
"Nyonya Khairi sekarang sadis, ya!" sindir Zahra.
"Iya, dong! Kalau tidak, mereka akan menindasku. Lagi pula, ada yang aku banggakan juga, kan! Kecuali kalau aku memang sama busuknya seperti dia."
"Wah, kata-kata yang kejam," ucap Zahra. "Tapi aku suka melihatmu seperti tadi. Aku kira kamu bakal diam saja seperti biasa."
"Nggak lah, kemarin itu Afrin. Sekarang aku adalah Nyonya Khairi, akan ada banyak batu sandungan yang akan menghalangi jalanku jadi, aku harus kuat untuk menyingkirkan mereka."
Afrin memang sudah memikirkan hal ini sebelumnya, bahwa dia akan merubah diri agar kuat dan tidak terlihat lemah dihadapan orang lain. Wanita itu juga ingin terlihat pantas jika disandingkan dengan suaminya.
"Iya, aku setuju sama kamu."
"Sudah, enggak usah dibicarakan lagi. Malah nambah dosa kita saja."
"Iya, sebentar lagi dosen masuk."
Afrin dan Zahra kembali duduk di tempatnya. Mahasiswa lainnya mulai berdatangan, hingga memenuhi ruangan.
****
"Assalamualaikum," ucap Afrin saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam."
"Eh, ada Bik Rahmi! Sudah lama, Bi?" sapa Afrin.
"Baru saja, Non. Saya ingin menjemput Rani," sahut Bik Rahmi.
"Kenapa dijemput, Bik?"
"Rani mau saya nikahkan. Di kampung sudah ada yang melamarnya."
"Bukannya Mbak Rani nggak mau?"
"Umur Rani sudah waktunya menikah, Non. Non Afrin saja sudah menikah."
"Setelah Mbak Rani nikah, nggak balik lagi ke sini?"
"Tidak, Non. Kebetulan calon suaminya memiliki kebun yang luas jadi, dia bisa bekerja di kebun saja."
__ADS_1
"Aku nggak mau, Bu. Aku maunya di sini. Lagi pula, dia itu orang yang sombong. Aku nggak mau," tolak Rani dengan meneteskan air matanya.
Dia sudah terbiasa tinggal di kota, bersama dengan keluarga Yasna yang sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Bahkan wanita itu rela tidak digaji asal masih bisa tinggal di rumah itu. Rani bekerja sebagai pembantu, tapi selama ini pekerjaannya selalu dibantu oleh Yasna dan Nayla.
"Itu dulu, sekarang tidak. Dia orang baik," ucap Bik Rahmi mencoba membujuk putrinya.
"Ibu pikir aku anak kecil yg bisa dibohongi? Aku masih berkomunikasi sama teman di kampung. Temanku bilang dia sama saja, masih seperti dulu. Aku nggak mau nikah sama dia. Aku juga nggak mau pulang ke kampung. Aku maunya di sini saja. Aku mau kerja di rumah Bu Yasna," ucap Rani dengan air mata yang semakin deras. "Bu Yasna tolong bantu saya bicara sama ibu."
Rani mencoba meminta bantuan pada majikannya, tetapi Yasna tidak bisa berbuat apa pun karena ini menyangkut masa depan Rani. Bik Rahmi lebih berhak daripada dirinya.
Tanpa semua orang sadari ada dua orang pria mendengar semuanya dari tadi. Saat mereka akan mengucap salam, keduanya mendengar suara orang menangis. Hingga membuat keduanya mengurungkan niatnya dan langsung masuk saja
"Pokoknya, kamu harus tetap menikah dengan Jamal, kecuali kalau kamu sudah memiliki kekasih dan dia bersedia menikah denganmu, maka Ibu tidak akan memaksamu untuk pulang kampung dan menikah di sana."
Rani yang masih menangis pun hanya bisa menggelengkan kepala karena sampai detik ini dia tidak memiliki kekasih, apalagi calon suami.
"Saya mau menikahi Rani, Bu," ucap seorang pria yang tidak lain adalah Ivan.
Semua orang yang berada di sana sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Ivan, tapi tidak dengan Afrin dan Yasna. Keduanya sudah mengira jika memang pria itu memiliki perasaan terhadap Rani.
"Apa maksud kamu? Siapa kamu?" tanya Bik Rahmi.
"Saya adalah sopir Tuan Khairi, suami dari Non Afrin. Saya ingin menikah dengan anak Ibu. Saya mohon jangan bawa dia ke kampung."
