Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
325. S2 - Menjemput Ibu dan Laily


__ADS_3

"Nyonya, kenapa nggak dimakan?" tanya Bik Asih yang melihat Afrin hanya diam sambil menonton televisi. Sementara di meja masih berjajar jajanan yang dibeli wanita itu.


"Sudah kenyang, Bik," sahut Afrin.


"Saya tadi sudah bilang, jangan beli banyak-banyak, tapi Nyonya malah beli yang lain lagi."


"Aku tergiur melihatnya, Bik. Nggak tahu kenapa, tiba-tiba pengen beli semuanya."


Afrin juga tidak mengerti dengan keinginannya. Dia bukan orang yang suka menghambur-hamburkan uang, apalagi sampai membuang makanan. Namun, hari ini wanita itu sangat tergiur dengan aneka makanan yang dilihatnya.


"Kalau begitu, Bibi bawa ke depan, ya! Siapa tahu ada yang Bibi yang lewat dan mau menerima," ujar Bik Asih yang diangguki Afrin.


"Jangan, Bik. Ini buat Mas Khairi saja. Aku pengen lihat Mas Khairi makan semua ini."


"Hah ... Non Afrin yakin? Makan semuanya?" tanya Bik Asih lagi. Dia ingin meyakinkan apa yang didengarnya.


Afrin mengangguk sambil tersenyum membuat Bik Asih menelan salivanya. Sementara wanita itu kembali fokus pada layar segi empat yang menampilkan drama seri.


Saat jam makan siang, Khairi pulang. Pria itu sudah berjanji dengan istrinya akan pergi ke rumah Bunda Yasna. Sebelum itu dia harus menjemput ibu dan adiknya terlebih dahulu.


"Mas, kita makan siang dulu, sebelum pergi," ucap Afrin pada suaminya.


"Iya, Sayang. Aku mandi dulu." Khairi segera berlalu ke kamar mandi.


Afrin pun menyiapkan pakaian untuk sang suami sebelum keluar dari kamar. Wanita itu pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang yang sudah dimasak oleh Bik Asih.


"Bik, nanti malam tidak usah masak untukku dan Mas Khairi. Bibi, masak untuk yang lain saja. Kami mau ke rumah Papa Emran. Kami juga nginap di sana," ucap Afrin disela kegiatannya menata makanan.


"Iya, Nyonya."


"Wangi banget, masak apa, nih?" tanya Khairi sambil memeluk Afrin dari belakang, tentu saja hal itu membuat istrinya terkejut.


"Mas, kalau datang nggak usah ngagetin kenapa, sih!" seru Afrin dengan ketus.


Afrin berusaha melepas pelukan suaminya. Namun, Khairi justru semakin erat. Wanita itu merasa malu pada Bik Asih yang sedari tadi pura-pura tidak melihat padahal dari tadi melirik terus.


"Aku tadi pelan-pelan, loh, Sayang. Kamu saja yang terlalu fokus sama makanan," kilah Khairi sambil mencium pipi istrinya.

__ADS_1


"Mas, ada Bik Asih," tegur Afrin dengan berbisik.


"Bik, tinggalin kita berdua." Bukannya menghentikan apa yang dilakukannya justru Khairi meminta Bik Asih pergi.


Setelah kepergian Bik Asih, Afrin memukul lengan sang suami. Dia merasa tidak enak dengan wanita paruh baya itu. Kenapa Khairi malah mengusir Bik Asih? Padahal dia yang salah.


"Aduh, Sayang, kamu mukul aku, sih!"


"Lagian kamu kenapa ngusir Bik Asih, kamu yang salah."


"Sudahlah, lagian Bik Asih juga pasti mengerti." Khairi duduk di kursi, dia menarik pinggang istrinya agar duduk di atas pangkuannya.


Afrin merasa tidak nyaman makan sambil duduk seperti ini. Dia berusaha melepaskan dirinya, tetapi Khairi justru semakin erat memeluknya. Pria itu membisikkan sesuatu yang membuat Afrin akhirnya diam.


"Sayang, jangan bergerak terus, nanti kamu malah membangunkannya."


