Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
186. S2 - Amanah Nayla


__ADS_3

Nayla dan Pak Hari menunggu Afrin di tempat parkir. Tidak berapa lama yang ditunggu pun akhirnya keluar dengan ketiga sahabatnya.


"Kak Nayla, kok ikut jemput?" tanya Afrin begitu dia sudah dekat.


"Iya, Kakak tidak ada pekerjaan di rumah. Sekalian mau bertemu dengan Nuri?" jawab Nayla kemudian beralih memandang Nuri. "Aku mau bicara sebentar sama kamu. Boleh, kan?"


Semua memandang ke arah Nuri, membuat gadis itu salah tingkah dan merasa tidak enak. Setelah kejadian waktu itu, mereka memang tidak bertemu lagi. Ada kecanggungan juga yang dirasakan gadis itu.


"Boleh, Kak," jawab Nuri akhirnya. Dia tidak mungkin menolak permintaan orang yang sudah jauh-jauh datang ke sekolah.


"Kamu ikut kami saja. Nanti kami antar pulang," ujar Afrin.


"Iya, kamu ikut kami saja. Sebentar saja, kok! Sambil berjalan pulang, kita bicara," timpal Nayla.


Mereka sudah menjadi pusat perhatian beberapa siswa. Mau tidak mau akhirnya Nuri mengangguk. Vira dan Sisca sempat heran, ada keperluan apa kakak ipar Afrin dengan Nuri, tetapi mereka merasa tidak enak pada Nayla jadi, keduanya hanya diam.


"Ayo, kita pergi!" ajak Nayla dengan menggandeng Nuri.


"Kita duluan, ya," pamit Afrin pada Vira dan Siska, yang diangguki keduanya.


Mereka bertiga menaiki mobil yang di sopir oleh Pak Hari. Afrin duduk di depan. Sementara Nayla dan Nuri di belakang karena ada yang perlu mereka bicarakan.


"Ri, aku minta maaf soal kejadian waktu itu. Aku benar-benar tidak tahu jika kejadiannya bisa seperti itu," ucap Nayla pelan.


Dia merasa bersalah pada gadis yang ada di depannya, karena keinginan Nayla membuat Aydin marah pada Nuri.


"Tidak apa-apa, Kak. Aku mengerti kenapa sampai Kak Aydin marah. Itu terjadi juga hanya karena salah paham saja. Aku juga sudah menganggap kalau Kakak tidak pernah berkata apa pun kemarin."


"Kalau mengenai itu, tidak! Aku masih tetap seperti pendirianku kemarin. Aku masih ingin kamu menjadi istri dari Mas Aydin dan ibu sambungan untuk anakku nanti."


"Kak, jangan meminta sesuatu yang belum tentu terjadi. Insya Allah Kakak akan sembuh."


Nuri mencoba memberi semangat pada Nayla. Bagaimanapun dia tidak ingin menerima amanah itu. Meski gadis itu mencintai Aydin, tetapi pria itu tidak dan dia tidak ingin menjalani sebuah hubungan dengan cinta yang hanya sepihak.


"Tapi itu mustahil. Aku sangat tahu bagaimana keadaan tubuhku saat ini. Semua orang mengatakan Aku akan sembuh, tapi mereka tidak ada yang tahu bagaimana penderitaanku saat penyakit ini kambuh. Itu sangat menyiksa,"

__ADS_1


Nuri dan Afrin tidak ada yang berani berbicara, karena mereka juga tidak tahu bagaimana penderitaan Nayla. Akan tetapi, untuk Nuri menggantikan posisi wanita itu, bukanlah hal yang mudah. Semua orang tahu bagaimana besarnya cinta Aydin pada Nayla dan tidak akan mungkin bisa tergantikan oleh siapa pun.


"Aku hanya percaya padamu. Banyak wanita yang mengejar cinta Mas Aydin, tapi diantara mereka, tidak ada wanita yang sesuai dengan apa yang Mas Aydin dan anakku butuhkan. Semua itu hanya ada pada dirimu, karena itu aku mohon padamu. Berjanjilah bahwa setelah kamu lulus SMA, kamu akan menikah dengan Mas Aydin," lanjut Nayla dengan menggenggam kedua telapak tangan Nuri.


