Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
209. S2 - Menyelamatkan Afrin


__ADS_3

"Kenapa Papa baru mengatakannya sekarang?" tanya Yasna dengan meneteskan air mata.


"Papa juga baru tahu, Bunda," jawab Emran dengan memeluk istrinya yang menangis.


"Bagaimana keadaan Afrin sekarang? Pasti saat ini dia sangat takut."


Baru kali ini Emran merasa tidak berguna sebagai orang tua karena tidak bisa menjaga putrinya. Dalam hati pria itu juga tidak bisa tenang, memikirkan bagaimana keadaan putrinya kini.


"Papa masih berusaha mencarinya. Bunda berdoa saja semoga Afrin baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir, dia gadis yang kuat Pasti bisa jaga diri."


"Bunda nggak bisa tenang sebelum melihat keadaan Afrin baik-baik saja."


"Anak buah Papa masih berusaha. Anak buah Khairi juga membantu mencari putri kita."


"Khairi juga mencari Afrin?" tanya Yasna memastikan.


"Iya, tadi anak buah Papa yang mengatakannya. Dia sebenarnya ada pekerjaan di luar kota, tapi dia memutuskan untuk pulang demi mencari Afrin."


Yasna mengangguk. Dia bersyukur banyak yang berusaha mencari Afrin. Semoga saja putrinya segera ditemukan. Khairi sebenarnya pria yang baik. Hanya agamanya yang kurang.


*****


Afrin terbangun dari tidurnya. Dia duduk di sebuah kursi dengan tangan terikat ke belakang dan mulut tersumpal. Saat gadis itu menggerakkan tubuhnya, semua terasa sulit. Dia baru tahu jika sedang terikat setelah kesadarannya datang.


"Halo, cantik. Bagaimana tidurnya? Nyenyak?" tanya seorang pria.


Afrin yang baru saja sadar merasa ketakutan. Dia tidak mengenal pria itu untuk apa dia mengikatnya di sini? Gadis itu mencoba mengingat kejadian yang sebelumnya kemudian, Afrin teringat jika dia menolong seorang wanita dan wanita itu membungkamnya dengan sapu tangan. Setelah itu dia tidak mengingat apa pun lagi.


Mengenai pria yang ada di depannya ini, Afrin sama sekali tidak mengenalnya. Dia juga tidak tahu dendam apa yang dimaksud. Gadis itu tahu papanya selama ini selalu baik kecuali orang itu memang orang jahat.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Sayang? Tidak perlu takut, aku hanya ingin bersenang-senang sebentar. Sepertinya mengambil kehormatanmu adalah balasan setimpal untuk papamu yang sudah menghancurkan bisnisku," ucap Agung dengan menyeringai.


"Apa maksudmu? Siapa kamu? Kenapa menculikku?" tanya Afrin dengan berteriak.


"Namaku Agung. Aku di sini ingin balas dendam pada papamu. Satu tahun yang lalu kami memiliki proyek bersama, tapi tiba-tiba Emran memutuskan kontak begitu saja, tanpa alasan yang jelas. Hingga mengakibatkan bisnisku hancur dan bangkrut. Itu semua gara-gara papamu."


Pria yang bernama Agung itu berjalan mendekat kearah Afrin. Membuat gadis itu semakin ketakutan. Dalam hati dia berdoa, semoga papanya segera datang dan membawanya pergi dari sini.


"Anak Emran ternyata cantik juga," ucap Agung sambil membelai wajah Afrin, membuat gadis itu segera menolehkan kepalanya dengan kasar agar pria itu tidak menyentuhnya. Dia sungguh tidak suka diperlakukan seperti itu. Afrin bukan wanita murahan yang bisa seenaknya disentuh siapa pun.


Agung merasa terhina segera mencengkram dagu Afrin dengan kuat, hingga gadis itu merintih kesakitan. Selama ini tidak ada wanita mana pun yang bisa menolaknya. Mereka selalu datang dengan sukarela, tapi gadis yang ada dihadapannya ini menolak. Itu membuat harga dirinya terluka.


"Kamu jangan sok jual mahal! Kamu akan aku jual di tempat wanita malam, tapi sebelum itu aku akan menikmati tubuhmu dulu," ucap Agung membuat Afrin takut.


