Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
196. S2 - Ingin membawa Nuri


__ADS_3

"Ayo, cepat ambil! Nanti diambil Tante." perintah Yasna dengan segera Nuri berjalan menuju Nayla sambil menarik tangan omanya.


Tanpa berkata Nuri mengambil boneka itu dan kembali mendekati Yasna, sambil memeluk apa yang dia dapat. Nayla sedikit tenang, seditaknya gadis kecil itu tidak lagi takut padanya.


"Ayo! Bilang apa setelah dikasih?" tanya Yasna.


"Ima acih," ucap Nuri sambil melihat kearah Nayla membuat wanita itu tersenyum.


"Sama-sama, Sayang."


Gadis kecil itu memainkan boneka baru dengan duduk di atas pangkuan omanya. Yasna memberi kode pada Nayla agar mendekat dan mencoba berbicara.


"Nuri suka bonekanya?" tanya Nayla yang diangguki Gadis kecil itu.


"Mama juga punya mainan lagi. Banyak sekali, itu lihat," ucap Nayla sambil menunjuk semua mainan yang dibelinya tadi.


Nuri mengikuti arah yang ditunjuk Nayla kemudian dia beralih menatap omanya. Yasna mengerti apa yang diinginkan cucunya. Dia hanya menunggu gadis kecil itu berbicara.


"Ma, tu," ucap Nuri pada Yasna sambil menunjuk mainan yang dibeli Nayla.


"Nuri mau?" tanya Yasna yang diangguki gadis kecil itu. "Minta sama mama."


Nuri diam, dia masih enggan berbicara dengan Nayla. Akhirnya gadis kecil itu memilih untuk tidak meminta mainan dan hanya memainkan bonekanya.


"Sabar, pelan-pelan," ucap Yasna yang diangguki Nayla.


"Ini boneka apa namanya? Mama belum tahu?" tanya Nayla lagi.


"Ada."


"Ada? Panda?" tanya Nayla yang diangguki Nuri.


Satu minggu telah berlalu, kini Nuri sudah mulai dekat dengan Nayla, meski saat tidur gadis kecil itu masih mencari Yasna. Beberapa kali istri dari Aydin itu berusaha mengajak anak itu tidur bersamanya. Namun, Nuri selalu menolak.


Yasna selalu berusaha memberi pengertian pada menantunya, agar pelan-pelan dan lebih sabar menghadapi Nuri karena dia gadis yang sangat kerasa kepala. Jangan sampai Nayla menyakiti hati putrinya kalau itu sampai terjadi dia tidak tahu, apa yang akan terjadi.


*****

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Ini data gadis yang Anda minta," ucap Ivan pada atasannya.


"Sekarang kerjamu lambat, ya!" cibir Khairi.


Biasanya kerja Ivan sangat cepat, untuk mencari informasi seseorang hanya membutuhkan waktu satu hari. Akan tetapi ini sudah dua minggu dan Ivan baru mendapatkan informasinya.


"Maaf, Tuan. Dia bukan orang sembarangan, sangat sulit mencari informasi tentangnya," kilah Ivan.


"Bukan orang sembarangan? Memang siapa dia?"


"Dia adalah putri dari Emran Al Husayn. Sebaiknya Anda membaca berkas itu." Khairi terkejut.


Semua orang juga tahu siapa itu Emran, tapi dia juga yakin jika pengusaha itu akan merestuinya, mengingat dia juga seorang pengusaha yang hebat.


"Saya tahu. Saya akan membacanya. Kamu pergilah."


"Baik, Tuan. Saya permisi."


Setelah kepergian Ivan, Khairi membaca semua berkas yang ada di depannya. Dia sangat senang melihat informasi yang asistennya berikan tentang Afrin. Tidak salah jika dia merasa tertarik dengan gadis itu.


"Kita lihat saja nanti. Aku pasti akan bisa mendapatkanmu. Tidak sulit untukku mendapatkan apa yang aku inginkan," gumam Khairi, sambil menatap beberapa foto seorang gadis yang diambil secara diam-diam.


*****


"Sakit apa? Kita sewa perawat saja, bagaimana?" tanya Aydin.


"Tapi, aku ingin merawatnya, Mas."


"Bagaimana dengan Nuri? Dia belum terlalu dekat sama kamu? Dia nggak akan mau," tanya Aydin.


