
"Alhamdulillah," ucap Emran setelah menghabiskan makanannya.
"Lama nggak makan udang enak juga, ya, Pa," ucap Aydin.
"Memangnya di rumah sudah tidak pernah masak udang lagi?" tanya Khairi.
"Bukan tidak pernah, tapi kami gak enak, semua makan sementara bunda tidak jadi, nggak ada yang makan. Papa juga enggak bolehin masak lagi padahal bunda bilang tidak apa-apa," jawab Aydin.
"Bukannya Papa mau melarang kalian makan udang, tapi badan bunda gatal-gatal habis itu," sahut Emran.
"Bunda kan nggak ikut makan? Masih gatal juga?" tanya Aydin yang diangguki Emran.
"Mungkin alat masaknya masih ada bekas udang yang pasti badan Bunda merah-merah. Memang tidak seperti saat memakannya, sih, tapi tetap saja saat malam harus gosok-gosok tubuhnya," jawab Emran.
"Memang sampai separah itu, ya, Pa! Bahkan bau sedikit saja sudah membuat tubuh bunda gatal-gatal," tanya Khairi.
"Iya, tapi tidak begitu parah sampai bentol-bentol. Cuma dia badannya merah-merah saja dan harus digosok-gosok saja, jika dibiarin bunda nggak bakalan bisa tidur."
"Jadi Papa yang gosokin?"
"Iya, sampai bunda kamu tertidur. Setelah itu Papa baru bisa tidur," jawab Emran.
"Pantas saja Nayla pernah bilang jika bunda beli alat masak baru buat masak udang, tapi karena Papa sudah melarang Rani, tidak ada yang berani beli udang dan memasaknya,"
"Bunda beli alat masak baru?" tanya Emran.
"Iya, tapi tidak ada yang berani masak karena Papa sudah melarang."
"Kenapa tidak ada yang bilang sama Papa? Tahu gitu, dari kemarin Papa bolehin masak udang."
"Papa saja yang pikirannya sempit. Punya uang banyak, tapi tidak berpikir untuk membeli alat masak baru," cibir Aydin membuat papanya kesal.
Emran akui dia memang tidak berpikir ke arah sana. Baginya seluruh keluarga baik-baik saja, itu sudah cukup. Apalagi istrinya adalah orang yang membuat keluarganya lebih berarti dari apa pun.
"Sejak menikah, Afrin juga tidak pernah masak udang," ucap Khairi.
"Bukanya tidak pernah, memang dia tidak bisa masak udang. Dia masak, kan, belajar dari bunda, sementara bunda nggak pernah masak udang. Biasanya tuh yang masak Rani, sedangkan Afrin sudah pasti malas untuk belajar sama Rani. Belajarnya cuma sama bunda. Kalau dia tidak mau pasti bunda ngoceh panjang lebar," ucap Aydin membuat Khairi cekikikan. Dia bisa membayangkan wajah istrinya yang cemberut. Pasti terlihat menggemaskan.
__ADS_1
"Kalian sudah selesai? Ayo, kita kembali!" ajak Emran.
"Aku sudah selesai," sahut Aydin.
"Aku juga sudah," sahut Khairi.
Emran dan Aydin kembali ke perusahaan. Sementara Khairi kembali ke perusahaannya sendiri dengan menggunakan taksi.
*****
Nayla sedang duduk di gazebo di samping rumah, sambil memandangi Nuri yang sedang bermain. Gadis kecil itu berlarian ke sana kemari sambil tertawa membuat mamanya ikut tersenyum. Namun, matanya menyiratkan kesedihan. Yasna datang menghampirinya.
"Kamu kenapa sedih? Masih memikirkan tentang kehamilan kamu?"
"Aku cuma takut, Bunda," jawab Nayla dengan menundukkan kepalanya.
"Setiap manusia pasti diberikan ujian oleh Tuhan. Tergantung bagaimana kita menghadapinya. Kalau kamu sudah takut lebih dulu, bahkan sebelum semuanya terjadi. Itu akan semakin memperburuk keadaan kamu. Positif thinking saja, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tanamkan itu dalam pikiran kamu."
"Bagaimana jika nanti Nayla diuji seperti yang kemarin? Bukankah penyakit kanker juga bisa tumbuh kembali?"
