Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
80. Perhatian yang terbagi


__ADS_3

"Semuanya Tante serahkan sama Fazilah jika dia bahagia bersamamu, tentu Tante akan merestui. Tante hanya mohon padamu, jangan pernah menyakitinya jika kamu tidak ada lagi rasa cinta terhadapnya. Tolong kembalikan dia pada Tante dengan cara baik-baik, tanpa harus menyakitinya." Mirna berbicara dengan mata yang berkaca-kaca, dia hanya ingin yang terbaik untuk Fazilah, agar putrinya selalu bahagia.


Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, termasuk Mirna. Apapun akan dia lakukan agar putrinya selalu bahagia meski harus mengorbankan segalanya.


Hafidz menggenggam tangan Mirna dan berkata, "Itu tidak akan terjadi, Tante. Saya sangat mencintainya. Memang kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi saya akan berusaha agar selalu mencintai dan melindunginya dari apapun."


Fazilah yang berada dibalik tembok merasa terharu. Dia tidak menyangka mama dan juga Hafidz begitu sangat menyayanginya. Dia merasa sangat beruntung, dikelilingi oleh mereka, orang-orang yang baik dan tulus padanya.


"Satu lagi, Tante. Saya mohon pada Tante untuk berhenti bekerja, bukan maksud saya untuk menghalangi karir Tante. Hanya saja, saya ingin Tante di rumah bersama Fazilah menikmati masa tua."


"Kamu, ngatain saya tua!" Mirna berkata dengan nada tinggi.


Hafiz gelagapan, dia tidak bermaksud untuk menghina ataupun merendahkan calon mertuanya itu.


"Bukan begitu maksud saya, Tante. Saya hanya ... hanya ...."


"Saya mengerti, saya hanya bercanda tadi," ucap Mirna dengan tertawa.


Hafidz merasa lega karena tadi dia merasa sudah salah berkata dan membuat calon mertuanya itu tersinggung.


"Sebenarnya Fazilah juga mengatakan hal seperti itu. Dia ingin Tante pensiun, tapi Tante merasa tidak enak jika hanya bersantai-santai saja," ucap Mirna.


"Tante, kan, sudah punya anak yang kaya kenapa harus repot-repot cari uang. Seharusnya Tante manfaatkan saja dia," ucap Hafiz membuat Mirna kembali tertawa.


"Dia kaya juga karena kamu."


"Sekarang semua itu sudah atas nama Fazilah jadi, semua keputusan ada padanya. Saya sekarang juga termasuk pegawainya."


"Benar juga, nanti kita akan habiskan uangnya," Mirna tertawa yang diikuti Hafidz.


"Kalian sedang membicarakan aku?" tanya Fazilah yang baru keluar dari persembunyiannya.


"Siapa yang membicarakan kamu? Kami lagi ngobrol biasa saja."


"Ah, Mama mah sukanya ngeles aja. Aku dengar dari dalam."


"Kalau sudah dengar, ngapain nanya-nanya. Sudahlah mama mau pergi ke kantor mengurus surat resign." Mirna pergi meninggalkan Fazilah dan Hafidz.


Fazilah cemberut, dia masih kesal pada mamanya dan juga Hafidz yang membicarakannya tadi.


"Kamu kenapa sih, Sayang? Cemberut saja." tanya Hafidz dengan duduk mendekat ke arah Fazilah.


"Nggak pa-pa," jawab Fazilah tanpa melihat Hafidz.


"Keluar, yuk!"

__ADS_1


"Keluar ke mana?"


"Sudah, ikut saja."


"Tapi, aku mau ke kantor. Aku harus bekerja."


"Kamu, kan, sudah jadi bos. Ngapain juga harus kerja."


"Nggak bisa gitu, dong! Aku juga belum bilang apa-apa sama Kak Emran. Aku nggak bisa seenaknya main pergi begitu saja."


"Aku ingin ngajakin kamu pergi jalan-jalan."


"Lain kali saja, ya. Kak Emran sudah baik banget sama aku, nggak enak kalau berhenti begitu saja, nggak enak juga sama Yasna."


"Ya sudah. Ayo, aku antar!" Hafiz pun mengantar Fazilah ke tempatnya bekerja.


*****


"Bagaimana, Na. Apa Vico sudah tidur?" tanya Karina, begitu melihat Yasna keluar dari kamar tamu yang kini di tempati Vino dan Vico.


