
"Assalamualaikum," ucap Aydin memasuki ruangan Nayla diikuti Nuri dan Afrin.
"Waalaikumsalam, kamu datang juga. Aku sudah nungguin dari tadi," ucap Nayla pada Nuri.
"Kakak, bagaimana kabarnya?"
"Sudah lebih baik. Kamu sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah, baik juga. Katanya Kak Nayla mau ketemu sama aku karena ada sesuatu yang penting?"
"Aku cuma mau ketemu sama kamu saja?" jawab Nayla dengan memandang wajah Nuri dengan dekat.
Entah kenapa wanita itu merasa wajah Nuri hari ini terlihat sangat cerah. Gadis itu juga selalu tersenyum. Senyuman yang terasa meneduhkan. Ada sesuatu yang beda padanya, tetapi Nayla tidak tahu apa itu.
"Kenapa Kakak melihatku seperti itu? Apa ada sesuatu yang aneh diwajahku?" tanya Nuri sambil mengusap kedua pipinya.
"Kamu hari ini terlihat sangat cantik. Wajah kamu juga bersinar."
"Kakak terlalu berlebihan. Aku biasa saja. Aku juga tidak pernah perawatan. Tidak seperti kakak yang cantik."
"Cantik nggak harus perawatan, kan? Banyak kok yang cantik alami. Apalagi gadis-gadis seusia kamu."
Mereka mengobrol banyak hal. Afrin juga ada di sana. Gadis itu sengaja tidak ingin memberi waktu kepada Nayla dan Nuri untuk berbicara. Dia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Hingga tidak terasa sudah hampir sore. Nuri harus segera pulang karena sudah pasti Umi dan Abinya akan mencari.
"Kak, aku pamit dulu, ya! Umi sama Abi sudah pasti nyariin."
"Kamu diantar sama Kak Aydin, ya?"
"Tidak usah, Kak. Aku naik taksi saja," tolak Nuri. Gadis itu merasa tidak enak pada Aydin karena merasa merepotkan pria itu.
"Mas, tolong antar Nuri pulang, ya?"
"Aku--"
"Hanya mengantar saja," potong Nayla sebelum suaminya menolak.
"Baiklah," sahut Aydin lalu beralih menatap Afrin. "Kamu di sini saja jagain Kak Nayla dengan baik."
"Iya, Kak. Hati-hati," jawab Afrin.
"Ayo, aku antar!" ajak Aydin pada Nuri.
__ADS_1
Pria itu terpaksa memenuhi keinginan istrinya. Lagipula, gadis itu datang ke sini juga atas permintaan Nayla. Tidak mungkin dia membiarkan Nuri pulang seorang diri.
Mau tidak mau gadis itu akhirnya mengikuti Aydin dari belakang. Saat sampai di mobil, dia ingin duduk di belakang. Namun, Aydin segera menghentikannya.
"Saya bukan sopir kamu, kenapa duduk di belakang?"
"Maaf, Kak. Sepertinya kurang sopan kalau saya duduk di depan," jawab Nuri karena merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, duduk saja di depan."
Nuri mengangguk dan duduk di kursi depan. Beberapa kali gadis itu menarik napas panjang, untuk meredakan debaran jantungnya yang tidak beraturan. Sesekali dia melirik ke arah pria itu.
Aydin melajukan mobilnya, menelusuri jalanan yang sudah cukup ramai dengan kendaraan bermotor. Hujan mulai mengguyur dengan derasnya, hingga membuat pandangan Aydin sangat terbatas dan memelankan mobilnya.
"Nuri, aku minta maaf. Aku pernah marah-marah sama kamu dengan alasan yang tidak jelas," ucap Aydin memecah keheningan.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku mengerti."
"Tetap saja aku yang salah. Tidak seharusnya aku marah-marah sama kamu."
Nuri hanya tersenyum menanggapi. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Aydin pun bertanya beberapa hal yang membuat gadis itu mulai terlihat santai.
Tiba-tiba sebuah cahaya menyorot ke arah mereka, membuat keduanya terkejut karena tahu itu adalah lampu dari sebuah mobil.
BRAK!
Aydin berusaha menghindari mobil yang berjalan kearahnya, tetapi semuanya terlambat. Hingga tabrakan pun tidak terelakkan. Semua terjadi dengan begitu cepat.