"Jika seperti itu, kamu harus ikhlas menerima jalan yang Tuhan berikan untukmu. Kamu sekarang harus memikirkan janin yang ada dalam perutmu. Biarkan dia tumbuh dengan sehat kalau kamunya kepikiran terus, itu juga berpengaruh padanya. Sebagai seorang ibu Apa kamu nggak kasihan padanya? Kamu lebih beruntung bisa merasakan bagaimana menjadi seorang ibu, tidak seperti Bunda. Meski dulu sempat hamil, tapi bunda tidak pernah merasakan bagaimana melahirkan. Namun, Bunda tetap bersyukur karena Bunda memiliki anak dan menantu seperti kalian," ujar Yasna dengan tersenyum.
"Sudah, jangan sedih-sedih lagi. Apa pun yang akan terjadi di kehidupan kamu, hadapi itu dengan senyuman."
"Iya, Bun. Akan Nayla coba."
Tiba-tiba terdengar tangisan Nuri, membuat kedua wanita itu melepaskan pelukan mereka dan menoleh ke sumber suara. Yasna dan Nayla berlari ke arah Nuri. Keduanya sama-sama khawatir jika terjadi sesuatu pada gadis kecil itu.
"Nuri!" seru Nayla dan Yasna bersamaan.
"Huaa ... aaa ...." tangis Nuri semakin menjadi.
"Ada apa, Sayang?" tanya Nayla sambil mengangkat sang putri ke atas pangkuannya. Namun, Nuri tetap menangis. "Jatuh, ya! Lain kali hati-hati. Nggak boleh lari-lari."
"Mana yang sakit? Biar Oma tiupin?" tanya Yasna mencoba membujuk agar tangis Nuri mereda.
"Ini atit," tunjuk Nuri pada lututnya yang sedikit tergores.
__ADS_1
Yasna pun meniupinya. "Sudah tidak sakit lagi, kan? Sudah Oma tiupin habis ini pasti sembuh."
Nuri hanya mengangguk meski bibirnya masih tertarik ke bawah. Yasna yang melihat itu merasa lucu, membuat dia gemas ingin menciuminya. Namun, dia urungkan, pasti nanti gadis kecil itu semakin menangis jika dicium.
"Sekarang main masak-masak saja, bagaimana? Enggak usah lari-lari, nanti jatuh."
"Ain ama Oma."
"Iya, main sama Oma," sahut Yasna. "Nuri duduk dulu di sana sama mama, biar Oma ambilin mainannya," ucap Yasna yang diangguki oleh gadis kecil itu.
"Biar aku saja, Bunda, yang ambil."
"Kamu duduk saja di sana sama Nuri, jangan terlalu capek." Yasna pun masuk ke dalam rumah dan mengambilkan mainan untuk Nuri.
Nayla merasa tidak enak pada mertuanya. Yasna selalu baik pada siapa pun. Padahal dia hanya menantu di rumah ini. Setiap kali wanita itu membuat status diakun sosial tentang kebersamaannya bersama sang mertua, pasti banyak yang berkomentar jika mereka iri padanya. Nayla bisa memiliki mertua sebaik Yasna. Dia juga bisa sangat dekat.
"Ini mainannya!" seru Yasna dengan menunjukkan mainan pada Nuri dengan cekatan gadis kecil itu menata semua miliknya dengan dibantu oleh dan Nayla.
Sebenarnya Yasna merasa sedih karena Nuri tidak memiliki teman di rumah. Pasti dia merasa kesepian ingin bermain dengan anak seusianya. Gadis itu sangat senang jika ada beberapa sepupu yang datang kerumah atau saat dia ajak ke tempat bermain. Di sana banyak anak, meski tidak saling mengenal, tapi Nuri tetap bahagia.
"Nay, kamu ada rencana untuk ulang tahun Nuri bulan depan?" tanya Yasna.
"Belum ada sih, Bunda. Apa Bunda ada ide?" tanya Nayla balik.
"Bagaimana kalau kita mengundang anak yatim saja atau kita rayain di sebuah Panti asuhan. Pasti di sana banyak anak-anak kecil. Nuri pasti suka."
"Nanti aku bicarakan sama Mas Aydin dulu. Aku takutnya Mas Aydin punya rencana lain."
"Iya, tidak apa-apa jika memang Aydin punya rencana lain. Asalkan bisa membuat Nuri senang, kenapa tidak! Nanti kamu kasih tahu bunda, biar Bunda bantu mempersiapkannya."
"Iya, Bunda."
"Oma acak apa?" tanya Nuri pada Yasna sambil memegang mainannya.
"Masak apa, ya? Nuri maunya makan apa? Biar Oma yang masakin."
.
__ADS_1
.
.