Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
214. S2 - Menjenguk


__ADS_3

"Pa, aku minta alamat apartemennya Ivan," pinta Afrin.


"Kamu mau mengunjungi Khairi sekarang?" tanya Emran balik.


"Iya, aku mau tahu keadaannya. Dia di sana cuma berdua saja sama Ivan. Aku khawatir sama keadaannya, takut Ivan tidak bisa merawat luka Khairi."


"Kamu perginya sama siapa? Kalau sendiri Papa enggak izinin karena saat ini, Khairi di sana sendirian."


"Sendirian? Memangnya Ivan ke mana?"


"Dia pergi ke kantor agar orangtua Khairi tidak curiga mengenai keberadaannya."


"Aku pergi sama siapa, dong?" tanya Afrin. "Sama Kak Nayla saja, ya!"


Nayla yang sedang menyuapi Nuri pun menoleh. "Nggak mau, ah. Nanti jadi kambing congek di sana."


"Ayolah, Kak! Aku sama siapa lagi? Sama Nuri juga diajak nggak pa-pa," bujuk Afrin. "Nuri mau ikut sama tante ke rumah Om Khairi?" tanya Afrin. Gadis kecil itu hanya mengangguk, tanpa mengucapkan satu kata pun karena saat ini mulutnya penuh dengan makanan.


"Ayolah, Kak! Ya ya ya," bujuk Afrin


Nayla akhirnya terpaksa mengangguk. Dia juga tidak mungkin membiarkan adik iparnya itu pergi sendirian. Laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan akan sangat berbahaya.


"Terima kasih, Kak," ucap Afrin sambil memeluk kakak iparnya.


"Kalau mereka berbuat macam-macam, videoin saja, Sayang," sela Aydin.


"Macam-macam apa? Aku cuma mau lihat keadaan Khairi saja."


Selesai sarapan Afrin, Nayla, dan Nuri pergi ke apartemen Ivan dengan bermodal alamat yang dikirim oleh salah satu anak buah Emran. Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di apartemen Ivan. Tempatnya lumayan besar dan nyaman. Sangat cocok untuk pria single seperti Ivan.


Afrin memencet bel beberapa kali hingga pintu terbuka. Tampak Khairi di sana dengan celana pendek dan kaos oblongnya.


"Bagaimana kamu bisa tahu, kalau aku ada di sini, Sayang?"


"Assalamualaikum," ucap Afrin tanpa menjawab pertanyaan Khairi.


"Waalaikumsalam, ayo, masuk! Mari, Kak!" ajak Emran.


"Iya, terima kasih," sahut Nayla sambil menggendong Nuri. Mereka memasuki apartemen. Afrin membawa beberapa belanjaan yang sebelumnya dia beli di minimarket saat perjalanan tadi. Gadis itu yakin, pasti di tempat ini tidak ada makanan apa pun karena penghuninya laki-laki.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Afrin setelah mereka duduk di ruang tamu.


"Tidak apa-apa, hanya semalam sempat nyeri, tapi setelah minum obat sudah baik-baik saja."

__ADS_1


"Kamu, sih! Kenapa pulang? Seharusnya kamu masih dirawat."


"Aku di sana malah tambah sakit, Sayang, karena nggak ada kamu. Makanya aku pulang. Lebih baik di rumah saja enak tidur."


"Kalau enak pulang, ngapain ke sini? Kenapa nggak pulang ke rumah saja?" tanya Afrin yang sudah mulai kesal.


"Enakan di sini," jawab Khairi yang tidak ingin mengatakannya pada Afrin.


Gadis itu tahu jika Khairi, tidak ingin membahas hal itu. Dia pun tidak bertanya lagi. Lagi pula Afrin sudah tahu alasannya.


"Dapurnya di mana?" tanya Afrin.


"Di sebelah sana," jawab Khairi sambil menunjuk ke satu arah.


Afrin berlalu mencari dapur dan menata belanjanya di kulkas. Khairi yang ingin membantu segera ditolak oleh Afrin. Dia tidak ingin pria itu kembali sakit.


"Kamu duduk saja sana, biar aku sendiri yang ngerjain ini. Ini juga nggak berat, kok!"


Khairi menurut saja. Dia duduk di meja makan sambil menatap sang pujaan hati yang ada di depannya. Diam-diam pria itu tersenyum, membayangkan jika dia sudah menikah dengan Afrin pasti akan sangat menyenangkan.


