
Aydin datang ke butik Nayla. Dia ingin mengajak wanita itu makan di luar. Terlihat butik masih ada beberapa pembeli. Meskipun tidak banyak, tapi sudah bagus bagi butik yang baru buka.
"Assalamualaikum," ucap Aydin.
"Waalaikumsalam," ucap seorang perempuan yang bernama Fika. Dia adalah pegawai Nayla.
"Naylanya ada, Mbak?"
"Ada di dalam, Mas. Silakan masuk saja," ucap Fika yang sudah mengenal Aydin.
Pria itu segera menuju ruangan Nayla. Dia sudah pernah ke sini jadi, sudah tahu di mana ruangan Nayla.
"Assalamualaikum," ucap Aydin saat melihat Nayla yang membelakanginya. Gadis itu terlihat sangat sibuk hingga tidak menyadari kedatangan Aydin.
"Waalaikumsalam, Mas Aydin, ke sini nggak bilang-bilang?"
"Memang sengaja, aku mau ajak kamu makan malam."
"Boleh, Mas. Tunggu sebentar lagi, ya?"
"Iya," jawab Aydin. "Biasanya butik Kamu tutup jam berapa? di luar masih terlihat ramai."
"Sebentar lagi, nunggu tidak ada pembeli. Alhamdulillah, Mas. Setiap hari pembelinya bertambah," jawab Nayla yang diangguki Aydin.
"Kamu bawa mobil?"
"Tidak, Mas. Tadi dipakai sama Om Doni."
"Nanti aku antar, ya?"
"Boleh," jawab Nayla. "Apa tidak merepotkan Mas?"
"Tidak, aku antar ke rumah kamu yang waktu itu, kan?"
"Tidak, Mas. Aku tidur di rumah bibi."
"Berarti yang waktu mobil kamu mogok itu, kamu mau pulang ke rumah bibi? Pantas saja, waktu itu aku bingung kamu ada di daerah itu, rumah kamu, kan, beda arah."
"Aku memang kadang-kadang nginap di sana sejak ibu meninggal. Mereka juga sendirian, sama seperti aku jadi, kami saling menemani."
Nayla yang terbiasa dengan kehadiran ibunya, tiba-tiba harus ditinggal sang ibu. Karena itulah dia sering tidur di rumah bibinya, agar tidak kesepian.
"Permisi, Mbak," ucap Fika pegawai Nayla. "Saya mau pulang, toko sudah saya tutup. Ini kuncinya."
"Iya, silakan. Tunggu sebentar, ini ada makanan buat kamu."
"Terima kasih, Mbak," pamit Fika. Dia pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ayo, kita juga pergi!" ajak Nayla.
Mereka pergi meninggalkan butik. sejujurnya Nayla masih ada pekerjaan, tapi dia tidak mau ada dalam satu ruangan bersama dengan seorang laki-laki. Gadis itu takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
__ADS_1
Mereka menaiki mobil dan meninggalkan butik. Dalam perjalanan ponsel Nayla berdering. Tertera nama Sarah di sana. Segera gadis itu mengangkatnya.
"Halo, assalamualaikum," ucap Nayla setelah menggeser tombol berwarna hijau.
"Waalaikumsalam, kamu di mana? Tante ada di depan butik kamu," tanya Sarah.
"Saya sudah dalam perjalanan pulang, Tante."
"Saya kira kamu masih di sini. Bukannya kamu bilang nggak bawa mobil?"
"Saya pulang bareng teman, Tante. Kebetulan tadi dia mampir."
"Ya sudah, kalau begitu Tante pulang saja."
"Iya, maaf ya, Tante," sahut Nayla. "Tante juga nggak bilang kalau mau ke sana."
"Iya, tidak apa-apa. Tante tutup dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Nayla merasa tidak enak pada Sarah. Wanita itu selalu baik padanya.
"Dari siapa?" tanya Aydin.
"Dari Tante Sarah."
"Kenapa kamu bilang aku teman kamu?" tanya Aydin membuat Nayla mengernyitkan keningnya.
"Kalau bukan teman lalu, apa?"
"Kita, kan, masih saling mengenal jadi, kita masih teman," sahut Nayla membuat Aydin diam tidak lagi berkomentar.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Nayla, jika mereka memang baru saling mengenal. Hubungan mereka saat ini juga sebatas saling terbuka dan mengenal.
Akhirnya mereka sampai di sebuah restoran dan memesan makanan. Selama menunggu pesanan datang, mereka berbincang seputar kehidupan pribadi dan keluarga.
