
"Sayang, ayo, kita pulang! Sudah malam," ucap Emran dengan mendekati sang istri yang sedang berbicara dengan Rini.
"Iya, Mas. Sampai lupa waktu," sahut Yasna. "Mbak Rini, kami pamit pulang dulu, ya! Mbak Rini tidak boleh berpikiran yang aneh-aneh. Saya juga sayang sama Nayla."
"Iya, Mbak."
"Ayah, Ibu. Ayo, pulang! Aydin, Afrin, ayo!" ajak Yasna.
"Iya, Bunda," sahut Afrin dan Aydin bersamaan.
"Nay, Bunda pulang dulu," pamit Yasna sambil memeluk Nayla.
"Iya, Bunda. hati-hati," sahut Nayla.
Keluarga Emran pergi meninggalkan rumah keluarga Doni. Dalam perjalanan, Emran ingin bertanya kepada istri dan anaknya, mengenai pembicaraan mereka di kamar tadi.
"Kalian tadi membicarakan apa sama Nayla?" tanya Emran.
"Papa, tanya aja sama anak papa itu," jawab Yasna.
"Kak!"
"Aku cuma cerita sama Nayla, kalau ayahnya meminta aku membelikan mobil untuknya. Aku hanya ingin jujur pada dia agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari."
"Lalu, apa jawaban Nayla?"
"Dia sudah tahu dari ayahnya, tapi dia tetap marah sama aku. Entah dia mau hukum apa nanti. Dia juga minta aku, buat narik lagi mobil yang aku kasih sama ayahnya."
Emran menganggukkan kepalanya. Itu urusan mereka, dia tidak berhak ikut campur. Aydin dan Nayla sudah cukup dewasa untuk menyelesaikannya. Pria itu juga bangga pada putranya yang mau berkata jujur meski dengan risiko pertunangan mereka gagal.
*****
Hari ini butik terlihat ramai pengunjung. Hingga membuat Nayla ikut turun tangan melayani pembeli. Namun, tiba-tiba suasana dihebohkan dengan teriakan seorang wanita, yang sedang marah-marah kepada Fika, pegawai Nayla.
Terlihat Fika menjelaskan pada wanita itu, tetapi tidak didengarnya. gadis itu juga mengangguk beberapa kali, pertanda mengiyakan apa yang wanita itu katakan.
"Kamu itu seharusnya bisa menjaga kualitas. Bagaimana bisa butik yang bagus ini menjual baju yang sudah sobek!" teriak wanita itu memarahi Fika.
Nayla yang berada tidak jauh dari tempat mereka pun mendekat. Dia ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Butik ini adalah miliknya jadi, gadis itu harus bertanggung jawab.
"Maaf, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nayla dengan sopan.
"Kamu lihat ini, kalian sudah menjual baju yang sudah sobek seperti ini!" ucap wanita itu dengan nada tinggi.
Nayla melihat baju itu. Memang benar sobek, tapi bukan karena sobekan, melainkan karena memang sengaja digunting. Dia yakin pasti ada seseorang yang sengaja ingin melakukannya, entah tujuannya apa.
__ADS_1
"Tapi, Mbak. Semua baju ini sudah saya teliti sendiri sebelumnya dan tidak ada yang sobek. Mbak bisa lihat, ini memang sengaja di gunting bukan sobek." Nayla mencoba memberi pengertian, berharap agar wanita itu tidak marah-marah lagi, tetapi gadis itu salah. Justru kemarahannya semakin menjadi.
"Maksud kamu apa? Jadi, pegawai kamu yang sengaja menggunting baju ini? Atau kamu sendiri yang mengguntingnya?"
"Sebentar, Mbak." Nayla mengambil ponsel yang berada di kantong bajunya. Dia mencoba memeriksa sesuatu.
Setelah beberapa menit, mengotak-atik ponsel. akhirnya dia mengetahui apa penyebabnya. Nayla berusaha meredam emosinya. Gadis itu tidak ingin mencoreng nama butiknya, yang sudah dia bangun dengan susah payah.
"Sebentar, Mbak. Saya akan menelepon polisi terlebih dahulu," ucap Nayla.
"Kenapa kamu bawa-bawa polisi?" tanya wanita itu dengan sedikit panik.
"Tidak apa-apa, Mbak. Saya hanya ingin mencari kebenaran. Biar polisi yang turun tangan. Saya tidak ingin terjadi kekerasan di butik saya." Nayla berusaha bersikap seolah-olah tidak tahu siapa pelakunya.
"Tidak perlu menghubungi polisi. Jelas-jelas kalian yang bersalah."
"Apa Mbak punya buktinya?"
"Ini buktinya," jawab wanita itu dengan memperlihatkan baju yang sobek.
"Itu bukan bukti yang akurat, Mbak. Saya lebih punya bukti yang lebih akurat, siapa pelakunya," ucap Nayla dengan yakin.
Nayla memperlihatkan video yang berada di dalam ponselnya. Semua pengunjung juga melihat video tersebut. Saat wanita yang marah-marah tadi masuk kemudian dengan sengaja menggunting baju tadi.
