
"Ayo, kita pulang! Ini sudah sangat malam. Nggak enak juga sama ibu kamu," ajak Aydin.
Sudah cukup lama mereka berada di sana menikmati udara malam, yang sebenarnya tidak baik untuk tubuh.
"Iya, Mas." Airin segera beranjak dari tempat duduknya. Mengikuti Aydin yang berjalan lebih dulu.
Mereka berjalan menuju motor Aydin dengan segera. Pria itu melajukan motornya membelah jalanan kota di malam hari menuju rumah sang kekasih. Karena hatinya yang sedang berbunga-bunga perjalanan menuju rumah Airin pun terasa begitu singkat. Padahal Aydin masih ingin berlama-lama dengan gadis itu.
"Kenapa cepat sekali perjalanannya? Aku merasa kita naik motor cuma sebentar," tanya Aydin saat mereka baru sampai di rumah Airin.
"Ah, Mas, bisa saja. Perasaan jalanan masih sama saja tidak berubah mungkin Mas saja yang dari tadi melamun." Mereka sama-sama tertawa.
"Ya sudah, saya masuk dulu. Mas, mau mampir?" tawar Airin.
"Tidak perlu, ini sudah sangat malam."
"Baiklah. Mas, hati-hati, ya."
"Iya, aku pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aydin melajukan motornya dengan diiringi lambaian tangan oleh Airin. Dalam perjalanan pulang pria itu tak henti-hentinya tersenyum. Bahkan sampai di rumah, dia masih sakit tersenyum. Membuat Yasna bertanya dalam hati, apa yang terjadi pada putranya itu? Hingga membuatnya tersenyum.
"Senyum-senyum aja dari tadi, sampai lupa nggak ngucapin salam," tegur Yasna.
"Eh, Bunda. Assalamualaikum." Aydin mendekati Yasna dan segera memeluk bundanya itu.
"Waalaikumsalam, ada apa, sih, Sayang? Sepertinya seneng banget?" tanya Yasna yang sangat penasaran.
"Nggak ada apa-apa, Bunda."
"Kalau nggak ada apa-apa, kenapa senyum-senyum?" tanya Yasna. "Lagi ngehayal apa? Sampai lupa nggak ngucapin salam?"
"Aku lagi senang. Pekerjaanku semua berjalan dengan baik. Itu saja, Bunda," jawab Aydin berohong. Dia tidak ingin mengatakan pada keluarganya dulu, biar saja mereka menjalani hubungan ini dan saling mengenal lebih dalam lagi. Jika hubungan mereka benar-benar baik, maka dia akan menceritakan semua itu pada keluarganya.
"Ya sudah, sana cepat mandi! Kamu sudah makan malam?"
"Sudah, Bunda. Aku masuk dulu."
"Iya, mandi dulu, jangan tidur."
"Iya, Bunda." Aydin segera masuk ke dalam kamarnya.
Yasna menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya. Dia jadi teringat masa mudanya dulu, yang selalu menyusahkan orang tuanya
"Aydin sudah pulang, Sayang?" tanya Emran yang baru keluar dari ruang kerjanya.
"Sudah, Mas, baru saja."
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang saatnya kamu yang istirahat. Pasti kamu juga sudah lelah, dari pagi nggak berhenti ngerjain pekerjaan rumah. Malam juga masih nungguin anak-anak pulang."
"Aku nggak apa-apa. Aku senang-senang saja melakukan pekerjaan rumah."
"Lain kali nggak usah nungguin anak-anak. Mereka sudah besar, lagi pula Aydin juga sudah mengirim pesan sebelumnya."
"Tetap saja aku khawatir, Mas. Aku nggak tenang jika anak-anak belum sampai rumah."
"Sudah, ayo! Aku juga sudah capek." Emran mengajak istrinya ke dalam kamar. Yasna hanya menurut saja, sejujurnya memang dia sangat capek, tapi dia tidak ingin suaminya tahu.
Sementara Aydin yang berada di kamar sedang mengirim pesan pada kekasihnya. Dia memberi tahu jika dia sudah sampai rumah.
*****
Pagi hari semua orang bersiap untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Yasna sedang menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Satu persatu keluarganya turun dan bersiap menikmati sarapan pagi.
"Afrin, hari ini mau bawa bekal lagi, nggak?" tanya Yasna. Pasalnya sudah dua hari Afrin selalu membawa bekal.
"Iya, Bunda."
"Kenapa kamu akhir-akhir ini selalu bawa bekal? Biasanya satu minggu cuma sekali saja. Emangnya di kantin sudah tidak ada yang jual makanan?" cibir Aydin.
