
Waktu terus berlalu, tidak terasa satu minggu lagi, acara pernikahan Ivan dan Rani akan digelar. Setelah kejadian hari itu, Ivan mulai sering mengirim pesan pada calon istrinya, hanya untuk sekadar bertanya bagaimana keadaannya atau mungkin memberitahu, sejauh mana persiapan pesta pernikahan mereka.
Meski dengan nada suara yang dingin dan datar, setidaknya pria itu sudah mau mencoba dan berusaha. Awalnya Rani sedikit aneh dengan perhatian yang Ivan berikan karena dia merasa, perhatian itu terpaksa. Akan tetapi seiring berjalannya waktu. Wanita itu sudah mulai terbiasa.
Rani sudah pulang ke kampungnya. Dia akan di sana sebelum acara akad nikah digelar. Wanita itu harus melakukan ritual adat. Semua orang sibuk dengan pernikahan ini, begitu pun dengan keluarga Ivan. Meski acara semua sudah diserahkan kepada pihak event organizer, tetapi keluarga mereka tetap memantau semuanya.
"Mas, satu hari sebelum acara pernikahan Mbak Rani digelar, aku mau ikut bunda ke rumah Mbak Rani. Nggak papa, kan, aku nggak ikut rombongan Kak Ivan?" tanya Afrin pada suaminya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Lagi pula sama saja, kita juga nanti ketemu di sana, kan?"
"Iya, Mas," sahut Afrin. "Aku jadi nggak sabar lihat Mbak Rani pakai kebaya dan Kak Ivan ngucapin ijab qobul."
Afrina tersenyum sambil membayangkan wajah cantik Rani. Sementara Khairi justru menghela napas. Bayangan hari pernikahannya dulu, tiba-tiba datang begitu saja.
"Aku jadi teringat acara pernikahan kita. Saat itu, aku sampai deg-degan menunggu kedatangan kamu, tapi malah aku yang terlambat," ucap Khairi dibarengi dengan tawanya, membuat Afrin ikut tertawa juga.
Ponsel Afrin berdering, tertera nama Rani di sana. Wanita itu melakukan panggilan video call.
"Mbak Rani telepon, Mas. Aku angkat dulu," ucap Afrin yang diangguki Khairi. Dia segera menggeser tombol video untuk mengangkat. "Halo, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Rani yang berada di seberang. Terlihat dia berada di dalam kamarnya.
"Ada apa, Mbak? Tumben!"
"Nggak ada apa-apa, sih, Non. Cuma saya lagi bosan berada di kamar terus."
"Kenapa di kamar?"
"Enggak boleh keluar sama ibu, apalagi kalau ke dapur, bisa di omelin. Katanya calon pengantin nggak boleh di dapur. Apa, ya, tadi katanya? Nggak tahu lah, terlalu banyak larangan. Aku sampai bosan. Masa satu minggu di sini aku harus di kamar terus?"
"Kenapa nggak jalan-jalan, Mbak? Di kampung pasti banyak pemandangan yang indah." Afrin mencoba memberi saran.
"Apalagi itu, semakin nggak boleh, lah. Keluar rumah aja nggak boleh, apalagi jalan-jalan," gerutu Rani.
Afrin tertawa mendengarnya. Dia bisa membayangkan bagaimana jenuhnya Rani berada di dalam rumah. Padahal asistennya itu termasuk wanita rumahan, yang sehari-harinya selalu dihabiskan di rumah, tetapi tetap tidak betah jika harus dikurung di dalam kamar. Apalagi dirinya yang suka pergi kemana-mana pasti dia akan kabur di hari pertama.
__ADS_1
"Non Afrin, kok, ngetawain saya?"
"Tidak, Mbak. Saya cuma membayangkan, bagaimana jika itu terjadi pada saya? Pasti saya akan kabur detik itu juga," jawab Afrin sambil tertawa membuat Rani juga ikut tertawa.
Keduanya berbincang banyak hal. Sementara Khairi lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan. Dia tidak ingin mengganggu istrinya yang sedang menghibur calon pengantin yang sedang bosan.
Saat sedang sibuk dengan beberapa dokumen, ponsel Khairi pun berdering. Tampak nama Ivan di sana membuat pria itu menghela napas. Istrinya diganggu calon pengantin wanita. Sementara dirinya
"Halo, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Tuan," sahut Ivan yang berada di seberang telepon.
