Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
201. S2 - Anggap saja khilaf


__ADS_3

Dua orang perawat mendorong brankar yang ditempati Nuri. Yasna dan Emran mengikutinya dari belakang. Nayla yang akan menyusul dicegah oleh Aydin.Pria itu


"Lebih baik kamu pergi sekarang juga."


"Kenapa, Mas, melarang aku untuk menemui anakku?"


"Kamu sadar atau tidak? Siapa yang membuat Nuri sampai seperti ini? Jadi aku harap kamu tidak membuat masalah dan segera pergi dari sini," ucap Aydin dengan menahan agar suaranya tidak mengganggu orang lain.


Dia tahu ini rumah sakit jadi, harus menjaga agar dia tidak lepas kendali. Pria itu beralih menatap Rini. Kesopanannya kini hilang entah ke mana.


"Bik Rini sebaiknya bawa keponakan Anda pergi. Sebelumnya saya sudah menuruti keinginan Anda, untuk membiarkan Nayla membawa Nuri dan sekarang seperti ini. Saya harap Anda membawanya pergi sebelum saya melakukan sesuatu kepada ponakan Anda," ucap Aydin dengan mengepalkan tangannya.


Rini bergidik ngeri mendengar ucapan Aydin. Baru kali ini dia melihat pria itu marah. Wanita itu mendekati keponakannya dan mencoba bicara dengan pelan.


"Nay, ayo, pulang!" ajak Rini dengan memegang bahu keponakannya.


Aydin yang sudah malas melihat mereka, segera pergi menyusul perawat yang membawa putrinya. Dia akan melakukan apa pun agar putrinya baik-baik saja.


"Aku tidak mau, aku ingin melihat putriku," sahut Nayla dengan menangis.


"Iya, kita lihat nanti saja. Ini bukan saatnya, kamu lihatkan suami kamu begitu marah. Keadaannya tidak memungkinkan untuk tetap di sini."


"Aku tidak peduli. Apa pun yang akan terjadi, aku siap untuk menerimanya. Jika Mas Aydin mau memukulku, aku dengan senang hati akan menyerahkan tubuhku karena memang aku yang bersalah. Tidak seharusnya aku memaksa keadaan pada putriku yang berakibat fatal padanya," ucap Nayla dengan air mata yang semakin deras.


Wanita ituu sangat menyesal karena perbuatannya Nuri masuk rumah sakit dan bahkan hampir membuatnya kehilangan nyawa. Sebagai seorang ibu, dia merasa tidak berguna.


Begitu pun juga dengan Rini. Seandainya saja dia membiarkan Aydin menjemput Nayla dan berusaha lebih keras lagi membujuk ponakannya untuk pulang, pasti semua tidak akan seperti ini. Penyesalan memang datangnya terlambat.


Nuri sudah dipindahkan ke sebuah ruang rawat inap. Tampak gadis kecil itu masih terlelap dalam tidurnya dengan mata yang membengkak. Pasti karena sudah terlalu lama dia menangis.


Yasna duduk di samping cucunya dia membelai rambut gadis kecil itu dan tidak ingin jauh darinya. Baru sehari semalam, mereka tidak bertemu dan sekarang malah seperti ini.


"Bunda, sebaiknya Bunda tidur. Ini juga masih dini hari," ucap Emran.


Yasna hanya menggeleng tanpa mengucapkan satu kata pun. Dia takut jika tertidur, sesuatu akan terjadi padanya.

__ADS_1


"Bunda tidur saja di samping Nuri," usul Aydin yang diangguki oleh papanya.


"Iya, ini juga masih muat, kok!" sahut Emran.


Yasna mengangguk dan membaringkan tubuhnya di samping Nuri. Wanita itu merasa terluka melihat keadaan cucunya yang seperti ini. Padahal selama ini dia sudah sangat berusaha melakukan yang terbaik untuk Nuri. Dia juga pernah mendaftarkan gadis kecil itu terapi untuk kekebalan tubuhnya agar semakin kuat, tetapi cucunya malah demam dan masuk rumah sakit.


Tidak membutuhkan waktu lama, Yasna akhirnya tertidur mungkin karena hatinya sudah lega karena cucunya sudah baik-baik saja atau karena lelah sudah lama menangis.q


*****


Terdengar azan subuh berkumandang Yasna terbangun dari tidurnya. Wanita itu memegang kening cucunya dan dia bersyukur panasnya sudah mulai turun, mudah-mudahan kondisinya segera membaik.


