
"Mbak Rani di apartemen sendirian, Kak?" tanya Afrin pada Ivan saat mereka dalam perjalanan menuju kampus.
"Iya, Non," jawab Ivan.
"Pasti membosankan," gumam Afrin. "Apa Kak Ivan tahu Mas Khairi mau ke mana? Kok, minta Kak Ivan buat nganterin aku?" tanya Afrin.
"Saya kurang tahu, Non. Saya hanya diminta untuk menjemput dan mengantar ke kampus," jawab Ivan seadanya karena memang itulah yang terjadi. Dia bukan orang yang suka ikut campur dalam urusan atasannya. Pria itu hanya melaksanakan apa yang diperintahkan saja. Sejujurnya Ivan pun sama seperti Afrin yang penasaran dengan apa yang dilakukan oleh atasannya, tetapi kembali lagi, itu bukan urusannya.
"Terima kasih, ya, Kak Ivan, sudah anterin aku. Nanti enggak usah dijemput. Aku ada kelas tambahan, nggak tahu pulangnya jam berapa?" ucap Afrin saat mereka sudah sampai di depan universitas tempat wanita itu menimba ilmu.
"Iya, Non." Afrin turun dari mobil dan meninggalkan Ivan. Dia menuju ke ruang kelasnya. Ternyata di sana sudah ada temannya, Zahra.
"Ada apa ini dengan Nyonya Khairi? Kenapa mukanya ditekuk gitu?" tanya Zahra menggoda.
"Tidak apa-apa, hanya lagi bete saja. Masa aku ke kampus dianterin sama asistennya Mas Khairi! Padahal dia di rumah lagi cuti. Ada mobil juga yang nganggur. Aku, kan, bisa nyetir," gerutu Afrin membuat Zahra terkikik geli mendengarnya.
"Ya ampun, gitu aja udah ngambek. Kak Khairi mungkin sedang ada urusan. Dia itu sayang sama kamu dan gak ngebiarin kamu berangkat sendiri. Makanya dia minta orang lain. Lagian pria itu juga bukan orang lain, kan? Dia suami Mbak Rani."
"Ya sudahlah, terserah dia, yang penting aku sampai kampus," sahut Afrin yang kemudian membuka bukunya.
*****
Sementara itu Khairi yang berada di rumah, mengumpulkan semua orang di ruang keluarga, kecuali Papa Hamdan yang sedang istirahat. Ada yang harus dia sampaikan sebelum pria itu benar-benar pindah ke rumah ini. Khairi tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Apalagi jika itu mengenai istrinya.
Pria itu sudah berjanji pada keluarga Afrin akan menjaga wanita itu. Bahkan jika tidak ada janji pun dia akan tetap menjaganya. Benar apa yang dikatakan Papa Hamdan kemarin. Sejak mengenal Afrin kehidupan Khairi banyak berubah, lebih tenang dan damai. Pria itu pun tidak mudah terpancing emosinya, kecuali jika itu mengenai keluarganya.
"Ada apa Khairi? Kenapa kamu minta semua orang berkumpul di sini?" tanya Mama Merry.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku sampaikan, Ma," jawab Khairi dan beralih menatap semua orang. "Sebelumnya kalian semua tentu sudah tahu jika aku dan Afrin akan tinggal di sini. Entah sementara atau seterusnya, aku belum bisa memastikan. Aku hanya ingin mengatakan, selama tinggal di sini aku harap kalian bisa menempatkan posisi diri masing-masing. Perlakukan Afrin layaknya menantu di rumah ini. Aku tidak ingin kejadian seperti sebelumnya terjadi lagi. Jika itu sampai terjadi, kalian tentu tahu konsekuensinya. Kali ini aku tidak akan main-main. Kalian semua mengerti, kan?" tanya Khairi.
"Mengerti, Tuan," sahut Pak Jono, satpam di rumah Papa Hamdan. Sementara yang lain hanya diam saja.
"Meski hanya satu orang yang menjawab, aku anggap kalian semua mengerti. Kukira hanya itu saja yang kusampaikan. Aku harap kalian mengerti ... kalian bisa kembali ke tempat masing-masing." Semua orang pun bubar. Hanya tinggal Merry dan Khairi di sana.
