Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
203. S2 - Aku antar


__ADS_3

Hari ini Nuri sudah diperbolehkan pulang. Sudah tiga hari dia dirawat di rumah sakit. Yasna dan Nayla selalu menjaganya, tak pernah mereka biarkan anak itu sendirian apalagi sampai bersedih. Semua orang sangat senang melihat gadis kecil itu juga sudah kembali ceria.


Mereka pulang dengan menggunakan satu mobil dengan Aydin yang menyetir. Emran duduk di samping putranya, sementara Yasna dan Nayla ada dibelakang dengan Nuri yang berada di pangkuan omanya.


Disepanjang jalan gadis kecil itu tidak berhenti mengoceh, apa saja yang menurutnya menarik akan dia tanyakan. Meski terkadang tidak ada yang mengerti apa yang dikatakannya.


"Ma, li ainan," ucap Nuri pada Yasna.


(Oma, beli mainan)


"Aduh, oma nggak bawa uang. Bagaimana, dong? Minta sama Mama pasti Mama bawa uang, ayo!" perintah Nayla.


"Mama, li ainan."


"Mau mainan apa, Sayang?" tanya Nayla.


"Macak."


"Boleh, tapi besok saja. Sekarang Nuri baru sembuh, nggak boleh banyak gerak dulu, ya!" bujuk Nayla.


Gadis kecil itu mencebikkan bibirnya seakan ingin menangis karena keinginannya tidak dituruti. Hal itu justru membuatnya semakin lucu, membuat Nayla da Yasna terkekeh.


"Mama benar, Sayang. Sekarang Nuri baru keluar dari rumah sakit. Kita pulang dulu. Ini bajunya Nuri bau obat, nanti temannya ikut sakit, kan, kasihan. Beli mainannya besok saja, ya! Pergi sama mama sama papa," ujar Yasna.


"Ma."


"Iya, sama Oma juga."


Tidak terasa akhirnya mereka sampai juga di rumah. Nuri sangat senang, dia meminta turun dari gendongan dan berjalan sendiri


memasuki rumah dengan memanggil Mbak Rani.


"Ani!"


*****


Hari-hari dilewati dengan sangat baik oleh Afrin dan hari ini adalah hari pertama dia kuliah. Gadis itu bersama dengan kedua sahabatnya Vira dan Siska memilih satu kampus yang sama. Namun, berbeda jurusan.

__ADS_1


Saat sedang asyik membaca buku di dalam kelas, ada seseorang yang datang dan duduk di samping Afrin. Membuat gadis itu mengalihkan pandangannya dari buku.


"Halo, apa kabar? Perkenalkan namaku Zahra," ucap seorang gadis sambil mengulurkan tangan.


"Afrin," sahut Afrin dengan membalas uluran tangan Zahra.


Mereka pun berbincang-bincang beberapa hal tentang jurusan mereka. Afrin senang bertemu dengan seorang teman baru.


Tidak berapa lama kelas sudah penuh. Seorang dosen pun masuk dan memberikan penjelasan tentang pelajaran. Afrin sangat antusias mendengarkannya, begitu juga dengan Zahra.


Kelas telah selesai. Afrin bersiap untuk pulang, tetapi dia melihat Zahra yang masih duduk dengan membaca bukunya. Padahal semua orang sudah meninggalkan tempat.


"Kamu nggak pulang?" tanya Afrin yang masih sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.


"Tidak, tiga puluh menit lagi aku harus bekerja di restoran dekat kampus jadi, aku tidak pulang, biar nanti langsung ke tempat kerja saja. Lima belas menit lagi aku akan ke sana. Kalau kamu mau pulang, silakan saja."


"Kamu sudah bekerja?"


"Iya, sudah dua bulan yang lalu. Aku memang sengaja mencari tempat kerja yang dekat dengan kampus agar tidak perlu repot cari angkutan umum," jawab Zahra dengan tersenyum.


"Memang rumah kamu di mana?"


"Kenapa tidak cari kos yang dekat dari sini?"


"Kos disekitar sini mahal-mahal. Kalau agak jauh lumayan murah. Aku bisa menabung."


