
Malam hari, setelah semua orang menyelesaikan makan malamnya. Aydin berniat untuk berbicara dengan Yasna tentang Nayla dan dirinya. Pria itu tidak ingin ada orang lain lagi yang mendahuluinya.
"Bunda, aku ingin bicara sebentar sama Bunda," ucap Aydin saat Yasna membereskan meja makan bersama dengan Rani.
"Boleh, mau cari di mana?"
"Di sini saja, Bunda," jawab Aydin. "Mbak Rani, tolong buatin aku kopi, ya!"
"Iya, Tuan, sebentar," sahut Rani.
"Sebentar, Bunda beresin ini dulu, tinggal sedikit lagi."
Yasna sudah selesai membereskan meja. Rani juga sudah membuatkan kopi untuk Aydin dan pergi ke dalam kamarnya, dia tahu jika majikannya ingin berbicara serius dan dia tidak ingin ikut campur dengan urusan mereka.
"Mau bicara apa, Kak?" tanya Yasna.
Kini, di ruang makan itu hanya tinggal mereka berdua. Semua orang sudah berada di kamar masing-masing.
"Begini, Bunda. Tadi aku bertemu dengan Rizki, calon tunangannya Nayla. Dia mengatakan jika pertunangan mereka telah dibatalkan."
"Kamu serius? Dia nggak lagi bohongin kamu, kan?" tanya Yasna ingin meyakinkan apa yang dia dengar. Wanita itu juga belum mengetahui apa pun tentang cerita itu.
"Iya, Bunda. Bahkan Rizki juga akan menikah dengan Anisa, teman Aydin waktu kuliah."
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Yasna. Dia ingin tahu apa yang akan putranya lakukan, mengingat sebelumnya Aydin dan Nayla ada masalah.
"Aku mau Bunda melamar Nayla untukku."
"Melamar? Apa kamu yakin? Bagaimana kalau Nayla menolak? Bagaimana kalau dia sudah punya pilihan lain?" tanya Yasna beruntun.
Wanita itu belum yakin apa Nayla akan memberi kesempatan untuk putranya. Sekarang malah Aydin ingin langsung melamarnya. Kemarin saat dia berbicara dengan Nayla, Yasna bisa melihat kekecewaan pada putranya dan sekarang, apa tidak akan semakin menambah luka di dalam hatinya?
"Bunda, aku tidak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi, Nayla akan bertunangan dengan orang lain karena itu, aku langsung saja melamar kepada bibinya."
Yasna menghela napas. Dia juga tidak ingin kehilangan kesempatan menjadikan Nayla menantunya. Wanita itu sudah sangat menyayangi gadis itu, bukan karena hutangnya pada Bu Asih, tapi Nayla sendiri yang sudah membuatnya jatuh hati. Kebaikan dan keramahan gadis itu, yang bisa membuat siapa pun akan langsung menyayanginya.
"Kamu tahu di mana rumah bibinya?" tanya Yasna.
__ADS_1
"Tidak? Bunda."
"Bagaimana kita bisa melamar ke rumah bibinya, kalau kamu saja tidak tahu rumahnya? Bunda juga tidak tahu."
"Bunda punya suami yang hebat. Dia juga pasti sudah tahu di mana alamat bibinya Nayla. Bukankah sebelumnya dia sudah mencari tahu tentang Nayla."
Yasna memikirkan kata-kata putranya. Memang benar, suaminya sebelum ini sudah cari tahu tentang kehidupan Nayla. Pasti dia juga sudah tahu tentang alamat rumah bibinya, tapi apa mungkin Emran mau membantu Aydin untuk melamar Nayla, tanpa mereka tahu bagaimana perasaan gadis itu sebenarnya pada Aydin.
Apalagi Emran bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Walaupun Aydin putranya, tapi pria itu sudah membebaskan anak-anaknya untuk memilih.
"Tapi, Bunda, jangan bilang pada Nayla kalau kita mau melamarnya. Bunda bilang saja sama Bibi Rini, jangan ngomong sama Nayla kalau Aydin ingin melamarnya, bilang saja ada pria yang mau melamarnya saja. Biar itu menjadi kejutan untuknya nanti," ucap Aydin dengan Yakin.
Yasna semakin dibuat bingung dengan permintaan Aydin. Bilang pada Nayla saja, dia masih ragu. Apalagi ini tanpa mengatakan apa pun. Kalau diterima, Alhamdulillah, kalau tidak bagaimana?
