
Acara resepsi pernikahan Ivan dan Rani berlangsung sangat meriah. Banyak kolega dan para sahabat yang datang. Keluarga pengantin wanita yang ada di kampung juga menghadiri acara itu. Rani begitu sangat bahagia, wanita itu terharu, dia merasa semua orang saat ini begitu menghormatinya.
Hal yang tidak pernah dia bayangkan sama sekali. Kini semua seorang menganggap dirinya seorang nyonya besar. Ada sedikit rasa kurang percaya diri dalam hati Rani. Namun, Ivan berkata bahwa istrinya harus mulai membiasakan diri untuk itu.
Satu bulan telah terlewati. Semua orang kembali dengan kesibukan mereka masing-masing. Rani menolak ajakan Ivan untuk berbulan madu. Baginya itu hanya buang-buang uang. Pria itu pun tidak memaksa istrinya.
Hingga saat ini, pasangan pengantin itu belum pernah menghabiskan malam bersama. Keduanya sama-sama tidak tahu harus berbicara apa dan memulainya dari mana. Meski mereka tinggal satu kamar, tetapi ada guling yang memisahkan.
"Ran, apa tidak sebaiknya kamu berhenti bekerja sama Bu Yasna!" ucap Ivan saat mereka akan tidur.
"Bukankah dari awal sudah kukatakan, bahwa aku akan tetap bekerja di sana."
"Iya, tapi aku merasa seperti pria tidak berguna karena masih mengizinkan istrinya bekerja."
Sebenarnya bukan hanya itu, Ivan ingin setiap sarapan ada yang menemaninya. Selama satu bulan ini, setiap selesai subuh Rani akan pergi ke rumah keluarga Emran dan membiarkan suaminya menikmati sarapan yang sudah dibuatnya sebelum subuh. Pastilah makanan itu sudah dingin.
Terkadang Ivan akan menghangatkannya lagi. Jika tidak ada waktu, dia akan memakan begitu saja makanan dingin itu.
"Tapi aku tidak mau jauh dari keluarga Bu Yasna. Mereka sudah aku anggap seperti keluarga sendiri."
"Kamu masih bisa dekat dengan mereka, kamu tidak harus bekerja. Kamu bisa datang ke sana untuk silaturrahmi, kamu juga bisa memasak untuk mereka, tapi bukan sebagai seorang asisten rumah tangga melainkan sebagai saudara."
"Boleh aku pikirkan lagi?"
"Iya, tidak apa-apa. Kalaupun kamu tidak mau juga tidak apa-apa. Aku hanya mengusulkan apa yang aku pikirkan saja," sahut Ivan dengan tersenyum.
Ivan berpikir jika Rani belum bisa membuka diri dengannya. Pria itu juga berpikir jika sang istri belum mencintai dia karena wanita itu sangat sulit berinteraksi dengannya. Sementara Rani berpikir jika Ivan malu dengan pekerjaan sang istri sebagai asisten rumah tangga. Inilah yang dinamakan kurangnya komunikasi. Keduanya sama-sama berpikir yang tidak-tidak.
*****
"Mas, aku hari ini mau ke rumah bunda, boleh, ya?" tanya Afrin saat dia dan suaminya sedang menikmati sarapan pagi
"Memang kamu tidak kuliah?" tanya Khairi yang masih mengunyah makanannya.
"Tidak, Mas. Hari ini kosong."
"Oh, ya udah, tidak apa-apa. Nanti aku antar dan setelah kerja aku akan jemput kamu di sana."
"Mas, apakah Ivan sudah bicara dengan Mbak Rani mengenai dia berhenti bekerja?" tanya Afrin pada suaminya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Sayang. Aku juga tidak membahas masalah itu di kantor. Memang kenapa?"
"Tidak apa-apa. Hanya saja, sampai detik ini Mbak Rani masih bekerja saja."
"Mungkin Mbak Rani yang enggak mau berhenti, kan, kamu tahu dia sangat sayang sekali sama keluarga bunda. Pasti sangat berat berpisah dengan kalian."
"Nanti aku coba bicara sama Mbak Rani. Barangkali memang benar, dia tidak mau."
"Ya sudah, kamu habiskan dulu sarapannya. Setelah ini aku antar ke rumah Bunda."
"Iya." Keduanya melanjutkan sarapan mereka.
Usai sarapan Khairi mengantar istrinya ke rumah orang tuanya.