Bisa dilihat jika Afrin begitu cekatan untuk ukuran anak gadis seorang pengusaha sekelas Emran. Kalau itu orang lain, sudah pasti tidak akan mau melakukan pekerjaan apa pun.


"Sayang, kamu mau nggak ngajarin aku mengaji? Aku tidak mungkin pergi ke rumah ustad Ridwan di saat keadaanku seperti ini."


"Iya, biasanya sepulang kerja, aku pergi ke rumahnya untuk belajar mengaji, tapi sekarang aku seperti ini, tidak bisa pergi ke rumahnya."


"Ya sudah, tunggu saja sampai sembuh. Belajar sama ustaz lagi nanti, itu tidak akan lama."


"Sayang aku sudah nggak sabar pengen nikahin kamu."


"Siapa yang mau nikah sama kamu?"


"Ya, kamu lah. Kamu kan sudah janji mau buka hati kamu buat aku."


"Aku—"


Afrin yang ingin menyangkal ucapan Khairi, terpotong dengan kedatangan Nayla.


"Dhek, titip Nuri sebentar, Kakak mau ke toilet."


"Iya, Kak," sahut Afrin dengan segera meraih Nuri yang berada dalam gendongan Nayla.


"Toiletnya di mana, Ri?" tanya Nayla pada Khairi.

__ADS_1


"Itu, Kak. Kalau Kakak nggak mau, ada toilet juga di kamar tempat aku semalam tidur."


"Tidak usah, di sini saja lebih dekat."


Segera Nayla masuk ke kamar mandi. Afrin asyik bermain dengan Nuri. Sementara Khairi hanya memandanginya saja tanpa mau bergabung. Sesekali dia tersenyum melihat kelucuan Nuri.


Siang hari Afrin pamit pulang. Dia tadi juga sudah memasak untuk Khairi untuk makan siang. Gadis itu tidak mungkin berlama-lama di apartemen orang, lagipula Nuri juga dari tadi merengek minta pulang.


*****


Selama Khairi sakit, pria itu masih tetap belajar tentang agama. Dia memanggil ustaz Ridwan untuk datang ke apartemen Ivan. Sesekali pria itu sendiri yang datang ke rumah ustaz Ridwan.


Afrin juga kadang datang setiap pagi. Dia selalu mengunjungi Khairi, kadang juga membawa sarapan untuk kedua pria itu. Khairi sangat senang melihat perhatian yang Afrin berikan padanya. Pria itu yakin jika saat ini gadis itu sudah jatuh cinta padanya. Dia pun tidak sabar untuk segera menikahinya.


Hari ini Khairi akan datang ke rumah Emran untuk melamar Afrin. Seperti janjinya dia sudah bisa belajar tentang agama, meski belum baik seperti orang lain. Pria itu mengendarai mobil bersama dengan Ivan menuju rumah calon istrinya.


Begitu sampai di depan gerbang, tampak rumah itu masih sepi. Hanya terlihat pak satpam yang sedang ada di pos.


"Apa kita datang kepagian, Van?" tanya Khairi karena saat ini masih pukul tujuh dan hari ini hari Minggu. Sudah pasti semua orang masih ingin mengistirahatkan tubuhnya.


"Sepertinya begitu, Tuan. Hari ini, kan, hari libur pasti mereka sedang santai," jawab Ivan sambil melihat ke sekeliling rumah mencoba mencari apakah ada orang?


"Apa kita tunggu di luar saja?"


"Itu tidak sopan, lebih baik langsung masuk saja dan menunggu di dalam daripada di luar. Nanti dikira kita penguntit," ucap Ivan yang diangguki oleh Khairi.


"Ya sudah, ayo, kita masuk!"


Mereka pun masuk setelah Pak satpam membukakan pintu gerbang untuk mereka. Ivan memarkirkan mobil di depan pintu. Segera mereka turun. Ivan lebih dulu menekan bel rumah itu. Tidak berapa lama seseorang membukakan pintu dan ternyata itu adalah Rani.


"Assalamualaikum," ucap Khairi.


"Waalaikumsalam. Silakan masuk, tapi maaf, Non Afrin belum keluar dari kamar. Mungkin masih tidur. Hanya ada Bu Yasna saja. Saya panggilkan dulu, ya!"


"Iya, Mbak." Rani pun kembali ke dalam memanggil majikannya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2