"Tapi, Kak--"


Belum selesai Nuri berkata Nayla sudah lebih dulu memotongnya.


"Anggap saja ini permintaanku yang pertama dan terakhir. Aku tidak akan meminta apa pun lagi. Hanya itu saja."


"Tapi permintaan Kakak terlalu berat. Kakak tahu beratnya aku melangkah ke rumah itu sekarang? Apalagi menemui pemiliknya."


Mobil yang mereka tumpangi berhenti. Ternyata sudah sampai di depan rumah Nuri. Tampak rumah minimalis dengan desain klasik.


"Terima kasih, Kak, Afrin dan Pak Hari. Sudah mau mengantar saya," ucap Nuri.


"Sama-sama, Non," sahut Pak Hari.


Sementara Afrin hanya tersenyum menanggapi. Nuri turun dari mobil, Nayla pun mengikutinya.


Nayla segera masuk ke dalam mobil tanpa menunggu jawaban dari Nuri. Dia juga menutup kaca mobil agar gadis itu tidak bisa mengatakan apa pun. Pak Hari melajukan mobil meninggalkan Nuri, yang sebelumnya menggedor-gedor kaca pintu di sebelah tempat Nayla duduk.


"Kakak tadi bicara apa? Sampai Nuri gedor-gedor pintu," tanya Afrin.


Gadis itu penasaran, apa yang dibicarakan Nayla dengan sahabatnya itu. Dia yakin pasti itu mengenai permintaan kakak iparnya tadi, tetapi Afrin juga tidak bisa ikut campur dia tahu jika permintaan Nayla ada alasannya.


"Tidak ada apa-apa. Aku harap pembicaraanku tadi dengan nuri, tidak ada yang menceritakannya pada siapa pun. Pak Hari mengerti, kan?"


"Iya, Non," jawab Pak Hari dengan menganggukkan kepala.


Sementara Nuri, masih berdiri di depan ruamahnya. Dia merasa bingung, tidak tahu lagi harus melakukan apa. Amanah yang diberikan oleh Nayla, terlalu berat untuk dijalankan.


"Nuri, kamu kenapa berdiri di sana saja?" tegur Umi Salma, ibunya Nuri yang baru datang.


"Umi dari mana?" tanya Nuri sedikit gugup. Apa uminya mendengar kata-kata Nayla tadi.

__ADS_1


"Dari warung depan. Kamu kenapa berdiri di sini? Kenapa tidak masuk?"


"Tidak ada apa-apa, Umi. Tadi lihatin mobil Afrin yang baru saja pergi."


"Kamu diantar sama Arin Kenapa nggak disuruh mampir dulu?" tanya umi sambil melihat jalanan.


"Dia buru-buru, tadi sama kakak iparnya," jawab Nuri berbohong.


"Ya sudah, ayo, masuk!" Mereka pun masuk ke dalam rumah.


*****


"Aydin, bagaimana mengenai dokter yang akan menangani Nayla?" tanya Emran pada putranya setelah mereka selesai meeting.


"Dokter bilang kemungkinannya kecil, tapi apa pun itu, kita harus tetap melakukannya."


"Papa harap kamu siap dengan konsekuensi apa pun itu. Bahkan yang paling buruk sekali pun."


Aydin hanya diam. Pria itu bingung harus melakukan apa. Dia juga kepikiran mengenai permintaan Nayla pada sahabat adiknya. Aydin tahu istrinya itu sudah menyerah pada penyakitnya dan hanya bertahan demi anak mereka.


Pernah Aydin memergoki Nayla menahan kesakitannya di tengah malam. Dia ingin memeluk istrinya saat itu, tetapi dia tahu wanita itu pasti tidak ingin siapa pun tahu, jika dia tengah menahan sakit.


Sejak hari itu, Aydin tidak tega memaksa keinginannya pada wanita itu, tetapi dia juga tidak rela jika harus kehilangan istrinya itu untuk selamanya. Pria itu masih ingin tertawa dan membesarkan anaknya bersama-sama.


"Kamu harus kuat demi anak dan istrimu," ucap Emran.


Hanya kata-kata penyemangat yang bisa pria itu sampaikan kepada putranya. Dia sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa lagi. Banyak dokter yang sudah didatanginya dan semua mengatakan hal yang sama.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2