
"Mbak Rani suka nggak sama Kak Ivan?" tanya Afrin dengan memberikan tatapan menggoda ke arah ART-nya.
"Non Afrin, apaan, sih? Saya itu bukan siapa-siapa, nggak mungkin saya sampai berpikiran ke sana. Apalagi Mas Ivan itu ganteng orangnya, pasti juga kaya. Sedangkan aku, kan, cuma seorang pembantu," sahut Rani.
Siapa yang tidak tertarik dengan Ivan? Termasuk Rani, tetapi bagi wanita itu, semua hanya angan semata. Dia tidak memiliki kepercayaan diri yang besar untuk mengharap cinta seorang laki-laki. Apalagi sekelas Ivan, itu sangat jauh dari jangkauannya.
Sebagai seorang asisten rumah tangga, dia cukup tahu diri, siapa yang akan menjadi jodohnya. Seperti pria yang sudah dipersiapkan ibunya di kampung.
"Nggak boleh gitu! Yang namanya jodoh dan rezeki orang itu, tidak ada yang tahu," ucap Afrin. "Eh, Mbak Rani tadi ngaku juga kalau Kak Ivan ganteng!"
Afrin menaik turunkan alisnya. Dia semakin ingin menggoda Rani, membuat asistennya salah tingkah.
"Mbak jangan ngada-ngada. Saya juga nggak mau bermimpi terlalu tinggi. Takut jatuh, Non."
"Tapi kalau jodoh beneran, Mbak Rani, enggak nolak, kan?"
Rani tidak tahu harus berkata apa lagi. Anak majikannya ini sungguh tidak bisa membuatnya berpikir. Lebih baik dia pergi atau akan lebih banyak lagi pertanyaan yang disampaikan Afrin.
"Saya masih punya banyak kerjaan, Non. Saya mau ke dalam dulu," ucap Rani mencoba menghindari pertanyaan dari majikan itu.
Dia segera masuk ke rumah. meninggalkan anak majikannya sendiri di teras. Sementara Afrin terkekeh melihat Rani yang salah tingkah.
"Kenapa sih, Sayang?" tanta Yasna yang baru saja keluar.
"Nggak ada apa-apa, Bunda. Hanya saja, itu Mbak Rani salah tingkah waktu aku bilang tentang Kak Ivan."
"Memangnya Ivan beneran suka sama Rani?"
"Bunda tahu?"
"Dari gelagatnya, sih, tapi Bunda nggak bisa mastiin."
"Dari yang aku lihat juga begitu, Bunda, tapi enggak tahu lah, biar saja itu menjadi urusan mereka sendiri."
Ponsel afrin berdering, tertera nama Mama Merry di sana. Wanita itu yakin jika mertuanya pasti ingin menanyakan tentang keberadaannya kini. Mudah-mudahan saja dia tidak mendapat masalah karena ini.
"Aku angkat dulu, Bunda. Mungkin Mama khawatir semalam kami nggak pulang."
"Iya."
Afrin pun memilih pergi ke kamarnya untuk mengangkat panggilan. Dia takut jika Mama Merry mengatakan sesuatu yang tidak enak dan di dengar oleh Yasna. Pasti nantinya akan menjadi masalah.
"Assalamualaikum," ucap Afrin dengan duduk diatas ranjang.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," ucap Mama Merry yang berada di seberang telepon. "Kamu semalam tidak pulang?"
"Iya, Ma, kata Mas Khairi semalam kami pulangnya terlalu larut jadi, pulang ke rumah Bunda. Saat itu aku tidak tahu karena aku sudah tertidur. Tahu-tahu pas bangun sudah ada di rumah."
Afrin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada mertuanya. Dia tidak ingin disalahkan atas apa yang tidak diperbuatnya.
"Nanti malam kamu pulang ke sini, kan?" tanya Mama Merry.
"Insya Allah, nanti nunggu Mas Khairi pulang."
"Khairi kerja?"
"Iya, Ma. Aku habis ini juga mau kuliah, ada kelas pagi."
"Ya sudah, kalau begitu. Mama tutup teleponnya. Nanti bilang sama Khairi suruh pulang ke sini!"
"Iya, Ma. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Panggilan pun terputus.
"Bagaimana, Ma?" tanya Hamdan saat istrinya mematikan ponselnya.
"Khairi kerja, Pa. Afrin juga ada kuliah hari ini."