"Iya, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, Tuan. Hanya saja saya merasa bosan di rumah seharian dan tidak melakukan apa-apa. Kepala saya jadi pusing."
"Kamu sama calon istrimu itu sama saja," gerutu Khairi yang masih bisa didengar oleh Ivan.
"Calon istri? Rani maksudnya? Memang ada apa dengannya?"
"Calon istri kamu siapa lagi kalau bukan Rani? Dia bilang bosan di rumah. Enggak boleh kemana-mana, melakukan pekerjaan pun tidak boleh. Dia hanya boleh di dalam kamar jadi, dia menghubungi Afrin dan membuat istriku mengabaikanku. Sekarang pun kamu melakukan hal yang sama. Kalian memang pasangan yang serasi, mengganggu ketenangan orang saja," gerutu Khairi yang membuat Ivan menahan tawa.
"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Kamu mau cerita apa? Cerita saja, akan aku dengarkan. Aku juga lagi nggak ngapa-ngapain dari tadi. Mencoba untuk sibuk dengan pekerjaan, tapi nggak ada pekerjaan yang harus aku kerjakan. Semuanya sudah selesai dari kemarin."
"Saya bingung, Tuan. Harus melakukan apa, dari tadi hanya tidur, makan, tidur, makan, membosankan sekali. Apalagi harus satu minggu aku melakukan semua itu," ujar Ivan membuat Khairi tertawa. "Kenapa, Tuan?"
"Tadi Rani juga mengatakan hal yang sama seperti yang kamu katakan. Dia saat ini juga jenuh dengan aktivitas dengan berdiam diri saja. Kalian memang pasangan yang serasi, kalian selalu menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas. Mungkin dengan cara seperti ini kamu akan berhenti kalau tidak kamu akan tetap sibuk, entah sampai kapan."
"Tapi, tidak seperti ini juga, Tuan. Ini namanya menyiksa saya secara perlahan."
"Jangan Khawatir, gaji kamu tidak akan saya potong hanya karena kamu mengambil cuti. Bahkan nanti gaji kamu aku lebihin, anggap saja kado dari saya untuk pengantin."
"Wah, kebetulan, Kenapa tidak sekalian beliin saya rumah, Tuan. Saya butuh rumah untuk saya tinggali nanti bersama istri saya."
"Enak saja minta rumah. Saya sendiri juga belum punya rumah, masih di apartemen."
__ADS_1
"Kenapa Tuan tidak membeli rumah? Bukankah uang, Tuan, banyak?"
Kedua pria itu pun berbincang berbagai hal, dari mengenai urusan pribadi sampai urusan pekerjaan.
*****
Pagi-pagi sekali, Afrin terkejut dengan kedatangan mertuanya. Baru kali ini Mama Merry datang mengunjungi mereka setelah pindah.
"Mama! Silakan masuk," ucap Afrin.
"Khairi mana, Frin?" tanya Mama Merry.
"Masih tidur, Ma. Hari ini kan weekend jadi libur. Mas Khairi masih ingin menghabiskan waktunya di atas kasur," jawab Afrin. "Aku bangunin sebentar, ya, Ma."
Mama Merry hanya diam. Dia melihat sekeliling ruangan apartemen. Semua terlihat sangat bersih dan rapi. Wanita itu jadi berpikir, pasti anaknya sudah mempekerjakan orang yang sangat cekatan. Tidak lama setelah itu, Khairi turun dengan wajah yang masih mengantuk.
"Assalamualaikum, Mama apa kabar?" sapa Khairi.
"Baik, kenapa kamu tidak pernah main ke rumah lagi? Apa papa dan Mama tidak penting lagi?"
"Iya, maaf, Ma, akhir-akhir ini banyak sekali pekerjaan."
"Istri kamu mana? Kenapa tidak ikut ke luar?"
"Lagi di dapur, Ma. Mungkin lagi masak."
"Apa dia bisa masak?" tanya Mama Merry dengan memicingkan matanya.
"Ya, bisa dong, Ma. Dia kan perempuan," jawab Khairi apa adanya. Pria itu mengerti apa arti dari kata-kata mamanya, hanya saja dia ingin melihat bagaimana reaksi Mama Merry saat mencicipi makanan buatan istrinya.
"Ayo, kita ke dalam! Mungkin Afrin sudah selesai masak. Aku sudah lapar," ajak Khairi yang diangguki oleh Mama Merry.
.
.
__ADS_1
.
.