"Sudah, Ma. Mungkin dia terlalu lelah menangis, hingga akhirnya tertidur," jawab Yasna.


Yasna merasa lelah, baru setengah hari Vino dan Vico di sini dan dia sudah cukup kewalahan, bagaimana nanti?


"Ini baru sehari, bagaimana besok dan seterusnya?" gumam Karina.


"Mama juga mendoakan Celina, agar dia bisa cepat menyelesaikan masalahnya dan berkumpul kembali bersama anak-anaknya."


"Tadi aku dengar, Mama ngobrol sama Tante Windi. Apa ada sesuatu?"


"Dia bertanya tentang Vino dan Vico."


"Tante Windi tahu, Ma?"


"Iya," jawab Karina. "Mungkin Celina yang cerita. Mama juga nggak banyak ngobrol sama dia, takut salah ngomong."


Yasna mengangguk, dia mengerti. Memang tidak semua orang mengerti maksud dan tujuan seseorang. Terkadang niat baik kita disalahartikan oleh orang lain.


"Anak-anak belum pulang, Ma?" tanya Yasna sambil melihat ke kiri dan ke kanan.


"Belum. Pak Hari masih menjemput mereka."


"Aku sampai nggak ada waktu buat jemput anak-anak. Mudah-mudahan saja mereka mengerti."


"Mama juga berharap begitu, tadi Celina juga kirim pesan sama Mama. Nanti akan ada orang yang mengantar barang-barang Vino sama Vico."

__ADS_1


"Iya, Ma."


Tidak berselang lama Aydin dan Afrin tiba.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, sudah datang anak-anak Bunda," sambut Yasna.


"Kenapa Bunda nggak jemput?" tanya Afrin dengan cemberut.


"Maaf, tadi Vico masih nangis jadi, Bunda nggak bisa ninggalin," jawab Yasna. "Ayo, cepat mandi! Afrin mau dimandikan Bunda?"


"Nggak usah, Bunda. Aku sudah bisa."


Anak-anak pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sementara Yasna menyiapkan makan siang.


Usai membersihkan diri, anak-anak menikmati makan siangnya. Tiba-tiba Vico kembali menangis, membuat Yasna tidak melanjutkan makan siang dan lebih memilih mengurus Vico. Wanita itu berusaha menenangkan Vico yang sedang menangis.


Untungnya kali ini Vico sudah mulai bisa tenang. Tanpa satu orang pun tahu jika afrin tidak menyukainya, dia merasa tersisih karena Yasna lebih peduli pada Vico dan tidak memperhatikannya lagi.


Setelah selesai makan siang, Yasna bermain dengan Vico hingga sore hari. Sementara Afrin bermain dengan Vino.


Saat makan malam, Yasna juga lebih perhatian pada Vico, hingga membuat Afrin kesal dan masuk ke dalam kamar tanpa memakan makanannya.


"Sayang, mau ke mana? Kamu belum makan!" tanya Emran.


Tanpa menjawab pertanyaan Emran, Afrin terus berlalu meninggalkan meja makan. Dia sudah benar-benar tidak selera untuk menikmati makan malam. Semua orang heran, mereka saling menatap dan berpikir pasti sesuatu terjadi pada Afrin.


"Apa tadi terjadi sesuatu di sekolah, Na?" tanya Emran pada Yasna karena mengira jika Yasna yang menjemput anak-anak.


"Aku tidak tahu, Mas," jawab Yasna. Dia merasa bersalah karena tidak tahu apa pun.


"Sebentar, biar aku tanyakan padanya." Emran beranjak pergi menuju kamar Afrin. Dia mengetuk pintu beberapa kali lalu dibukannya karena tak juga ada sahutan dari dalam.


"Anak Papa kenapa ini,? Kok tiba-tiba pergi begitu saja, tanpa mau makan? Biasanya Afrin yang paling semangat makan, masakan buatan Bunda," tanya Emran dengan suara yang lembut. Emran tahu putrinya pasti sedang sedih, tapi sedih karena apa? Emran tidak tahu.


Afrin masih diam menyembunyikan wajahnya nya di dalam selimut. Dia tidak ingin siapa pun melihatnya bersedih.


"Ada apa, Sayang?" tanya Emran lagi.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2