"Bukan tidak ada, kakakku yang tampan. Hanya saja aku malas untuk ke kantin," kilah Afrin.
"Kenapa nggak nitip teman kamu saja."
"Kamu bisa saja kalau merayu."
"Aku nggak merayu, aku mengatakan sejujurnya."
"Sudah-sudah kalian ini selalu saja bertengkar. Sekarang habiskan makanannya, kalau nggak habis, Bunda nggak mau masak lagi buat kalian," gertak Yasna.
Kakak beradik itu memang selalu beradu argumen, tapi jika salah satu dari mereka tidak ada. Pasti satunya akan mencari.
"Bunda sekarang sukanya ngancam, ya," gumam Afrin.
"Terserah kalian mau apa. Cepat makan kalian nanti kalian terlambat."
Mereka pun menikmati sarapan pagi bersama. Aydin dan Afrin berangkat lebih dulu. Mereka tidak mau sampai terlambat terutama Afrin. Kalau dia telat sudah pasti tidak akan boleh masuk ke sekolah.
"Dek, ayo, berangkat! Sudah siang ini."
"Iya, kak."
"Papa, nggak ke kantor?" tanya Aydin karena biasanya mereka berangkat di waktu yang sama, tapi sekarang Emran masih terlihat santai.
"Nggak, Papa ada meeting sama Pak Alex di Restoran Kencana jadi, Papa nggak perlu ke kantor. Kan, beda arah," jawab Emran sambil menikmati teh hangatnya.
"Ya sudah, Aydin berangkat dulu, assalamualaikum," pamit Aydin dengan mencium punggung tangan kedua orang tuanya diikuti Afrin.
__ADS_1
"Afrin juga berangkat, Bunda. Assalamuslaikum."
"Iya, hati-hati, waalaikumsalam." sahut Yasna. "Aydin, pelan-pelan saja bawa motornya."
"Iya, Bunda."
Mereka pergi berangkat bersama. Afrin sekarang sudah lebih ceria dibanding kemarin, dia sudah bisa menerima apa yang sudah terjadi padanya.
Tidak menunggu waktu lama, akhirnya mereka sampai di depan sekolah. Afrin turun dan berpamitan pada kakaknya.
"Kakak hati-hati, ya," ucap Afrin.
"Iya, kamu juga jaga diri."
"Iya, Kak." Aydin melajukan motornya meninggalkan Afrin di depan sekolah dengan tersenyum, gadis itu memasuki sekolahnya. Dia berharap hari ini akan baik-baik saja.
Namun, semuanya tidak seperti yang diharapkan. Baru beberapa langkah dia berjalan terdengar ramai suara siswa dan siswi dengan membawa spanduk. Sepertinya mereka sedang berdemo. Airin tidak tahu ada demo apa.
"Itu orangnya!" seru seorang siswa sambil menunjuk Afrin. Mereka semua menatap gadis itu dengan sinis. Afrin yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa berdiam diri.
Meskipun tidak mengerti, tapi saat semua orang menatapnya seperti itu. Dia jadi merasa takut. Gadis itu merasa dirinya kini seorang tersangka.
"Keluarkan dia! Dia bukan wanita baik-baik. Mau jadi apa sekolah ini kalau dihuni oleh siswi seperti dia!" teriak salah satu siswi.
Ternyata mereka sedang berdemo untuk mengeluarkan Afrin dari sekolah. Gadis itu sangat terkejut mendengarnya, dia tidak tahu apa kesalahannya. Kenapa dia dikeluarkan?
"Apa maksud kamu mengatakan hal itu? Aku bukan wanita yang seperti kalian tuduhkan. Aku sama sekali tidak pernah mengganggu hidup kalian!" teriak Afrin.
"Kamu memang tidak mengganggu hidupku, tapi bagaimana keluarga orang yang kamu rebut suaminya?" sahut Livy.
"Saya tidak pernah merebut suami siapapun! Kalian hanya salah pahan!" teriak Afrin karena dia sudah tidak tahan lagi.
Selama beberapa hari ini, dia sudah berusaha untuk menahan semua yang mereka tuduhkan padanya, tapi hari ini semuanya sudah tidak bisa dibendung.
"Jangan pura-pura sok polos. Kamu Itu simpanan orang kaya, kan? Buktinya selama ini kamu selalu bisa memenuhi semua kebutuhan sekolah di sini. Padahal ini sekolah elite," ucap Livy.
Jika dipikirkan secara saksama, memang tidak masuk akal, tapi bukankah rezeki seseorang juga bisa datang di waktu yang tidak bisa ditentukan.
"Apa maksudmu mengatakan kalau dia simpanan pria kaya?" suara seorang pria yang baru datang, mmbuat semua orang beralih menatapnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1