Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
288. S2 - Belum ada petunjuk


__ADS_3

"Apa sebegitu bengseknya Papa di mata Mama? Aku memang bukan pria yang baik, tapi bukan berarti aku akan meninggalkan istri dan memilih masa lalu. Maaf jika apa yang kulakukan selalu membuat hati Mama terluka, tapi sungguh tidak ada niat sama sekali untuk melakukan itu. Papa mencintai Mama, hanya Mama yang ada dalam hatiku kini. Nur hanyalah masa lalu. Kalau memang nanti aku dekat dengannya, itu murni bentuk rasa bersalah dan permohonan maafku. Tidak ada cinta untuknya. Semua perasaanku hanya untuk Mama," ujar Hamdan.


Air mata Merry semakin deras. Dia tidak menyangka akan mendengar sesuatu yang dia tunggu. Wanita itu terharu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Hamdan. Merry berjanji tidak akan menyia-nyiakan apa yang sudah didapatkannya.


Jika nanti Nur datang, dia akan mempertahankan apa yang dimilikinya. Mudah-mudahan saja wanita itu tidak mengusik rumah tangga Merry dan mereka bisa menjadi teman.


"Papa sedang tidak berbohong, kan? Itu bukan untuk menyenangkanku saja, kan?" tanya Merry sesenggukan.


"Lihat Papa, apa Papa terlihat sedang berbohong?" tanya Hamdan dengan menatap sang istri.


Merry segera memeluk Hamdan. Dia menangis di dada bidang suaminya yang sudah tidak kokoh lagi. Wanita itu berharap ini bukanlah kembang tidur yang bisa layu dan gugur seiring berjalannya waktu.


Begitu pun dengan Hamdan, Dia berharap istrinya bisa percaya padanya. Mereka bukanlah anak muda lagi yang bisa putus nyambung dalam sebuah hubungan. Umur mereka tinggal menunggu waktu. Harapan keduanya hanya bisa menghabiskan waktu bersama hingga tutup usia.


"Mama harus percaya pada Papa kalau cinta papa hanya untuk Mama," ucap Hamdan dengan suara seraknya karena menahan tangis.


"Aku percaya, sangat percaya. Papa jangan mengkhianati Mama. Mama tidak memiliki siapa pun selain Papa," ujar Merry yang masih dalam pelukan sang suami.


Hamdan mengangguk sebagai jawaban untuk istrinya. Keduanya larut dalam air mata, semoga setelah ini hanya ada air mata bahagia diantara mereka.


*****


"Mas, tadi bicara apa saja sama Papa?" tanya Afrin saat mereka dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


"Hanya ingin tahu bagaimana perasaan Papa dan apa yang akan dilakukannya sekarang dan nanti saat Mama Nur ditemukan," jawab Khairi.


Afrin mengangguk, pasti sangat sulit berada diposisi Papa Hamdan. Dia melirik ke arah sang suami dan kembali ke jalanan sambil berpikir, bagaimana jika pria itu ada diposisi papanya?


"Mas, kalau kamu diminta memilih, kamu pilih siapa? Mama Merry atau Mama Nur?" tanya Afrin tanpa melihat ke arah suaminya. Dia terus melihat ke depan seolah jalanan lebih indah dipandang.


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Khairi dengan menyernyitkan keningnya.


"Hanya ingin tahu saja apa pilihan kamu, aku juga penasaran, kira-kira Papa akan memilih siapa? Secara hubungannya dengan Mama Nur masih belum selesai."


"Aku sangat mengenal Papa. Meski hubungannya dengan Mama Nur belum selesai, tapi baginya dia tetap masa lalu dan Mama Merry adalah masa sekarang dan masa depan. Apalagi sekarang Papa juga mencintai Mama Merry."


Afrin menganggukkan kepala, itu bukan urusannya. Apa pun pilihan keluarga mertuanya, dia hanya bisa memberi dukungan tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Kalau kamu sendiri, apa yang akan kamu lakukan jika sudah bertemu dengan Mama Nur?" tanya Afrin lagi.


