti tentang semua kejadian ini, yang ternyata hanya permainan Fazilah.
"Saya permisi, Mbak." Wanita itu pergi meninggalkan Fazilah bersama Hafidz.
Hafiz menatap Fazila dengan intens, membuat wanita itu jadi salah tingkah.
"Kenapa? Kamu menyesal sudah memberikan uang itu? Ini ponsel kamu, nanti akan aku bayar uangnya, anggap saja tadi aku hutang." Fazilah mengembalikan ponsel Hafidz dengan menggerutu.
"Ayo ikut aku." Hafidz menarik tangan Fazilah.
"Mau ke mana?"
"Ke klinik, kamu tadi ditampar 'kan sama wanita itu?"
"Aku nggak papa, ini juga atas permintaanku."
"Nggak papa Gimana? Nanti bisa bengkak. Sudah Jangan membantah, kali ini kamu harus menuruti perintahku."
.
.
.
__ADS_1
.