Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
39. Pura-pura matre


__ADS_3

Tok tok tok


"Na, ada Fazilah di depan!" Alina memanggil Yasna yang berada di kamar.


"Iya, Bu."


Yasna membuka pintu kamarnya, ia keluar mencari sahabatnya yang datang berkunjung.


"Tumben, kamu ke sini malam-malam!"


"Lagi bad mood."


"Bad mood, Atau patah hati?"


Fazilah diam, ia tidak menyanggah atau mengiyakan. Yasna semakin yakin jika Fazilah ada masalah.


"Mau nginap di sini?" tawar Yasna.


"Boleh."


"Mandi sana, kamu belum mandi, kan? Aku buatin kamu makan malam."


"Tidak perlu, gue sudah makan. Buatin juz saja, jangan lupa kuenya."


"Ngelunjak ya, lo."


Fazilah pergi begitu saja, menuju kamar Yasna. Memang sudah terbiasa bagi mereka, saling menginap di rumah satu sama lain dan memakai baju mereka.


Yasna memasuki kamar dengan membawa nampan. Ia tidak melihat Fazilah, tetapi ia mendengar suara gemericik air di kamar mandi, berarti Fazilah ada di dalam.


Terdengar pintu kamar mandi terbuka, Fazilah keluar menggunakan baju Yasna, yang ia ambil di lemari sebelum mandi.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Yasna yang sudah tidak sabar.


"Sepertinya gue harus pergi, Na."


"Apa maksud kamu? Kamu mau pergi kemana?"


"Tadi siang, aku membuat janji bertemu dengan ibunya Pak David, aku menemuinya di sebuah restoran yang sudah dia pesan. Dia memintaku menjauhi Pak David, dia juga memberiku banyak uang."


"Kamu menerimanya?"


Fazilah mengangguk membuat Yasna menghela nafas.


Flashback on


"Assalamualaikum, maaf, Nyonya. Saya telat," ucap Fazilah.


"Tidak apa-apa, saya juga baru datang," sahut Vera, ibunya David.


Seorang pelayan menyuguhkan makanan dan minuman. Fazilah baru datang, ia sama sekali belum memesan apapun, tetapi kenapa makanan sudah datang?


'Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak, kenapa Nyonya Vera mengajak bertemu di sini?' batin Fazilah.


"Saya sudah memesankan makanan untukmu jika kamu tidak suka, kamu boleh memesan yang lain."

__ADS_1


"Tidak perlu, Nyonya. Ini sudah terlalu banyak."


"Silakan, dinikmati."


"Iya, Nyonya. Terima kasih."


Mereka menikmati makan dengan tenang, tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibir mereka, hingga mereka selesai makan.


"Saya ingin kamu menjauhi anakku," ucap Vera dengan santai.


"Maksud, Nyonya?"


"Kamu tentu mengerti maksud saya, tanpa harus saya jelaskan."


"Tapi saya sungguh tidak mengerti, maksud Anda!"


"Saya ingin kamu berhenti bekerja di kantor David dan menjauh darinya, sebagai imbalannya saya akan memberi kamu uang."


"Maaf, Nyonya. Saya masih ingin bekerja."


"Kamu bekerja di sana cuma ingin menggoda David, kan? Setelah dia jatuh dalam pelukanmu, kamu pasti kamu akan menguras uangnya, kamu cuma ingin hartanya saja. Iya, kan?"


Vera mengeluarkan sejumlah uang dan juga kartu kredit, ia meletakkan semuanya di atas meja.


"Ini, ambillah. Kartu itu isinya sangat banyak, saya harap kamu segera menjauhi anak saya. Tidak perlu sungkan, ambil saja."


Tangan Fazilah yang berada di bawah meja mengepal, ia sangat geram, ingin sekali menampar wajah wanita yang ada di depannya ini, tetapi ia masih ingat, jika wanita ini seumuran dengan ibunya dan ia harus menghormatinya.


"Baiklah, uang dan kartu ini, saya ambil."


"Saya tidak menyangka, ternyata kamu matre juga. Saya kira kamu berbeda dengan wanita di luaran sana, ternyata sama saja," sinis David.


Fazilah diam tak menjawab, ia tidak tahu harus berkata apa, bukankah memang ini yang ia inginkan? Mereka berbeda dalam segi apapun, inilah yang terbaik untuk mereka dan semua orang.


