Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
303. S2 - Belajar memakai ponsel


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Khairi dan Afrin sudah berada di apartement tempat ibu dan adiknya tinggal. Mereka juga membawa beberapa makanan untuk sarapan pagi di sana, takut jika Bu Nur hanya masak sedikit. Namun, wanita paruh baya itu ternyata masak banyak.


"Kenapa bawa makanan segala? Kalian bisa datang dan makan di sini begitu saja," ujar Bu Nur yang sedang melanjutkan masakannya. Sementara Afrin dan Laily menata makanan dibawanya ke atas meja.


"Kami tidak bisa menghubungi, Ibu, di sini. Telepon juga nggak berfungsi karena apartemen ini sudah sangat lama nggak dihuni," sahut Khairi. "Tapi aku sudah beliin Laily ponsel," lanjutnya dengan menunjukkan papper bag.


"Aku nggak bisa pakainya, Kak," sahut Laily.


"Sini, aku ajarin," panggil Khairi. "Tidak apa-apa, biar Ibu sama Kakakmu yang melanjutkannya," lanjutnya seolah tahu apa yang adiknya pikirkan.


"Iya, tidak apa, kamu ke sana saja," sahut Afrin sambil tersenyum.


Laily pun segera beranjak menuju meja makan dan duduk di samping kakaknya. Dia sangat senang akhirnya bisa memiliki benda itu. Di kampung hanya orang kaya yang memiliki ponsel seperti ini. Dulu dia sangat berharap bisa memilikinya meski ponsel tombol saja.


Gadis itu sangat antusias memperhatikan penjelasan kakaknya. Dia juga pernah melihat temannya memainkan ponsel yang mirip seperti ini jadi, tidak sulit bagi Laily untuk mempelajarinya.


"Kok beda, ya, Kak . Sama punya temanku di kampung," ucap Laily di sela Khairi menjelaskan.


'Tentu saja, Dhek. Ponsel ini bahkan jarang yang punya,' batin Khairi.


"Lama-lama kamu juga terbiasa dengan ponsel ini. Ayo, sekarang kamu coba mainkan ponselnya. Di sini sudah ada nomor Kakak dan Kak Afrin. Kalau kamu sudah lancar, kamu ajarin ibu, biar bisa juga. Nanti Kakak belikan," ucap Khairi sambil menyerahkan ponsel pada adiknya.


Laily pun memainkan ponselnya dengan terus tersenyum. Hingga tidak sadar makanan sudah terhidang di meja. Semua orang pun duduk.


"Main ponselnya nanti lagi, sekarang sarapan dulu," tegur Bu Nur.


"Iya, Bu," sahut Laily sambil meletakkannya di meja.


Mereka pun makan dengan lahap. Sesekali Laily bertanya pada kakak iparnya tentang bagaimana kuliah di sini. Afrin pun menjawab semua dengan semangat. Khairi senang adiknya kembali ceria hari ini.


Pria itu memaklumi perbuatan adiknya kemarin. Dia pun akan melakukan hal yang sama seperti yang Laily lakukan, tetapi Khairi juga berharap pintu hati gadis itu segera terbuka dan mau memaafkan papanya.


"Hari ini kamu ikut kakakmu kuliah? Barang kali mau lihat-lihat?" tanya Khairi.


"Kakak, Hari ini kuliah? Kalau aku kapan?"


"Nunggu semester awal dimulai. Sekitar dua bulan lagi."


"Aku di rumah saja kalau begitu. Kapan-kapan saja lihat kampusnya. Aku juga mau belajar pake ponsel."

__ADS_1


"Ya sudah, nanti setelah makan siang kita jalan-jalan, sekalian beli keperluan kamu kuliah. Nanti Kakak jemput," ucap Khairi kemudian beralih menatap ibunya. "Ibu juga harus ikut."


Bu Nur Hanya mengangguk. Dia senang Laily bisa menerima Khairi dengan baik.


"Oh, iya, Bu. Nanti papa sama bunda mau datang ke sini. Semalam mereka bilang sama saya," ucap Afrin.


"Papa sama bunda?" ulang Nur yang tidak mengerti, siapa yang dimaksud menantunya.


Sementara Laily menghentikan suapannya mendengar kata papa. Dalam pikirannya papa yang dimaksud adalah Hamdan. Namun, ternyata dia salah. Gadis itu menghela napas lega setelah tahu siapa yang akan datang.