"Apa Afrin setuju untuk tinggal di sini?" tanya Mama Merry setelah semua orang tidak terlihat.
"Setuju, Ma, dia tidak keberatan tinggal di mana pun asal tinggalnya bersama denganku," jawab Khairi membuat Mama Merry diam.
Dia tidak lagi bertanya. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah televisi yang menyala. Sejujurnya dalam hati dia bertanya, apa Afrin sungguh-sungguh mau tinggal di sini? Mengingat apa yang sudah dialaminya. Akan tetapi, Khairi sudah mengatakan akan tinggal di sini. Dia pun tidak punya pertanyaan lagi.
"Aku harap Mama juga tidak menyulitkan Afrin selama dia di sini," ucap Khairi tanpa melihat ke arah mamanya.
"Mama tahu itu, sebelumnya Mama memang melakukan kesalahan, tapi bukan berarti seterusnya Mama juga melakukan hal yang sama," sahut Mama Merry.
"Aku harap seperti itu karena aku tidak ingin melakukan sesuatu yang tidak kuinginkan terhadap Mama."
"Tentu, aku memiliki tanggung jawab padanya jadi, aku harus mendukung istriku."
"Jangan lupa kamu juga masih ada tanggung jawab pada orang tua."
"Memang benar, tapi tanggung jawab mendidik anak masih tetap tanggung jawab orang tua. Aku sendiri tidak berhak mendidik orang tuaku. Aku hanya berhak mengingatkan. Sedangkan untuk istriku, sampai akhir napas, dia tanggung jawabku dalam segala hal. Aku tidak mungkin, kan, mendisiplinkan kedua orang tuaku?" tanya Khairi. Mama Merry hanya terdiam, tidak lagi menimpali perkataan putranya.
"Mama mau ke kamar papa. Mau lihat apa papa sudah minum obat apa belum," ucap Merry yang segera berlalu tanpa menunggu jawaban dari Khairi.
Pria itu mengembuskan napas kasarnya. Tidak mau terlalu banyak berpikir, dia memilih pergi menjemput istrinya. Setelah itu, mereka akan pergi ke apartemen untuk membawa beberapa perlengkapan saja. Barangkali mereka akan menginap di apartemen sesekali.
__ADS_1
*****
Bel rumah keluarga Emran berbunyi, Nayla segera keluar membukakan pintu. Biasanya Rani yang melakukannya. Di rumah hanya ada Yasna dan Nayla.
"Assalamualaikum, selamat siang, Bu," sapa seorang wanita.
"Waalaikumsalam, selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya Nayla sambil memperhatikan wanita itu yang terlihat membawa tas besar.
"Kemarin Mbak Rani meminta saya untuk datang ke sini. Katanya Bu Yasna membutuhkan seorang asisten rumah tangga, apa benar?" tanya wanita itu dengan sopan.
"Masuk dulu, Mbak. Saya panggilkan Bunda dulu."
"Iya, Bu. Terima kasih." Wanita tadi pun masuk dan duduk di ruang tamu sementara Nayla masuk ke dalam rumah untuk memanggil Yasna.
"Bunda, di luar ada orang yang Mbak Rani bilang kemarin. Yang mau daftar jadi asisten rumah tangga di sini," ucap Nayla.
"Oh, dia sudah datang? Ayo, kita keluar! Bunda ingin tahu bagaimana orangnya. Apa pantas bekerja di sini atau tidak?" ucap Yasna. "Kamu juga berhak menilainya."
"Iya, Bunda." Mereka berjalan keluar untuk menemui tamu mereka.
Yasna tidak memiliki kriteria khusus untuk calon asisten rumah tangga. Baginya asalkan dia sopan, baik, dan rajin, itu sudah cukup. Tidak peduli bagaimana keadaan keluarganya di desa. Menurutnya itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang akan dilakukan orang yang bekerja dengannya.
Wanita itu sangat selektif dalam memilih pekerja karena itu dulu sebelum Bik Rahmi berhenti Yasna meminta wanita paruh baya itu untuk mencarikan orang yang bisa dipercaya dan orang itu adalah anak Bik Asih sendiri.
.
.
__ADS_1
.
.