
Nayla dan Airin berjalan menuju taman yang berada di samping rumah sakit itu. Hari masih pagi, banyak orang yang berjemur demi menyehatkan tubuhnya. Mereka memilih duduk di sebuah kursi yang agak jauh dari keramaian orang-orang. Mereka tidak ingin percakapannya didengar oleh orang lain.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Airin.
Nayla menarik napas sejenak. "Kenapa kamu menyuruh orang untuk menjelekkan nama butikku?"
"Kamu sudah tahu tentang hal itu?"
"Trik yang kamu gunakan itu sudah pasaran. Lain kali gunakan cara yang lebih berkelas. Lagian orang yang kamu suruh juga sudah mengakuinya."
"Kamu hebat, ya. Bisa mengetahuinya dengan cepat dan mudah."
Entah itu pujian atau sindiran. Nayla tidak peduli yang dia inginkan hanya mengatakan pada wanita yang ada di sampingnya jika saat ini Nayla bukanlah wanita yang lemah. Dia wanita yang kuat dan siap menghadapi apa pun yang akan menghalanginya.
"Kenapa kamu tidak melaporkan aku ke polisi kalau kamu tahu tentang kejadian yang sebenarnya?"
"Apa perlu aku melaporkannya? Aku rasa percuma aku melakukannya karena ku yakin, kamu akan tetap melakukan kesalahan lagi dan lagi."
"Kamu tahu apa tentang diriku? Kamu terlalu percaya diri." Airin tidak terima, dia merasa diremehkan. Gadis iti memas bersalah, tetapi apa perlu direndahkan seperti ini?
"Kamu itu orang yang tidak pernah belajar dari kesalahan. Kamu sudah pernah dipecat dari perusahaan dan juga sudah diputuskan oleh Mas Aydin. Bahkan keluargamu juga pasti sudah menasehatimu. Mereka menanggung malu atas apa yang kamu lakukan, tetapi kamu tidak sekali pun merasa bersalah dan tetap melakukan kesalahan lalu, bagaimana aku bisa memberimu hukuman sedangkan nasehat orang tuamu saja tidak pernah kamu dengar."
Arini terdiam, memang benar dia masih melakukannya. Entah itu karena terpaksa atau memang tidak ada jalan keluar lainnya. Seolah dia hanya bisa berputar di lingkungan itu. Tempat yang menjadikannya seorang wanita hina di bumi ini.
"Kamu tidak akan pernah mengerti, apa yang aku rasakan karena kamu orang kaya," ucap Arini.
"Dan kamu tidak akan mengerti, apa yang sudah aku lalui hingga sampai di titik ini," balas Nayla yang tidak ingin kalah dari Airin.
__ADS_1
Airin menatap Nayla seolah bertanya apa maksud dari ucapannya. Selama ini dia melihat gadis itu dalam keadaan baik-baik saja lalu, apa maksud dari kata lalui itu apa?
"Kamu tidak tahu, kan, kalau aku dulu juga orang miskin. Bahkan aku dan ibuku sampai diusir dari rumah karena tidak bisa membayar hutang. Kami luntang-luntung di jalanan mencari belas kasihan seseorang, agar mau menampung kami dan saat itu kami bertemu dengan sahabat ibu. Untungnya masih ada orang yang baik. Dia mau membantu kami. Dia menampung kami selama satu tahun dan selama itu aku bekerja keras membanting tulang begitupun dengan ibu. Apa pun dia lakukan agar kami bisa mendapatkan uang. Dia juga tidak membiarkanku putus sekolah," ujar Nayla. "Jangan kamu pikir, hanya kamu yang menderita. Banyak orang di luar sana yang jauh lebih menderita daripada kamu. Jangan hanya karena penderitaan kamu menjadikannya alasan untuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Maaf jika aku terlalu menceramahimu. Aku hanya ingin mengatakan jika bukan hanya kamu yang menderita di dunia ini."
Nayla tahu jika apa yang dikatakannya pasti akan menyinggung Arini, tetapi gadis itu tidak peduli. Dia hanya mengatakan apa yang dirasakannya. Terserah jika wanita itu tersinggung.
"Sebaiknya kamu pulang. Kehadiranmu di sini hanya membuat kepalaku semakin pusing dengan segala permasalahan yang kuhadapi."
