
Roni terkejut mengetahui jika ada yang tahu dia ayah dari Nayla. Pria itu menatap Aydin dari ujung kepala hingga ujung kaki. Roni berpikir ada hubungan apa pria ini dengan putrinya? Dilihat dari penampilannya, pria yang ada di hadapannya ini, pasti orang kaya karena pakaian yang dipakainya terlihat mewah.
"Apa hubunganmu dengan Nayla? Kenapa kamu mencariku?" tanya Roni dengan menatap Aydin.
"Sebelumnya perkenalkan dulu, nama saya Aydin. Saya ingin berbicara dengan bapak. Kiranya Bapak ada waktu untuk berbicara sebentar dengan saya," ucap Aydin.
Dia tidak mungkin berbicara sambil berdiri seperti sekarang. Apalagi saat ini mereka berada di rumah orang lain. Pasti membahasnya di sini sangat tidak nyaman untuk mereka berdua.
"Baiklah, kamu tunggu saja di luar. Nanti aku akan menemuimu."
"Baik, Pak. Saya tunggu di luar."
Aydin dan Arya kembali keluar, mereka menunggu Roni di teras rumah. Sebenarnya Arya sangat penasaran apa yang terjadi. Dia pun memberanikan diri bertanya pada Aydin.
"Pak Aydin ada urusan apa sama Roni dan juga gadis yang bernama Nayla? Sepertinya tadi Roni begitu terkejut mendengar nama Nayla."
"Hanya urusan pribadi, Pak Arya. Rasanya tidak etis saya mengatakan semuanya."
Arya berpikir, jika gadis yang bernama Nayla itu mungkin memiliki hubungan dengan Aydin dan Roni berusaha merebutnya atau malah sebaliknya.
Tidak berapa lama yang ditunggu pun datang, Roni sudah rapi berbeda dengan penampilannya tadi, kini jauh lebih muda dan lebih fresh. Tidak tampak jika dia sudah memiliki putri yang akan menikah.
"Sebaiknya kita berbicara di luar saja. Kamu bawa mobil, motor atau naik taksi?" tanya Roni.
"Saya bawa mobil. Itu mobil saya," jawab Aydin dengan menunjuk mobilnya.
"Ayo, kita pergi!" Robi berlalu begitu saja tanpa mengatakan satu katapun pada Arya. Membuat pemilik rumah mendengus kesal.
Hubungan mereka memang tidak pernah baik, tetapi diantara keduanya tidak pernah ada yang menyakiti fisik. Hanya saling cibir dan ejek yang selalu mereka lontarkan.
"Tuan Arya, Saya permisi dulu. Saya ada urusan dengan Pak Roni," pamit Aydin.
"Iya, silakan. Sebaiknya Anda berhati-hati pada parasit itu," sindir Arya yang ditanggapi dengan senyum oleh Aydin.
Pria itu pergi meninggalkan rumah Arya dengan menggunakan mobilnya bersama dengan Roni. Ayah Nayla mengamati setiap sudut mobil itu. Dia semakin yakin jika pria yang ada di sampingnya ini, pasti pria kaya dan dia harus memanfaatkannya.
Roni mulai memikirkan rencananya untuk memanfaatkan Aydin. Pasti sangat banyak yang bisa dia dapatkan nanti.
"Kita bicara di mana?" tanya Roni.
"Terserah Pak Roni saja mau di mana."
__ADS_1
"Saya belum makan, sebaiknya carikan restoran yang enak dan mahal," ucap Roni dengan angkuh.
"Baik, Pak." Aydin melajukan mobilnya menuju restoran yang terkenal di daerah itu. Dia tidak ingin membuat calon mertuanya ini kecewa.
*****
"Assalamualaikum," ucap Emran yang baru saja pulang kerja.
"Waalaikumsalam, Papa pulang sendiri? Aydin mana?" tanya Yasna sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Dia masih berusaha mencari calon mertuanya."
"Kenapa tadi nggak pulang dulu? Apa dia sudah makan?"
"Dia sudah besar, Sayang. Kalau lapar juga dia bisa makan di luar."
"Bunda, kalau kakak sudah menemukan ayah Kak Nayla, apa mereka akan segera menikah?" tanya Afrin.
Dia penasaran dengan kelanjutan hubungan kakaknya dan Nayla. Afrin senang kalau Aydin bisa menikah dengan pujaan hatinya. Akan tetapi, gadis itu merasa tidak enak pada Vania karena mereka cukup dekat. Apalagi Afrin sering ditraktir olehnya saat pergi ke mall.
"Kamu tanyakan saja sama kakak kamu. Bunda ngikut aja. Bunda malah seneng kalau mereka segera menikah jadi, Bunda ada temennya di rumah saat kalian semuanya sibuk."
"Kak Nayla juga pasti akan sibuk. Dia, kan, punya butik."