"Iya, Pa. Tadi Mama juga aku bilang sama Afrin minta mereka pulang ke sini. Mama juga mau minta maaf sama Afrin."
Merry tidak mau kehilangan keluarga yang dimilikinya saat ini, sudah cukup dia kehilangan anak kandungnya karena anaknya lebih memilik ikut bersama mantan suami. Meski hubungan mereka baik-baik saja hingga kini, tetapi rasanya pasti berbeda dengan saat tinggal bersama.
*****
Afrin merasa heran dengan sikap Mama Merry. Dari suaranya, mertuanya itu sepertinya sudah melunak. Tidak mau terlalu pusing memikirkannya Afrin memilih bersiap pergi ke kampus. Untung saja dia ada di rumahnya jadi, dia bisa menggunakan mobilnya. Jika di rumah mertuanya, pasti harus mencari tukang ojek.
"Assalamualaikum, selamat pagi! Apa kabar, pengantin baru?" sapa Zahra pada Afrin yang baru datang.
"Waalaikumsalam, sahabatku yang cantik dan baik hati. Kabarku baik-baik saja," sahut Afrin sambil tersenyum.
"Bagaimana, Frin?" tanya Zahra begitu Afrin duduk di sampingnya.
"Bagaimana, apanya?" tanya afrin balik karena dia tidak mengerti apa yang dimaksud sahabatnya itu.
"Malam pertama," bisik Zahra.
"Kalau itu urusan rumah tangga orang, nggak baik diumbar-umbar."
__ADS_1
"Aku, kan, cuma mau tahu saja."
"Sama saja, enggak boleh. Kalau mau tahu cepetan nikah." Afrin terkekeh membuat Zahra cemberut.
"Ada penghianat nih, yang bahagia di atas penderitaan orang lain," ucap seseorang yang baru datang. Siapa lagi kalau bukan Vira.
"Siapa memangnya penghianat di sini?" tanya Afrin sambil menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Kayaknya, tidak ada," sahut Zahra.
"Baguslah, kalau di sini tidak ada."
"Kalian itu pura-pura bodoh atau benar-benar bodoh, sih! Yang aku maksud itu kamu, siapa lagi? Kamu sudah merebut tunanganku dan menikahinya. Sebelumnya kamu mengatakan kamu sudah membatalkan acara pernikahan itu, tapi nyatanya apa? Kamu tetap menikah dengannya."
"Dengar, ya! Kalau aku tidak tahu kebusukan kamu, aku pasti akan menyesal karena sudah menyia-nyiakan pria sebaik Khairi. Tuhan masih baik padaku dengan menunjukkan siapa kamu sebenarnya."
"Maksud kamu apa?" tanya Vira.
"Kamu sudah memiliki kekasih, kan? Jadi, kamu bisa bersenang-senang dengannya lagi,"
"Ke—kasih siapa? Aku tidak punya kekasih!" sahut Vira dengan gugup.
"Terus, lima hari yang lalu. Kamu ajak ke restoran itu siapa? Aku melihat dan mendengar semuanya dengan jelas," ucap Afrin yang kemudian mendekati Vira dan berbisik, "kalau kamu sering bermalam dengannya."
Vira melototkan matanya. Bagaimana bisa ada orang yang melihatnya? Jelas-jelas yang dia masuki adalah restoran yang biasanya hanya ditempati para pebisnis atau orang yang sudah berusia.
"Apa maksud kamu?" tanya Vira dengan suara rendah.
"Apa, Vir? Kamu ngomong apa, sih? Aku nggak kedengeran. Tadi saja ngomongnya sambil teriak-teriak, kenapa sekarang jadi melempem?" tanya Afrin sekaligus menyindir Vira.
"Kamu cari masalah sama saya?" geram Vira.
"Apa? Aku nggak dengar," ucap Afrin dengan mendekatkan telinganya ke Vira. Dia memang sengaja melakukan itu untuk mengejek temannya itu. Afrin menolehkan kepalanya ke arah Vira dan lebih mendekat lagi.
"Sebaiknya kamu segera pergi dari sini. Kalau tidak, seluruh kampus akan tahu siapa kamu sebenarnya," bisik Afrin dengan tersenyum jahat.
Kedua tangan Vira mengepal dengan kuat hingga membuat kukunya memutih. Dia berjanji akan membuat perhitungan dengan Afrin. Tanpa banyak berkata lagi, wanita itu segera meninggalkan kelas.
.
.
.
__ADS_1
.