Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
250. S2 - Bukan ibu kandung 2


__ADS_3

"Jadi, Bunda Yasna bukan ibu kandung kamu?" tanya Khairi.


Dia terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka jika dirinya dan Afrin sama-sama memiliki Ibu sambung. Apalagi Bunda Yasna tidak terlihat seperti ibu sambung. Bahkan jika istrinya tidak mengatakannya, dia tidak akan pernah tahu jika ibu mertuanya bukanlah ibu kandung Afrin.


"Iya, saat itu aku baru berusia empat tahun. Bunda adalah guru di sekolahku."


"Maaf sebelumnya, Sayang, tapi Mama kandung kamu ke mana? Sudah meninggal, kah?"


"Iya, Mama meninggal saat melahirkanku."


"Kok kita bisa sama, ya, Sayang."


"Maksudnya?" tanya Afrin yang tidak mengerti maksud Khairi yang sebenarnya.


"Mama Merry juga mama sambungku. Papa menikah dengan Mama Merry saat usiaku 2 tahun, tetapi kita memiliki cerita yang berbeda tentang mama kandung. Kamu tahu mamamu meninggal saat dia melahirkan, tapi mamaku, aku tidak pernah tahu dia berada di mana. Aku juga tidak tahu siapa keluarga mama karena papa sangat menutup rahasia ini. Dia tidak pernah mempedulikan pertanyaanku karena itulah aku membangun usaha sendiri. Aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri, setelah itu aku akan mencari tahu di mana keberadaan Mama sebenarnya. Aku juga ingin tahu kenapa dia pergi meninggalkanku begitu saja."


"Apa kamu tahu kenapa papa menutupi semuanya?"


"Aku juga tidak tahu, Papa selalu bilang kalau mama sudah meninggal, tapi dia tidak pernah mengatakan di mana makamnya. Setiap kali aku bertanya, pasti dia selalu bilang kalau makamnya berada di kampung dan papa lupa tempatnya di mana. Bukankah itu hal yang sangat lucu? Papa dengan mudah bisa menemukan seseorang yang berada di pelosok sekalipun. Sedangkan ini hanya sebuah makam saja dia tidak bisa karena itu aku yakin ingin mencari keberadaan mama. Walaupun sudah meninggal, aku juga ingin mendatangi makamnya."


"Mengenai kerjasama dengan papa bagaimana?" tanya Afrin.


Wanita itu berdoa, mudah-mudahan saja kerja sama antara suami dan papanya bisa terwujud. Seperti yang dikatakan Khairi sebelumnya. Banyak orang yang menggantungkan kehidupannya di perusahaan. Bagaimana jika perusahaan sang suami benar-benar harus gulung tikar? Ke mana mereka akan mencari kerja?


"Belum ada kabar sampai hari ini. Mungkin besok, Sayang. Papa juga sepertinya nggak bahas sama sekali tadi waktu di rumah."


"Papa memang tidak pernah membahas pekerjaan di rumah, bisa-bisa bunda ngamuk."


"Benar, kah?"


"Iya, apalagi saat berkumpul keluarga. Bunda paling tidak suka membahas pekerjaan karena pekerjaan hanya dibahas di tempat bekerja, bukan di rumah yang harusnya menjadi tempat berkumpul dan bercanda."

__ADS_1


Khairi mengangguk. Dia sangat beruntung dipertemukan dengan Afrin. Hingga membuatnya mengenal orang-orang hebat seperti papa mertua dan kakak ipar dan wanita sabar seperti Bunda Yasna.


"Bagus kalau begitu, kita tidak harus stress memikirkan pekerjaan saat di rumah karena di rumah hanya untuk berkumpul bersama keluarga saja."


"Iya, bunda juga bilang seperti itu."


Usia Afrin memang sangat muda, tetapi dia sudah mampu menyelesaikan masalah pribadinya, tanpa harus melibatkan orangtua. Apalagi kini wanita itu memiliki suami yang begitu dewasa dan mengerti akan dirinya.


"Mbak Rani sudah cerita sama bunda, mengenai acara pernikahannya?" tanya Khairi.


"Sudah, katanya dua bulan lagi."


"Iya, Ivan tadi juga cerita sama aku," ucap Khairi. "Ya sudah, ayo, tidur! Ini sudah sangat larut."


"Iya, aku juga sudah ngantuk."