Afrin menggangguk dan tidak bertanya lagi. Dia kagum pada Zahra yang sanggup hidup mandiri diusianya yang masih sangat muda. Berbeda dengannya yang selalu saja bergantung pada kedua orang tuanya.


Tidak mau mengganggu Zahra, Afrin pun berpamitan untuk segera pulang.


"Ya sudah, aku pulang duluan kalau begitu," pamit Afrin.


"Iya, hati-hati. Sampai bertemu besok."


Afrin berlalu meninggalkan Zahra seorang diri. Dia meninggalkan kampus dengan menggunakan mobilnya tiba-tiba di pertengahan jalan mobilnya mogok. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan karena dia tidak mengerti apa pun tentang mobil.


Baru saja Afrin akan menghubungi papanya, ada sebuah mobil yang berhenti di depan mobilnya. Seorang pria turun yang membuat hati Afrin semakin kesal. Siapa lagi kalau bukan Khairi, diikuti sang asisten di belakang.

__ADS_1


"Halo, Sayang. Kenapa mobilnya?" tanya Khairi.


"Jangan asal kalau manggil. Siapa yang mau Anda panggil sayang!"


"Jangan galak-galak, nanti malah semakin membuat aku jatuh cinta dan enggak bisa lepas dari kamu. Meskipun kamu sangat cantik saat marah-marah," goda Khairi.


Afrin salah tingkah, antara malu dan juga kesal. Malu karena dipuji, kesal karena pria itu selalu menggodanya dan tahu di mana pun gadis itu berada.


"Ivan, panggil orang bengkel. Suruh mereka ke sini!" perintah Khairi pada Ivan dengan nada datar, berbeda saat dia bicara dengan Afrin.


Bagi Ivan itu sudah biasa, berbeda dengan Afrin yang merasa aneh dengan sikap pria itu. Dia merasa seolah Khairi memiliki kepribadian ganda. Kadang hangat dan kadang dingin, tetapi gadis itu tidak mau bertanya. hal itu pasti akan membuat pria itu besar kepala dan semakin mengejarnya.


Afrin bukan gadis bod*h yang tidak tahu maksud dari Khairi. Dia hanya tidak ingin terlena dengan pujian dan sikap hangat pria itu. Gadis itu teringat nasehat bundanya agar tidak terlalu dekat dengan lawan jenis.


"Baiklah, Sayang. Sebaiknya aku yang mengantarmu pulang. Nanti mobilnya biar orang bengkel yang mengambil. Jika sudah selesai mereka akan mengantarkannya ke rumahmu."


"Sudah kubilang berkali-kali, jangan panggil aku sayang. Aku j*jik dengernya!" geram Afrin.


"Jangan begitu, sekarang memang terdengar aneh, tetapi nanti lama-lama juga terbiasa," sahut Khairi dengan menaik turunkan alisnya.


Afrin mendengus kesal. Dia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa pada pria yang terlalu percaya diri ini, tetapi dia juga harus berterima kasih karena dia tidak harus kebingungan mencari bantuan.


"Ayo, Sayang! Aku antar kamu pulang," ucap Khairi dengan menarik tangan Afrin.


Wanita itu tidak siap, hingga menurut saja saat Khairi menariknya. Dia duduk di kursi belakang bersama dengan pria itu.


"Tasku masih ada di mobil?" pekik Afrin saat dia sudah ada di dalam mobil Khairi.


"Ivan, ambil tasnya!" perintah Khairi yang segera dilaksanakan asistennya itu.


"Kamu suka sekali merintah-merintah orang. Aku juga masih bisa mengambilnya sendiri."


"Tidak apa-apa, Ivan juga dengan senang hati melaksanakannya."


Ivan sudah masuk ke dalam mobil dan menyerahkan tas Afrin. Gadis itu tersenyum dan berterima kasih pada Ivan karena sudah mengambilkan tas miliknya.


Khairi sempat marah karena Afrin tersenyum pada pria lain dan itu tidak dia sukai. Senyum gadis itu hanya untuk dirinya seorang. Tidak ada pria mana pun yang boleh melihat senyum Afrin.

__ADS_1


Gadis itu tidak peduli dengan ocehan pria yang ada di sampingnya dan lebih memilih memainkan ponselnya.


__ADS_2