"Aku ke toilet sebentar, ya, Mas." pamit Nayla.
"Iya," sahut Aydin.
Selama Nayla pergi ke toilet. Aydin seperti melihat seorang wanita yang dia kenal lewat, tapi pria itu hanya melihatnya sekilas jadi, dia tidak begitu yakin, apakah itu wanita yang Aydin kenal atau tidak.
Tidak mau terlalu ambil pusing pria itu memilih memainkan ponselnya. Makanan sudah datang. Namun, Nayla belum juga kembali.
"Nayla mana, ya? Kok lama sekali," gumam Aydin karena Nayla tak kunjung kembali.
Beberapa menit kemudian. Akhirnya gadis itu kembali. Namun, wajahnya terlihat datar.
"Kamu, kok, lama Nay?" Aydin bertanya saat melihat Nayla duduk di depannya.
"Iya, Mas. Tadi banyak orang," jawab Nayla yang diangguki Aydin.
Pria itu melihat wajah Nayla terlihat begitu berbeda. Seperti tidak bersemangat lagi.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Sepertinya ada sesuatu. Apa kamu sedang tidak sehat?" tanya Aydin dengan menatap wajah Nayla.
"Tidak, Mas. Aku tidak apa-apa. Ayo kita makan saja."
Meski masih penasaran dengan apa yang terjadi pada Nayla. Aydin tetap memakan makanannya. Baru beberapa suap Aydin memakan makanannya. Tiba-tiba seorang wanita datang meminta bantuannya.
"Mas, tolong aku. Ayah di rumah, sakitnya kambuh. Di rumah tidak ada siapa-siapa. Tetangga juga tidak ada yang mau menolongku, setelah video itu tersebar. Aku mohon, hanya kamu yang bisa membantuku. Ibu sudah meminta bantuan pada tetangga, tapi tidak ada yang mau bantu," pinta wanita dengan meneteskan air matanya. Siapa lagi kalau bukan Airin.
Aydin terlihat bingung. Dia tidak tahu harus bagaimana, di satu sisi pria itu tidak mungkin tega membiarkan seseorang yang sedang sakit, tapi saat ini, Aydin sedang mengajak Nayla makan malam di luar. Bagaimana mungkin dia meninggalkan Gadis itu sendirian.
Nayla hanya diam dengan tetap memakan makanannya, tanpa melihat ke arah mereka. Di dalam hatinya, dia berharap Aydin menolaknya dan tetap di sini. Namun, semua hanya angan semata.
"Nay, kamu ikut, ya?" pinta Aydin.
"Kalau dia ikut, bagaimana kita bisa bawa ayah, Mas?" sela Airin.
Aydin semakin dilema. Sementara Nayla sudah mengepalkan salah satu tangannya yang berada di bawah meja.
"Maaf, Mbak. Sebaiknya Anda mencari orang lain saja yang bisa membantu. Kami sedang makan malam," sahut Nayla dengan ketus.
"Kenapa kamu begitu tega? Ayahku sedang sekarat, bagaimana kalau dia meninggal? Kamu sungguh-sungguh wanita tidak punya hati." Airin semakin menangis mendengar kata-kata Nayla.
"Kami sedang makan malam. Tolong jangan rusak suasana. Saya juga tidak pernah mengganggu Anda!" Nayla semakin kesal.
"Kamu kok gitu sih, Nay. Airin hanya minta tolong untuk mengantar ayahnya! Kamu nggak usah sekasar gitu," sela Aydin.
"Kalau begitu, silakan antar wanita itu dan ayahnya. Lupakan juga tentang kesepakatan kita," ucap Nayla dengan tegas.
"Ayah Airin membutuhkan pertolongan, kenapa kamu seperti ini?" tanya Aydin dan Nayla hanya diam.
"Mas, ayo, ayah tidak bisa nunggu lama!" ajak Airin.
"Maaf, Nay. Aku harus mengantar ayahnya Airin. Setelah itu aku akan ke sini. Kamu jangan ke mana-mana."
Aydin berlalu pergi bersama Airin. Sementara Nayla hanya diam dengan pandangan kosong.
'Sepertinya kita memang tidak berjodoh, Mas. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu,'
Nayla memanggil pelayan dan membayar makanannya. Setelah itu dia pergi menggunakan taksi. Untung saja saat gadis itu keluar ada taksi yang sedang menurunkan penumpangnya jadi, dia bisa pulang dengan menaikinya.
Dalam perjalanan Nayla hanya memandangi jalanan melalui jendela. Pandangan matanya tampak kosong. Tidak ada semangat di dalamnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1