*****


Beginilah kalau tidak punya pengalaman mendekati seorang wanita saja tidak berani. Pria itu memang memiliki mantan, tapi wanita itu yang agresif. Dia membaringkan tubuhnya, dilihat sekali lagi nomor Hani lagi dan diletakkan kembali. Hingga tanpa sadar jari Ivan menekan tombol memanggil.


"Halo, assalamualaikum," ucap Rani yang di seberang telepon. Ruangan yang begitu sunyi membuat suara dari telepon terdengar, bahkan tanpa menyalakan speaker. Ivan segera terbangun. Dia melihat ponsel dan matanya terbelalak karena terkejut. Bagaimana bisa dia menghubungi Rani?


"Halo, assalamualaikum," ucap Rani lagi karena tidak ada sahutan.


"Waalaikumsalam, ada apa?" tanya Ivan yang mencoba terlihat biasa saja. Padahal saat ini dia sangat gugup.


"Kok, ada apa? Kan, Mas Ivan, yang telepon saya, seharusnya saya yang bertanya, ada apa Mas Ivan menghubungi saya?"


Ivan memukul kepalanya. Bagaimana bisa dia ceroboh menekan tombol memanggil. Untung saja ini lewat sambungan telepon kalau bertemu langsung, pria itu tidak tahu harus menyembunyikan wajahnya di mana.


"Itu ... itu .... tadi desainer gaun kamu menanyakan padaku, kamu mau gaun yang seperti apa?" Ivan memejamkan matanya, sepertinya alasan yang dia buat terdengar sangat bod*h.

__ADS_1


"Kan, aku sudah bilang kemarin. Terserah, Mas, saja, yang pasti jangan terlalu terbuka dan aku ingin warna putih, itu saja."


"Iya, sepertinya designernya lupa. Tadi dia bertanya lagi padaku."


"Iya, tidak apa-apa. Aku juga sedang santai." Keduanya terdiam tidak harus mengatakan apa lagi. "Apa ada sesuatu lagi, Mas?" tanya Rani.


"Tidak, hanya itu saja. Assalamualaikum."


Ivan segera mematikan sambungan telepon. Dia membenturkan kepalanya karena merasa sangat bodoh. Seharusnya dia bertanya, bagaimana kabarnya, keadaannya atau apa pun lainnya tentang wanita itu. Padahal dia sudah belajar merangkai kata-kata sebelumnya, tetapi di saat sambungan telepon semuanya jadi lupa. Baru juga lewat benda pipih belum secara langsung. Baginya lebih baik mengurusi perusahaan yang bangkrut daripada berurusan dengan seorang wanita.


Sementara Rani yang berada di kamarnya juga sama kecewanya. Padahal dia berharap bisa berbicara dengan pria itu, tetapi sepertinya susah sekali mengajak Ivan berbicara.


Entahlah Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka nanti. Mengingat begitu dinginnya sikap Ivan pada Rani.


Wanita itu jadi penasaran, apa Ivan juga bersikap seperti itu pada setiap wanita yang dia kenal? Atau hanya padanya saja. Terlalu pusing memikirkan pria yang tidak memiliki ekspresi itu, lebih baik dia tidur. Semoga saja besok pria dingin itu mau mengobrol dengannya. Mimpi yang sulit untuk terwujud, pikir Rani.


Pagi hari Rani sedang menyiapkan sarapan untuk seluruh keluarga. Dia memasak bersama dengan Yasna sementara Nayla, masih tertidur di kamar. Semalam wanita itu diajak bergadang oleh putrinya. Tengah malam tiba-tiba Nuri bangun dan tidak mau tidur kembali. Padahal tubuhnya baik-baik saja, tidak demam juga. Begitulah anak kecil suka berubah-ubah.


"Selamat pagi, Bunda. Maaf aku telat bangunnya," ucap Nayla yang baru memasuki dapur.


"Tidak apa-apa, sebaiknya kamu tidur lagi, pasti kamu masih ngantuk gara-gara semalam begadang sama Nuri."


"Tidak apa-apa, Bunda. Nanti siang juga bisa tidur lagi," sahut Nayla.


Wanita itu pun segera membantu mertuanya menyiapkan sarapan. Nayla sangat cekatan untuk urusan dapur, mungkin karena dia sudah terbiasa dari dulu hidup bersama dengan ibunya. Masakannya pun tergolong enak. Aydin yang dulu tidak menyukai makanan manapun kecuali masakannya, kini sangat menyukai makanan istrinya daripada masakan bundanya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2