
"Assalamualaikum," ucap Afrin yang baru saja pulang dari sekolah.
"Waalaikumsalam," sahut Mbak Rani.
"Bunda mana, Mbak?"
"Ada di kamar, Non. Dari pagi nggak keluar," jawab Rani.
Afrin mengangguk. Meski keanehan masih dia rasakan. Gadis itu akan berusaha membuat bundanya seperti sebelumnya, tapi Afrin ingin membersihkan diri dulu sebelum menemui Yasna.
"Aku ke kamar dulu, ya, Mbak?" pamit Afrin.
"Iya, Non."
Afrin segera pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu dia pergi menuju kamar Yasna. Gadis itu ingin bercerita dengan bundanya. Afrin mengetuk pintu berkali-kali, hingga terbuka dan tampaklah Yasna di sana.
"Sayang, sudah pulang?"
"Sudah, Bunda lagi ngpain?"
"Lagi baca buku saja. Lagi bosan, nggak ada kerjaan."
"Aku mau cerita sama Bunda. Boleh, kan?"
"Tentu boleh, mau di mana? Di sini atau di taman?"
"Di taman saja, Bunda. Lebih enak," jawab Airin.
"Ya sudah, ayo, ke sana!" Yasna merangkul pundak Afrin dan berjalan bersama.
Mereka pergi menuju taman di samping rumah. Yasna dan Afrin duduk di sebuah kursi panjang yang memang disediakan untuk bersantai. Gafis itu merebahkan kepalanya di pangkuan bundanya, mencari kenyamanan dan kehangatan dalam pangkuan wanita itu.
"Mau cerita apa? Katanya tadi mau cerita?" tanya Yasna sambil mengusap rambut Afrin yang panjang.
"Aku kesel, deh, Bunda. Di sekolah ada kakak kelas yang mencoba merayuku."
"Wah, anak Bunda semakin gede. Sudah ada yang godain."
"Aku nggak suka, Bunda. Dia itu buaya, sudah punya pacar tapi selingkuh sama teman pacarnya."
"Masih SMA sudah selingkuh?"
"Begitulah, Bunda mangkanya aku tidak suka."
__ADS_1
"Memangnya kamu sudah ada laki-laki yang kamu sukai?"
"Nggak ada. Aku maunya sekolah dulu terus kerja. Aku nggak mau pacaran seperti, yang Bunda katakan, nanti malah tambah dosa."
"Bunda seneng dengernya, kalau Afrin mau mendengar apa yang Bunda katakan. Afrin juga mau menerapkannya."
"Aku akan selalu mendengarkan apa yang dikatakan Bunda. Karena aku yakin, apa pun yang Bunda katakan, pasti untuk kebaikan aku."
"Kamu sudah ada gambaran mau kuliah di mana dan mau kerja apa?"
"Aku mau kerja--." Belum selesai Afrin menjawab pertanyaan Yasna. Ada seseorang datang.
"Assalamualaikum." seseorang memotong pembicaraan Afrin dan Yasna. Siapa lagi kalau bukan Aydin, dia lebih dulu sampai daripada emran karena dia menggunakan motor.
"Kakak, kok, sudah pulang? Ini masih siang."
Rasa bersalah Aydin kembali muncul saat melihat Yasna menatapnya. Dia segera berlari dan bersujud di depan bundanya sambil memeluk kaki wanita itu.
"Ada apa, Aydin? Kamu kenapa seperti ini?" tanya Yasna yang merasa terkejut dengan apa yang dilakukan Aydin. Dia juga mencoba melepaskan kakinya yang dipeluk Aydin.
"Maafin aku, Bunda. Maaf sudah mengucapkan kata-kata yang sudah sangat menyakiti Bunda."
"Kamu kenapa, sih? Bunda sama sekali nggak ngerti kamu bicara apa?"
"Aku tahu Bunda mendengarkan apa yang aku katakan sama papa kemarin. Bunda pasti sakit hati mendengarnya. Maafin aku, Bun."
"Aku tidak pernah bermaksud seperti itu, Bunda. Itu hanya kata-kata yang keluar saat aku sedang emosi. Aku sangat menyayangi Bunda," lanjut Aydin.
"Sudah kamu berdiri dulu, jangan seperti ini," ucap Yasna sambil mencoba melepaskan pelukan Ayden di kakinya. Namun, Aydin hanya menggeleng dengan air mata yang menetes.