"Kami ... kami baru saja jadian, Bu," jawab Ivan berbohong. Dia terpaksa mengatakannya agar Rani tidak dibawa pulang.
"Benar itu Rani? Kamu baru saja jadian dengan dia?" tanya Bik Rahmi pada Rani yang ditanya pun merasa gelagapan. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Saat tatapan matanya berhenti pada Ivan, pria itu menganggukkan kepala yang berarti agar Rani mengiyakan pertanyaan ibunya. Wanita itu masih belum menjawab pertanyaan ibunya.
"Apa dia memang benar dia kekasihmu?" tanya Bik Rahmi sekali lagi.
"Iya, Bu," jawab Rani dengan terpaksa. Mengenai nanti, biarlah itu dia akan pikirkan nanti.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya dari kemarin? Ibu, kan, bisa menolak lamaran Jamal!"
Bik Rahmi senang karena Rani sudah memiliki pilihan sendiri jadi, tidak perlu menjodohkannya dengan Jamal. Akan tetapi, dia bingung harus berkata apa pada keluarga jamal.
"Maaf, Bu, aku yang memang meminta Rani merahasiakannya karena kami tidak ingin hubungan kami mengganggu pekerjaan," sahut Ivan yang berusaha membela Rani.
Bik Rahmi terlihat mengangguk. Sebagai seorang mantan asisten rumah tangga, dia sangat mengerti apa tujuan Ivan. Pria itu memang pandai sekali mencari alasan, tidak heran jika dia menjadi orang kepercayaan Khairi.
__ADS_1
"Kalau begitu kapan kamu mau menikahi putri saya?"
"Bu, itu—" sela Rani yang segera dipotong oleh Ivan.
"Jika Ibu merestuinya, bulan depan saya akan melamar Rani ke rumah ibu," sela Ivan.
Kembali semua orang yang ada di ruangan itu dibuat terkejut. Bahkan Yasna dan Afrin pun sama terkejutnya. Mereka tidak mengira jika Ivan bisa senekat itu. Meski ada rasa senang, tetapi ada juga rasa khawatir jika Ivan hanya mempermainkan Rani.
"Apa kamu bersungguh-sungguh?" Bukan Bi Rahmi yang bertanya, tapi Yasna.
Yasna sudah menganggap Rani seperti keluarganya sendiri Dia tidak rela jika ada seseorang yang mempermainkannya. Wanita itu sangat tahu Rani orang yang baik.
"Tentu, Nyonya. Saya sungguh-sungguh mengatakannya."
"Apa jaminannya jika kamu benar bersungguh-sungguh."
"Anda tentu tahu bagaimana kekuasaan Pak Emran. Anda bisa menggunakannya untuk menghancurkan saya," ucap Ivan dengan sungguh-sungguh. Dia juga tidak pernah bermain-main dengan sebuah hubungan. Apalagi kini umurnya sudah cukup untuk berumah tangga.
Yasna menganggukkan kepala. Sepertinya Ivan memang benar bersungguh-sungguh. Kalau seperti itu dia tidak punya keraguan lagi. Semua keputusan ada pada Bik Rahmi dan Rani sendiri. Terserah mereka mau menerima atau tidak.
"Bagaimana Bik, Rani?" tanya Yasna.
"Kalau saya terserah Rani, Nyonya. Dia yang menjalani rumah tangga ini," jawab Bik Rahmi.
"Kalau saya terserah Bu Yasna. Jika Anda setuju, saya juga setuju," jawab Rani.
"Kenapa kamu malah nyerahin semuanya sama saya?"
"Karena saya sudah menganggap Anda seperti keluarga sendiri. Saya juga yakin dengan pilihan Anda."
Semua orang terdiam menatap Yasna. Mereka menunggu jawaban dari wanita itu. Berharap hanya satu jawaban yang keluar dari bibirnya. Yaitu kata setuju.
"Sebelumnya saya minta maaf, Bunda. Sebagai atasan Ivan, saya akan menjamin jika dia memang bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Jika dia mengingkari, Bunda bisa datang padaku dan melakukan apa pun yang Bunda inginkan," ucap Khairi.
Dia dan Ivan memang bukan saudara, tetapi mereka selalu bersama-sama ke mana pun keduanya pergi. Itu membuat Khairi sangat tahu kepribadian Ivan.
.
.
__ADS_1
.
.