Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
96. Makan malam


__ADS_3

"Maaf, Mas. Nunggu lama," ucap Airin yang baru saja keluar dari perusahaan.


"Tidak, kok, baru saja," jawab Aydin berbohong, padahal dia sudah cukup lama menunggu Airin. Pria itu juga sempat ingin menyusul wanita itu ke dalam, tapi dia menahannya. "Sudah semua, kan? Ayo!"


Airin mengangguk. Mereka menaiki motor dan melaju meninggalkan perusahaan.


"Kita mau makan di mana, Mas?" tanya Airin.


"Kamu maunya makan apa?"


"Aku makan apa aja, tapi nggak tahu kenapa aku lagi pengen makan kepiting, tapi terserah Mas sih makan di mana saja."


"Baiklah, kita ke restoran seafood saja."


"Memang Mas punya uang, ngajak aku ke restoran. Bukan maksudku menghina, tapi restoran, kan, mahal."


"Aku masih ada tabungan, kok."


"Memang tidak apa-apa, Mas?" tanya Airin meyakinkan. Dia tahu, pasti tabungan itu sudah Aydin persiapkan untuk kebutuhan lain, bukan untuk mengajaknya makan malam.


"Tidak apa-apa," sahut Aydin menenangkan. Dia melajukan motornya menuju sebuah restoran seafood terdekat.


Sampailah mereka di sebuah restoran yang membuat Airin terkejut. Ternyata Aydin tidak main-main. Bagaimana nanti mereka membayar.


"Sudah sampai. Ayo, turun!" ajak Aydin.


Mereka turun dari motor memasuki restoran yang cukup mewah. Restoran berbintang dengan fasilitas dan pelayanan yang tentu sudah tidak diragukan lagi.


"Mas, ini restorannya mewah banget. Apa kita bisa bayarnya? Aku nggak ada uang," bisik Airin, dia takut jika nanti mereka hanya akan mempermalukan diri mereka sendiri.


"Kamu nggak usah memikirkan soal uang. Aku yang akan membayarnya. Kan, aku yang mengajakmu."


Mereka menuju sebuah meja dan memesan makanan yang diinginkan. Semua tingkah laku Aydin tidak lepas dari pandangan Airin. Gadis itu merasa aneh dengan sikap Aydin yang seolah sangat mengenal restoran itu.


"Apa, Mas, sering ke restoran yang seperti ini?" tanya Airin yang tidak bisa menutupi rasa penasarannya.


"Nggak, ini juga baru pertama kali," jawab Aydin berbohong.


"Aku kira sering, Mas sangat tahu bagaimana pelayanan di restoran seperti ini."


"Aku hanya sering melihatnya di televisi saja." Aydin mencoba mencari alasan yang tepat. Dia tidak ingin rahasianya terbongkar saat ini, akan ada waktunya suatu hari nanti.


Airin mengangguk. Dia mengerti maksud Aydin. Makanan yang mereka pesan pun datang dan langsung dinikmatinya sambil bercengkrama, tapi di tengah-tengah mereka sedang makan. Tiba-tiba Airin mengatakan jika perutnya sakit dan ingin pulang sekarang juga.


"Mas, perutku sakit banget. Sebaiknya kita pulang saja, ya, Mas."


Aydin merasa heran, kenapa tiba-tiba Airin sakit perut. Padahal sebelumnya dia baik-baik saja. Makanan Airin juga tidak terlalu pedas.


"Kok pulang, kita baru saja makan loh ini, belum setengahnya. Sayang banget, mubadzir ini." Aydin memang tidak terbiasa membuang-buang makanan. Ajaran Yasna benar-benar dia terapkan untuk tidak membuang rezeki. Lebih baik diberikan kepada orang yang membutuhkan.


"Iya, tapi ini bener bener sakit banget perutku," ucap Airin dengan memegang perutnya, dia juga berusaha untuk menutupi wajahnya seperti ada sesuatu diwajahnya.


"Kamu kenapa, sih?" Aydin semakin dibuat heran dengan tingkah laku Airin.


"Nggak tahu, ini tiba-tiba sakit perut. Ayo, Mas!" ajak Airin yang tidak sabar.

__ADS_1


"Baiklah." Aydin akhirnya mengalah. Dia tidak mungkin tega melihat Airin menahan sakit perutnya.


"Ya sudah, aku keluar dulu, ya. Aku tunggu di depan," ucap Airin dan segera pergi keluar tanpa menunggu jawaban Aydin.


Pria itu membayar pesanan mereka terlebih dahulu, kemudian menyusul Airin yang berada di depan. Saat di parkiran dia tidak melihat Airin. Aydin menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan gadis itu.


