Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
240. S2 - Nomor ponsel


__ADS_3

"Selamat malam, Ma," sapa Afrin saat dia memasuki dapur dan melihat mertuanya itu sedang memasak bersama dengan Bik Asih dan Fatma.


Tidak heran jika Mama Merry begitu membela Fatma. Mereka terlihat begitu dekat, sama seperti saat bundanya bersama Rani.


"Selamat malam, Sayang. Apa kabar?" tanya Merry dengan tersenyum.


"Baik, Ma," jawab Afrin. Dia merasa mertuanya ini sudah kembali seperti waktu pertama bertemu. Mudah-mudahan saja bisa seperti ini seterusnya. "Mama masak apa?"


"Kepiting saus pedas. Kata Khairi kamu suka, apa benar?"


"Iya, Ma. Aku sebenarnya nggak pilih-pilih soal makanan, tetapi kalau kepiting, aku sangat suka," jawab Afrin. "Boleh aku bantu, Ma?"


"Tidak usah, kamu duduk saja biar Bik Asih buatin kamu minum."


"Nggak perlu, Ma. Nanti aku bisa ambil sendiri. Aku juga mau bantu."


Mama Merry tersenyum pada menantunnya, membuat Afrin senang karena mertuanya kini sudah kembali seperti dulu. Setiap orang memang bisa berubah, ada yang berubah jadi jahat adapula yang baik.


Afrin membantu memasak dan membuatkan minuman untuk sang suami. Baru beberapa hari, tetapi wanita itu sangat tahu makanan dan minuman kesukaan Khairi. Tidak berapa lama, akhirnya makanan sudah siap, tinggal menghidangkannya saja.


"Kamu duduk dulu, Mama mau panggil papa sama Khairi di samping rumah."


"Iya, Ma."


Mama Merry berlalu menuju teras samping rumah, meninggalkan Afrin bersama dengan kedua asisten rumah tangganya. Bik Asih berjalan mendekati menantu majikannya.


"Non, kami mohon maaf atas perlakuan kami tempo hari. Saya mohon! Tolong bujuk Tuan Khairi agar tidak memecat kami," pinta Bik Asih.


"Mas Khairi tidak akan memecat Bibi, kok, tenang saja. Dia juga tidak punya kuasa akan itu. Bibi, kan, kerja di sini sama Papa dan Mama."


"Tapi kemarin Tuan Khairi sepertinya sangat serius."


Afrin mengerti perasaan Bik Asih. Pasti wanita paruh baya itu takut menjadi pengangguran. Di zaman sekarang sangat susah mencari pekerjaan, apalagi majikan yang baik seperti mertuanya.


"Tidak, tenang saja. Nanti biar saya yang bicara kalau memang benar, Mas Khairi ingin memecat Bibi."


"Terima kasih, Non."


"Sama-sama."


Wanita paruh baya itu merasa lega, setidaknya ada yang menjamin dia tidak kehilangan pekerjaannya. Bik Asih masih harus memberi nafkah untuk keluarganya di kampung. Belum lagi uang jajan Fatma.

__ADS_1


Dia masih bersyukur majikannya yang membiayai sekolah putrinya. Akan tetapi jika wanita itu dipecat, otomatis biaya sekolah juga pasti berhenti. Itulah kenapa Bik Asih memohon pada Afrin.


Semua orang memasuki ruang makan dan mulai menikmati makan malam. Khairi melihat sikap Merry berubah, dia cukup senang. Akan tetapi, keputusannya tidak bisa dirubah. Pria itu tetap akan membawa istrinya tinggal di apartemen.


"Pa, Ma, besok aku dan Afrin akan pindah ke apartemenku. Kami akan tinggal di sana."


Hamdan dan Merry sama-sama terkejut mendengar keputusan Khairi. Sebelumnya mereka mengira bahwa anak dan menantunya akan tinggal di rumah ini. Hanya Khairi anak di keluarga ini.


"Kenapa harus tinggal di apartemen? Kenapa tidak tinggal di sini saja? Rumah ini juga terlalu besar!" tanya Merry.


"Kami juga ingin mandiri, Ma. Aku tidak mau selalu tergantung pada Papa dan Mama. Di sana tempatnya juga lebih dekat dengan kampus Afrin jadi, dia masih bisa melakukan tugas seorang ibu rumah tangga."


Afrina hanya diam mendengarkan. Dia juga tidak tahu, apa rencana suaminya. Wanita itu hanya mengikuti apa pun keputusan Khairi.


"Apa Afrin yang tidak mau tinggal di sini?" tanya Mama Merry.