"Nanti Bunda coba bicara sama papa. Mudah-mudahan papa mau bantu kamu. Kalau papa nggak mau, Bunda nggak bisa maksa."
"Kalau papa nggak mau, Bunda rayu saja. Biasanya Bunda paling jago merayu Papa, pasti hari ini juga akan sangat mudah untuk merayunya."
"Kamu jangan aneh-aneh kalau bicara. Mau Bunda pukul kamu?"
"Bunda, aku sudah dewasa. Aku juga sudah mengerti apa yang dilakukan oleh suami istri. Sebentar lagi juga aku punya istri."
"Kita lihat saja nanti. Walaupun nanti Nayla menolakku, aku akan tetap berusaha buat menyakinkan dia untuk menerimaku."
Yasna senang mendengar keyakinan Aydin. dalam hati, wanita itu berdoa, mudah-mudahan apa pun yang putranya inginkan dikabulkan oleh Allah.
"Iya, Bunda juga yakin Nayla akan terima kamu. Siapa coba yang menolak anak Bunda yang tampan ini," ucap Yasna. Entah itu memuji atau mengejek. Aydin juga sidah tahu bagaimana karakter bundanya itu.
"Terserah, Bunda, mau memuji atau mengejek, yang penting Bunda harus bantu aku buat bicara sama papa agar mau melamarkan Nayla untukku."
"Iya, sudah malam kamu tidur sana! Kamu sudah tidak ada pekerjaan, kan?"
"Sudah tidak ada, Bunda."
"Ya sudah, kamu tidurlah. Bunda mau bicara dulu sama papa."
"Iya, Bunda." Aydin segera berlalu. Dalam hati pria itu berdoa, semoga Emran mau membantunya.
__ADS_1
Sama seperti Aydin, Yasna juga merasa gugup dan khawatir jika Emran menolak membantu. Kalau memang nanti suaminya menolak. Yasna sudah bertekad akan berusaha meyakinkan pria itu untuk membantu Aydin. Bagaimanapun juga putranya berhak mendapatkan kesempatan.
Tidak mau terlalu banyak berpikir. Yasna segera masu ke dalam kamarnya. Di sana sudah ada Emran yang sedang memainkan ponsel. Sepertinya pria itu sudah menunggunya sedari tadi.
"Kok, lama banget, sih, Sayang?" tanya Emran begitu Yasna duduk disampingnya dengan bersandar pada kepala ranjang.
"Iya, tadi ngobrol sebentar sama Aydin," jawab Yasna.
"Ya sudah, ayo, tidur!" ucap Emran setelah meletakkan ponselnya di atas meja di samping tempat tidur.
Pria itu sudah mengantuk sedari tadi, tapi dia menunggu sang istri. Yasna juga tahu kalau suaminya sudah mengantuk. Dia tetap ingin bicara dengan Emran sekarang, besok pasti mereka akan sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Mas, tunggu dulu," cegah Yasna.
"Ada apa, Sayang?" tanya Emran dengan menguap.
"Aku ingin berbicara mengenai Aydin dan Nayla."
"Besok saja, aku sudah sangat mengantuk," sahut Emran dengan merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.
"Mas, besok pasti kamu sibuk dengan kegiatan dan pekerjaan kamu. Aku hanya ingin bicara sebentar saja. Aku--."
"Na, aku sudah sangat mengantuk. Besok saja!"
Belum selesai Yasna berbicara, Emran sudah memotongnya dengan suara tegas. ditambah Emran memanggilnya dengan nama. Biasanya Pria itu selalu memanggilnya sayang atau Bunda.
Yasna tidak lagi berbicara. Dia merebahkan tubuhnya dan menutup kedua matanya, yang sebenarnya masih enggan tertutup. Wanita itu sadar jika dia sudah salah memaksa Emran berbicara disaat pria itu mengantuk dan capek tentunya. Akan tetapi, sebagai seorang istri, tetap saja Yasna merasa sakit hati mendengar ucapan Emran yang seperti tadi.
Sementara Emran sudah masuk ke alam mimpinya. Pria itu tidak sadar jika sudah menyakiti hati istrinya. Banyak sekali pekerjaan membuatnya lelah hingga tidak sadar apa yang dia ucapkan pada Yasna.
.
.
.
.
__ADS_1
.