"Mas, aku di sini," panggil Airin yang sedang berjongkok di samping motor Aydin.


"Kamu ngapain di situ?" tanya Aydin dengan berjalan kearahnya.


"Perutku sakit banget, Mas."


"Kalau begitu, kita ke klinik saja."


"Tidak usah, Mas. Kita pulang saja, biasanya juga di buatin jamu sama ibu langsung sembuh." Airin mencoba mencari alasan untuk menolak keinginan Aydin.


"Bener, nggak papa?"


"Iya, ayo, cepat!"


Samar-samar Aydin mendengar seseorang seperti memanggil Airin. Meski suaranya berada di kejauhan.


"Ayo, Mas! Cepat."


"Seperti ada yang manggil kamu, Rin."


"Tidak ada. Ayo, Mas, perutku sakit. Aku tidak tahan lagi."


Dengan cepat Aydin menaiki motor dan melajukannya dengan cepat. Ditengah perjalanan Airin sudah mulai tenang. Gadis itu tidak lagi merintih kesakitan.


"Sudah tidak, Mas," jawab Airin dengan tenang.


"Beneran?" tanya Aydin meyakinkan.


"Iya, udah enggak pa-pa."


"Kita sudah meninggalkan restoran. Padahal kita baru makan separuhnya." Aydin tampak menghela napas berat karena merasa sudah membuang makanan begitu saja.


"Maaf, ya, Mas. Gara-gara aku Mas jadi batal makan malamnya," sesal Airin dengan kepala menunduk.


Aydin menghentikan motornya. Dia turun untuk memastikan keadaan Airin.


"Apa kamu masih mau makan lagi?"


"Tidak perlu, Mas."


"Kita ke kita taman sebentar, ya, Rin? Kamu benar gak papa, kan?"


"Iya, nggak papa. Terserah Mas saja."


Mereka menuju taman yang cukup ramai di malam hari. Tempat yang sangat cocok untuk remaja yang sedang kasmaran.


"Mas sering ke sini? Kok tahu ada taman yang bagus banget di sini?"


"Nggak sering juga, pernah saja datang ke sini."

__ADS_1


"Sama siapa?"


"Sama adikku."


"Perempuan?"


"Iya, masih SMA. Dia manja sekali." Aydin tersenyum mengingat tingkah Afrin.


"Pasti menyenangkan, ya, Mas. Punya saudara."


"Ya, ada senangnya. Ada juga tidaknya. Kadang-kadang dia juga suka bikin aku kesel, tapi kalau nggak lihat dia. Pasti aku nyariin."


Mereka terdiam sesaat sambil melihat sekeliling. Banyak pasangan anak muda yang sedang berpacaran. Ada pula anak kecil bersama orang tuanya.


"Rin, aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Aydin memecah keheningan.


"Silakan saja, Mas."


"Aku menyukaimu. Maaf, aku bukan orang yang romantis. Aku tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaan terhadap wanita, tapi aku benar-benar menyukaimu."


Airin terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka, kalau selama ini Aydin menaruh hati padanya. Padahal dia hanya menganggap pria itu sebagai teman, tapi jika menolaknya, gadis itu merasa tidak enak.


"Apa Mas yakin dengan perasaan, Mas. Aku takut itu hanya rasa penasaran saja."


"Aku benar-benar suka sama kamu ... kamu wanita yang baik dan sangat sopan. Aku tidak akan memaksamu jika memang kamu tidak menyukaiku. Aku hanya ingin mengungkapkan semua isi di hatiku."


Aydin masih memperhatikan reaksi Airin. Dia berharap wanita itu juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya, tapi jika tidak pun dia tidak akan memaksa.


"Terima kasih, Mas. Sebenarnya, aku juga memiliki perasaan yang sama terhadap Mas. Saat pertama kali melihat Mas, aku sudah sangat yakin kalau Mas orang yang baik," jawab Airin tersenyum.


Aydin senang mendengarnya. Ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Jadi, kamu mau menerimaku?" tanya Aydin.


Dengan malu-malu Airin menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih." Aydin segera memeluk Airin. Dia berharap hubungan mereka bisa langgeng sampai mereka menikah, bahkan sampai menua bersama.


"Mas, malu banyak yang lihatin kita." bisik Airin yang masih dalam pelukan Aydin.


Pria itu pun segera melepaskan pelukannya. "Maaf, aku terlalu bahagia hingga tidak sadar kalau kita ada di tempat umum."


"Tidak apa apa, Mas."


Mereka pun saling bercerita banyak hal, termasuk tentang keluarga masing-masing. Aydin juga menceritakan tentang keluarganya. Namun, dia masih menutupi jati dirinya sebagai putra dari pemilik perusahaan mereka bekerja.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2