"Seperti yang aku ucapkan tadi, percuma berbicara denganmu," ucap Nayla. "Baiklah, aku pergi. Aku harap kata-kataku masih kamu ingat dengan baik. Assalamualaikum." Naila segera berlalu tanpa menunggu jawaban dari Airin.
"Waalaikumsalam," jawab Airin yang tidak mungkin didengar oleh Nayla karena Gadis itu sudah jauh dari tempat itu.
Airin merenung sejenak. Memang benar jika dirinya terlalu banyak mengeluh, tetapi bukankah itu wajar disaat dirinya hidup dengan serba kekurangan.
Bahkan saat ini ayahnya dalam keadaan kritis dan membutuhkan banyak uang. Akan tetapi kedua orang tuanya menolak pemberiannya dengan alasan uang haram. Entah bagaimana pengobatan ayahnya nanti.
Pintu ruangan Aydin diketuk oleh seseorang, saat pria itu sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya.
"Masuk!" seru Aydin dengan suara sedikit keras.
Pintu ruangan terbuka, tampaklah seorang wanita dengan pakaian yang begitu seksi memasuki ruangan. Sebenarnya Aydin merasa tidak nyaman berada dalam satu ruangan bersama dengan seorang wanita, tetapi dia tidak mungkin mengusir wanita itu.
"Maaf mengganggu waktunya, boleh bicara sebentar," ucap seorang wanita yang tidak lain adalah Vania.
"Silakan duduk, mau bicara apa?" tanya Aydin.
Vania berjalan menuju tempat duduk yang berada di depan meja kerja Aydin, dengan gaya yang dibuat seanggun mungkin. Dia berusaha menarik perhatian pria itu. Namun, sayang Aydin justru merasa ilfeel.
__ADS_1
"Aku dengar kamu akan menikah. Kenapa mendadak sekali?" tanya Vania.
"Tidak mendadak juga, semuanya memang sudah diatur sebelumnya."
"Aku curiga, jangan-jangan gadis itu sedang hamil duluan, ya? Apa kamu yakin kalau anak yang ada dalam kandungannya itu anak kamu?" tanya Vania dengan nada mengejek.
Aydin mengepalkan tangannya. Dia tidak menyangka wanita seperti Vania bisa berpikir seperti itu. Pergaulannya yang bebas mungkin membuatnya berpikir demikian. Vania menyamaratakan semua wanita seperti yang ada di sekitarnya.
"Jaga ucapanmu, Nayla tidak seperti yang kamu pikirkan. Dia wanita yang baik-baik. Jika kedatanganmu ke sini hanya untuk menghina orang, kamu salah tempat."
"Aku hanya menebaknya saja karena tiba-tiba kamu akan menikah, tanpa ada berita sebelumnya. Siapa yang tidak curiga? Aku yakin banyak orang yang berpikiran sama sepertiku. Aku bahkan tidak tahu seperti apa wajah calon istrimu."
"Aku rasa tidak, hanya orang-orang yang berpikiran sempit yang berpikir seperti itu. Jodoh, rezeki dan maut, semua diatur oleh Tuhan. Tidak ada yang bisa menyangkal jika memang itu yang harus terjadi," sahut Aydin. "Dan juga, tidak ada kepentingan untukmu melihat seperti apa calon istriku."
"Bolehkah aku tahu alasan kamu menolak aku? Sudah berkali-kali aku datang padamu. Sudah aku lakukan berbagai cara agar kamu tertarik padaku, tapi kamu seolah semakin menjauh. Awalnya aku pikir, kamu bukan orang yang mudah untuk jatuh cinta. Mungkin kamu akan menikah di usia tiga puluh atau empat puluh tahun, tapi aku tidak menyangka kamu bisa secepat ini menikah dengan orang yang bahkan tidak aku ketahui sama sekali dan aku yakin kamu juga pasti baru mengenalnya."
"Justru itu yang membuat aku tidak tertarik padamu."
"Maksudmu?" tanya Vania, Dia menatap Aydin dengan mengerutkan keningnya. Wanita itu tidak mengerti apa maksud dari kata-kata pria yang ada di depannya ini.
.
.
.
.
__ADS_1
.