
"Sepertinya Anda belum mengenal keluarga saya dengan baik. Papa saya bisa membuat Anda bangkrut dalam sehari saja." Gani mengancam Khairi tanpa merasa bersalah.
Kesombongan pria itu membuat Afrin geram. Dia hanya kaya karena harta orang tua, tetapi Gani sudah begitu sombongnya.
"Anda juga belum mengenal keluarga saya dengan baik. Papa saya bisa membuat Anda bangkrut dalam hitungan jam saja," balas Afrin yang sudah tidak tahan dengan sikap tamunya itu.
"Ha ha ha, memangnya siapa papamu? Hingga bisa membuat bisnis keluargaku bangkrut. Sangat tidak mungkin."
"Kamu bisa mencobanya. Emran Al Husayn, silakan saja cari nama itu di kolom pencarian ponselmu. Papaku jauh lebih berkuasa di dunia bisnis. Semua terpampang jelas di sana, kalau sudah silakan pergi dari rumah ini. Saya tidak menerima tamu yang tidak sopan."
Biarlah jika dikatakan tidak sopan. Afrin memang tidak menyukainya. Gani membuka ponsel dan mengetikkan nama yang sudah istri dari Khairi katakan. Dia begitu terkejut melihatnya, di sana juga ada foto keluarga termasuk foto pernikahan Afrin.
Tanpa banyak berkata, Gani pergi begitu saja. Dia merasa terhina dengan pengusiran itu. Yang lebih memalukan, marah pada orang yang tidak dikenalnya. Pria itu marah pada anak buahnya karena tidak memberitahu siapa Khairi dan istrinya.
Kalau seperti ini, sudah dipastikan kalau Gani tidak akan bisa mendapatkan Laily padahal dia sudah menyukainya. Namun, pria itu tidak mungkin mempertaruhkan perusahaannya. Gani tidak mau jatuh miskin karena seorang wanita.
Sementara di dalam rumah Khairi masih tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Dia menatap istrinya yang juga melihat ke arahnya. Mereka sama-sama tertawa mengingat apa yang Gani lakukan sama seperti dirinya dulu.
"Apa Mas ingat jika pernah berada diposisinya?" tanya Afrin.
"Iya, tapi aku dan dia berbeda. Dia sombongnya kelewatan. Aku yakin jika apa yang dirasakan pria itu hanya hasrat saja," ucap Khairi sambil memeluk istrinya.
Seharusnya sedari tadi dia bisa melakukan hal ini, tetapi karena Gani, Khairi jadi menundanya. Afrin pun membalas pelukan sang suami. Dia juga masih sangat merindukan pria ini.
"Apa pekerjaan kamu sudah selesai?" tanya Afrin dengan pelan.
"Sudah, Sayang. Aku sengaja menyelesaikan dengan cepat," jawab Khairi. "Sayang, aku merindukanmu," bisik Khairi ditelinga istrinya.
__ADS_1
Pria itu mulai menurunkan bibirnya ke pipi dan ke bibir Afrin. Namun, baru sedikit kecupan, wanita itu sedikit menjauhkan tubuhnya dari sang suami.
"Mas, ada Bik Asih dan Fatma," ucap Afrin dengan berbisik.
Tanpa banyak berkata Khairi segera mengangkat istrinya di depan. Dia membawa Afrin ke kamar mereka yang berada di lantai dua. Begitu sampai di kamarnya, Khairi langsung menyerang bibir sang istri tanpa menurunkan wanita itu, dilum*tnya pelan membuat dia terbuai.
Khairi membawa istrinya ke atas ranjang dan menurunkannya. Bibir keduanya masih berpagutan, sementara tangan pria itu mulai bekerja membuka semua penutup tubuhnya dan sang istri. Keduanya sudah benar-benar diselimuti gairah.
Kamar yang semula dingin kini terasa panas. Peluh membasahi tubuh keduanya. Terdengar suara des*han saling bersahutan ketika mereka telah menyatu. Satu bulan tidak bertemu membuat mereka menggila. Namun, masih dalam batas normal.
Keduanya tahu jika harus berhati-hati, ada bayi yang harus dijaga. Hingga keduanya mencapai puncak kenikmatan bersama. Khairi memandang wajah sang istri dan memberi sebuah kecupan di kening.