"Justru itu, kalau Nuri hanya bersamaku, dia tidak akan mencari Bunda dan itu akan semakin membuat dia dekat denganku."


"Kamu ingin memaksa Nuri? Kalau dia sakit bagaimana? Kamu tahu, kan kalau dia mudah jatuh sakit?"


Dari arah pembicaraan ini, Aydin mulai mengerti jika Nayla ingin Nuri hanya bersamanya, tetapi gadis kecil itu tidak seperti anak lainnya yang memiliki fisik yang kuat. Kelahirannya yang prematur membuat dia mudah sakit bahkan hanya karena hal yang sepele.


"Kalau Nuri selalu sama bunda, dia tidak akan pernah bisa dekat denganku, Mas!"

__ADS_1


"Lalu kamu pikir bundaku itu seorang pembantu atau baby sitter yang hanya ada saat kita butuhkan? Di mana Ayah kamu saat kamu sakit dan Nuri membutuhkan seseorang untuk menjaganya? Dia hanya sibuk dengan urusan pribadinya untuk menghabiskan uang. Maaf jika aku harus menghina ayahmu, tapi itulah kenyataannya. Bunda yang selama ini ada untuk kita dan selalu menjaga Nuri dan kamu seenaknya ingin membawa dia pergi begitu saja, tanpa memikirkan perasaan bunda? Bunda sudah begitu sayang pada Nuri, dia juga yang membantu kamu untuk dekat dengan anak kita. Sekarang kamu ingin memisahkan mereka. Seharusnya kamu memikirkan bagaimana perasaan bunda!"


Aydin sudah mulai terpancing emosinya. Dia tidak mengerti, kenapa Nayla sekarang berubah? Apa kasih sayang telah membutakannya? Biasanya wanita itu selalu sabar dalam menghadapi masalah apa pun.


"Tapi jika kita selalu di sini. Aku tidak akan pernah bisa dekat dengan Nuri."


"Siapa bilang tidak bisa, kamu lihat aku. Aku bisa dekat dengan Nuri meskipun aku hanya bertemu dengan dia satu bulan sekali. Itu karena apa? Karena aku sangat menyayanginya tanpa harus iri pada siapa pun. Sedangkan kamu, kamu hanya iri sama bunda karena Nuri lebih dekat dengan bunda. Jika kamu tetap ingin pergi dari rumah ini dan merawat Ayah kamu. Silakan pergi, tapi jangan pernah membawa Nuri dari rumah ini."


Aydin segera meninggalkan kamarnya. Baru kali ini dia begitu marah pada Nayla. Sebelumnya pria itu selalu menyayangi sang istri dan mendukung semua keputusannya, tapi kali ini Aydin tidak setuju, dia tidak ingin menyakiti hati Bundanya. Terlalu banyak kesusahan yang pria itu berikan untuk wanita yang sudah membesarkannya.


Setelah kepergian Aydin Nayla duduk di tepi ranjang. Dia juga memikirkan hal itu, tetapi sebagai seorang ibu yang ingin dekat dengan putrinya. Memang benar apa yang dikatakan Ayden, wanita itu iri pada Yasna yang bisa dengan mudah meraih hati Nuri, berbeda dengannya. Meski sudah berusaha, tetapi tidak juga membuat Nayla dekat dengan sang putri.


"Apa aku salah jika ingin membawa putriku? Aku hanya ingin dekat dengannya."


Sementara Aydin memilih menemui Nuri yang saat ini sedang bermain dengan Afrin. Gadis kecil itu terlihat sangat antusias dengan mainannya.


"Hai, Sayang, lagi main apa ini?" tanya Aydin.


"Macak," jawab Nuri singkat.


"Papa mau dimasakin sama putri Papa yang cantik ini, ya?"


Nuri mengangguk dan terus melanjutkan permainannya.


"Bunda, ke mana?" tanya Aydin pada adiknya.


"Lagi keluar sama papa. Katanya mau beli pampers buat Nuri. Pampersnya habis," jawab Afrin sambil ikut bermain dengan ponakannya.


"Kenapa nggak bilang sama kakak? Biar kakak saja yang beli."


"Bunda kira Kakak sudah tahu, tapi sibuk dan nggak sempat beli karena kemarin waktu Kak Nayla gantiin Pampers, dia bilang mau beli jadi, bunda pikir Kakak sudah tahu."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2