"Sudahlah, David. Sebaiknya kita pergi, kamu juga sudah lihat wajah aslinya, kan?" Vera memandang Fazilah rendah.


David pergi bersama mamanya, maninggalkan Fazilah seorang diri.


"Begini lebih baik, semoga kamu bahagia bersama calon istrimu," gumam Fazilah.


Flashback off


"Lalu sekarang uangnya mana? Boleh dong bagi-bagi, aku yakin pasti isinya banyak." Yasna berkata sambil menadahkan tangannya.


"Lo, apaan sih! Bukannya menghibur gue, malah nanya duit."


"Habisnya, kamu sok-sokan tampil buruk, demi kebaikan orang lain. Basi tahu."


"Aaa, entahlah." Fazilah merebahkan tubuhnya di ranjang Yasna, ia menutup mata dengan lengannya.


"Eh, malah tidur. Bagaimana selanjutnya? Kamu mau kerja di mana? Pokoknya aku nggak ngizinin kamu pergi, ya!"


"Gue mau numpang hidup sama lo aja deh."


"Boleh, asal kamu tahu diri saja, biasalah kamu tahu, kan? Apa yang harus dilakukan orang yang numpang?"

__ADS_1


Fazilah mendengus mendengar kata Yasna.


"Fa, jangan pergi, ya? Aku akan bantu kamu cari kerja, tapi kamu di sini saja. Bagaimana nanti jika aku ingin curhat. Kamu tahu, kalau aku tidak suka cerita lewat telepon." pinta Yasna setelah keduanya terdiam cukup lama.


"Na, kalau aku masih di sini, aku pasti akan bertemu dengannya."


"Cepat atau lambat kalian akan tetap bertemu, lagi pula, kamu sudah memberinya kesan buruk, tidak mungkin dia mengejarmu lagi, tapi kok bisa pas dia datang dan lo ambil uang itu?"


"Aku melihat kedatangannya lewat kaca di belakang Nyonya Vera."


"Jadi itu memang kamu sengaja?"


"Iya."


Yasna menghela nafas, sahabatnya ini memang orang yang sangat baik, itu juga yang membuat hubungan mereka, layaknya saudara hingga detik ini. Namun, ia juga tidak suka jika kebaikan Fazilah hanya untuk menyakiti dirinya sendiri, seperti hari ini. Yasna tahu Fazilah menyukai atasannya itu, tetapi karena perbedaan keyakinan dan status, Fazilah rela dianggap jelek oleh pria itu.


Yasna merebahkan tubuhnya disamping Fazilah.


"Fa, kamu bekerja di perusahaan Mas Emran saja, bagaimana?"


"Nggak ah, nggak enak gue, nanti Pak Emran ngira gue manfaatin lo."


"Memang kenyataannya seperti itu. Biar aku yang bicara sama Mas Emran. Pokoknya kamu nggak boleh pergi kemanapun, kamu harus tetap di sini, nemenin aku."


"Baiklah, sekali-kali boleh manfaatin koneksi." Fazilah terkekeh begitu pun dengan Yasna.


"Fa, memang kamu rela, kalau dia menikah dengan wanita lain?"


"Rela nggak rela, harus rela ... mungkin jika perbedaaan status atau kasta, aku masih bisa bertahan, tapi keyakinan kami juga berbeda dan aku tidak akan pernah mengorbankan keyakinanku."


"Aku setuju, aku yakin suatu hari nanti, kamu akan mendapatkan pria yang lebih baik."


"Kalau kamu sendiri, kapan kamu akan menikah?"


"Masih nunggu lampu hijau."


"Lo belum dapat restu dari anaknya Pak Emran?"


"Masih lampu kuning."


"Tuh anak, nyari calon ibu yang seperti apa lagi? Padahal lo udah baik sama dia, tapi masih belum bisa juga ngeluluhin hatinya."


"Dia tuh, cuma nggak mau papanya dimanfaatin, itu saja."


"Iya, deh, calon anak mah, dibela terus." cibir Fazilah, tapi ia senang Yasna bisa bertemu dengan keluarga Emran, mereka bisa melengkapi kekurangan yang Yasna miliki.


'Semoga setelah ini, lo selalu bahagia, Na,' batin Fazilah.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2