Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
135. S2 - Teman Afrin


__ADS_3

"Afrin, panggil Papa sama Kakak di kamar, bilang makan malamnya sudah siap," perintah Yasna pada Afrin.


"Iya, Bunda," sahut Afrin.


Gadis itu segera berlalu menuju kamar kakak dan papanya, menyisakan Yasna dan Nuri. Sementara Rani sudah pergi ke belakang.


"Om sama Kak Aydin sudah pulang, Bunda?" tanya Nuri.


"Sudah, kamu sudah kenal sama Kak Aydin?"


"Cuma tahu kalau dia kakaknya Afrin saja. Kalau kenalan, belum."


"Iya, sih, kemarin waktu kamu nginap, Aydin makan malam di luar. Paginya dia juga berangkat duluan jadi, belum sempat kenalan. Nanti Bunda kenalin, tapi nggak boleh genit-genit, ingat kamu masih kecil," ucap Yasna memperingati sahabat putrinya itu. Dia tidak ingin Nuri seperti gadis-gadis lain yang selalu menggoda pria lebih dulu.


"Bunda, tahu aja maksudku. Bercanda, Bunda," sahut Nuri sambil terkekeh.


"Kamu ini, kecil-kecil suka sekali menggoda orang tua," ucap Yasna sambil mencubit pipi Nuri membuat gadis itu meringis.


"Seru sekali sepertinya, lagi membicarakan apa, nih?" tanya Emran yang baru masuk ke ruang makan.


"Tidak ada apa-apa, Pa. Hanya ngobrol biasa," jawab Yasna.


"Kamu temannya Afrin, kan? Yang kemarin menginap di sini?" tanya Emran dengan menatap Nuri.


"Iya, Om. Saya mau menginap lagi di sini. Boleh, kan, Om?" tanya Nuri dengan tersenyum.


"Boleh, asal jangan lupa bayar. Tidak ada yang gratis di sunia ini."


"Ah, Om, suka sekali bercanda. Aku nggak punya uang."


"Saya tidak bercanda. Saya serius, memang kamu melihat wajah saya lagi bercanda?"


Nuri terdiam sambil menatap Emran dan Yasna. Gadis itu sama sekali tidak membawa uang jika harus membayar, dia bayar pakai apa? Bahkan untuk biaya sekolah saja dia nunggak.


"Sudah, kamu jangan dengerin omongan Om. Dia hanya bercanda." Yasna terkekeh melihat wajah syok Nuri. Gadis itu berpikir apa yang Emran katakan memang benar.


"Benar, kan, Bunda? Om cuma bercanda?" tanya Nuri memastikan. Dia ingin tahu jawaban yang meyakinkan dirinya bahwa Emran hanya bercanda.


"Iya, Om bercanda," jawab Yasna dengan tertawa. "Sudah, Pa. Jangan godain anak orang."


"Om, bercandanya nggak lucu, ah," ucap Nuri lesu. Gadis itu duduk dengan lesu, tadi dia benar-benar syok.


"Lagian kamu, panggil istri saya Bunda, panggil saya Om. Panggil Papa juga dong! Sama seperti Afrin."

__ADS_1


"Boleh, Om?" tanya Nuri.


"Papa!"


"Boleh, Pa?" tanya Nuri yang diangguki Emran. "Oke, mulai sekarang aku panggil Papa dan Bunda. Lebih enak lagi kalau aku jadi mantu saja, Bunda."


"Eh, kamu malah melunjak, ya?" sela Emran dengan melototkan matanya. Begitupun dengan Yasna yang juga terkejut mendengar apa yang gadis itu katakan.


Mereka tertawa bersama. Semua sama-sama tahu kalau pembicaraan mereka hanya sekadar bercanda.


"Ada apa ini? Sampai membuat kalian ketawa seperti itu?" tanya Afrin yang baru datang bersama dengan Aydin.


"Tidak apa-apa. Ayo, duduk! Kita makan, nanti keburu dingin," ucap Yasna.


"Iya, Bunda."


Nuri terbengong melihat kearah Aydin. Gadis itu tidak menyangka jika kakak dari temannya itu, terlihat sangat tampan dan keren saat menggunakan pakaian santai. Dia tidak berkedip sama sekali.


Alis tebal. Netra yang hitam dan tegas, membuat siapa pun yang ditatap akan meleleh. Hidung mancung, rambut hitam menambah ketampanannya. Dunia Nuri seakan berpusat padanya.