"Bukan Afrin, Ma, tapi ini sudah keputusanku. Aku juga ingin berduaan dengan istriku. Papa dan Mama juga pasti mengerti, kami ini masih pengantin baru," ucap Khairi beralasan. Dia berharap kedua orang tuanya mengerti dan tidak bertanya lagi.


"Kalau Papa, terserah kalian saja, bagaimana baiknya. Asal kalian jangan lupa untuk sering-sering berkunjung ke sini. Hanya kalian penerus kami."


"Papa!" Merry ingin protes pada suaminya, tetapi Hamdan berusaha untuk memberi pengertian padanya.


"Iya, Pa. Papa jangan khawatir, kami akan sering ke sini," sahut Khairi.


"Mama tenang saja, aku juga pasti akan sering-sering ke sini. Jangan bersedih. Mama juga bisa datang ke apartemen kalau mama mau," ucap Afrin.


"Baiklah jika memang keputusan kalian sudah bulat. Mama doakan agar kalian selalu bahagia."


Khairi dan Afrin merasa lega, tidak terlalu sulit membuat Merry mengerti.


"Terima kasih, Ma," sahut Khairi dan Afrin bersamaan. Mereka pun berbincang-bincang.


Kedua orang tua itu memberi wejangan pada anak dan menantu mereka. Khairi dan Afrin mendengarkan dengan saksama sementara Bik Asih dan Fatma merasa lega karena Khairi sama sekali tidak membahas pemecatan mereka.


Setelah selesai makan malam, Khairi dan Afrin kembali ke kamar. Pria itu mengambil ponselnya yang berada di meja. Ada tiga panggilan tidak terjawab dari Ivan. Dia pun menghubungi asistennya itu, khawatir jika ada sesuatu yang penting.


"Halo, assalamualaikum," ucap Ivan diseberang telepon.


"Waalaikumsalam, apa ada sesuatu yang penting?" tanya Khairi yang tidak mau berbasa-basi.


"Tuan, bolehkah saya meminta nomor ponsel Non Afrin?"

__ADS_1


"Kenapa kamu minta nomor istri saya?" tanya Khairi dengan nada tidak suka.


"Saya ingin meminta nomor Rani," jawab Ivan dengan pelan. Antara malu dan gugup dan Khairi menyadari hal itu.


"Kamu mau minta nomor Rani! Masa nomor calon istri nggak punya? Bukannya kemarin kamu mengantar ibunya ke terminal? Kenapa tidak minta nomor ponselnya?"


"Saya lupa, Tuan."


Khairi tidak habis pikir dengan asistennya itu. Kenapa susah sekali membuatnya menjadi pria yang lembut dan hangat? Dia juga tegas dalam urusan pekerjaan. Akan tetapi, pria itu akan bersikap hangat pada istrinya


"Jangan terlalu kaku sama wanita. Saat bekerja kita memang harus tegas, tapi kita harus memperlakukan wanita dengan perasaan. Kalau tidak, dia akan pergi dan kamu akan kesusahan mencarinya," ujar Khairi.


Ivan hanya diam tidak tahu harus menjawab apa. Dalam hati dia mengiyakan perkataan Khairi. Pria itu masih menunggu atasannya memberikan nomor Rani atau Afrin.


"Sebentar, aku yang tanya saja dan minta nomornya. Aku tidak mau kamu menghubungi istriku."


"Iya, Tuan. Terserah Anda saja bagaimana baiknya."


"Aku tutup teleponnya, nanti akan kukirim lewat pesan. Assalamualaikum."


"Iya, Tuan. Waalaikumsalam."


Khairi memutuskan sambungan dan menunggu istrinya yang sedang di kamar mandi. Tidak berapa lama Afrin keluar dengan menggunakan piyama.


"Sayang, boleh aku minta nomor telepon Rani?"


Afrin menatap suaminya aneh. Kenapa suaminya tiba-tiba minta nomor telepon Rani? Khairi pun menjelaskan jika Ivan yang memintanya. Wanita itu tersenyum dan segera memperlihatkan nomor asisten rumah tangganya pada suaminya. Khairi pun segera mengirim ke nomor Ivan.


"Kenapa Kak Ivan tidak minta sama orangnya langsung?" tanya Afrin.


"Lupa katanya."


"Atau mungkin karena saking gugupnya!" tebak Afrin membuat mereka tertawa bersama. Keduanya memang sudah merasa jika Ivan dan Rani sama-sama memiliki perasaan. Hanya saja mereka lebih suka diam, berbeda dengan Khairi yang langsung mengatakan dan mengejarnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2