
Dalam perjalanan, Yasna meneteskan air matanya. Semakin jauh dari rumah Emran, semakin deras pula air matanya. Ia memutuskan pergi ke danau, tidak mungkin ia pergi ke sekolah dalam keadaan seperti ini.
Danau ini tempat yang Yasna kunjungi saat hatinya tersakiti, kini sepertinya sejarah kembali terjadi, bedanya dulu ia memiliki hubungan yang sah dengan Zahran dan kini ia tidak memiliki hubungan apapun dengan Emran. Namun, tetap saja rasanya sungguh menyakitkan.
Yasna mengirim pesan pada Nadin, jika hari ini ia absen dulu dengan beralasan kakinya kembali sakit. Ia menumpahkan air matanya di tempat ini, ingin sekali ia menghubungi Fazilah. Namun, Fazilah pasti kerja, ia tidak ingin mengganggu pekerjaannya.
Sementara Emran mengantar Afrin sekolah, di tempat parkir ia tidak melihat motor Yasna, ia putuskan untuk mencarinya.
"Nad, Yasna sudah datang?" tanya Emran.
"Dia masih izin hari ini," jawab Nadin.
"Tadi pagi dia berangkat, kok!" kilah Emran.
"Tadi pagi sih dia memang bilang mau datang, tapi setengah jam yang lalu dia kirim pesan, katanya tiba-tiba kakinya sakit, jadi tidak bisa datang," ujar Nadin.
"Terima kasih kalau begitu, aku balik dulu. Assalamualaikum," pamit Emran.
"Waalaikumsalam," sahut Nadin. "Apa mereka lagi ada masalah?"
Emran kembali melajukan mobilnya. Beberapa kali ia menghubungi Yasna, tetapi tak kunjung ada jawaban. sebenarnya ia ingin menemui Yasna. Namun, ia ada meeting pagi ini. Ia memutuskan menemui Yasna nanti siang saja.
Sementara di danau, Yasna berpikir apa yang harus ia katakan pada ibunya nanti? Ibunya begitu berharap hubungannya dengan Emran bisa sampai pelaminan. Tidak mau terlalu lama bersedih, ia memutuskan untuk pulang. Ibunya juga pasti sudah pergi ke toko jadi ia tidak perlu berbohong.
*****
Tok tok tok
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Yasna setelah membuka pintu. "Di luar saja, Mas. Tidak ada siapapun di rumah."
Emran duduk di kursi teras, sementara Yasna mengambil minuman untuk tamunya.
__ADS_1
"Silahkan, Mas." Yasna meletakkan segelas teh di atas meja.
"Terima kasih," sahut Emran.
"Mas, tidak ke kantor?" tanya Yasna.
"Sedang istirahat makan siang. Seharusnya aku yang bertanya, bukankah tadi pagi kamu bilang mau pergi mengajar? Tapi kenapa kamu tidak hadir?" tanya Emran.
"Tiba-tiba kakiku ngilu, jadi aku putuskan untuk pulang," jawab Yasna berbohong.
"Aku kecewa mendengar jawabanmu," ucap Emran lesu.
"Kenapa, Mas?" tanya Yasna.
"Aku berharap kamu mengatakan, kalau kamu cemburu pada Tisya, tapi ternyata tidak. Aku jadi berpikir, apakah kamu memiliki rasa yang sama sepertiku? Aku sangat cemburu saat orang-orang membahas masa lalumu, padahal kamu tidak bersamanya. Sedangkan kamu yang melihat aku bersama Tisya terlihat biasa saja," tutur Emran.
"Jika Mas ragu, maka jangan melanjutkan hubungan ini," ucap Yasna tanpa menatap Emran.
"Jadi kamu benar tidak memiliki perasaan padaku?" tanya Emran.
"Kami tidak melakukan apapun? Aku sudah memintanya untuk keluar, tapi Tisya orang yang sangat keras kepala, dia tidak akan pergi jika keinginannya belum terpenuhi," kilah Emran.