"Terima kasih, Sayang. Baby tidak apa-apa, kan?" tanya Khairi sambil mengusap perut datar Afrin.
"Tidak apa-apa, Mas," jawab Afrin sambil mengusap tangan sang suami yang masih ada di atas perutnya.
Afrin mengangguk dan memeluk suaminya. Sungguh dia sangat merindukan pelukan ini. Tidak perlu waktu lama, wanita itu akhirnya tertidur. Khairi terus memandangi wajah sang istri. Disingkirkannya sedikit rambut yang menutupi dahi Afrin. Pria itu mengecup kening istrinya dengan pelan seolah takut akan membangunkannya.
'Terima kasih, Sayang. Kamu kembali secepat ini. Aku tidak tahu bagaimana jadinya diriku seandainya hukuman enam bulan itu benar terjadi. Aku sudah menahan semuanya dalam satu bulan ini. Aku sungguh-sungguh merindukanmu,' ucap Khairi dalam hati.
Pria itu sama sekali tidak tidur, masih tetap setia menatap istrinya. Hingga sore hari, wanita itu menggeliatkan tubuh dan membuka matanya. Dia melihat jam di dinding, ternyata sudah jam empat sore.
Afrin melihat ke samping, suaminya sudah tidak ada. Di meja sudah ada segelas susu. Tanpa banyak bertanya wanita itu segera meminumnya. Afrin merasa aneh karena dirinya sama sekali tidak muntah, malah terasa begitu lezat padahal setiap kali dia minum susu putih, pasti akan muntah.
Wanita itu berpikir, apa itu mungkin buatan suaminya hingga Afrin merasa baik-baik saja? Sebaiknya dia segera mandi. Tubuhnya terasa lengket semua. Saat wanita itu keluar, ternyata sudah ada sang suami duduk di tepi ranjang.
Keduanya saling melempar senyum. Afrin duduk di meja rias sambil mengeringkan rambutnya. Khairi pun mendekat dan mengambil handuk kecil yang dipakai istrinya dan membantu mengeringkan rambut wanita itu.
__ADS_1
"Mas, siapa yang tadi buat susu?" tanya Afrin sambil melihat sang suami lewat cermin yang ada di depannya
"Aku, memang kenapa? Apa kamu tidak suka?"
"Justru aku sangat suka. Biasanya aku akan muntah setiap kali minum susu putih, tapi tadi terasa sangat lezat."
"Berarti anakku senang karena papanya membuatkan susu untuknya. Mulai sekarang, aku yang akan membuatkan susu untukmu di pagi hari. Kamu minumnya satu kali, kan?"
"Iya, Mas."
"Ayo, kita shalat ashar dulu setelah itu, kamu harus menceritakan apa saja yang sudah kamu lakukan selama satu bulan tanpa aku."
Afrin tersenyum dan mengangguk. Dia memang berniat menceritakan semuanya pada sang suami tanpa menutupi apa pun. Khairi pun mengambil air wudhu, sementara Afrin berganti baju sebelum menyusul sang suami.
Mereka melakukan sholat berjamaah di dalam kamar. Keduanya menadahkan kedua tangan untuk berdoa untuk masa depan rumah tangga mereka dan juga demi kebaikan anaknya kelak.
Setelah itu Khairi mengajak istrinya untuk pergi ke taman. Meski Afrin tidak di rumah, tapi taman ini sangat terawat karena pria itu selalu merawatnya. Khairi mengerjakan semuanya sendiri karena tidak ingin melihat wajah sang istri sedih melihat tamannya hancur.
"Sekarang ceritakan apa saja kegiatanmu selama jauh dariku satu bulan ini," ujar Khairi begitu mereka duduk di kursi panjang yang ada di sana.
"Selama satu bulan ini aku tinggal di rumah Bunda Yasna satu Minggu, di apartemen Bu Nur satu Minggu dan di rumah Mama Merry satu minggu. Satu minggunya aku tinggal di apartemen kita,"
Khairi terkejut mendengarnya. Bagaimana mungkin bisa seperti itu? Dia juga sering datang ke apartemen ibunya bahkan terkadang menginap, tetapi pria itu sama sekali tidak melihat keberadaan sang istri di sana atau memang dia tidak peka.
.
.
__ADS_1
.