Wanita itu terlihat panik, ternyata kejahatannya telah diketahui. Semua orang yang berada di sana juga tidak menyangka dengan apa yang dilakukan wanita itu. Mereka memandangnya dengan sinis.
"Sudah laporkan saja dia ke kantor polisi," sahut pengunjung lainnya.
"Jangan, jangan laporkan saya ... saya hanya diperintah oleh seseorang untuk membuat nama butik ini jelek," sahut wanita itu.
Dia ketakutan, banyak orang yang harus dia beri makan di rumah jika wanita itu dipenjara, bagaimana nasib mereka. Siapa yang akan memberi makan? Wanita itu berharap masih ada kebaikan dari pemilik butik.
"Siapa yang sudah menyuruh Anda?" tanya Nayla.
"Saya tidak tahu namanya siapa. Dia tadi memberi saya uang dan meminta saya untuk membuat nama butik ini jelek."
"Mbak, masih ingat bagaimana ciri-ciri orang yang sudah membayar Mbak?"
"Iya," jawab wanita itu sambil menerawang. "Rambutnya sedikit panjang, tingginya sama seperti saya. Dia memiliki tahi lalat di bawah mata yang kiri."
Nayla menatap wanita itu, dia memikirkan kemungkinan siapa pelakunya. Selama ini gadis itu tidak memiliki musuh, kecuali dulu saat masih sekolah.
"Terima kasih, Mbak. Sepertinya saya sudah tahu siapa pelakunya dan buat Mbak. Lain kali jangan melakukan hal yang bisa merugikan orang lain dan Mbak sendiri. Bisa saja saya melaporkan Mbak ke kantor polisi, tapi saya tidak akan melakukannya. Saya tahu, Mbak pasti sedang membutuhkan uang."
"Terima kasih, Mbak. Sudah sangat baik sama saya. Mengenai gaun itu, biar saya yang memggantinya. Uang dari Mbak tadi juga banyak."
__ADS_1
"Tidak perlu, saya sudah ikhlas menerimanya. Mungkin itu bukan rezeki saya. Lagi pula saya tidak mau menerima uang hasil dari hal yang tidak baik."
Rezeki sudah ada yang mengatur. Nayla percaya akan hal itu. Seberapa keras orang ingin menjatuhkannya jika Tuhan tidak berkehendak, maka tidak akan bisa.
Semua orang yang berada di sana merasa tersentuh dengan apa yang Nayla lakukan. Mereka tidak menyangka jika gadis itu bisa memaafkannya. Dia mempunyai hati yang begitu baik, padahal di luar sana sangat banyak remaja yang mudah tersulut emosinya.
"Terima kasih, Mbak. Saya pamit dulu," ucap wanita itu saat akan pergi. Namun, Nayla mencegahnya karena ada sesuatu yang belum dia lakukan.
"Maaf, Mbak sebelumnya. Mbak belum minta maaf sama pegawai saya. Tadi Anda sudah marah-marah sama dia, padahal dia tidak melakukan kesalahan apa pun," ucap Nayla.
Meskipun Fika pegawai di sini, tapi dia juga harus membela harga dirinya. Nayla juga sudah menganggap gadis itu seperti saudara.
"Iya, maaf, Mbak. Tadi saya sudah marah-marah sama mbak," ucap wanita itu pada Fika.
"Iya, Bu. Tidak apa-apa. Bu Nayla saja memaafkan Anda kenapa saya tidak," sahut Fika.
"Saya juga minta maaf sama, Mbak. Maaf sudah punya niat buruk ingin menjelekkan butik Anda. Terima kasih atas kebaikan hati kalian. Saya pergi, assalamualaikum," pamit wanita itu.
"Waalaikumsalam."
Wanita itu pergi meninggalkan butik dengan menundukkan Kepala. Dia terlalu malu dengan apa yang sudah dilakukannya. Wanita itu bersyukur pemilik butik tidak melaporkannya pada polisi.
"Ibu-ibu, maaf sudah mengganggu waktunya. Silakan dilanjutkan kembali memilihnya," ujar Nayla.
"Iya, Mbak." Semua orang kembali sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Sementara Nayla memikirkan, bagaimana caranya bertemu dengan orang yang sudah berniat menjatuhkan butiknya. Dia juga tidak mengenal wanita itu, bertemu juga baru sekali.
"Mbak Nayla, sebaiknya istirahat saja. Ini sudah waktunya makan siang," ucap Fika membuyarkan lamunan Nayla.
"Oh, iya, Fik. Aku sampai lupa. Aku keluar dulu, beli makanan untuk kalian juga."
"Tidak apa-apa, Mbak. Kami bisa beli sendiri." sela Fika yang merasa tidak enak.
"Jangan seperti itu. Tunggu, ya!" Nayla segera pergi meninggalkan butik membelikan makanan untuk Fika dan temannya yang bernama Via.
Nayla memang selalu membelikan pegawainya makan siang. Bagi dia itu termasuk tanggung jawabnya sebagai pemilik butik.
.
.
.
.
__ADS_1
.