
Cukup lama Aydin memainkan ponselnya. Namun, Nayla sepertinya belum menunjukkan tanda akan keluar, karena khawatir aydin kembali mengetuk pintu dan bertanya mengenai keadaan istrinya.
"Nay, kamu nggak pa-pa, kan?" tanya Aydin dengan sedikit berteriak, sambil mengetuk pintu.
"Iya, Mas," jawab Nayla dengan membuka pintu.
"Oh, aku kira kamu kenapa-napa, habisnya lama banget."
Aydin merasa lega melihat Nayla baik-baik saja. Entah kenapa dia merasa takut terjadi sesuatu pada istrinya.
"Iya, nggak tahu tiba-tiba mules," jawab Nayla dengan mengusap perutnya.
"Tapi kamu nggak papa, kan? Apa babynya nakal?"
"Tidak, Mas. Mungkin karena tadi kebanyakan ngemil jadi mules," jawab Nayla sambil nyengir.
"Makanya jangan makan sembarangan. Kan, aku sudah bilang beberapa kali. Apalagi sampai yang pedas-pedas."
Pria itu kembali dengan petuah-petuahnya. Hal itu kadang membuat Nayla merasa senang karena diperhatikan. Namun, kadang juga merasa terkekang, hingga tidak bisa bebas ke mana pun.
"Aku nggak makan pedas, cuma tadi kebanyakan ngemil."
"Dedek gak nakal, kan?" tanya Aydin sambil mengusap perut Nayla.
"Tidak, Mas. Ayo, kita makan! Mas pasti sudah lapar," ajak Nayla.
"Iya, ayo!"
Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan. Nayla merasa lega akhirnya rasa sakitnya sudah mulai berkurang. Meski saat ini dia berusaha untuk menahan sedikit rasa sakit yang masih ada.
Wanita itu ragu, apa dia bisa sembuh? Mengingat rasa sakitnya tadi, yang begitu menyiksa. Nayla berharap bisa menahannya hingga anaknya lahir. Setelah itu, biarkan takdir yang menentukan.
"Kamu berjalan pelan banget, Sayang. Apa masih sakit?" tanya Aydin.
"Tidak, cuma sisa-sisa mules tadi aja jadi, agak males berjalan," jawab Nayla beralasan.
__ADS_1
"Hati-hati, kalau begitu."
*****
Pintu ruangan Emran diketuk oleh seseorang yang berada di luar. Pria itu meminta orang tersebut untuk segera masuk.
"Ada apa, Pa. Kenapa memintaku datang ke sini? Pekerjaanku masih banyak. Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Aydin begitu memasuki ruangan. Ternyata orang yang mengetuk pintu adalah Aydin.
"Kunci pintunya," ucap Emran sebelum Aydin duduk.
Pria itu mendengus kesal. Papanya ini suka sekali memerintah orang. Padahal dia barusaja ingin duduk. Aydin tetap melakukan perintah Emran dan duduk di depan papanya.
Aydin merasa aneh, kenapa papanya meminta dia mengunci pintu? Pasti ada sesuatu yang penting, tetapi apa? Kenapa harus mengunci pintu segala? Apa terjadi sesuatu dengan perusahaan?
"Sebaiknya mulai hari ini kamu cuti dulu, sampai istrimu melahirkan," ucap Emran.
"Memangnya ada apa, Pa? Nayla juga melahirkan masih empat bulan lagi. Dia juga pasti nggak mau, kalau ditungguin di rumah. Papa tahulah bagaimana menantu papa itu."
Emran terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada sang putra. Menghadapi Aydin saja pria itu tidak memiliki keberanian yang cukup besar, apalagi menghadapi istrinya.
Aydin menetap papanya. Pria itu merasa ada sesuatu yang ditutupi oleh Emran. Dari wajahnya terlihat kegelisahan yang begitu dalam. Pasti ada suatu masalah besar.
Emran masih diam saat Aydin bertanya. Dia mencoba mencari kata yang tepat untuk mengatakan pada putranya tanpa menyakiti hatinya.
"Aku tahu Papa menyembunyikan sesuatu, aku sangat mengenal Papa jadi, Papa tidak perlu berbohong. Katakan saja apa yang sebenarnya terjadi."
