
"Assalamualaikum," ucap Mama Merry yang baru saja datang bersama Asih. Mereka membawa banyak kantong kresek.
"Waalaikumsalam, Nyonya," sahut Fatma.
"Di luar ada mobil Khairi. Apa dia sudah datang?"
"Sudah, Nyonya. Tuan ada di kamarnya bersama dengan istrinya."
"Alhamdulillah, syukurlah mereka mau datang," ucap Merry. "Bibi, belanjaannya taruh di kulkas dulu, nanti sore kita masak."
"Iya, Bu." Bik Asih segera membawa belanjaannya ke dalam dengan dibantu oleh Fatma.
Sementara di kamar Khairi dan Afrin sedang mengemasi barang-barang mereka. Hanya beberapa pakaian saja yang ditinggalkan agar nanti saat keduanya ke sini, tidak perlu membawa baju. Besok pengantin baru itu akan meninggalkan rumah ini.
"Mas, yakin mau pergi besok? Nggak mau nginep beberapa hari lagi?" tanya Afrin.
"Tidak, Sayang. Lagian aku juga bisa, kan, sesekali ke sini," jawab Khairi.
"Ya sudahlah, aku ikut kamu saja. Memangnya kita akan tinggal di mana?"
"Dekat kampus kamu, kok! Aku sengaja memilih yang di sana agar kamu tidak terlalu jauh saat pergi ke kampus."
"Terima kasih, Mas," ucap Afrin. "Suamiku ini memang yang paling pengertian sekali," lanjutnya dengan mengecup pipi suaminya.
"Kamu mulai mancing-mancing, ya, Sayang."
"Enggak kok!" kilah Afrin.
"Awas kamu, ya!" Khairi segera memeluk istrinya dan menggelitik pinggang wanita itu hingga ia tertawa terbahak-bahak.
"Ampun, Mas ... jangan ha ha ha."
"Rasakan ini."
Saat ada kesempatan Afrin pun membalas menggelitik sang suami hingga keduanya tertawa bersama-sama.
"Sudah, enggak enak didengar sama orang rumah," ucap Afrin dengan mencoba meredakan tawanya.
"Kamu tenang saja, Sayang. Kamarku ini kedap suara jadi, kalau kamu mau teriak sekencang apa pun pasti tidak ada yang dengar. Bahkan kita bisa melakukan malam pertama malam ini, kamu ma—"
"Mas, malah bicaranya ke arah itu mulu," sela Afrin sebelum sang suami melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Habisnya aku sudah nggak tahan, Sayang. Ini sudah lima hari lho, mau berapa lama lagi?"
"Masih belum, Mas."
Khairi mengela nafas dan kembali melanjutkan pekerjaannya memasukkan baju ke dalam koper.
*****
Setelah makan siang bersama, Rani dan Ivan mengantar ibunya Rani ke terminal. Beliau akan langsung pulang. Yasna sempat melarang Bik Rahmi untuk pulang, tetapi wanita paruh baya itu ingin pulang karena di rumah ada cucu yang harus dijaga.
Rani sebenarnya juga masih ingin ibunya di sini, dia juga kesal pada kakaknya yang selalu saja meminta ibu menjaga anaknya. Kenapa tidak menyewa baby sitter saja.
"Kalian berdua jangan sampai melakukan hal yang diluar batas, ya! Jangan sampai melakukan sesuatu yang akan kalian sesali nanti," nasehat Bik Rahmi.
"Iya, Bu. Aku mengerti," sahut Rani. Sementara Ivan hanya mengangguk
"Ya sudah, Ibu balik dulu."
"Ibu hati-hati, jaga diri. Jangan mudah percaya sama orang lain, jangan terlalu baik."
"Iya, kenapa kamu jadi lebih cerewet dari ibu."
"Aku khawatir sama Ibu. Ibu itu selalu baik sama orang, sampai dimanfaatkan sama mereka."
"Iya, Bu. Ibu juga hati-hati di jalan," sahut Ivan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Bus yang ditumpangi oleh Bik Rahmi melaju meninggalkan dua orang yang masih menatap kepergiannya.
"Ayo, kita pulang!" ajak Ivan yang diikuti Rani dari belakang.