"Tutup itu mulut, air liurmu sudah menetes dari tadi," bisik Afrin yang hanya bisa didengar mereka berdua.


Nuri gelagapan. Dia segera mengusap bibirnya, ternyata tidak ada apa pun, Afrin membohonginya. Gadis itu memandang sahabatnya dengan pandangan sinis. Sedangkan Afrin hanya tertawa cekikikan.


"Kakak kamu ganteng banget. Tiap hari nganterin kamu, nggak sekeren ini."


"Kamu saja yang kurang perhatian. Dia sama saja seperti hari-hari sebelumnya. Kamu cuma sibuk jauhin cowok-cowok di sekolah. Nggak pernah lihatin mereka satu persatu, yang lebih keren dari kakak juga masih banyak."


"Ih, mana ada yang lebih keren dari kakak kamu. Dia udah perfect tahu! Aku juga mau jadi, kakak ipar kamu."


"Ogah," jawab Afrin dengan suara keras membuat semua orang menatapnya.


"Ogah apa, Dhek?" tanya Yasna.


"Tidak ada apa-apa, Bunda. Ini, si Nuri mau kenalan sama kakak. Aku bilang aja ogah ngenalin, biar dia kenalan sendiri," jawab Afrin berbohong.


Nuri segera menginjak kaki Afrin karena temannya itu sudah membuat dia malu. Bisa-bisanya Afrin berkata seperti itu, walaupun memang benar dia ingin berkenalan dengan kakaknya.


"Aduh," ringis Afrin.


"Apalagi, Dhek?"


"Tidak ada apa-apa, Bunda," jawab Afrin. Dia melirik ke arah Nuri yang pura-pura tidak melakukan apa pun.

__ADS_1


"Bunda lupa, tadi Bunda juga bilang sama Nuri mau ngenalin dia sama Aydin," ucap Yasna. "Kamu sudah kenal sama Nuri, Kak?" tanya Yasna pada Aydin.


"Tahu saja, Bunda. Kalau dia temannya Afrin, tapi tidak tahu namanya."


"Kamu kenalan dulu, ayo!"


"Nuri, kamu kenalan sama Kak Aydin. Kamu juga harus panggil dia kakak dama seperti Afrin, ya."


"Iya, Bunda." Nuri mengulurkan tangannya ke arah Aydin, pria itu pun menyambutnya. "Nuri, Kak."


"Aydin." Pria itu segera melepas tangannya membuat Nuri kecewa.


"Ingat, ya, Kakak!" Afrin memberi penegasan pada sahabatnya, agar menganggap Aydin seperti kakaknya.


"Iya," sahut Nuri dengan tersenyum paksa ke arah Afrin.


"Sudah, ayo, dilanjutkan makannya!" sela Yasna.


Mereka makan dengan lahap. Masakan Yasna memang paling disukai oleh semuanya. Tidak ada kata bosan jika wanita itu yang mengolah makanan.


"Kakak tadi ngobrol apa saja sama Nayla? Apa dia juga menceritakan tentang pertunangannya?" tanya Yasna.


"Kak Nayla mau tunangan, Bunda?" sela Afrin. Gadis itu terkejut mendengarnya. Dia juga tidak tahu apa yang sudah terjadi pada kakaknya dan Nayla kemarin.


Yasna hanya memandang Sang putra tanpa menjawab pertanyaan Afrin. Dia membiarkan Aydin yang menceritakannya, tetapi jika pria itu tidak ingin cerita, biarlah itu menjadi rahasia mereka.


"Iya, Bunda. Dia cerita jika dia akan bertunangan dengan Rizki, tapi aku merasa ada sesuatu yang Nayla sembunyikan, Bunda."


"Jadi, ada yang patah hati, nih?" goda Afrin. Namun, tidak ditanggapi oleh Aydin.


"Apa mungkin aku dan Nayla memang tidak berjodoh, Bunda?" tanya Aydin.


"Mereka baru bertunangan, Kak. Belum menikah, semua masih bisa berubah, yang sudah menikah saja bisa bercerai." Bukan Yasna yang menjawab, tetapi Afrin. Gadis itu juga tidak rela jika Nayla menjadi istri orang lain. Dia ingin yang menjadi kakak iparnya hanya Nayla.


Aydin memikirkan kata-kata adiknya. Memang benar semua masih bisa berubah, tetapi setelah apa yang terjadi, apa mungkin dia masih punya kesempatan?


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2