"Kak ... Kak ... bangun ... jangan membuatku takut," panggil Nuri dengan menahan sakit diseluruh tubuhnya
*****
Dua minggu telah berlalu. Hari ini Nayla akan menjalankan operasi. Semua persiapan telah selesai, jadwal keberangkatan Nayla ke Singapura pun sudah diatur.
"Pa, Mas Aydin kok nggak pernah datang setelah mengantar Nuri hari itu? Bunda juga nggak pernah datang lagi?" tanya Nayla pada mertuanya.
Beberapa kali Nayla bertanya dan selalu alasan sibuk yang Emran katakan, tetapi hari ini dia akan menjalani operasi. Apakah suaminya itu lebih mementingkan pekerjaan daripada istrinya?
"Aydin sudah ada di Singapura. Dia sedang mengatur semua keperluan untuk operasi kamu. Kalau bunda, kamu tahu sendiri bunda seperti apa. Dia sangat takut saat kamu mendekati hari operasi. Mungkin dia masih ada rasa trauma mengingat kejadiannya dulu," jawab Emraan berbohong.
Tidak mungkin dia mengatakan hal yang sejujurnya kepada Nayla. Bisa-bisa wanita itu akan membatalkan pengobatannya dan Emran akan sangat merasa bersalah pada Aydin.
__ADS_1
"Mbak Nayla, tidak usah banyak berpikir. Sebaiknya Mbak banyak berdoa saja semoga operasinya lancar dan Mbak bisa pergi ke luar negeri menjalani pengobatan," sela Rani.
Sudah dua minggu, wanita itu menemani Nayla atas perintah Emran karena sudah tidak ada yang bisa menemani menantunya, dengan senang hati dia melakukannya. Di rumah juga Rani tidak melakukan apa pun karena tidak ada satu orang pun di sana.
"Permisi, apa Bu Nayla sudah siap?" tanya seorang perawat yang baru saja masuk diikuti dua orang rekannya.
"Sudah," jawab Nayla, meski dalam hatinya wanita itu merasa takut. Tanpa sadar dia mengusap perutnya.
"Mbak Nayla harus percaya pada kekuasaan Tuhan," ucap Rani yang mengerti kegelisahan majikannya itu.
Seorang perawat memindahkan Nayla ke sebuah brankar dan akan membawa wanita itu ke ruang operasi. Emran dan Rani mengikuti mereka dan menunggu di luar ruangan.
Satu jam telah terlewati. Semuanya berjalan dengan lancar. Malaikat kecil itu pun dimasukkan ke sebuah inkubator yang sudah disiapkan sebelumnya.
Emran mengazani cucu pertamanya dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Air mata menetes begitu saja saat melihat wajah tidak berdosa itu. Bayi dengan jenis kelamin perempuan yang sangat cantik.
"Dia sangat cantik, ya, Ran?" tanya Emran pada Rani yang ada disampingnya.
"Iya, Pak. Dia sangat mirip dengan Tuan Aydin," jawab Rani dengan nada sedih.
"Dia pasti sangat senang jika mendengar putrinya sudah lahir dengan selamat."
Rani tidak menjawab. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Musibah datang di keluarga ini silih berganti. Akan tetapi, wanita itu bersyukur semua orang saling mendukung satu sama lain.
Nayla masih belum sadarkan diri. Dokter menyarankan untuk menunggu beberapa saat, untuk mengetahui kondisi pasien setelah operasi, sebelum diberangkatkan ke luar negeri. Mereka juga perlu memeriksa keadaan pasien sebelum meninggalkan rumah sakit.
Emran juga sudah meminta pada pihak rumah sakit, agar ada seorang perawat yang kompeten untuk ikut dengan mereka dan mengawasi keadaan Nayla nantinya.
Setelah keadaan semuanya stabil Emran membawa menantunya ke bandara, untuk segera berangkat ke Singapura. Hanya tinggal Rani yang menunggu bayi kecil itu.
Tidak berapa lama Yasna datang untuk melihat keadaan cucunya. Dia sangat terharu melihat bayi tidak berdosa itu.
"Bagaimana keadaannya, Ran?" tanya Yasna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sejauh ini, alhamdulillah baik," jawab Rani. "Bagaimana keadaan Pak Aydin, Bu?"
.
.
.
__ADS_1
.
.