Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
220. S2 - Bertunangan!


__ADS_3

Afrin sedang dalam perjalanan pulang, dia diantar oleh Khairi dan juga Ivan. Gadis itu merasa senang karena orangtua dari pria yang ada di depannya, bisa menerimanya dengan tangan terbuka. Ketakutan yang sebelumnya menghantui dirinya kini lenyap begitu saja, berganti dengan rasa bahagia.


Khairi dapat melihat jika pujaan hatinya itu sedang bahagia. Dia pun tersenyum melihat hal itu, tetapi ada satu hal yang pria itu khawatirkan. Bagaimana jika Vira marah pada Afrin? Sampai detik ini, Khairi tidak memiliki keberanian untuk mengatakan tentang rencana perjodohannya dengan Vira pada gadis itu.


"Aku nggak mampir, ya, Sayang. Habis ini mau meeting. Aku bicara sama papa kamu besok saja," ucap Khairi.


"Iya, tidak apa-apa. Mengenai papa, biar aku saja yang bicara. Nanti aku kabari kamu."


"Apa tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa, kok!"


"Terserah kamu saja," ucap Khairi setelah berpikir sejenak.


"Kak Ivan, Kakak belum punya pacar, kan? Mau aku cariin?" ucap Afrin.


"Tidak usah, Non," tolak Ivan.


"Beneran, tidak usah?"


Ivan berpikir sejenak. "Tidak usah, Non," jawab Ivan meski agak kaku.


"Kalau tidak mau, ya, sudah," ucap Afrin. "Kasihan, deh, Mbak Rani, dia mau dijodohin sama orang tuanya di kampung."


Rani memang tidak menceritakan rencana orangtuanya pada siapa pun. Saat itu Afrin tidak sengaja mendengar ART-nya itu menangis sambil menelepon. Gadis itu penasaran kenapa Rani menangis? Akhirnya dia menguping dan mendengar apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah Rani selesai menelepon, Afrin mendekatinya dan menanyakan apa yang terjadi. Mau tidak mau akhirnya Rani bercerita tentang rencana orang tuanya.


"Memang Mbak Rani-nya mau?" tanya Khairi.


"Ya, walaupun Mbak Rani nggak mau, tetap saja orang tuanya akan memaksa."


"Jadi, akhirnya Rani mau?"


"Ya, begitulah. Sebenarnya aku mau cariin pacar buat Mbak Rani, biar dia bisa tinggal di sini. Dia itu nggak mau tinggal di kampung, katanya terlalu banyak aturan, dia nggak suka, tapi sudah seperti ini. Mbak Rani umurnya juga sudah cukup untuk menikah. Mau bagaimana lagi?"


Khairi mengangguk, jangankan orangtua Rani, orangtuanya sendiri saja berniat ingin menjodohkannya. Untung saja papa dan mamanya tidak seperti orang tua lain, yang suka memaksa keinginan mereka pada anaknya.


Pria itu hanya bisa berdoa agar keluarga Vira, menerima pembatalan perjodohan itu dan tidak membuat masalah dengan Afrin, tetapi siapa memangnya yang berani bermain-main dengan keluarga Al Husayn? Tidak akan ada yang berani karena semua orang tahu apa akibatnya.


"Biarlah Sayang mungkin itu memang sudah jodohnya Rani," ucap Khairi.


"Iya."


Akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai juga di halaman rumah keluarga Emran. Khairi turun dari mobil untuk membukakan pintu untuk Afrin. Setelah gadis itu turun, pria itu pamit untuk segera pergi menghadiri meeting.

__ADS_1


"Cie ... yang baru pulang dari rumah calon mertua," goda Nayla saat Afrin memasuki ruang keluarga. Di sana ada kakak iparnya itu sedang bermain dengan Nuri.


"Apa, sih! Suami istri sama saja suka usil sama urusan orang."


"Gitu saja sudah ngambek."


Afrin tidak menggubris. Dia mendudukkan tubuhnya di kursi sofa.


"Bunda mana, Kak?"


"Ke rumah nenek, tadi nenek telepon, katanya kakek kambuh sakitnya."


"Terus gimana sekarang keadaannya?"


"Kata bunda sudah lebih baik."


"Aku ke dalam dulu, mau mandi."


"Iya," sahut Nayla. "Nanti kamu telepon bunda, ya! Aku khawatir terjadi sesuatu."


"Kenapa tidak telepon sendiri?"


"Aku tadi udah telepon, tapi dari suara Bunda sepertinya habis nangis. Makanya aku nggak banyak nanya."


"Ya sudah, nanti aku telepon." Afrin berlalu memasuki kamarnya.