"Mertua saya, Bu. Orang tua Afrin," jelas Khairi.


"Oh, ibu kamu yang waktu telepon itu?" tanya Nur memastikannya.


"Iya, Bu."


"Iya, tidak apa-apa, Ibu juga ingin berkenalan secara langsung," sahut Bu Nur dengan tersenyum.


Setelah selesai sarapan, Khairi dan Afrin pamit untuk ke kampus dan kantor. Sudah dua hari pria itu tidak bekerja, pasti sangat banyak dokumen yang harus diperiksa.


Seperti yang dikatakan Afrin tadi pagi, Emran dan Yasna datang. Mereka membawa beberapa buah untuk besannya. Nur kagum pada wanita itu. Dia baik dan sopan, pantas saja suaminya begitu mencintai Yasna, terlihat bagaimana posesifnya pria paruh baya itu


"Tidak repot, kok, Bu. Kami senang bisa berkunjung," sahut Yasna kemudian beralih menatap Laily. "Ini yang namanya Laily?"


"Iya, Bu, saya Laily," sahut gadis itu.


"Kok, Bu! Panggil Bunda, sama seperti Kak Khairi."


"Memang tidak apa-apa?" tanya Laily polos membuat Yasna tertawa kecil.


"Tentu saja tidak apa-apa, memang siapa yang melarang?"


Mereka pun berbincang banyak hal. Tidak berapa lama, terdengar pintu diketuk seseorang. Laily pun membukanya, dia pikir itu Khairi atau Afrin, tetapi ternyata dia salah. Papanya yang datang bersama Merry.


"Assalamualaikum," ucap Hamdan sambil tersenyum. Namun, gadis itu memilih masuk tanpa menjawab dan mempersilakan tamunya.


Bu Nur heran melihat putrinya yang masuk begitu saja dan membiarkan tamunya di luar. Memangnya siapa yang datang? Apa petugas kebersihan? Begitu pikirnya. Akan tetapi, itu tidak mungkin. Dirinya sudah meminta pada Khairi agar tidak mempekerjakan siapa pun di sini. Wanita itu masih kuat melakukan semuanya sendiri.


Khairi juga mengiyakan saja apa pun permintaan ibunya. Dia takut jika ibunya tidak betah tinggal di sini dan memilih pulang kampung.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap seseorang yang ada di luar itu lagi.


"Waalaikumsalam," sahut Nur sambil berjalan ke arah pintu.


Wanita itu sedikit terkejut melihat kedatangan Hamdan dan Merry, apalagi sambil bergandengan tangan. Dia mencoba untuk tetap tersenyum.


"Silakan masuk. Maaf, jika Laily kurang sopan tadi," ucap Nur sambil melebarkan pintu agar tamunya masuk.


"Ada Pak Emran!" seru Hamdan begitu memasuki apartemen.


"Eh, Pak Hamdan. Bagaimana kabarnya? Sudah sehat?" tanya Emran sambil berjabat tangan dengan besannya itu.


"Alhamdulillah, Pak Emran. Saya sudah lebih baik," jawab Hamdan. Dia pun duduk diikuti istrinya.


"Om, Bunda, aku masuk dulu. Ada yang harus ku kerjakan," pamit Laily yang segera masuk.


"Nak, tunggu sebentar. Papa ingin bicara." Hamdan berusaha untuk mengajak bicara putrinya. Akan tetapi, sepertinya Laily masih seperti kemarin belum bisa diajak bicara.


Emran dan Yasna merasa suasana mendadak kaku. Keduanya saling lirik dan mengangguk memberi isyarat untuk segera pergi. Wanita itu mencoba untuk terlihat biasa saja dan tersenyum.


"Bu Nur, kami mau pamit dulu, masih ada urusan habis ini," pamit Yasna.


"Kenapa buru-buru, Bu. Ini minumannya juga belum habis."


"Lain kali kami mampir lagi jika senggang."


Suami istri itu berpamitan pada Nur. Keduanya juga bersalaman dengan Hamdan dan Merry sebelum pergi.


"Pa, apa Laily tidak mau menerima papanya?" tanya Yasna di saat mereka berada di dalam lift.


"Papa tidak tahu. Apa pun itu, semoga mereka bisa menyelesaikan masalah tanpa menyimpan dendam. Bagaimanapun mereka sedarah."


Yasna hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan suaminya. Dia juga tidak tahu masalah apa yang sedang mereka hadapi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2