'Papa, tolong Afrin. cepatlah datang! Aku takut!'


"Bawa dia ke kamar dan tidurkan di atas ranjang. Jangan lupa mengikatnya agar tidak lari!" perintah Agung pada anak buahnya.


"Siap, bos."


"Tidak! Aku tidak mau! Jangan lakukan itu! Aku mohon lepaskan aku!" Afrin meronta saat kedua pria itu menyeretnya. Air mata tidak bisa dibendung lagi. Dia terus berteriak memohon untuk dilepaskan. Namun, mereka seolah tuli dan tidak menghiraukan teriakan gadis.


"Tuan Emran Al Husayn, sebentar lagi putrimu akan menerima balasan dariku. Kamu sudah berani bermain-main denganku. Kamu tidak tahu siapa aku sebenarnya. Ha ... ha ... ha ...." tawa Agung menggelegar membuat bulu kuduk orang yang mendengarnya merinding.


*****


"Apa kalian yakin, Afrin disekap di rumah ini?" tanya Khairi pada anak buahnya. Saat ini mereka mengintai sebuah rumah besar yang berada di pinggir hutan.


Rimah yang sangat besar dan mewah dengan cat berwarna hijau muda. Pasti tidak ada yang menyangka jika di pinggir hutan seperti ini ada sebuah rumah.

__ADS_1


"Yakin, Tuan," jawab seorang pria pemimpin dari anak buahnya.


Khairi mengangguk. Disetiap sudut rumah dari luar tampak beberapa pengawal sedang berjaga. Pria itu memutuskan untuk turun tangan sendiri. Anak buahnya sudah memperingatkan untuk menunggu saja, tetapi pria itu tidak mau. Dia ingin memastikan bahwa wanita yang dicintainya dalam keadaan baik-baik saja.


Sebelum memasuki rumah itu mereka berunding, bagaimana caranya agar bisa masuk dan melumpuhkan musuh dengan mudah. Khairi akui anak buahnya sangat pandai dalam menyusun taktik. Dia mengikuti instruksi pemimpin anak buahnya. Pria itu tidak mau jika penyerangan yang dia lakukan diketahui dan membahayakan nyawa Afrin.


Perlahan, tapi pasti mereka akhinya bisa melumpuhkan para penjaga di luar rumah. Mereka pun segera masuk dan perkelahian pun tak bisa dielakan. Untungnya Khairi juga tidak kalah hebat dalam bertarung. Dia pernah belajar bela diri bersama dengan Ivan.


Pria itu menghajar orang-orang yang mencoba menghalangi jalannya tanpa ampun. Untung saja ada anak buahnya yang membantu jadi, lebih mudah untuknya pergi mencari keberadaan Afrin.


Khairi mencari di semua kamar di lantai bawah. Namun, dia tidak menemukannya kemudian beralih menaiki lantai dua. Begitu pria itu membuka sebuah kamar tampak Afrin dengan tangan terikat dan Agung yang seperti ingin melecehkannya. Pria itu tidak bisa menerima perlakuan musuhnya, segera menghajar pria itu.


Pukulan demi pukulan Khairi berikan pada musuhnya. Agung mencoba membalas, tetapi dia menepis beberapa kali. Pria itu juga kena pukul, tetapi tidak sebanding dengan pukulan yang diterima oleh Agung. Hingga Khairi menjatuhkannya dan segera mendekati Afrin dan membuka ikatan.


Terlihat wajah gadis itu sudah basah oleh air mata. Khairi merasa hatinya terluka melihat Afrin seperti ini. Dia bersumpah akan membalas setiap air mata yang gadis itu keluarkan.


"Kamu nggak pa-pa, kan?" tanya Khairi begitu ikatan terlepas.


Afrin segera memeluk pria yang sudah menolongnya. Dia sangat bersyukur Khairi datang diwaktu yang tepat. Gadis itu tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada yang menolongnya. Mengingat hal itu membuat Afrin kembali menangis.


Tanpa keduanya sadari, Agung sudah bangun dan mengambil sebuah pistol yang ada di lemari. Dia mengarahkan benda itu pada mereka. Pria itu menyeringai puas merasa paling pintar dan mereka hanya orang-orang bod*h.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2