Yasna segera turun untuk menunaikan kewajibannya. Dia mengedarkan pandangan dan tidak mendapati siapa pun. Mungkin mereka pergi ke masjid. Nayla juga tidak ada di sana. Wanita itu berpikir menantunya ikut ke masjid juga.


Tidak mau banyak berpikir lagi, Yasna mengambil wudhu dan meminjam mukena dari seorang suster dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Tiga puluh menit kemudian Emran dan Aydin akhirnya telah kembali. Namun, tidak ada Nayla di sana.


"Aydin, ke mana Nayla?" tanya Yasna, yang ditanya hanya diam tidak menjawab.


Mau mengelak bagaimanapun kenyataannya memang seperti itu.


"Kamu tidak marah pada Nayla, kan?" tanya Yasna.


"Sudahlah, Bunda, ini semua juga karena dia."


"Apa ada sesuatu yang tidak kamu ceritakan?" tanya Yasna dengan menatap putranya. Dia yakin ada sesuatu yang tidak diketahuinya.


Aydin mengembuskan napasnya sebelum menjawab, "Nayla sebenarnya iri pada semua orang."


"Maksudnya?" tanya Yasna yang tidak mengerti.


"Dia cemburu saat Nuri bersama Bunda dan Afrin, bahkan sama Mbak Rani, tapi Nuri tidak dekat dengan Nayla bahkan terkesan menolak."


Yasna mengembuskan napas. Hal ini sebenarnya sudah dia perkirakan sebelumnya. Sebagai seorang wanita dia mengerti perasaan Nayla dan kenapa menantunya sampai melakukan hal itu.

__ADS_1


"Bukankah akhir-akhir Ini Nayla sudah dekat dengan Nuri?" tanya Yasna.


"Tapi dia tidak dekat seperti Bunda dan juga Afrin."


"Sekarang kamu panggil istrimu. Dia ada di mana? Di luar atau sudah pulang?"


"Diluar, Bunda."


"Sekarang panggil dia!"


Aydin hanya diam tidak bergerak sama sekali. Dia masih marah pada istrinya, tidak mungkin meminta Nayla masuk.


"Kak, setiap rumah tangga pasti akan ada masalah. Apa kamu tidak ingat, bagaimana perjuangan istrimu dalam memperjuangkan Nuri? Bunda juga akan melakukan hal yang sama seperti yang Nayla lakukan, saat melihat anak Bunda lebih dekat dengan orang lain, tapi yang Nayla belum tahu, jika putrinya akan jatuh sakit jika merasa tertekan. Kamu seharusnya memberi pengertian padanya, bukan malah marah. Coba redam dulu emosi kamu. Semua orang pasti melakukan kekhilafan, termasuk Nayla. Bunda yakin ini akan menjadi pelajaran untuknya agar lebih berhati-hati dalam memperlakukan Nuri."


"Kita sudah pernah memberitahunya tentang Nuri. Tidak mungkin dia tidak tahu," kilah aydin.


"Mungkin dia khilaf atau mungkin lupa. Sudah, jangan membahas hal yang sudah lewat. Keluarlah, ajak istrimu ke sini. Dia juga pasti ingin tahu bagaimana keadaan putrinya. Dia juga sama khawatirnya seperti kita."


Walaupun berat, Aydin tetap mengangguk dan segera keluar mencari keberadaan Nayla. Tampak wanita itu duduk di kursi di ujung lorong tempat Nuri dirawat. Dia menunduk dengan sesekali mengusap air matanya.


Merasa ada seseorang yang mendekat, Nayla mendongakkan kepala dan segera berdiri setelah tahu itu suaminya. Wanita itu menundukkan kepala, dia takut pada Aydin yang masih marah padanya.


"Masuklah!" ucap Aydin segera berbalik tanpa mendapat sahutan dari istrinya.


Tanpa banyak kata Nayla mengikuti Aydin menuju ruangan tempat putrinya dirawat. Tampak gadis kecil itu masih terlelap dan di sampingnya ada Yasna.


"Kemarilah, kamu pasti khawatir padanya!" perintah Yasna yang justru membuat Nayla menangis.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2