Emran pun akhirnya sampai juga. Dia melihat putranya yang bersujud di depan Yasna. Pria itu memaklumi hal itu karena Emran tahu, Aydin sudah sangat menyakiti hati istrinya dan itu juga bentuk rasa bersalah putranya.
"Bunda sudah maafin, kok. Ayo, jangan seperti ini! Berdiri dulu." Akhirnya Aydin berdiri. Yasna menuntunnya agar bisa duduk bersama.
"Ayo, sini! Duduk dulu."
Mereka duduk di kursi yang panjang itu. Yasna duduk diapit oleh kedua anaknya. Sementara Emran duduk di samping Afrin.
"Memang benar, Bunda mendengar semua percakapan kamu dengan papa kemarin. Jujur Bunda juga kecewa mendengarnya. Ternyata selama ini apa yang Bunda berikan, tidak mampu membuat status Bunda berubah dan memang seperti itu kenyataannya. Seharian ini Bunda berpikir, sekeras apapun Bunda berusaha, tetap saja status Bunda sebagai ibu sambung, tidak akan pernah berubah menjadi ibu kandung. Bunda mengerti itu jadi, kamu tidak perlu merasa bersalah."
Air mata Aydin semakin deras begitu pula dengan Yasna dan Afrin. Gadis itu juga tahu semuanya. Dia juga kecewa mendengar kata-kata kakaknya, tapi Afrin tahu kalau kakaknya saat itu sedang marah.
"Tapi, aku tidak bermaksud seperti itu, Bunda."
__ADS_1
"Iya, Bunda mengerti. Bunda juga minta maaf karena terlalu memaksa kamu. Selama ini, Bunda lihat kamu tidak dekat dengan siapa pun jadi, Bunda pikir karena kamu tidak memiliki kekasih. Saat itu Bunda bertemu dengan Nayla. Dia sangat sopan dan mandiri. Bunda kira kamu mau berkenalan dengan seorang wanita yang Bunda kenalkan. Itu saja."
"Bunda, sebenarnya aku sudah memiliki kekasih. Hanya saja aku masih ingin meyakinkan hatiku. Apakah dia tepat untukku atau tidak karena aku dan dia belum begitu mengenal. Masih banyak yang belum aku ketahui tentang dirinya."
"Kenapa kamu nggak bilang? Maafin, Bunda, ya. Bunda nggak tahu."
"Bunda nggak perlu minta maaf. Aku hanya masih menunggu waktu yang tepat."
"Sudah tidak apa-apa. Lebih baik sekarang, kita lupakan semuanya. Anggap saja tidak ada masalah kemarin dan kalau kamu sudah yakin dengan dia, nanti kenalkan sama Bunda, ya."
"Iya, Bunda. Aku akan kenalkan sama Bunda. Mudah-mudahan bunda suka sama dia."
"Apapun pilihan kamu, Bunda pasti akan dukung kalau memang dia yang terbaik untuk kamu."
"Papa juga minta maaf sama Bunda. Mungkin Papa juga tidak sengaja menyakiti hati Bunda."
"Tidak ada yang perlu untuk dimaafkan atau meminta maaf. Papa juga nggak melakukan apapun, kan?" sahut Yasna.
"Ayo, kita peluk Bunda!" seru Afrin. Semuanya segera memeluk Yasna dan tertawa bersama.
Kejadian ini memberi pelajaran untuk mereka. Bahwa untuk kedepannya mereka harus bisa mengendalikan emosi dan juga saling terbuka.
"Eh, kalian semua pulang ke rumah jam segini apa sudah makan siang?" tanya Yasna mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Belum, Bun," jawab Aydin.
"Ya sudah, Bunda masak dulu, kalau begitu."
"Tidak perlu, Bunda. Bagaimana kalau kita makan siang di luar saja. Jarang-jarang, kan, kita makan siang bersama," usul Afrin. Dia sebenarnya juga menginginkan kebersamaan mereka di luar.
"Kamu enak, Dek. Semua orang sudah tahu tentang kamu. Bagaimana dengan kakak?" protes Aydin.
"Salah sendiri kenapa nggak dibongkar sekalian."
"Kamu sekarang gitu, ya. Sudah terbuka semuanya sekarang kamu ngejek Kakak."
"Biarin, wlek," ejek Afrin dengan menjulurkan lidahnya.
"Sudah, sudah, Papa setuju dengan Afrin. Kita makan siang bersama di luar. Nanti Papa pesan ruang privat biar kamu bisa sembunyi," sahut Emran sekaligus mengejek Aydin.
.
.
__ADS_1
.
.