Mobil mereka melaju membelah jalanan yang sudah ramai, padahal ini masih pagi. Hingga sampailah di depan rumah keluarga Emran. Mobil mertua dan kakaknya sudah tidak ada. Pasti mereka sudah berangkat.
"Aku nggak masuk, ya, Sayang. Aku ada meeting pagi ini. Nanti titip salam saja sama bunda dan lainnya."
"iya, tidak apa-apa," sahut Afrin. "Kamu hati-hati, ya!" Afrin mencium tangan suaminya.
"Assalamualaikum."
Khairi melajukan mobilnya setelah Afrin turun. Wanita itu memasuki rumah bundanya setelah mobil suaminya tidak terlihat.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Nayla yang sedang menggendong Nuri.
Dari penampilannya wanita itu pasti mau pergi. Afrin mengerti, karena kakak iparnya juga memiliki butik. Meski wanita itu jarang sekali pergi ke sana
"Kak Nayla mau ke mana? Sudah rapi sekali," tanya Afrin yang berpapasan di ruang tamu.
"Mau ke butik, ada pembeli yang mau ketemu."
"Nuri mau ikut Mama?" tanya Afrin pada ponakannya yang dijawab anggukan oleh gadis kecil itu. "Bunda mana, Kak?"
"Di dapur sedang membereskan bekas sarapan tadi," jawab Nayla. "Kakak berangkat dulu, ya! Sudah ditungguin soalnya."
"Iya, hati-hati."
__ADS_1
Nayla pergi bersama putrinya. Sementara Afrin kembali mencari bundanya ke dalam rumah.
"Bunda!" panggil Afrin dengan sedikit berteriak.
"Iya, Bunda ada di sini!" sahut Yasna. "Kamu kenapa, sih, teriak terus tiap datang ke sini?"
"Habisnya Bunda dari tadi aku panggil nggak nyaut," jawab Afrin.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Yasna.
"Sudah, Bunda."
"Bunda kira kamu ke sini mau minta sarapan."
"Enggaklah, Bunda. Aku, kan, istri rajin. Pagi-pagi sekali sudah masak. Aku mana mungkin membiarkan suamiku berangkat bekerja dalam keadaan lapar," ujar Afrin.
"Syukurlah Kalau putri Bunda sudah memiliki pemikiran seperti itu. Bunda senang dengarnya."
"Itu semua juga berkat Bunda," sahut Afrin dengan memeluk bundanya.
"Kamu bisa saja kalau memuji Bunda."
"Memang kenyataannya seperti itu. Bunda selalu bilang, kan, kalau kita sebagai seorang istri harus patuh pada suami apa pun perintahnya. Sekalipun kita tidak suka, kecuali kalau permintaannya melanggar norma dan syariat, baru kita boleh menolaknya," ucap Afrin yang memang disengaja karena dia melihat ada Rani di sana.
"Syukurlah kalau begitu, Bunda sangat senang mendengarnya. Anak-anak bunda menuruti semua yang Bunda katakan."
"Tentu, dong. Aku pasti selalu mengingat nasehat dari Bunda karena aku yakin apa pun yang Bunda katakan pasti untuk kebaikan rumah tanggaku."
"Bunda benar-benar tidak menyangka, kalau anak Bunda sudah memiliki pemikiran yang sangat dewasa," puji Yasna dengan memeluk putrinya. "Kamu nggak kuliah, Dhek?"
"Tidak, Bunda. Hari ini nggak ada kelas," jawab Afrin yang diangguki oleh bundanya.
"Kamu ada rencana mau pergi setelah ini?"
"Tidak ada, Bunda, di sini saja," jawab Afrin karena memang dia ke sini juga untuk bertemu dengan Rani.
Sementara Rani memikirkan semua berbicara Yasna dan Afrin. Dia juga merasa apa yang mereka bicarakan itu mengenai dirinya karena sampai detik ini, wanita itu belum melakukan tugas sebagai seorang istri, tetapi itu juga bukan salahnya karena Ivan juga tidak pernah meminta, apalagi membahasnya. Padahal dia sudah sangat siap untuk itu.
Rani juga belum bisa melayani Ivan dengan semestinya. Dia berpikir apa memang wanita itu harus menuruti keinginan sang suami untuk berhenti bekerja? Rani juga tidak pernah menemani Ivan sarapan. Bahkan mereka makan malam saat sudah larut, terkadang pria itu mengajaknya makan di luar karena di rumah pasti kelamaan. Sedangkan pria itu sudah lapar.
__ADS_1