"Kalau Bunda mau cari kegiatan. Bunda bisa ikut Papa ke kantor. Di sana Bunda bisa pijitin Papa," sahut Emran yang hanya ingin menggoda sang istri saja.
"Itu malah tambah bikin pusing, yang ada kepala Bunda makin sakit, kalau pergi di kantor lihat kertas bertumpukan," gerutu Yasna membuat mereka tertawa.
"Bunda jangan diajak ke kantor, Pa. Lebih baik Bunda pergi aja ke toko nenek. Pasti di sana lebih seru. Bunda bisa berkreasi di sana," usul Afrin.
"Nah, kalau itu Bunda setuju. Bunda lebih suka berada di tokonya nenek, bisa bekerja sambil refreshing di sana."
"Bunda kenapa tidak bikin toko kue saja?" tanya Afrin.
Semua orang tahu, bagaimana senangnya Yasna saat membuat kue. Rasanya juga tidak perlu diragukan lagi. Beberapa kali juga Rani membagikan ke tetangga karena majikannya itu membuat dalam porsi yang banyak.
"Kalau dibolehin sama papa kamu, sudah dari dulu Bunda buka toko kue. Tanya sama Papa kamu, kenapa enggak boleh," jawab Yasna sambil melirik suaminya.
"Kenapa Bunda tidak boleh buka toko kue, Pa?" tanya Afrin pada Emran.
"Lebih baik Bunda kamu di rumah saja. Tidak apa-apa bikin dapur berantakan, asal jangan capek-capek kerja. Uang Papa masih banyak buat bunda belanja," jawab Emran sekaligus menyombongkan diri membuat Yasna mendengus.
__ADS_1
"Iya juga, sih. Uang Papah nggak akan ada habisnya," sahut Afrin. "Ya sudah, Bunda, terima nasib punya suami kaya, tidak usah capek-capek kerja. Aku nanti juga mau cari suami kaya biar bisa shopping seharian. Nggak usah capek-capek kerja."
"Kamu dengar itu, Sayang. Kamu harusnya dengar ucapanku, lebih baik kamu pergi shopping, habisin uang aku. Kalau sudah habis, kamu boleh buka toko kue."
Ucapan Emran semakin membuat Yasna kesal. Dia bukan wanita boros, yang bisa menghabiskan uang dalam hitungan menit, membeli barang-barang yang hanya akan dijadikan pajangan. Dia lebih suka berkreasi dengan apa yang dimilikinya.
"Itu mah, sama aja bohong. Uang Papa buat beli satu mall juga nggak bakalan habis," sahut Yasna dengan cemberut. "Sudah sana mandi! Bau tahu."
"Walau belum mandi, dari tadi Bunda juga nempel-nempel sama Papa," sahut Emran.
"Mana ada! Dari tadi Bunda biasa saja."
"Pake nggak mau ngaku."
"Sudah sana mandi!"
"Iya, Sayang." Emran segera berlalu memasuki kamarnya, diikuti Yasna. Wanita itu akan menyiapkan keperluan mandi sang suami dan juga pakaian gantinya.
*****
"Apa yang ingin kamu bicarakan tentang Nayla?" tanya Roni.
Disebuah ruangan di restoran itu, hanya ada mereka berdua. Aydin sengaja memesan ruangan private agar mereka bisa leluasa berbicara, tanpa ada orang yang mengganggu ataupun mendengar.
"Saya ingin meminta restu Anda untuk menikahi Nayla."
Roni heran jika pria ini ingin menikah dengan Nayla, kenapa harus meminta restu padanya? Dia sudah lama tidak berhubungan dengan mantan istri dan putrinya.
"Kenapa kamu harus menanyakan padaku? Kenapa tidak pada ibunya saja."
"Karena anda adalah walinya dan karena itu, saya mencari Anda. Lagi pulang Ibu Asih juga sudah meninggal. Tidak ada satu orang pun yang bisa saya mintai restu mungkin ada Bibi Rini dan Om Doni, tapi mereka tidak punya kuasa atas diri Nayla. Hanya tinggal Anda yang berhak memberi restu kepada kami."
Roni tampak terkejut mendengar jika Asih sudah meninggal. Lama dia tidak mendengar kabar mereka. Pria itu tidak pernah tahu bagaimana keadaan mantan istri dan juga putri kandungnya. Roni terlalu sibuk mencari kesenangan pribadi.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Roni. Dia terlalu malu untuk memanggil nama putrinya. Pria itu tahu kesalahannya sudah terlalu besar kepada mereka dan kini, saat ada seorang laki-laki yang ingin menikahi Nayla, malah datang kepadanya minta restu. Apa Roni berhak memberikan restu? Bahkan selama ini dia tidak pernah melakukan kewajibannya.
.
.
.
__ADS_1
.
.