Emran membuang napas secara kasar. Sepertinya dia memang harus mengatakan semuanya pada Aydin. Pria itu juga berhak mengetahui tentang keadaan istrinya.
Emran mengeluarkan sebuah Amplop yang ada di laci mejanya dan memberikan itu pada Aydin. Kedua pria berbeda usia itu saling pandang, seolah memberi pertanyaan dan jawaban dari sorot mata mereka.
"Apa ini, Pa?" Aydin bertanya saat melihat amplop yang bertuliskan nama sebuah rumah sakit.
"Buka saja dan bacalah, jika nanti kamu tidak mengerti maka Papa akan jelaskan."
Segera Aydin membuka amplop itu. Dia juga penasaran. Apa isinya hingga membuat papanya terlihat begitu frustasi. Baru beberapa detik tangan pria itu bergetar. Meski Aydin tidak begitu mengerti tentang medis, tetapi ada beberapa kata yang cukup dimengertinya.
__ADS_1
Apalagi dalam kertas itu tertera nama Nayla, yang semakin membuat tubuh Aydin menegang. Jantung yang semula baik-baik saja, kini berdetak tak beraturan. Bahkan untuk bernapas rasanya sangat sulit.
"Apa maksudnya ini, Pa?" tanya Aydin dengan suara bergetar.
"Papa yakin kamu sudah cukup mengerti dengan isi surat itu."
"Tapi aku butuh penjelasan dari Papa, karena Papa yang memberikan surat ini. Aku takut salah mengartikan isi dari surat ini."
Emran menghela napas sebelum menjawab pertanyaan sang putra. Ditatapnya wajah Aydin yang mulai pucat dengan sorot mata menuntut penjelasan padanya.
"Seperti yang sudah kamu baca. Nayla mengidap kanker payudara stadium akhir. Dia sengaja menutupinya darimu dan dari kita semua."
Bagaikan tertimpa batu yang begitu besar, Aydin merasa dunianya hancur seketika. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pandangannya kosong. Tubuhnya terasa kaku seakan mati rasa.
Pria itu tidak menyangka jika hal ini akan terjadi pada istrinya. Mengingat selama ini Nayla dalam keadaan baik-baik saja atau mungkin wanita itu sengaja menutupi semua dan berpura pura dalam keadaan baik."
"Papa berbohong, kan? Papa hanya ingin mengerjaiku. Ini tidak benar, kan?" tanya Aydin, berharap papanya mengatakan jika dia hanya bercanda. Namun, sang papa hanya diam.
"Pa, jawab dong! Jangan diam saja!" Aydin menaikkan nada suaranya. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang pria itu dengar.
"Apa Papa terlihat sedang bercanda? Hal semacam ini bukan untuk bercandaan. Nayla memang terkena penyakit kanker darah dan dia harus segera menjalani kemoterapi, karena sel kanker sudah menjalar ke beberapa tempat, tapi dokter tidak menyarankan untuk saat ini. Nayla sedang hamil."
Emran pun menjelaskan semua yang dikatakan oleh dokter, mengenai bayi dan pengobatan Nayla. Aydin hanya diam mendengarkan. Entah dia benar-benar mendengar atau tidak. Saat ini pria itu terlalu sibuk dengan pemikiran yang dia sendiri tidak tahu apa. Berbagai macam hal buruk masuk ke kepalanya.
Bagaimana kehidupan Aydin nanti? Terlalu mengerikan jika berpikir, pria itu akan kehilangan salah satu dari mereka. Terutama Nayla, dia sudah sangat mencintai sang istrinya lalu, bagaimana Aydin bisa hidup tanpa wanita itu? Memikirkannya saja tidak pernah, apalagi jika itu benar-benar akan terjadi.
Sungguh Aydin tidak bisa berpikir dengan jernih kali ini. Dia merasa dunia ini begitu kejam. Usia pernikahan mereka saja belum setahun, tetapi kini harus diguncang seperti ini.
'Ya Tuhan, cobaanmu begitu berat untukku. Bagaimana aku bisa melewatinya? Untuk berdiri saja aku tidak sanggup lalu, bagaimana aku bisa berjalan?' batin Aydin menangis.
.
.
.
__ADS_1
.
.