Khairi memang sudah merencanakan hal itu. Sebenarnya dia juga ingin tinggal dengan Mama Nur, tetapi pria itu menghargai perasaan Mama Merry dan papanya. Mereka akan merasa tersisih jika Khairi melakukan hal itu.


Mobil mereka memasuki halaman rumah. Keduanya turun untuk membersihkan diri dan akan kembali ke rumah sakit.


*****


Satu bulan telah terlewati, Papa Hamdan juga sudah pulang dari rumah sakit. Namun, hingga kini detektif yang disewa oleh Khairi belum menemukan petunjuk. Semua orang yang dulu pernah tinggal di panti pun, tidak ada yang tahu keberadaan Nur Aini. Hanya ibu panti yang tahu, tetapi sayangnya beliau sudah meninggal.

__ADS_1


Menurut salah satu orang yang pernah tinggal di sana. Sebelum pergi Nur dibekali alamat oleh ibu panti. Namun, tidak ada yang tahu alamat siapa yang ada di kertas yang diterima Nur. Bahkan orang kepercayaan ibu panti pun tidak diberitahu.


Khairi hampir putus asa, tetapi Afrin selalu memberi motivasi agar sang suami tetap semangat pada tujuannya mencari ibu kandungnya. Memang tidak mudah mencari orang yang hilang bertahun-tahun.


"Mas, Bunda minta kita buat datang ke rumah. Kita sudah satu bulan ini tidak ke sana. Kalau, Mas, tidak bisa, aku bisa datang sendiri," ucap Afrin pada suaminya.


"Bisa, kok, Sayang. Aku nggak ada acara."


"Ya sudah, ayo, kita siap-siap!" seru Afrin senang. Sebenarnya sudah dari kemarin dia ingin ke rumah bundanya, hanya tidak enak untuk pamit untuk ke sana disaat suaminya sedang ada masalah.


Mereka pun bersiap untuk pergi. Saat berjalan ke luar ada Mama Merry yang menegurnya. Dia sedang menonton acara televisi bersama sang suami.


"Kalian mau ke mana? Rapi sekali, mau dinner romantis?" tanya Mama Merry menggoda.


"Tidak, Ma. Kami mau ke rumah papa sama bunda, sudah lama kami tidak ke sana," jawab Khairi.


"Oh, Mama kira kalian mau jalan-jalan. Ya sudah, titip salam sama orang tua kamu ya, Frin!"


"Iya, Ma," sahut Afrin tersenyum. Dia tadi mengira Merry akan melarangnya, ternyata tidak.


Khairi dan Afrin pun pamit pada Merry dan Hamdan. Keduanya segera meluncur menggunakan mobil yang dikemudikan oleh pria itu. Jalanan masih ramai padahal waktu sudah menjelang petang. Kesibukan manusia memang tidak ada habisnya.


Tidak berapa lama akhirnya mereka sampai juga di rumah keluarga Emran. Afrin memasuki rumah terlebih dahulu dengan berlari kecil. Pintu rumah yang belum tertutup memudahkan wanita itu masuk. Khairi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku istrinya.

__ADS_1


Memang benar, sebesar dan setua apa pun seseorang, setiap mereka ada di samping orang tuanya, pasti akan bersikap layaknya anak kecil yang ingin dimanja. Sayangnya itu tidak berlaku untuk Khairi. Didikan yang tegas dari papanya, menjadikan dirinya pria yang dingin dan kaku terhadap orang tua. Padahal dia juga ingin seperti orang lain juga.


Terkadang pria itu merasa iri pada Afrin yang bisa mengungkapkan begitu besar rasa sayang dan cinta pada Papa dan bundanya. Khairi juga ingin seperti itu, tetapi setiap ingin melakukannya, ada rasa malu yang begitu besar hingga membuat dia mengurungkan niatnya.


__ADS_2