*****


"Bunda sama Papa belum pulang, Ran?" tanya Aydin pada Rani.


Jarak dari ruang makan dan ruang keluarga tidak begitu jauh jadi, Rani masih bisa mendengar pertanyaan Aydin.


"Belum, Tuan."


"Tadi aku telepon Bunda, katanya mau nginep dulu malam ini di rumah nenek. Keadaan kakek juga lagi drop. Sementara Paman Gibran lagi ke luar kota dua hari yang lalu," tutur Afrin sambil menikmati makan malamnya.


"Iya, Paman Gibran lagi ngurusin masalah proyek yang ada di sana. Mungkin akan memakan waktu yang cukup lama karena masalah di sana cukup rumit."


"Apa nggak ada orang lain yang bisa di kirim ke sana, Mas?" tanya Nayla yang juga mengkhawatirkan keadaan Kakek Hilman. Bagaimanapun juga jantung ibunya ada di tubuh pria tua itu dan Nayla merasa sedih jika kakek sakit.


"Nggak ada, orang yang sebelumnya menangani proyek ini sudah berhenti. Papa juga belum ada orang yang bisa dipercaya untuk menggantikannya."


"Tapi 'kan kasihan kakek sama nenek, kalau paman ke luar kota."


"Nanti aku coba cari orang yang bisa dipercaya"

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan makan malam.


*****


Kelas telah selesai, Afrin dan Zahra masih ada di dalam ruangan. Beberapa orang sudah pergi, ada pula yang masih di dalam. Seorang gadis memasuki kelas dengan emosi.


"Afrin aku nggak nyangka, ya, kamu begitu tega sama aku!" ucap Vira dengan nada tinggi. Ya, gadis itu adalah Vira


Gadis itu baru saja datang, tetapi langsung marah-marah membuat Afrin terkejut. Beberapa orang yang belum keluar pun menatap ke arah mereka. Semua orang juga tahu jika Vira adalah sahabat Afrin, tetapi kenapa mereka bertengkar?


"Maksud kamu apa? Aku tega sama kamu apa?" tanya Afrin.


"Kamu tidak tahu, apa pura-pura tidak tahu?" cibir Vira dengan ketus.


"Kamu bicara apa, sih? Aku sama sekali nggak ngerti! Kamu datang-datang langsung marah-marah."


Afrin begitu geram, tidak bisakah sahabatnya ini berbicara baik-baik. Di kelas masih banyak orang. Kenapa tidak bicara baik-baik?


"Ya, jelas aku marah. Kamu begitu tega merebut tunanganku. Padahal kamu sendiri yang mengatakan kalau kamu tidak memiliki perasaan apa pun padanya!"


Afrin berpikir sejenak, siapa yang dimaksud oleh Vira? Jawabannya hanya ada satu pria yaitu, Khairi. Hanya pria itu yang dekat dengannya.


"Maksud kamu Khairi?" tanya Afrin.


"Siapa lagi kalau bukan dia?"


"Dulu aku memang tidak memiliki perasaan apa pun padanya, tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai jatuh cinta padanya. Apa salahnya?"


"Salah kamu karena kamu akan bertunangan! Kamu memang sengaja melakukannya, kan? Kamu memiliki perasaan setelah kami akan bertunangan. Kamu ingin mempermalukanku!"


"Bertunangan? Siapa yang bertunangan?" tanya afrin dengan menyernyitkan keningnya. Dia tidak tahu apa pun tentang Vira dan Khairi, apalagi tentang pertunangan yang dimaksud oleh temannya itu.


"Aku dan Khairi sudah dijodohkan kedua orang tua kami, tapi tiba-tiba kamu hadir diantara Aku dan Khairi. Dia memutuskan perjodohan sepihak dan memilih kamu. Kenapa kamu begitu tega padaku? Aku salah apa sama kamu?" tanya Vira dengan meneteskan air mata.


Afrin terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Vira. Dia tidak tahu menahu mengenai pertunangan itu, kalau gadis itu tahu, tidak mungkin dia merebut Khairi dari Vira. Semua orang yang masih ada di ruangan itu pun saling berbisik membicarakan mereka berdua.


"Aku sama sekali tidak tahu kalau kamu sudah bertunangan dengan Khairi. Dia juga tidak pernah menceritakan apa pun tentang kamu."


"Itu hanya alasan kamu saja, kan! Wanita sepertimu itu munafik. Dulu kamu bilang tidak menyukainya dan kamu mempersilakan aku untuk mengejarnya. Setelah aku berusaha sekuat tenaga dan berhasil menggapainya, kamu merebutnya begitu saja."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2