Afrin sangat tahu apa maksud Khairi. Meski tidak nyaman, wanita itu diam dan menuruti keinginan suaminya. Mereka juga makan dalam satu piring, sesekali saling menyuapi. Hal itu tidak luput dari pandangan Fatma. Jujur, gadis itu merasa iri. Namun, dia sudah tidak berniat merebut hati majikannya karena sudah ada pria yang mengisi hatinya kini.


Setelah selesai makan siang, Afrin teringat makanan yang dibelinya tadi. Dia pun menghidangkannya di depan sang suami.


"Tadi aku ke pasar, Mas. Aku beli semua ini, sekarang kamu makan semua, ya!"


"Hah ... se–semua?"


Afrin mengangguk sambil tersenyum. Khairi menatap semua makanan yang ada di meja. Dia baru saja makan siang, masa sekarang harus makan kue sebanyak ini? Bisa-bisa bukan perut saja yang melar, tangan dan kaki pun bisa.


"Sayang, ini banyak banget loh. Mana bisa aku makan semuanya! Kita bagi saja sama yang lain, ya? Sama Pak Jono dan Pak Udin," bujuk Khairi.


"Aku sengaja beli semua ini buat kamu. Anak kamu pingin lihat Papanya makan semua ini," sahut Afrin dengan mata berkaca-kaca. Tentu saja Khairi langsung mengiyakan saja. Apalagi ini menyangkut calon anaknya.


Khairi makan satu persatu makanan itu hingga membuat perutnya begah. Makanan masih tersisa, tetapi Khairi sudah tidak sanggup lagi. Perutnya sudah benar-benar tidak muat lagi.


"Sayang, aku nggak kuat lagi, perutku sudah kenyang," ujar Khairi.


"Kalau kamu sudah kenyang, kenapa masih makan, Mas? Sampai habis semua tinggal segini."


"Kan, kamu yang minta aku buat habisin semuanya?"

__ADS_1


"Kapan? Aku cuma bilang kamu makan semua, bukan berarti kamu makan semua sampai habis. Maksud aku itu, kamu makan semua satu-satu jadi tahu semua rasa kuenya. Bukan dihabisin!"


"Kenapa nggak bilang dari tadi, Sayang!" ingin sekali Khairi menenggelamkan diri saja ke dasar kolam kalau seperti ini. Sudah susah-susah makan, malah salah tangkap.


Bik Asih menahan tawanya saat mendengar apa yang majikannya bicarakan. Wanita itu membawa kue yang tersisa ke depan dan memberikannya pada Pak Jono dan Pak Udin. Kebetulan mereka ada di pos satpam.


Setelah urusan Khairi dan Afrin selesai keduanya segera pergi ke apartemen untuk menjemput Bu Nur dan Laily. Acaranya memang sore. Mereka datang lebih awal karena ingin berkumpul dan berbincang bersama sebentar.


Afrin menunggu di mobil, sementara Khairi masuk ke apartemen ibunya. Pria itu melarang sang istri turun. Dia tidak ingin melihat wanita itu kelelahan karena sudah dari kemarin Afrin bekerja membantu persiapan pesta.


"Apa kabar, Kak?" sapa Laily pada Afrin saat dia masuk ke mobil.


"Alhamdulillah, baik. Kamu sama Ibu, bagaimana kabarnya?" tanya Afrin balik sambil duduk menyamping agar bisa melihat ke belakang.


"Alhamdulillah, baik juga," jawab Laily.


"Ibu juga baik," sahut Bu Nur.


"Bagaimana kuliah kamu?"


"Lancar, Kak. Meski ada beberapa yang ganggu, tapi semua bisa teratasi dengan baik."


"Kamu nggak ada yang godain, kan?" tanya Khairi. Dia khawatir jika pria yang waktu itu mengganggu adiknya. Mengingat saja sudah membuat kesal, apalagi jadi adik ipar?


"Tidak, Kak," jawab Laily.


"Syukurlah, kalau ada yang godain atau buat masalah sama kamu, bilang saja sama Kakak. Akan kupastikan mereka menyesal."


"Iya, Kak. Terima kasih."


Laily sungguh tidak percaya akan mendengar kalimat itu. Dulu setiap ada yang membullynya, dia selalu ingin ada seseorang yang datang dan membelanya, tetapi hingga beranjak dewasa, tidak seorang pun yang menolong.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2