Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
263. S2 - Menuju Halal (Ivan)


__ADS_3

Yasna memutar bola matanya malas. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh suaminya. Bagaimana bisa pria itu berpikir jika Yasna sedang digoda oleh pria. Umurnya saja sudah hampir setengah abad.


"Sayang, kok, diam saja, sih?" tanya Emran karena Yasna tidak menjawab pertanyaannya.


"Tidak ada apa-apa, Mas. Aku cuma capek saja mau istirahat," jawab Yasna beralasan.


"Ya sudah, kamu istirahat saja. Hati-hati, ya, Sayang. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," sahut Yasna segera mematikan sambungan telepon. Wanita itu menghela nafas panjang membuat Afrin menoleh ke arahnya.


"Ada apa, Bun?" tanya Afrin yang berada di sampingnya.


"Tidak ada, hanya papa kamu saja yang terlalu berlebihan. Di sini Bunda dikira ada yang godain. Umur saja sudah tua begini."


"Walaupun Bunda sudah tua, tapi Bunda masih cantik. Pantas saja kalau Papa takut Bunda digodain sama laki-laki yang ada di sini," sahut Afrin membela papanya dengan menahan tawa.


"Tapi, menurut Bunda, itu terlalu berlebihan," ucap Yasna. "Bunda mau mandi dulu, cuma ini di dalam kamar tidak ada kamar mandinya. Pasti ada di luar. Bunda ke luar dulu."


Setelah Yasna keluar, kini ponsel Afrin yang berdering. Segera wanita itu mengangkatnya.


"Halo, assalamualaikum. Ada apa, Mas?"


"Waalaikumsalam, Sayang. Kok ada apa, sih! Aku kangen tahu," rengek Khairi.


"Ya ampun, Mas. Ini tuh belum ada sehari, baru beberapa jam saja."


"Tapi aku sudah kangen sama kamu."


"Ya sudah, kalau begitu. Susulin ke sini sekarang ."


"Tidak enak sama Ivan, dong, Sayang, kalau begitu."


"Kalau begitu, tunggu saja sampai besok," sahut Afrin cekikikan.


Dia tahu jika suami kini sedang kesal. Sejak kapan pemimpin perusahaan itu jadi manja? Afrin memijit pelipisnya.

__ADS_1


"Kamu di sana nggak ada yang godain, kan, Sayang?" tanya Khairi membuat Afrin tertawa.


"Kok kamu ketawa, sih, Sayang! Aku tanya serius tahu."


"Iya, kamu lucu. Aku saja baru datang. kamu sudah tanya ada yang godain apa nggak," jawab Afrin berbohong.


Padahal dia menertawakan Khairi karena pertanyaannya sama seperti papanya, tetapi dia tidak ingin mengatakan tentang Emran. Bisa-bisa besok mereka akan saling ejek satu sama lain. Mereka para pria terkadang juga bisa seperti perempuan.


"Ya, kali aja, ada yang godain istriku yang cantik ini," goda Khairi membuat pipi Afrin bersemu merah.


"Nggak ada, Mas. Lagi pulang di sini juga semuanya sudah ibu-ibu dan bapak-bapak. Aku nggak tertarik juga."


"Berarti kalau masih muda, tertarik dong?" tanya Khairi yang semakin membuat Afrin tertawa.


"Mas, kamu itu kayak nggak kenal aku. Nggak mungkin aku berpaling ke hati yang lain. Cuma kamu yang sudah menguasai hatiku," ucap Afrin untuk menyenangkan suaminya. "Sudah, ya, Mas. Aku mau istirahat dulu. Badan aku capek sekali dari perjalanan tadi."


"Oh, iya. Ya sudah, kamu istirahatlah. Mimpi yang indah, kalau perlu mimpiin aku, ya!"


"Iya, suamiku, Sayang," sahut Afrin yang membuat Khairi tersenyum. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Afrin segera memutuskan sambungan telepon lalu, merebahkan tubuhnya Dia memang benar-benar capek.


Setelah subuh, Khairi segera meluncur ke apartemen Ivan karena memang mereka akan berangkat habis subuh agar sampai rumah Rani tidak terlambat. Acara akad nikah akan dilangsungkan pukul 07.00. Khairi lebih dulu menjemput mertuanya karena semalam Emran menelponnya agar berangkat bersama.