"Iya, Mas."
"Kenapa kamu berjalan di belakangku? Sini di sampingku," tegur Ivan.
"Saya tidak enak."
"Sudah, tidak apa-apa." Ivan segera menarik tangan Rani agar berjalan di sampingnya.
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan dengan tangan pria itu yang masih menggenggam tangan Rani. wanita yang merasa gugup dengan apa yang dilakukan oleh Ivan. Baru kali ini dia bersentuhan dengan seorang pria. Begitu sampai di parkiran, Ivan membuka pintu mobil bagian depan. Meminta agar Rani segera masuk.
"Saya duduk di belakang saja, Mas."
"Saya bukan sopir. Sudah kamu duduk di depan saja."
Tanpa banyak berkata, Rani masuk ke dalam mobil. Sementara Ivan yang berada diluar mengembuskan napas panjang. Sejujurnya dia juga sama gugupnya seperti Rani. Sebagai seorang laki-laki, dia berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja.
Ivan segera menuju kemudi dan melajukan mobil meninggalkan terminal. Dalam perjalanan hanya ada keheningan diantara mereka. Hingga Rani memberanikan diri untuk bertanya pada pria yang ada di sampingnya.
"Kenapa, Mas, mau menikahi saya?"
"Apa saya harus menjawabnya?" tanya Ivan yang dijawab Rani dengan menganggukkan kepala.
Ivan bingung harus menjawab apa. Dia ingin menjawab jika dirinya sudah mencintai Rani. Akan tetapi, itu akan terasa aneh karena mereka baru saling mengenal.
"Bukankah kamu tidak mau kembali ke kampung? Karena itu saya ingin menolong kamu," jawab Ivan.
"Jadi, Mas, melakukan semua ini hanya kasihan padaku karena Ibu mau bawa ke kampung?" tanya Rani. Ivan mengangguk sebagai jawaban.
Rani merasa terluka dengan jawaban yang diberikan oleh pria itu. Awalnya wanita itu mengira jika Ivan sama seperti dirinya yang sudah menyukai pria itu. Namun, itu hanya rasa percaya dirinya yang terlalu tinggi. Hingga mengira seorang Ivan akan jatuh cinta padanya.
"Terima kasih, Mas sudah mau membantu, saya ucapkan terima kasih Jika Mas, mau membatalkannya juga tidak apa-apa," ujar Rani yang kemudian memalingkan wajah ke arah jalanan.
Dia tidak ingin melihat wajah pria yang sudah mencuri hatinya. Sementara Ivan merasa bersalah sudah berbicara seperti itu. Seharusnya dia berkata jujur saja, kalau dia memang sudah mencintai Rani, tetapi rasa gengsinya terlalu tinggi, sehingga membuatnya enggan untuk mengatakan yang sejujurnya.
"Aku bukan pria yang yang bisa menarik kata-kata yang sudah kuucapkan. Aku sudah mengatakan akan menikah denganmu, maka aku akan melakukannya. Kita sama-sama tidak memiliki kekasih? Apa salahnya kalau kita menjalin sebuah hubungan. Bukankah lebih baik langsung menikah daripada harus berpacaran?"
Ivan berharap apa yang sudah dikatakannya, mampu membuat Rani setuju. Tadi dia sudah memberanikan diri untuk melamar di depan semua orang. Pria itu tidak mau apa yang sudah diusahakannya, berakhir dengan sia-sia begitu saja.
Rani memikirkan kata-kata Ivan, benar apa yang dikatakan pria itu. Bukankah lebih baik langsung menikah daripada harus berpacaran yang hanya akan menjadikan dosa bagi mereka. Lagi pula Ivan juga pria yang baik pasti banyak gadis yang sudah mengejarnya.
"Mas Ivan benar, saya akan mencoba untuk membuka hati untuk, Mas," jawab Rani berbohong. Nyatanya hatinya sudah terisi nama Ivan di sana.
"Kita akan sama-sama belajar untuk saling mengerti dan menghargai satu sama lain," ucap Ivan.
Begini lebih baik untuk mereka. Dari sini, mereka berharap rumah tangga yang akan keduanya jalani akan selalu bahagia.
.
.
__ADS_1
.