"Lalu, kamu membiarkannya begitu saja? Kamu bukan anak kecil yang tidak bisa berbuat apapun, kan? Maaf jika kata-kataku kasar, jika kamu tidak bisa tegas terhadap wanita itu, lalu bagaimana kamu akan menjadi imamku nanti? Aku butuh laki-laki yang tegas dan memiliki pendirian yang kuat, bagaimana jika saat kita sudah menikah wanita itu ingin kamu menemaninya, kamu pasti menurutinya dengan alasan dia orang yang keras kepala atau mungkin rasa kemanusiaan," Yasna mengeluarkan semua kekesalannya pada Emran.
"Maaf, tapi sungguh, aku tidak pernah berniat melakukan apapun dengannya apalagi menyakitimu," sesal Emran.
"Mas, mungkin sebaiknya kita memikirkan kembali tentang rencana--
"Tidak ... aku tahu, aku melakukan kesalahan, tapi aku tidak ingin kehilanganmu. Aku hanya sedang kesal atas apa yang terjadi hari ini, bukan maksudku meragukanmu, aku hanya ingin melihatmu cemburu dan marah," ucap Emran.
"Aku tidak berhak untuk marah, kita tidak--
"Siapa bilang? Kamu berhak marah, jika kamu tidak bisa marah, setidaknya katakan apa yang kamu rasakan, agar kita sama-sama tahu dan tidak saling menyakiti, itu komitmen kita, kan!" seru Emran.
__ADS_1
Yasna terdiam, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan kini, satu sisi ia tidak ingin terluka lagi, sisi lainnya ia sudah jatuh cinta pada Emran dan yang lebih penting ia sudah sangat menyayangi Afrin dan Aydin, meskipun Aydin belum menerimanya. Namun, Yasna sudah menyayanginya.
"Begini saja, sebaiknya kita tidak bertemu dulu, agar kita tahu sebesar apa kita ingin saling memiliki dan saling rindu jika kita memang merasakannya, kita harus saling berjuang, tapi jika tak ada sedikit pun rasa rindu itu, mungkin memang kita tidak ditakdirkan bersama." ujar Emran.
Yasna merasa sedih mendengar apa yang Emran katakan, ia tidak ingin terluka, tetapi ia juga tidak ingin kehilangan Emran. Sepertinya ia serakah kali ini.
"Sebaiknya memang seperti itu." Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Yasna.
Padahal Yasna sangat ingin mengatakan jika ia tidak ingin berpisah dengan pria yang ada disampingnya ini. Namun, lidahnya terasa kelu untuk mengatakannya.
Emran kecewa mendengar jawaban Yasna. Ia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada orang lain, apalagi tentang perasaan.
"Aku harus kembali ke kantor, sudah waktunya aku kembali," ucap Emran.
"Mas belum makan siang, sebaiknya makan dulu," ucap Yasna.
"Tidak perlu, semakin lama aku tinggal, semakin aku tidak ingin berpisah. Aku pergi dulu, assalamualaikum." Emran pergi tanpa menunggu sahutan dari Yasna.
"Waalaikumsalam," gumam Yasna.
Kenapa Yasna merasa bersalah? Bukankah seharusnya ia marah saat ini? kenapa justru Emran yang marah padanya? Bukan maksud Yasna untuk mempermainkan sebuah hubungan, ia hanya tidak ingin tersakiti, itu saja.
Sore hari Yasna memutuskan pergi ke rumah Fazilah, ia ingin bercerita dengan sahabat baiknya itu.
"Na, bukan maksudku menyalahkanmu, tapi coba hilangkan perasaan takut yang kamu rasakan. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, mungkin kamu akan kembali merasakan sakit hati, bukankah itu manusiawi? senang dan sedih semua orang pasti merasakannya jika yang kamu inginkan hanya rasa senang, lalu siapa yang akan merasakan sedihnya?" tutur Fazilah setelah mendengar cerita Yasna.
Yasna mencerna apa yang Fazilah katakan dan itu memang benar, setiap manusia pasti merasakannya termasuk dirinya.
.
.
.
__ADS_1
.
.