Sementara Aydin dan Nayla tidak ikut karena Nuri sedang tidak enak badan. Saat Khairi dan Papa Emran sampai di apartemen Ivan, semua orang sudah berkumpul di sana. Hanya tinggal menunggu sang pengantin pria yang masih ada di kamar.


"Ini mau berapa lama sih, Tante? Kenapa Ivan belum keluar juga? Bisa terlambat kita di acara akad nikahnya nanti," tanya Khairi pada Mama Ivan.


"Tante juga tidak tahu kenapa Ivan lama sekali. Sebentar, biar sepupunya yang manggil." Mama Ivan pun meminta seseorang untuk memanggil Ivan. Mereka harus segera berangkat, kalau tidak, akan terlambat nanti di acara akad nikah. Tentu saja hal itu tidak diinginkan oleh semua orang.


"Ngapain aja kamu? Lama banget? Dari tadi enggak keluar-keluar. Kita nanti terlambat terus kamu gagal nikah, bagaimana?" tanya Khairi menggerutu saat melihat Ivan keluar.


"Iya, Tuan, ini juga sudah selesai, kan!"


"Iya, itu juga karena di panggil, kalau tidak, kamu masih aja ngerem di dalam kamar," ucap Khairi dengan sinis. Dia benar-benar kesal pada asistennya. Pria itu sudah kangen sekali dengan istrinya, tetapi pengantin malah lambat. Khairi merasa Ivan memang sengaja.

__ADS_1


"Sudah, sudah, ayo, kita berangkat sekarang!" tegur mama Ivan. Mereka semua menaiki mobil dan menuju kampung Rani.


Sementara di rumah pengantin wanita, semuanya sudah siap, pengantin pun sedang dirias oleh MUA terkenal di daerah itu. Sedari tadi Rani gelisah. Dia benar-benar gugup hari ini. Tidak tahu harus berbuat apa. Dulu wanita sering mengejek teman-temannya yang selalu mengatakan gugup saat menikah, tetapi kini Rani merasakannya sendiri kegugupannya.


Afrin menemaninya di kamar. Wanita itu berusaha untuk menenangkan pengantin wanita. Namun, tetap saja masih gugup.


"Mbaknya mau jadi kembar Mayang?" tanya perias pada Afrin.


"Tidak, Mbak. Bisa-bisa nanti acara pernikahannya hancur," tolak Afrin.


"Kenapa?" tanya penata rias itu kebingungan.


"Suami saya pasti akan ngamuk di sini karena istrinya menjadi pusat perhatian," jawab Afrin dengan menahan tawa, membuat Rani juga ikut menahan tawa.


"Oh, Mbak, sudah menikah? Kirain belum, maaf ya, Mbak."


"Tidak apa-apa, santai saja," sahut Afrin dengan tersenyum.


Detik demi detik berjalan begitu cepat, hingga rombongan keluarga Ivan sampai juga di rumah Rani. Semua orang terpana dengan kedatangan mereka. Mobil yang mereka pakai semua mobil mewah, tidak ada satu pun mobil yang murah. Apalagi minibus yang sering mereka pakai saat rombongan pengantin seperti ini.


Bisik-bisik dari para tetangga mengenai kedatangan pengantin pria tiada hentinya. Dari yang menuduh Rani menggodanya hingga hal-hal yang negatif mereka lontarkan. Keluarga Rahmi sudah memperkirakan akan terjadi hal seperti ini. Mereka juga tidak ambil pusing, biar saja semua orang membicarakannya, Rani juga tidak melakukan apa pun. Ivan sendirian yang datang melamar.


Tidak berapa lama, pak penghulu akhirnya datang, acara pun segera dimulai.


"Di mana pengantin wanitanya?" tanya penghulu.


"Iya, Pak, sebentar lagi keluar," sahut kerabat Rani dan memang benar, Rani masih berjalan menuju tempat yang akan dijadikan akad nikah.


Semua mata terpana melihat kecantikan pengantin wanita. Dia memang tidak pernah berdandan, apalagi warga kampung juga sudah lama tidak melihatnya. Baru satu minggu yang lalu Rani pulang, itu pun dia selalu di dalam kamar, tidak keluar sama sekali. Banyak yang iri terhadap apa yang didapat oleh Rani bukan hanya orang lain, para sepupunya juga merasakan hal yang sama.


Jangan tanya bagaimana reaksi Ivan, dia sama sekali tidak berkedip. Hingga teguran dari pak penghulu menyadarkannya dan membuat semua orang tertawa.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2